
BRAAKKKK ....
Sean menghantam kap mobil bagian depan dengan sangat keras hingga para penjaga yang masih menunggunya diarea depan apartemen saling memandang diam diam dengan wajah yang tertunduk . Mereka tahu jika kali ini atasannya sedang berada di puncak emosinya .
Ada rasa kecewa ketika mengetahui jika orang orang terdekatnya sanggup mengkhianatinya . Tapi ada sakit dihatinya ketika menyadari jika ia sudah menyakiti wanita yang sudah menjadi miliknya . Dan nyatanya semakin ia membenci Lana maka semakin ia tidak bisa melupakan wanita itu .
" Brengsek !!!.HAAAHHHHHHHH ... !! " teriak Sean ingin menumpahkan ledakan emosi di kepalanya . Sekali lagi ia hantam kap mobil hingga tangan kanannya memerah .
BRAAKKKKK .....
Dihirupnya kuat kuat semua oksigen yang ada disekitarnya seakan ingin membuang semua rasa sakit di hatinya . Sudah bukan hal asing jika ia dikhianati karena Tiffany pernah melakukan itu padanya . Istri pertamanya itu bahkan sudah berhubungan dengan pria lain sebelum pernikahan mereka .
Tapi rasa sakit ketika melihat Lana berada dalam pelukan pria lain sungguh bisa menghancurkan dunianya . Baru kali ini hatinya terluka begitu dalam .
" Kita ke rumah sakit sekarang .... " kata Sean yang kemudian masuk ke dalam mobil , sebelumnya ia sempat melihat sekilas ke arah lantai dua apartemen . Tempat dimana ia menyaksikan sesuatu yang mampu mengubah hidupnya .
" Baik Tuan !! "
Sean memutuskan untuk pergi melihat putranya di rumah sakit . Besok adalah hari operasi Darrell dan anak itu pasti butuh banyak dukungan agar lebih kuat menghadapinya .
Lana ...
Darrell pasti akan menanyakan tentang pengasuhnya itu karena hubungan mereka akhir akhir ini terlihat sangat dekat . Dia harus menemukan alasan yang tepat agar putranya tidak mengkhawatirkan Lana yang pasti tidak akan muncul lagi di depannya .
CEKLEKKKK ....
Perlahan pria itu melangkah masuk di kamar rawat putranya , suasana sangat hening hingga ia bisa mendengar nafas teratur Darrell yang sedang tertidur pulas . Dilihatnya ada dua piring tergeletak di meja . Satu piring masih berisi daging steak ukuran besar dengan berbagai sayuran pelengkapnya . Dan satu lagi piring kosong yang menyisakan sedikit saus , mungkin isinya sudah habis dimakan seseorang .
" Daddy ... "
Suara Darrell membuat Sean mengurungkan niatnya yang sebenarnya ingin pergi ke area bebas merokok yang berada di taman samping rumah sakit . Sean bukanlah pecandu rokok tapi entah saat ini ia ingin menghisap setidaknya satu batang untuk menenangkan hatinya .
" Hei ... Kenapa bangun malam malam begini ? Beristirahatlah karena besok pagi kau akan di operasi . Apa kau lapar ? " tanya Sean yang tahu biasanya Darrell tidak nyenyak tidur jika perutnya merasa lapar .
" Aku sedang puasa Dad , delapan jam sebelum operasi aku tidak boleh makan dan minum . Tadi Lana membuatkan aku steak itu , enak sekali ! Uncle Damian yang membantu menyiapkan sayurannya ... " Darrell menjeda perkataannya , matanya tertuju pada piring berisi steak yang tergeletak dimeja .
" Mana Lana ? Kenapa ia belum juga kembali ? Tadi dia hanya pamit sebentar keluar , tapi steaknya masih utuh ... Ini sudah malam sekali " ujar Darrell yang juga melihat ke arah jam dinding yang tepat berada selurusan dengannya .
" Lana tadi ijin kembali ke mansion karena ada hal yang harus ia selesaikan ! Tapi dia berjanji akan kembali sebelum besok pagi kau berangkat ke kamar operasi . Jangan berpikir macam macam , sekarang beristirahatlah karena Daddy akan menemanimu "
Darrell mengangguk , dan tak lama kemudian bocah berumur tujuh tahun itu kembali ke alam mimpinya . Sean yang belum sepenuhnya tenang kemudian keluar kamar berniat untuk pergi ke kantin untuk minum secangkir kopi panas .
Suasana cukup sepi di kantin rumah sakit , hanya terlihat beberapa perawat jaga yang mungkin sedang tugas malam dan beberapa pengunjung pria yang juga minum kopi sama sepertinya . Dan tiba tiba otaknya teringat dengan salah satu foto yang membuatnya murka , sebuah foto yang menunjukkan Lana dan Damian yang sedang berpelukan mesra . Jika dilihat tempatnya tidak jauh berbeda dengan tempat yang sedang dilihatnya .
" Selamat malam Tuan Sean Jayde ! "
Sontak Sean menoleh ke arah suara , dia melihat sosok seorang pria yang tidak dikenalnya . Seorang pria dengan tubuh tinggi berperawakan sedang , dengan mata sipit dan berkulit putih khas orang timur sedang berdiri dan tersenyum ke arahnya .
" Selamat malam Tuan ... Apa aku mengenalmu ?! " sahut Sean yang kemudian berdiri tanpa berniat menyambut uluran tangan pria yang seperti akan menjabat tangannya . Dia tidak tahu apakah pria di depannya ini kawan atau lawan untuknya .
" Saya hanya pria yang sangat mengagumi anda , Kendrick Lee ... Anda bisa memanggil saya Ken ! " ujar pria itu ramah , tampaknya ia sudah sangat paham dengan watak Sean yang sangat keras dan berhati hati .
" Ken ... saya pernah mendengar nama anda "