Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
He Kissed My Lips, I Taste Your Mouth



Rara mengelus bahu Davina yang berguncang hebat. Terlalu banyak hal yang dipendam Davina sendirian. Dia paham betul perasaan adiknya itu.


Dia tidak tahu harus cerita kepada siapa. Satu sisi, Raka masihlah seorang keluarga. Dia tidak akan tega menceritakan kejelakan Raka pada kedua orangtuanya. Di sisi lain, dia perlu mengeluarkan seluruh perasaannya agar dia dapat baik-baik saja.


“Banyak orang punya masalah lebih berat. Gak punya uang, gak bisa makan. Kenapa gue selemah ini, Kak? Cuma karena patah hati dan kehilangan mimpi? Kenapa gue sampai kayak gak punya harapan hidup lagi?” Davina begitu menyesali dirinya sendiri. Dia benci merasa jadi orang paling menyedihkan, padahal kenyataannya tidak.


Dia tahu banyak orang yang lebih tidak beruntung darinya. Namun, kenapa perih di hatinya tidak juga kunjung mereda?


Jika saat ini Raka ada di sisinya, tentu laki-laki itu akan tahu apa yang harus dikatakan.


It’s okay not to be okay, Devni.


Tapi laki-laki itu sudah tidak ada lagi untuk mengingatkannya. Bahkan malah laki-laki itlah yang jadi penyebab semua ini menjadi tidak baik-baik saja.


“Dav… just cry. Cry it out loud til your heart’s content. Then, come back strong. Cause you’re a strong woman.”


Davina terus menangis, meraung, merintih selama beberapa saat.


Dan Rara menemaninya selama itu. Dengan sabar dia mengusap-usap bahu Davina.


“Lo bakal ketemu sama mimpi baru, Dav. Lo bakal ketemu sama cinta baru,” kata Rara akhirnya.


“Tapi gue gak mau mimpi baru, Kak. Gue gak butuh cinta baru…” Davina merintih.


“Dav, lo kan masih bisa nari balet. Ini bukan akhir segalanya buat lo.”


“Gue udah gak bisa nari di atas panggung lagi, Kak. Gue… gak bisa…”


Rara tak peduli lagi jika bajunya akan basah dan kotor karena busa-busa. Dia menarik Davina dalam rangkulannya. Adiknya harus tahu bahwa ini bukanlah akhir dari segalanya untuk Davina.


“Lo masih bisa ngajar, Dav, bukannya lo juga pernah niat jadi guru balet?”


Dalam sekejap, airmata Davina berhenti. Rara senang luar biasa, dalam hatinya timbul harapan.


Tak lama kemudian Davina bersuara, “Yeah, but not until I’m thirty.”


“Kan gak apa-apa kalau dimulai dari sekarang. Ntar lo bikin sekolah baru aja, bersaing sama Nararya.”


Dan jiwa Davina kembali tersentil.


Bersaing dengan Nararya? Bersaing dengan sekolah yang telah mengasuhnya sejauh ini?


Melihat cahaya yang tiba-tiba terpantik di mata Davina, Rara tersenyum kecil. Airmata adiknya itu telah mengering.


Dia pun melepas rangkulannya, lalu kembali memijat bahu Davina.


“Dan… untuk cinta baru…” Rara meneruskan.


Tapi Davina langsung memotong kalimat Rara, “Kayaknya untuk yang satu itu, gue belum siap, Kak.”


“Gak harus buru-buru nyari pengganti si brengsek Raka, Dav. Gue cuma pengen lo membuka diri lagi. Richard mungkin dulu gak berhasil. Tapi gue yakin… ada satu laki-laki di luar sana… yang hatinya, akhirnya, bisa bikin lo jatuh cinta lagi…”


“Tapi… Raka…”


Rara langsung memotong, “Tapi Raka udah pergi. Dan gak pantes lagi dapetin lo.”


Davina terdiam.


“You deserve so much better, Dav.”


Kalimat itu meresap di hati Davina.


Bukan karena dia sombong merasa pantas mendapatkan orang yang jauh lebih baik dari Raka. Sama sekali bukan. Sebab dia tidak yakin ada yang lebih baik untuk hatinya dibanding laki-laki yang teramat dia cintai itu.


Namun…


Dia merasa bertanggung jawab untuk menghargai dirinya sendiri. Kalau dia membiarkan orang lain terus menerus menyakiti dirinya, bukankah itu salahnya sendiri?


Rara membiarkan Davina larut dalam pikirannya sendiri sejenak. Menyadari bahwa adiknya itu sudah puas mengeluarkan seluruh perasaan yang terpendam, Rara pun segera bangkit berdiri.


“Udah kan? Tangan gue pegel nih…” Dia pura-pura mengeluh.


Davina menoleh pada Rara, “Thanks, Kak.”


“You owe Keysha a new doll house.”


Davina terkekeh.


Rara berjalan keluar dari kamar mandi sambil mengeluh tentang dirinya yang penuh busa sabun, “Oh My God, I’m so gross!”


Davina tertawa. Sadar betul kakaknya itu hanya pura-pura kesal.


Davina selalu merasa bersyukur atas kehadiran Rara dalam hidupnya. Kakaknya itu selalu membuatnya berpikir secara rasional.


Sekeluarnya dari kamar mandi, Davina segera meraih ponselnya. Menekan tombol panggilan ke sebuah nomor.


“Ya?” Orang itu langsung menjawab.


“Yun?”


“Hm?”


“Gue minta nomor Nikolas.”


Yuni terdiam sejenak di ujung sana.


“Yun?” panggil Davina lagi.


“Are you serious, Dav?”


“Yap!”


“Oke, nanti gue kirim.”


“Thanks, Yun.”


***


Enam Bulan Kemudian…


“Aku bangga banget sama kamu.” Nikolas tersenyum pada Davina.


“Harus dong!” Davina tersenyum.


Mereka kini berdiri di depan sebuah gedung yang baru berdiri. Sekolah balet milik Davina. Setelah proses panjang, akhirnya dia dapat mendirikan sekolah impiannya.


Davina memberikan nama Espoir pada sekolahnya itu. Yang artinya harapan. Sebagai doa untuk dirinya sendiri agar sekolah ini menjadi harapan baru untuknya. Mimpi baru.


“Udah berapa anak yang daftar?”


“Dua.” Davina tertawa, sumbang. Tapi dia sama sekali tidak terlihat patah semangat.


“Baru buka udah ada dua murid. Hebat!”


Davina mencibir. Yakin sekali meski tidak ada murid yang mendaftar, Nikolas akan tetap memujinya.


“Ya udah. Aku cuma mau nunjukin gedung Espoir sama kamu. Yuk pulang? Mama udah nungguin aku di rumah. Pengen ngomongin acara untuk besok.” Davina meringis mengingat acara anniversary kedua orangtuanya itu.


Bukan apa-apa.


Dia hanya akan bertemu dengan seseorang disana nantinya…


Semoga hatinya sudah siap…


Nikolas mengangguk, lalu mereka pun berjalan menuju mobil.


Begitu mereka duduk nyaman di dalam mobil, Nikolas beralih memandang Davina.


“Kamu yakin besok udah sanggup?” tanya Nikolas.


“Yakin dong.” Davina berkata mantap. Padahal hatinya berkata lain.


Nikolas tersenyum sambil mengelus pipi Davina.


“Tell me, Dav.”


“Tell you what?”


“Kita ini apa?”


Davina diam. Sudah enam bulan terakhir ini dia menggantung cinta Nikolas. Membiarkan laki-laki itu mengobati hatinya, namun tidak memberikan kejelasan sama sekali.


Bukankah ini kejam?


Davina menarik pelan nafasnya. Bahkan saat Nikolas menyentuhnya seperti ini saja, hatinya malah meneriakkan sebuah nama lain.


Tapi Davina tidak bisa seperti ini terus.


Dia menatap dalam mata Nikolas.


“Kamu maunya?” tanyanya.


“You know what I want, Dav. Pertanyaannya cuma satu. Kamu yang maunya apa?”


Davina memegang tangan Nikolas di pipinya.


Bukan dia. Bukan dia.


Tapi dia mengabaikan teriakan hatinya sendiri.


“Aku maunya kamu, Nik.” Dia tersenyum.


“Jadi?”


“Perlu diperjelas kayak gimana lagi sih, Nik?”


Nikolas tersenyum.


Wajahnya perlahan mendekat.


Davina cepat-cepat menutup matanya. Lalu bibir itu menyentuh bibirnya. Lembut dan perlahan.


Davina terdiam. Tidak punya daya untuk membalas.


Sebab…


Bahkan ketika Nikolas menciumnya dengan sepenuh hati seperti ini pun, dia tetap merasakan bibir Rakalah yang sedang menyentuhnya saat ini.


Segala sesuatu terkadang tidak bisa berubah.


Apalagi ketika besoknya Davina melihat Raka menggandeng tangan Julia di acara anniversary kedua orangtuanya.


Hatinya tetap bergemuruh untuk laki-laki itu. Matanya tetap mencari. Bahkan ketika mereka berpapasan di depan stan free flow beer, Davina harus menahan mati-matian keinginannya untuk menanyakan kabar Raka.


“Aku gak bisa menggapai mimpiku, Ka. Jadi aku mencari mimpi baru. Dan sekarang, aku udah dapetin mimpi itu,” kata Davina, sambil memandang Nikolas.


Lalu dia berjalan pergi.


Sambil memuji dirinya sebagai aktris dengan lakon paling apik. Pembohong paling telaten.


Sudahlah.


Dia dan Raka memang sudah benar-benar berakhir.


***


Jangan lupa baca Bab 47 dulu ya sebelum baca bab terbaru besok 😉