Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
64



BRAAKKKK ....


Sean menghantam kap mobil bagian depan dengan sangat keras hingga para penjaga yang masih menunggunya diarea depan apartemen saling memandang diam diam dengan wajah yang tertunduk . Mereka tahu jika kali ini atasannya sedang berada di puncak emosinya .


Ada rasa kecewa ketika mengetahui jika orang orang terdekatnya sanggup mengkhianatinya . Tapi ada sakit dihatinya ketika menyadari jika ia sudah menyakiti wanita yang sudah menjadi miliknya . Dan nyatanya semakin ia membenci Lana maka semakin ia tidak bisa melupakan wanita itu .


" Brengsek !!!.HAAAHHHHHHHH ... !! " teriak Sean ingin menumpahkan ledakan emosi di kepalanya . Sekali lagi ia hantam kap mobil hingga tangan kanannya memerah .


BRAAKKKKK .....


Dihirupnya kuat kuat semua oksigen yang ada disekitarnya seakan ingin membuang semua rasa sakit di hatinya . Sudah bukan hal asing jika ia dikhianati karena Tiffany pernah melakukan itu padanya . Istri pertamanya itu bahkan sudah berhubungan dengan pria lain sebelum pernikahan mereka .


Tapi rasa sakit ketika melihat Lana berada dalam pelukan pria lain sungguh bisa menghancurkan dunianya . Baru kali ini hatinya terluka begitu dalam .


" Kita ke rumah sakit sekarang .... " kata Sean yang kemudian masuk ke dalam mobil , sebelumnya ia sempat melihat sekilas ke arah lantai dua apartemen . Tempat dimana ia menyaksikan sesuatu yang mampu mengubah hidupnya .


" Baik Tuan !! "


Sean memutuskan untuk pergi melihat putranya di rumah sakit . Besok adalah hari operasi Darrell dan anak itu pasti butuh banyak dukungan agar lebih kuat menghadapinya .


Lana ...


Darrell pasti akan menanyakan tentang pengasuhnya itu karena hubungan mereka akhir akhir ini terlihat sangat dekat . Dia harus menemukan alasan yang tepat agar putranya tidak mengkhawatirkan Lana yang pasti tidak akan muncul lagi di depannya .


CEKLEKKKK ....


Perlahan pria itu melangkah masuk di kamar rawat putranya , suasana sangat hening hingga ia bisa mendengar nafas teratur Darrell yang sedang tertidur pulas . Dilihatnya ada dua piring tergeletak di meja . Satu piring masih berisi daging steak ukuran besar dengan berbagai sayuran pelengkapnya . Dan satu lagi piring kosong yang menyisakan sedikit saus , mungkin isinya sudah habis dimakan seseorang .


" Daddy ... "


Suara Darrell membuat Sean mengurungkan niatnya yang sebenarnya ingin pergi ke area bebas merokok yang berada di taman samping rumah sakit . Sean bukanlah pecandu rokok tapi entah saat ini ia ingin menghisap setidaknya satu batang untuk menenangkan hatinya .


" Hei ... Kenapa bangun malam malam begini ? Beristirahatlah karena besok pagi kau akan di operasi . Apa kau lapar ? " tanya Sean yang tahu biasanya Darrell tidak nyenyak tidur jika perutnya merasa lapar .


" Aku sedang puasa Dad , delapan jam sebelum operasi aku tidak boleh makan dan minum . Tadi Lana membuatkan aku steak itu , enak sekali ! Uncle Damian yang membantu menyiapkan sayurannya ... " Darrell menjeda perkataannya , matanya tertuju pada piring berisi steak yang tergeletak dimeja .


" Mana Lana ? Kenapa ia belum juga kembali ? Tadi dia hanya pamit sebentar keluar , tapi steaknya masih utuh ... Ini sudah malam sekali " ujar Darrell yang juga melihat ke arah jam dinding yang tepat berada selurusan dengannya .


" Lana tadi ijin kembali ke mansion karena ada hal yang harus ia selesaikan ! Tapi dia berjanji akan kembali sebelum besok pagi kau berangkat ke kamar operasi . Jangan berpikir macam macam , sekarang beristirahatlah karena Daddy akan menemanimu "


Darrell mengangguk , dan tak lama kemudian bocah berumur tujuh tahun itu kembali ke alam mimpinya . Sean yang belum sepenuhnya tenang kemudian keluar kamar berniat untuk pergi ke kantin untuk minum secangkir kopi panas .


Suasana cukup sepi di kantin rumah sakit , hanya terlihat beberapa perawat jaga yang mungkin sedang tugas malam dan beberapa pengunjung pria yang juga minum kopi sama sepertinya . Dan tiba tiba otaknya teringat dengan salah satu foto yang membuatnya murka , sebuah foto yang menunjukkan Lana dan Damian yang sedang berpelukan mesra . Jika dilihat tempatnya tidak jauh berbeda dengan tempat yang sedang dilihatnya .


" Selamat malam Tuan Sean Jayde ! "


Sontak Sean menoleh ke arah suara , dia melihat sosok seorang pria yang tidak dikenalnya . Seorang pria dengan tubuh tinggi berperawakan sedang , dengan mata sipit dan berkulit putih khas orang timur sedang berdiri dan tersenyum ke arahnya .


" Selamat malam Tuan ... Apa aku mengenalmu ?! " sahut Sean yang kemudian berdiri tanpa berniat menyambut uluran tangan pria yang seperti akan menjabat tangannya . Dia tidak tahu apakah pria di depannya ini kawan atau lawan untuknya .


" Saya hanya pria yang sangat mengagumi anda , Kendrick Lee ... Anda bisa memanggil saya Ken ! " ujar pria itu ramah , tampaknya ia sudah sangat paham dengan watak Sean yang sangat keras dan berhati hati .


" Ken ... saya pernah mendengar nama anda "