
" Aku akan urus tiga nyamuk yang ada di belakang , kau fokus pada Nyonya kedua ! Cari jalan secepatnya menuju mansion !! " Damian tampak berbicara dengan supir yang membawa Lana melalui sebuah alat yang terpasang di telinganya .
Jika tiga sedan hitam di depannya masing masing berisi empat orang maka itu artinya ia hanya akan menghadapi dua belas orang pria . Sebenarnya tak masalah berapapun orang yang akan ia hadapi karena yang paling penting adalah keselamatan Nyonya Mudanya . Sean sudah menyerahkan pengawasan Darrell dan Lana sepenuhnya ke tangannya .
DORRR .... DOORRRRRR !!
" Sial .... " Damian mengumpat dan memukul setirnya ketika melihat salah satu pria yang berada di dalam sedang membuka jendela dan mengarahkan pistol pada ban belakang mobil Lana . Dia segera menginjak gasnya dalam dalam agar bisa melampaui tiga mobil di depannya . Dan ia tak peduli walau sebenarnya mereka masih ada di jalanan yang cukup ramai .
Beruntung supir Lana sangat sigap hingga bisa mengantisipasi dua tembakan itu . Terbukti mobilnya masih melaju dengan kencang di atas aspal .
Setelah pada jarak yang sudah dekat Damian kemudian mengeluarkan pistol miliknya yang selalu ada di balik jasnya , seperti juga para penjahat tadi ... iapun sedang mengarahkan bidikannya pada bagian belakang tiga mobil itu sambil terus melaju kearah depan dengan kecepatan penuh .
DORRR .... DORRRRR ... DORRRRR
Tiga tembakan yang ia layangkan tepat sasaran , tiga mobil itu langsung oleng karena setiap tembakan Damian mengenai ban belakang mereka . Tapi sayangnya mobil paling depan tergelincir dan mengenai mobil Lana yang akhirnya ikut tergelincir juga menabrak pembatas jalan .
CKKIIITTTTTT ....
Damian langsung memposisikan mobilnya tepat di depan mobil yang Lana tumpangi bermaksud agar bisa menjadi tameng jika nantinya terjadi baku tembak .
" Tetaplah berada di dalam apapun yang terjadi Nyonya !! Saya berjanji ini hanya akan berlangsung sebentar ... " kata Damian pada Lana agar wanita itu menjadi lebih tenang karena ia yakin wanita itu sedang ketakutan di dalam sana .
Sang supir pun terlihat sudah keluar mobil dan bersiap dengan senjata apinya untuk melindungi Damian . Benar saja , tak berapa lama kemudian sudah terdengar baku tembak antara kubu Damian dan sang penyerang yang mengincar mobil Lana tadi .
Dan tak satupun peluru yang bisa mencapai Lana karena mobil yang diberikan Sean padanya ternyata adalah mobil anti peluru , sama seperti yang di miliki oleh Damian . Sean sengaja membuat mobil khusus untuk melindungi semua anggota keluarga karena ia yakin Alexander memiliki banyak rival diluar sana .
Hanya dalam waktu hitungan menit Damian dan sang supir berhasil menyapu bersih para penyerang . Dan sayangnya satu peluru berhasil menembus bahu supir Lana walau pria itu seperti tidak merasakan sama sekali luka dengan darah yang mengucur deras dari pundaknya .
" Ya Tuhan ..... darah !! Apa kau tidak apa apa !? " pekik Lana keluar dari mobil dengan tatapan khawatir pada penjaganya .
" Sudah saya katakan untuk tetap berada di mobil Nyonya !! Dia baik baik saja dan dia bisa mengatasinya sendiri " kata Damian menatap tajam pada wanita yang juga sedang melihatnya dengan rasa kesal . Luka tembak adalah luka yang sudah biasa di dapatkan oleh para penjaga dan mereka juga tahu bagaimana harus bertindak sebelum ditangani oleh ahli medis .
Sang penjaga hanya terlihat mengangguk pelan dengan kepala tertunduk seakan ingin mengatakan jika ia sangat baik baik saja . Pria itu merobek ujung bajunya dan mengikat luka itu agar menghentikan pendarahannya .
" Dasar monster !! Tidak punya perasaan , berdarah seperti itu kau katakan baik baik saja ..... " gumam Lana , wanita itu melangkah maju berniat membantu sang penjaga mengikat kain yang membebat lengannya . Tapi pria itu malah melangkah mundur untuk menghindarinya . Menyentuh wanita atasannya berarti dia sudah siap mempertaruhkan nyawanya .
" Kau tunggu tim sweeping datang , nantinya mereka juga akan membawamu ke klinik terdekat . Aku bawa Nyonya pulang .... "
" Tidak !! Aku mohon jangan bawa aku pulang dulu . Aku ingin pergi menolong temanku terlebih dahulu ... "
" Tapi Cath senang dalam bahaya , kehormatannya sedang dipermainkan oleh seorang bajingan . Dia memintaku datang karena jika tidak dia akan mencelakakan Cath ! " kata Lana memberanikan diri mengatakan yang sebenarnya , berharap Damian mau menolongnya
" Boleh saya tahu tempat yang akan anda datangi ? Dan tunjukkan pada saya foto teman yang anda bicarakan tadi " Damian memutuskan untuk menyelesaikan masalah teman istri atasannya agar Lana bisa tenang dan segera kembali pulang untuk beristirahat . Dia pernah membaca jika seorang wanita hamil tidak boleh terlalu lelah , apalagi kehamilan nyonya keduanya baru dalam hitungan minggu.
Lana tersenyum lega dan mengambil ponsel di dalam tasnya , dia menunjukkan pesan yang tadi dikirim dari nomor Cath pada Damian .
" Baik akan kami urus , tapi sebelumnya kita akan pulang . Anda akan lebih aman jika berada di dalam mansion , anda bisa ke rumah sakit besok pagi pagi sekali untuk bertemu tuan muda "
" Tapi aku mau ikut kalian ke resort itu !!! "
" Tidak ... saya mohon kali ini untuk menurut Nyonya ! lni untuk kebaikan anda "
Tapi betapa terkejutnya Damian ketika melihat Lana meringis kesakitan dengan memegang perutnya . Wanita itu bersandar pada pintu samping mobil dengan mata yang tertutup dan hal itu malah membuatnya lebih panik .
" Nyonya ... Anda tidak apa apa !? "
Karena tidak juga menjawab Damian segera menuntun Lana masuk ke dalam mobilnya . Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah Lana harus segera mendapat pemeriksaan dari dokter . Tapi tidak ada klinik disekitar tempat itu karena mereka sudah berada di daerah pinggiran kota . Rumah sakit pusat pun harus ditempuh kurang lebih satu jam karena harus melewati beberapa titik kemacetan .
" Apartemen ... "
Damian segera melajukan mobilnya menuju apartemen miliknya yang kebetulan juga berada di pinggiran kota . Hanya butuh sepuluh menit untuk sampai kesana . Dan disana ia mengenal salah satu penghuni apartemen yang berprofesi sebagai seorang dokter . Dia berpikir ini jalan terbaik agar Lana bisa segera mendapat pertolongan .
" Kimmy segera ke unitku !!! "
" ..... "
" Datang saja !! Jangan banyak tanya !! "
Damian menelpon dokter kenalannya ketika mereka sampai di basement tempat ia memarkirkan mobilnya . Dia segera membopong tubuh Lana yang terlihat lemah dengan wajah yang kadang terlihat kesakitan .
" Maaf Nyonya tapi saya harus cepat membawa anda ke atas ... "
Dengan menggunakan lift pria itu membawa Lana ke lantai di mana unit apartemennya berada . Damian segera keluar ketika pintu lift terbuka , dengan langkah tergesa ia masuk ke dalam apartemennya .
Tanpa ia tahu jika sepasang mata elang yang dipenuhi kebencian sudah berdiri di ambang pintu . Dua tangan yang terkepal menandakan jika kemarahan sudah benar benar berada di puncaknya .
" Kalian menjijikkan .... "