
Ponsel Davina berbunyi. Mamanya menelepon tepat setelah kelasnya selesai.
“Ya, Ma?” Davina bertanya, begitu menjawab panggilan.
“Dav, malam ini kamu kemana?!” tanya Diana.
Davina berpikir sejenak. Lima hari berlalu begitu saja sejak dia kembali pada Raka. Namun, mereka benar-benar jarang bertemu karena kesibukan pekerjaan masing-masing. Dan hari ini juga mereka tidak punya janji bertemu sama sekali.
“Gak kemana-mana, Ma. Kenapa?”
“Kakakmu lagi ngidam makan dessert-nya The Cafè. Mau ikut gak?” Diana menyebutkan salah satu buffet restaurant di Hotel Mulia yang sering keluarga mereka datangi. Davina berpikir sejenak. Dia memang belum ada janji sama sekali dengan siapapun sih…
“Ngidam? Hamil lagi? Baru juga berapa hari Abang datang ke Indo!” Davina meledek.
Diana tertawa. Lalu, Diana mengulang kalimat Davina tersebut kepada Rara yang sepertinya ada di sebelahnya.
“Heh! Mulut dijaga!” Rara memaki dari ujung sana.
Davina tertawa.
“Ya kan gak apa-apa. Keysha udah cocok loh punya adik.” Diana jadi kepikiran.
“Iya, terus nanti setelah adik Keysha lahir, nanya lagi adik keduanya. Gitu aja terus sampe alien mengambil alih bumi,” gerutu Rara.
Tawa mereka langsung berderai.
“Kalau melahirkan segampang buang ingus, punya anak macam kesebelasan sepak bola Rara jabanin deh.” Rara masih merepet.
Tawa semakin membahana.
“Ya ampun, Mama cuma iseng. Dianya juga tumben-tumbenan jadi merepet kayak gini.” Diana terkekeh.
“Kayaknya Kak Rara lagi PMS, Ma. Berarti ini bukan ngidam,” kata Davina.
“Dav, jangan macam-macam deh! Rara mengancam.
Davina pun langsung terkekeh.
“Ampun, ampun! Ya udah, mau pergi jam berapa, Ma?”
“Enam deh.”
“Oke.”
“Perlu dijemput gak, Dav?”
“Gak usah, Ma. Nanti naik taksi aja.”
“Paraaaah! Adik gue dibilang supir taksi!” Rara meledek.
“Dih, taksi beneran ya, Kak, bukan Raka.”
“Jaaaah, pagi sensitif, mentang-mentang dicuekin beberapa hari ini.”
Davina bermisuh-misuh. Mereka semua langsung tertawa terbahak-bahak.
“Ya udah deh. Sampai ketemu disana ya, Dav.”
“Oke, Ma.”
Mereka pun memutuskan hubungan telepon. Untuk sejenak, Davina merenung. Dia pun akhirnya menekan tombol panggilan ke nomor Raka.
“Ya?” Raka bertanya, begitu menjawab telepon.
“Selesai kerja jam berapa?” tanya Davina.
Lalu, dia menyadari sesuatu.
Kenapa pakai deg-deg-an sih? Ini Raka loh.
Davina membatin.
Rasanya seperti baru pertama kali jadian dengan Raka. Hanya dengan menelepon seperti ini rasanya ada kupu-kupu beterbangan di perutnya.
“Paling sejaman lagi. Kenapa?”
“Papa, Mama, Kak Rara dan Abang mau ke The Cafè hari ini. Kamu mau ikut gak?”
Raka berpikir sejenak, “Boleh, boleh.”
Asyiiiik. Ketemu pacar.
Davina membatin lagi.
“Apa aku ajak Papa sama Mamaku juga ya?” Raka terdengar berpikir sejenak.
“Boleh, kangen juga sama Mama Nay.”
“Oke. Coba aku tanya ya, nanti aku kabarin.”
“Oke deh. Bye.”
“Bye.”
“I love you.”
“Emm… Devni… aku lagi meeting di kantor.”
“Bilang i love youuuu,” rengek Davina.
“Devni…” Raka meringis.
“Gak bakal aku tutup kalau gak bilang.” Davina mengancam. Dia bisa membayangkan wajah kebingungan Raka saat ini. Wajahnya yang sedikit memerah, karena malu. Atau bisa jadi, dia juga sedang menggaruk-garuk kepalanya karena salah tingkah.
“Ailafyu…” gumam Raka tidak jelas.
“Gak dengeeeer!”
“I love you!” Akhirnya Raka berkata dengan lantang. Lalu, terdengarlah suara sorakan orang-orang di sekitarnya.
Davina langsung tertawa. Ternyata Raka benar-benar sedang meeting!
“Puaaas?!” Raka menggerutu.
“Puas banget. See you soon!”
“Oke.”
Telepon pun ditutup. Davina berbunga-bunga. Persis seperti yang dulu-dulu. Hidup penuh cinta dan kebahagiaan.
***
Begitu mobil Raka tiba di depan Espoir, Davina segera masuk.
“Nakaaaal!” Raka mengacak-acak rambut Davina dengan gemas. Davina hanya tertawa sambil menjulurkan lidah.
“Udah! Ayo berangkat!” kata Davina.
Ya ampun, selalu aja gak sadar kalau dia belum pakai seatbelt…
Raka geleng-geleng saat memperhatikan Davina.
Dia pun mencondongkan badannya ke arah Davina untuk menarik seatbelt dan memasangkannya melingkari tubuh Davina. Setelah selesai mengaitkan seatbelt-nya, dia memandangi Davina.
“Lupa sekali lagi, aku cium,” ancam Raka.
Davina tersenyum, malah menarik kerah polo shirt Raka, lalu mencium sekilas bibirnya.
“Kalau gitu, bakal aku lupain terus.” Davina menggoda.
Raka speechless.
“Bener-bener…”
Davina hanya bisa tertawa.
***
Tak lama kemudian, mereka pun tiba di The Cafè. Ternyata merekalah yang terakhir sampai di tempat ini.
“Pa, Ma…” Davina langsung bercipika-cipiki dengan Azel dan Naylaz
“Papa sama Mama sendiri udah gak dipeduliin lagi,” cibir Diana.
“Kan sama calon mertua harus sok baik, Ma.” Rara menggoda. Davina mencibir.
“Iya kan. Mamanya sendiri dicuekin.”
“Eleh, eleh. Sini Raka yang cium, Ma!” Raka merentangkan tangan pada Diana. Tapi begitu Raka mendekat, Dave langsung menampar tangannya.
“Jangan genit-genit kamu ya!”
“Aw, sakit!” Raka mengelus punggung tangannya yang memerah.
“Pantesan kerutan makin banyak, hobi Papa marah-marah mulu sih.” Raka lanjut merepet pada Dave.
“Dav, kamu tuh yakin balikan sama anak iblis macam begini?” Nayla bertanya sambil menunjuk anaknya sendiri.
“Hus! Ma! Iblisnya ada disini loh!” Raka melirik Azel.
“Koki disini punya parang atau samurai gak sih?” Azel mulai tidak sabar melihat kelakuan anaknya.
Semua tertawa.
“Kok jadi Raka sih, kan Mama yang bilang anak iblis.”
Azel mencibir.
“Udah deh, kamu berisik. Ambil makanan aja yuk!” ajak Davina.
“Siap, komandan!” Raka langsung menurut.
“Bentar ya, semuanya.” Davina meminta izin.
Dia dan Raka pun berkeliling sejenak untuk mengambil makanan-makanan yang menarik perhatian mereka. Setelah beberapa saat, mereka pun kembali ke meja.
“Ah, kelupaan…” Davina teringat sesuatu.
“Apaan?”
“Lupa ambil mashed potato.” Davina pun bangkit berdiri.
“Udah, aku aja.” Raka mendudukkan kembali Davina.
“Ka, ambilin buat Papa juga dong,” pinta Azel.
“Dihhh! Ambil sendiri! Harus olahraga loh, Pa, udah tua. Biar jantungnya sehat! Yuk, yuk, jangan malas!” Raka menyahut.
Semua langsung tertawa.
“Emang cuma Davina yang bisa jadi pawangnya Raka,” keluh Azel.
“Ntah itu pemberian atau kutukan ya, Pa,” sahut Davina.
“Lebih ke kutukan sih kayaknya ya…” Rara meledek.
Raka mengabaikan semua orang lalu berjalan menjauh.
“Resepnya apa, Dav, sampe bisa bikin dia nurut banget gitu?” Dave bertanya, dengan iseng.
“Dikasih cinta tiap hari, Pa.” Davina mengisengi papanya.
“Duh, Mama tiba-tiba mual deh.” Diana pura-pura membuat gerakan seperti mau muntah.
“Duo bucin udah kembali, saudara-saudara!” Rara mengeluh.
“Ehhh, yang dulu sama aja bucinnya diam aja yaaaa!” Davina menyahut sambil melirik suami Rara.
Mereka tertawa.
Raka pun kembali. Dia langsung memberikan piring mashed potato tersebut pada Davina.
“Thank you…” Davina langsung menyantapnya. Beserta makanan-makanan yang lain.
Raka mengamati Davina sejenak. Sudah lama tidak melihat Davina makan sebanyak ini. Dia bersyukur dalam hati.
Dia tidak pernah mempermasalahkan tubuh kurus Davina, tapi dia hanya ingin Davina sehat. Itu saja.
Diana sadar bahwa Raka juga berpikiran yang sama dengannya. Dia tersenyum pada Raka secara diam-diam.
“Thank you.” Diana melafalkan kalimat itu pada Raka tanpa mengucapkannya.
Raka nyengir.
Kebahagiaan keluarga itu terasa sangat nyata saat ini. Tapi tiba-tiba seseorang datang menghampiri meja mereka, untuk merusak semua kebahagiaan tersebut.
“Oh, jadi ini penyebab Davina dan Nikolas membatalkan pernikahan?” Seseorang mengkonfrontasi.
Mereka semua menoleh ke asal suara.
Dan berdirilah disana, Angel, dengan wajah masam dan tidak terima. Meski suaranya pelan dan tidak mengundang perhatian dari orang lain, nadahnya penuh tuduhan dan kebencian.
***
Ratunya iblis dataaaaang 🥲
IG : @ingrid.nadya