
“Devni…” Raka mengelus kepala Davina yang tertidur di kamar tamu, rumah orangtuanya. Dia tidak menyangka Davina menunggunya disini tadi malam. Harusnya dia menyempatkan diri untuk menghubungi Davina. Setidaknya Davina bisa pulang ke rumahnya, tidak menunggunya semalaman.
Tapi masalah Creature kemarin sangat urgent sampai dia tidak bisa berpikir apapun lagi. Wajahnya saat ini terlihat kuyu dan sangat menyesal.
“Hm?” Davina terbangun begitu mendengar suara Raka.
“Maaf aku bangunin kamu. Tapi aku nyesel banget tadi malam gak bisa pulang.”
“Kamu kemana aja?”
“Di kosan Julia aja kok.”
“Ada Albert?”
“Gak ada. Albert lagi pergi sama orangtuanya.”
Davina sempat terdiam, raut wajahnya berubah.
“Jadi, kamu berduaan aja sama cewek lain semaleman?”
Raka tersentak.
“Devni, kita kerja kok! Gak aneh-aneh!" Suara Raka terdengar meninggi. Dia tersinggung. Karena... siapa sih yang mau menghabiskan hari ulangtahun dengan bekerja semalam suntuk? Kalau saja Julia bisa melakukannya sendirian, tentu dia tidak akan repot-repot untuk menunggui.
Davina otomatis mengatupkan mulutnya. Dia menyesal telah menuduh Raka yang tidak-tidak, pasti dia terdengar seperti wanita gila yang terlalu posesif pada pasangannya.
Melihat Davina diam, Raka jadi mawas diri. Dia menghela nafas.
"Aku kurang tidur. Maaf ya kalau emosian." Suaranya melembut.
Davina pun jadi melunak.
"Ya udah, kamu tidur dulu deh."
"Aku gak bakal bisa tidur kalau kamu masih marah."
Davina mengamati wajah Raka yang lelah. Laki-laki ini baru saja berulang tahun kemarin dan malah menghadapi sebuah masalah yang cukup besar. Semalaman pasti dia berusaha menyelesaikan masalah itu. Mungkin lebih baik Davina tidak menghukum Raka hari ini.
"Aku gak marah lagi." Akhirnya Davina memutuskan untuk memendam perasaannya.
"Beneran?"
Davina mengangguk.
"Thanks, Devni."
"Ya udah, kamu tidur gih."
Raka ikut membaringkan badan di sebelah Davina, lalu memeluknya.
"Oke, aku tidur," katanya.
"Kamu tidur di kamar lain aja, Ka. Gak enak. Gimana kalau Mama Nay atau Papa Azel masuk nanti?" tanya Davina.
"Devni, aku ngantuk banget." Raka sudah bergumam, tidak jelas. Dibiarkan berbaring beberapa detik saja, dia bahkan sudah mulai mendengkur halus.
Maka, Davina membiarkan Raka tidur di sebelahnya. Dia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa dia sendiri pun masih merasa sangat mengantuk. Dia baru tiba dari Paris. Semalaman tidurnya juga tidak tenang karena menunggui Raka. She deserves a good sleep today.
Dia pun ikut memejamkan mata.
Lima menit saja...
Pikir Davina.
Dalam sekejap, dia juga sudah terlarut dalam tidurnya.
Tak lama kemudian, Nayla dan Azel muncul, membuka pintu kamar. Bermaksud untuk mengajak Raka dan Davina untuk sarapan dan setidaknya merayakan ulang tahun Raka, meskipun sudah terlambat. Namun, mereka tertegun melihat Davina dan Raka sudah tertidur pulas.
"Aw!" Nayla memegang dadanya. Terharu melihat wajah anaknya yang terlihat damai sambil memeluk Davina. Nayla selalu terharu melihat cara Raka menyayangi Davina.
Azel tersenyum pada Nayla, "Kapan lagi ya lihat setan jadi malaikat?"
Nayla memukul pelan bahu suaminya, "Itu anak kita!"
"Kadang-kadang kayak anak Dajjal."
Nayla tertawa pelan.
"Ayo, keluar! Give them some privacy," kata Azel.
"Is it okay? Laki-laki kan gak bisa dipercaya." Nayla meringis.
"Nay, mereka udah gede. Udah bisa nentuin apa yang baik untuk diri mereka sendiri."
Nayla menghela nafas. Inilah kegalauan hati setiap orangtua. Ingin melarang, namun dia tahu anaknya sudah dewasa untuk menentukan sikapnya sendiri. Sebab jika kita mengutip perkataan Kahlil Gibran dalam puisinya berjudul ‘Anakmu Bukanlah Milikmu’...
Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.
Maka…
Nayla menyerah, dia pun menurut pada suaminya. Mereka segera keluar dari kamar itu. Membiarkan anak-anak mereka terlelap sedikit lebih lama.
***
Raka terbangun beberapa jam kemudian. Dia mengamati Davina yang masih tertidur, mengelus sebentar pipinya.
Lalu akhirnya, dia pun beranjak dari tempat tidur. Dia perlu menemui orangtuanya. Tadi begitu sampai, dia hanya menyapa dan bertanya dimana Davina. Begitu tahu kekasihnya tidur di ruang tamu, dia langsung pergi menemui Davina.
Begitu melihat kedua orangtuanya di sofa ruang tengah, dia langsung duduk di lantai, depan Nayla. Lalu meletakkan kepalanya di pangkuan mamanya itu.
Dan seperti yang selalu dilakukan Nayla di setiap ulang tahun Raka, dia menumpukan tangannya di atas puncak kepala Raka, menutup mata sambil mengucapkan doa dalam hatinya sendiri.
Tanpa perlu mendengar isi doa mamanya, Raka ikut memejamkan mata dan juga hanya berkata Amin dalam hati. Sebab dia tahu, apapun yang didoakan sang mama adalah yang terbaik untuknya.
Setelah doa selesai, barulah tangan Nayla kembali bergerak untuk mengelus kepala Raka.
“Makasih, Ma.”
“Ulang tahun malah kerja, heh?!” Azel menyindir.
Raka meringis.
“Selamat ulang tahun, Ka.” Azel menepuk bahu Raka. Sebenarnya dia cukup bangga pada anaknya. Di usia yang cukup muda, Raka menemukan impiannya sendiri, bahkan sudah berpenghasilan sendiri. Meskipun dia melimpahkan banyak fasilitas pada Raka, anaknya itu tidak sekalipun menyalahgunakan privilege yang dia berikan.
“Makasih, Pa.”
“Kamu belum tiup lilin sama sekali ya?” tanya Nayla.
“Iya.” Raka cengengesan.
“Davina masih tidur?”
“Masih.”
“Biarin aja deh. Kasihan banget, baru dari Paris, perjalanan belasan jam buat kasih surprise ke kamu. Eh, malah ditinggal kerja.”
Raka meringis lagi.
“Udah minta maaf?”
“Udah, Pa.”
Azel mengangguk.
“Nanti kalau dia udah bangun, kita rayain ya. Buat nyenengin Davina aja.”
“Iya, Pa.”
Mereka pun hening setelah itu. Raka cukup bersyukur kedua orangtuanya menyayangi Davina sama besar seperti dirinya.
***
Davina terbangun beberapa saat setelah Raka. Dia tersentak begitu sadar bahwa dia tertidur jauh lebih lama dari yang seharusnya. Apalagi saat menyadari bahwa Raka sudah tidak ada di sisinya. Dia semakin mengutuk diri saat melihat jam di ponselnya. Sudah pukul dua siang??? Tidur atau mati suri dia tadi???
Davina pun merapikan diri, lalu langsung beranjak keluar.
Raka tersenyum jahil begitu menyadari kehadiran Davina.
“Hey, sleeping beauty! Udah bangun?” Raka nyengir.
Davina menggerutu.
Terdengar suara terkesiap.
Raka dan Davina menoleh ke asal suara. Azel dan Nayla sedang cengengesan berdua.
“Papa sama Mama kenapa?” tanya Raka, mengira dia sedang diledek.
Nayla geleng-geleng sambil mengibaskan tangan, “Gak apa. Mama baru sadar kamu emang anak Papa kamu!”
Azel hanya senyam-senyum.
Raka meringis, orangtuanya memang suka nostalgia sendiri.
“Ayo, kita rayain ulang tahun Raka, Dav,” kata Nayla, sambil merangkul Davina.
“Maafin Davina ketidurannya kayak orang mati ya, Ma.” Davina garuk kepala.
“Ya ampun, kamu tidur sampe besok juga Mama maklum, Dav. Kamu kan masih jetlag.”
Davina hanya mengangguk.
Mereka pun berjalan ke meja makan berempat. Nayla mengeluarkan kue ulang tahun Raka lalu menancapkan lilin untuk dinyalakan.
Mereka bernyanyi sebentar, lalu Raka meniup lilinnya.
“Selamat ulang tahun.” Nayla dan Azel kembali memberikan ucapan dan pelukan untuk Raka.
Raka tidak menjawab, hanya membalas pelukan kedua orangtuanya sambil bersyukur dalam hati. Di umurnya yang baru ini, kedua orangtuanya masih sehat dan bahagia.
Setelah itu, dia beralih pada Davina. Nayla dan Azel pun segera keluar dari ruang makan untuk memberikan waktu mereka ngobrol berdua.
Raka merengkuh Davina.
“Selamat ulang tahun! Sekali lagi…”
“Thank you, Devni.”
Raka pun melepaskan pelukannya setelah beberapa saat.
“Aku boleh traktir kamu makan malam untuk minta maaf?” tanya Raka.
Davina mengangguk.
Raka kembali bersyukur dalam hati bahwa Davinanya tidak memperpanjang masalah kemarin.
Ponsel Raka yang tergeletak begitu saja tiba-tiba berdenting. Dari layar pop up, Davina bisa melihat bahwa Julialah yang mengirimkan pesan untuk Raka.
Jules : Saking hecticnya kemarin sampe kelupaan. Happy birthday, Ka! Wish you all the best.
Davina diam saja. Raka sendiri sudah meraih ponselnya untuk membalas pesan itu.
Davina segera berjalan keluar ruangan tanpa Raka sadari. Dia mencoba berpikir jernih, mengesampingkan kegelisahannya.
Davina lupa…
Bahwa bom waktu itu bisa meledak kapan saja.
***
Ada yang tahu kenapa Azel dan Nayla ketawa waktu Raka ngomong begitu? Hihi. Maaf ya kalau episode kali ini ada ngasih lihat sweetnya Nayla dan Azel, author lagi kangen banget sama mereka hehe.