Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
@julesooo Mentioned You In Their Story



Seusai makan malam, Davina merasa tidak enak jika langsung pulang. Maka, dia memutuskan untuk singgah lebih lama di rumah Nayla dan Azel.


Kini mereka berempat berada di ruang keluarga sambil menonton sebuah sitcom di Netflix. Seperti biasa, Raka selalu menempatkan diri di lantai, agar bisa tiduran di paha Nayla.


“Ka, kamu gak malu manja-manja begini di depan Davina?” tanya Nayla.


Raka menggeleng.


“Raka baru akan berhenti, kalau Davina udah mau gantiin posisi Mama,” kata Raka, mantap.


Davina meringis. Azel geleng-geleng kepala, tidak habis pikir bagaimana dia bisa menghasilkan keturunan setidak-tahu-malu ini.


“Dav, kalau kamu akhirnya milih Nikolas, Papa gak heran kok.” Azel menepuk punggung tangan Davina.


Raka merengut.


“Sikap kamu begini, gimana Davina bisa demen sih?!” Nayla menggerutu, sambil mengacak rambut anaknya.


Davina tersenyum kecil.


Pikirannya tidak bisa berhenti berpikir dan berimajinasi. Mungkin dulu, kalau saja hubungan mereka tidak putus di tengah jalan, ini mungkin akan jadi salah satu kegiatan favorit Raka dan Davina.


Semua harusnya segampang ini…


Semua harusnya sesederhana ini…


Kalau saja Raka tidak dengan bodohnya menyimpan seluruh perasaannya sendirian.


Dan ketika Davina sudah berhasil move on, kini Raka seperti menunjukkan perasaannya terang-terangan. Ibarat air di sungai pegunungan. Bahkan bisa memperlihatkan dasar sungainya.


“Katanya, Espoir mau ngadai acara di GKJ ya, Dav?” Azel mengalihkan pembicaraan pada Davina. Dia ingin membuat Davina tetap merasa nyaman di rumah ini.


“Iya, Pa. Espoir kerja sama dengan sekolah Davina yang dulu. Oh iya, Papa sama Mama mau datang gak? Davina bisa kasih tiketnya.” Mata Davina tampak berbinar.


“Mau dong. Kapan acaranya, Dav?” Wajah Nayla langsung berubah antusias. Seluruh anggota keluarga MJB adalah penggemar Davina garis keras. Mereka hampir selalu mendatangi acara penampilan Davina.


“Sabtu ini, Ma.”


“Mau dong. Dua tiket ya, Dav. Buat Papa sama Mama.” Azel nyengir.


Tapi sebelum Davina sempat mengiyakan, Raka langsung menyela.


“TUNGGU DULU!” Nada suaranya terdengar tersinggung.


Mereka semua langsung menoleh pada Raka.


“Kenapa kamu?” tanya Nayla.


“Raka ada disini loh. Hidup. Bernafas. Kok dianggap kayak hantu sih?!” Raka menggerutu.


“Siapa yang anggap kamu kayak hantu?” Azel mulai mengisengi Raka.


“Cuma minta dua tiket tuh artinya apa?” Raka menggerutu.


“Siapa juga yang mau ngundang kamu? Davina gak mau Raka datang kan?” Nayla mengerling pada Davina.


“Maaaaa!” Raka merengek.


“Aku sih cuma mau kasih tiket buat Papa Azel dan Mama Nay ya.” Davina ikut-ikutan menggoda Raka.


“Tapi aku mau ikut!” Raka memaksa.


Sementara Davina sudah mengabaikannya. Wanita kesayangannya itu malah beralih pada tasnya, lalu mengambil dua buah tiket dan memberikannya pada Azel dan Nayla.


“Datang ya, Pa, Ma.” Davina tersenyum.


“Pasti, pasti,” jawab Azel.


Raka terpelongo. Dia sungguh-sungguh seperti dianggap tidak ada oleh tiga orang di hadapannya.


“Aku beli sendiri nanti! Beli di calo juga aku jabanin!” Raka bertekat bulat.


“Mana ada yang jual.” Davina tertawa, meledek. Memangnya dia kira ini konser Idol K-Pop atau Ed Sheeran?


Raka mendengus.


“Makanya, kamu tuh jangan bandel!” Nayla mengacak-acak rambut Raka.


Raka tidak menanggapi lagi, lalu kembali meletakkan kepala di paha Nayla.


“Ma, gimana sih caranya dapetin Davina lagi?” gumam Raka.


Davina hanya geleng-geleng. Nayla melirik Davina dan membuat wajah meminta agar anaknya dimaklumi.


“Orangnya ada disini kenapa gak nanya langsung sih?” tanya Nayla.


“Davina gak bakal mau jawab Raka. Mama mau gak coba nanyain?” Raka memelas.


Davina tertawa geli karena tingkah Raka ini. Melihat betapa santainya Davina menanggapi tingkah anaknya, Nayla memutuskan untuk mengikuti alur yang diciptakan Raka.


“Jadi, Dav, Mama mau nanya, gimana caranya sih supaya anak Mama bisa dapetin kamu lagi?” tanyanya.


“Kalau Raka bisa bangun seribu candi dalam satu malam buat Davina, bakalan dipertimbangkan deh.” Davina juga mengikuti alur itu.


Raka memindahkan kepalanya ke bagian sofa di antara Davina dan Nayla, lalu menatapnya dalam-dalam, “Beneran? Aku yakin bisa bangun seribu candi dalam satu malam kalau itu bisa bikin aku dapetin kamu lagi.”


Davina menaikkan alisnya. Tidak menyangka sama sekali bahwa Raka akan terang-terangan menggombalinya di depan orangtua sendiri.


Untungnya Azel dan Nayla langsung punya cara untuk membuat Davina merasa nyaman lagi.


Nayla menggebuk kepala Raka dengan bantal, sementara Azel pura-pura mencekik anaknya itu, sambil berkata, “Malu Papa punya anak kayak gini…”


Davina tertawa. Akhirnya. Tawa yang renyah. Tanpa beban.


***


Beberapa jam kemudian, Raka dan Davina sudah kembali berada di dalam mobil. Mereka sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah Davina.


Saat melihat palang Starbucks, Raka langsung teringat bahwa banyak sekali yang harus dia kerjakan malam ini. Tapi, rasanya dia sudah mulai mengantuk karena kekenyangan.


“Boleh beli kopi bentar gak?” tanya Raka pada Davina.


Davina hanya mengangguk saja. Sudah diberi makan, diantar pulang, memangnya dia pantas menolak?


“Kamu mau nitip gak?” tanya Raka, lagi.


“Enggak. Makasih.”


Raka pun memarkirkan mobilnya. Namun, saat Raka hendak keluar dari mobil, ponselnya tiba-tiba berdering. Raka memeriksa sebentar ponselnya.


Dari Diana.


“Kok Mama Dee nelepon aku?” tanya Raka, heran.


“Oh, hapeku mati.”


“Aduh, pasti Mama Dee khawatir. Ya udah, jawab gih!” Raka menyerahkan ponselnya.


“Kamu gak butuh hape buat bayar-bayar emang?” tanya Davina.


“Pake debit aja.”


“Oh, oke.” Davina pun menerima ponsel tersebut.


Sementara Raka sudah berjalan ke dalam Starbucks, Davina pun menjawab telepon mamanya.


“Halo? Kenapa, Ma?”


“Kamu darimana, Dav? Kok hapenya mati?” tanya Diana. Ada nada lega dalam suaranya. Meski Davina sudah sebesar ini, Diana akan tetap selalu khawatir jika anaknya tidak bisa dihubungi.


“Tadi mampir ke rumah Mama Nay dulu, ini udah di jalan pulang. Hape Davina habis batere.”


“Ngapain ke rumah Mama Nay? Tumben amat!”


“Kangen aja.”


“Kamu tuh maunya jadi menantu Mama Nay atau Mama Angel sih, Dav?” Dave terdengar menyahut jahil di ujung sana.


“Berisik deh, Pa!” Davina menggerutu.


Dave dan Diana langsung tertawa.


“Ya udah, jangan ngambek! Jam berapa nyampe rumah?” tanya Diana, lagi.


“Paling dua puluh menit lagi.”


“Oke deh. Hati-hati bilang sama Raka.”


“Iya, Ma.”


“Hati-hati jaga hati kamu maksudnya…” tambah Dave.


“BYE, PAAAA!” Davina langsung memutus sambungan telepon tersebut.


“Papa macam apa sih!!!” gerutu Davina, lagi. Kesal sendiri.


Tak lama kemudian, ponsel Raka berdenting.


Davina otomatis melirik. Hanya bentuk reaksi spontan, bukannya berniat ingin tahu.


Sebuah notifikasi media sosial Raka.


@julesooo mentioned you in their stories.


Hati Davina mencelos.


Dia tahu @julesooo adalah nama akun media sosial Julia. Bagaimana pun juga, Davina adalah seorang wanita. Dia sempat beberapa kali memeriksa media sosial Julia hanya untuk sekedar memastikan bahwa Raka tidak bersama dengan Julia setelah mereka putus.


Dan seingat Davina, Julia sudah lama tidak pernah terlihat berhubungan dengan Raka di media sosialnya, kenapa sekarang wanita itu membuat sebuah tautan bersama Raka?


Davina berusaha menolak keinginan untuk mengetahui apa isi tautan itu.


Tapi hati kecilnya berkata bahwa dia harus tahu.


Tanpa pikir panjang, dia pun membuka tautan tersebut.


Dan terpampanglah foto tiga sekawan tersebut. Julia duduk di tengah sambil merangkul Albert dan Raka di samping kanan dan kirinya.


Tautan itu diberi caption singkat saja.


Reunian lagi nih kita?


Lalu ditautkan pada nama media sosial Raka dan Albert.


Davina langsung meletakkan dengan kasar ponsel Raka di atas dashboard mobil. Dia tidak ingin melihat foto itu lama-lama.


Sebab kebersamaan Raka dan Julia… perlahan membangkitkan beberapa kenangan menyakitkan di benaknya.


Dan Davina benci semua itu.


***


IG : @ingrid.nadya