Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Saputra?



Raka terbangun dan melihat Davina sedang menggunakan laptopnya.


“Pagi, detektif! Laptopku jadi barang bukti kasus apa?” Raka cengengesan, mengira Davina sedang menginspeksi laptopnya.


Namun, ternyata dia salah…


Davina malah berkata, “Eh? Kamu udah bangun? Aku pinjem laptop bentar ya, mau daftar lomba.”


Raka berusaha duduk, untuk ikut melihat laptop bersama Davina. Dia meletakkan kepalanya di bahu kekasihnya itu, lalu bertanya, “Daftar lomba apa?”


“Lomba yang aku gak pernah menangin.” Davina mengeluh.


“Emang sebelumnya udah pernah ngikutin?”


“Tiga tahun berturut-turut!”


“Tahun ini pasti tahunnya kamu.” Raka mencium bahu Davina.


“Gak yakin sih…” Davina merenung. Banyak lomba yang sudah diikuti olehnya, namun hanya satu ini yang tidak pernah dimenangkannya.


“Devni…”


“Hm?” Davina menoleh.


Raka mengecup pelan bibir Davina.


“Kamu percaya mimpiku. Jadi, bolehin aku percaya sama mimpi kamu juga ya.”


“Kamu yakin aku bisa?” Davina malah tampak meragukan dirinya sendiri.


Raka mengangguk.


“Kamu inget waktu kamu ikut lomba balet pertama kali? Kamu sama sekali gak berharap apapun! Malah aku yang deg-deg-an pas MC nya baca pengumuman. Dan ternyata benar, kamu menang…”


Davina tersenyum saat mengingat momen itu.


“Jujur, aku punya firasat baik kali ini.” Raka melanjutkan.


“Kamu bilang ini buat nyenengin aku doang atau beneran?”


“Devni, aku bukan tukang bohong.”


Davina tersenyum.


“Kalau aku lagi gak pegang laptop, udah aku peluk kamu,” kata Davina.


Raka tertawa sambil geleng-geleng mendengar kalimat Davina. Karena kekasihnya sudah kembali sibuk sendiri dengan laptop, Raka pun beranjak dari sisi Davina untuk mengambil ponselnya.


Tiba-tiba Raka terkekeh sendiri. Davina menoleh.


“Meme yang dikirim Julia lucu banget.” Raka menunjukkan sebuah meme tentang pekerjaan developer yang sudah tentu Davina tidak mengerti dimana letak kelucuannya.


“Sorry, aku gak ngerti.” Davina cemberut.


Raka mengacak rambut Davina, “Gitu doang kenapa harus sorry sih.”


Iya, sorry, habisnya Julia lebih ngerti kamu soal itu…


Davina bergumam dalam hati saja. Dia tidak ingin mengatakan dengan lantang isi hatinya yang satu ini.


Tak lama kemudian, Raka beranjak dari tempat tidur, dan berjalan keluar dari kamar. Dia haus sekali.


Dia sempat tertegun saat melihat apartemennya kini sudah dipenuhi oleh perabotan. Memang tidak percuma dia punya pacar…


Raka berbalik sebentar, bersandar di pintu sambil memandangi Davina. Wanita itu sedang mengenakan kemeja putihnya yang kebesaran.


“Aku pernah bilang gak?” tanya Raka.


“Hm?” Davina hanya bergumam, tidak berpaling sama sekali dari laptop.


“Kamu cantik.”


Alis Davina terangkat. Dia sukses berpaling dari laptop untuk .mengamati wajah Raka.


“Kamu baru sadar setelah kita kenal… dua puluh tiga tahun?”


Raka terkekeh. Dia berbalik, lalu berjalan ke arah dapur. Mana mungkin baru sadar! Davina selalu cantik di matanya!


Dia hanya… jarang mengungkapkan isi hatinya.


“HEEEYYYY! Main pergi aja lagi!” Davina protes, segera mengikuti Raka yang berjalan ke arah dapur.


Raka sedang menuangkan susu cokelat favorit Davina ke dalam gelas. Sebenarnya bermaksud untuk memberikannya pada Davina.


Namun, Davina sudah memeluk Raka dari belakang. Dia ingin meniru kebiasaan kekasihnya itu. Yang suka mengurungnya dalam backhug seperti ini. Namun tubuhnya yang kecil tidak sebanding dengan Raka. Dia harus berjinjit tinggi-tinggi. Untung saja Davina ini balerina, setidaknya dia bisa berusaha dengan maksimal untuk menggapai tubuh Raka yang kelewat panjang itu.


Lalu dia mencium bahu Raka.


“Lagi ngapain sih?” Raka tertawa.


"Bikin kamu ngerasa disayang."


"Hm?"


"Karena aku paling ngerasa disayang kamu kalau kamu lagi kayak gini."


Raka tersenyum, memegang tangan Davina yang melingkari pinggangnya. Dia senang jika Davina sadar bahwa wanita itu begitu disayang olehnya.


***


Mobil Raka berhenti tepat di depan Nararya.


“Kamu selesai jam berapa?” tanya Raka, saat Davina membuka sabuk pengamannya.


“Tiga.”


“Is that even a question?”


Raka terkekeh. Dia menghormat Davina seperti jenderal, lalu berkata, “Siap! Laksanakan!”


“Good boy!” Davina menepuk pelan kepala Raka.


“Dikira aku doggy,” keluh Raka.


Davina tertawa.


“Kamu sendiri habis ini kemana?” tanya Davina, iseng.


“Ngumpul sama Albert sama Julia kayaknya.”


“Emangnya kamu gak punya temen lain ya?”


Raka menaikkan alis, “Well, mumpung kamu juga lagi ada acara lain, aku cuma pengen sempetin bahas masalah kemarin sama mereka, Devni. Biar gak kejadian lagi.”


Davina diam saja.


Sebenarnya Raka tahu Davina tidak setuju dia pergi menemui Julia. Namun, dia harus segera menemui kedua temannya itu untuk membahas masalah yang kemarin. Agar tidak terjadi lagi hal yang sama.


“Oke deh,” kata Davina, singkat.


Raka pun membiarkan Davina keluar dari mobilnya begitu saja. Mencoba menutup mata dengan perasaan gundah yang terlihat jelas di wajah Davina.


Mobil Raka perlahan melaju. Davina hanya bisa menghela nafas mengamati mobil itu sampai menghilang di ujung jalan.


Tiba-tiba seseorang merangkulnya.


“Lesu amat, Neng!” kata Yuni.


Davina langsung mengubah ekspresinya. Dia balas merangkul Yuni, “Lo baru datang?”


Yuni nyengir, “Iya dong. Tumben lo datang telat.”


Davina tidak ingin menjawab sama sekali alasan kenapa dia terlambat.


“Udah, masuk yuk?” Davina menarik tangan Yuni.


Namun langkah mereka berhenti saat sebuah suara memanggil Yuni.


“YUUUUUUUN!”


Mereka kompak berpaling ke asal suara. Seorang laki-laki berperawakan putih dan rapi dengan kemeja yang terlipat sampai ke siku, sedang berjalan menghampiri mereka. Mata laki-laki itu sedikit berbinar saat melihat Davina.


“Kenapa, Nik?” tanya Yuni, bingung.


“Dompet lo ketinggalan.” Laki-laki itu menyodorkan sebuah dompet cokelat.


“Eh, thank you banget. Gak nyadar loh gue.” Yuni cengengesan.


Laki-laki itu bukannya langsung pergi, malah menunggu.


“Apa?” tanya Yuni, bingung.


Laki-laki itu melirik ke Davina dengan tidak kentara. Yuni membelalak. Gerakan mereka benar-benar halus, bahkan Davina tidak menyadarinya sama sekali.


Laki-laki itu memelas.


Akhirnya, Yuni mengalah.


“Dav, kenalin, ini temen gue.” Yuni menunjuk laki-laki di sebelahnya pada Davina.


Davina yang tidak punya kecurigaan sama sekali, langsung mengulurkan tangan.


“Hi, gue Davina.”


“Nikolas,” jawab laki-laki itu.


“Saputra?” Davina mencoba bercanda. Walaupun dia langsung menyesal karena mengucapkan guyonan memalukan seperti itu.


Namun…


Nikolas…


Tertawa…


Davina kaget ada yang mau menghargai lelucon bodohnya itu.


“Pengennya gitu. Sayangnya, bukan,” kata Nikolas. Davina tersenyum.


“Udah, udah. Jangan kelamaan megang tangan Davina. Pacarnya galak.” Yuni memisahkan tangan Nikolas dan Davina.


Nikolas tidak bisa menyembunyikan ekspresi kecewa begitu tahu bahwa Davina sudah punya pacar.


“Kita masuk dulu ya, Nik. Bye!” Yuni melambai pada Nikolas.


“Bye, Nik!” Davina mengangguk sopan pada Nikolas.


Yuni dan Davina pun berjalan menjauh.


Nikolas mengamati kepergian dua wanita di hadapannya. Sayang sekali Davina sudah punya pacar, padahal wanita itu benar-benar tipe idealnya.


Well, jodoh gak bakal kemana…


Nikolas membatin sebelum berbalik menuju mobilnya. Dia yakin, if its meant to be, dia akan bertemu lagi dengan Davina.


***


Readers semua pada sehat kan? Jangan lupa pake masker double dan minum vitamin ya. Too much heartbreaking news akhir2 ini. Beberapa kenalan bhkn ada yang pergi duluan krn virus ini. So, please, please, please get vaccinated. Demi keluarga dan orang2 terdekat kita 🥺 Stay safe, stay heathy ya kita semua 🤗