Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
80



Sean berdecak ketika melihat pria yang duduk di atas lantai gudang , tak ada satu luka pun terlihat di tubuhnya . Yang artinya Damian benar benar tidak menyentuh pria itu .


" Tu-tuan Sean .... "


Hans yang tadinya sedang duduk melamun langsung berusaha berdiri untuk menyambut orang yang baru saja masuk ke ruang di mana dia disekap . lni seperti mimpi buruk untuknya karena seingatnya semalam dia masih tidur di apartemennya . Tapi ketika bangun badannya sakit semua dan ternyata dia sudah tertidur di atas lantai kotor dan pengap .


Ya , orang orang Damian membiusnya ketika dia masih dalam keadaan tidur di atas ranjangnya . Sengaja dilakukan seperti itu agar lebih mudah dan tidak membuang waktu mengingat sang pemimpin ingin semua dilakukan dengan cepat .


BUGGHHHH ... BUUGGHHHH


Dua pukulan langsung Sean layangkan pada Hans karena tak kuasa lagi menahan emosi yang terlanjur meledak . Darah segar tampak langsung mengalir di dua sudut bibir pria yang berdiri dengan kaki bergetar itu .


" Seharusnya kau tahu aku membiarkanmu masih bernafas di dunia ini hanya karena Darrell . Tapi berani beraninya kau malah berniat untuk menyingkirkan wanitaku !! "


" Bu-bukan ide saya Tuan ... saya tidak akan berani mengusik anda ! Lagipula saya seharusnya sudah merasa senang karena putra saya .... ! "


" PUTRAKUUU !!!! " seru Sean hingga pria di depannya tidak meneruskan kata katanya . Sedang Hans sedang merutuki dirinya sendiri karena salah dalam berkata , tak seharusnya ia menyebut Darrell adalah putranya . Bukannya Sean mengira jika Darrell adalah putra kandungnya ?


BUGGHHHH ..


" Lawan aku b*ngsat !!! Tunjukkan keberanianmu sebagaimana kau sudah berani menyentuh milikku !! "


" Tapi Tiff yang selalu mengejar saya yang waktu itu masih menjadi manajernya , dia yang mengatakan akan melakukan apapun selama saya bisa membawanya ke puncak karirnya " kilah Hans mencoba membela diri dan mencari kambing hitam .


Sean mendengus kasar karena bukan Tiff yang ia maksud sebagai miliknya . Tapi Lana ... beraninya Hans dan Tiff menyewa orang orang untuk mencoba melenyapkannya .


" Kau pikir aku bodoh .... aku tahu semuanya ! Darrel adalah putraku karena akulah orang yang pertama kali mendengar tangisnya dan aku juga orang yang pertama mendengar tawanya . Dua tanganku yang yang menopang tubuh kecilnya ketika langkah pertamanya . Katakan padaku satu saja yang membuatmu pantas untuk disebut sebagai ayahnya selain darah sialanmu yang mengalir di nadinya !!! "


" Dia lahir dari rasa cinta kami "


Sean terdengar terbahak mendengar jawaban yang terdengar sangat konyol untuknya . Dia tahu jika Hans adalah seorang pria yang mempunyai banyak sekali wanita . Hampir setiap malam ia akan bermain dengan wanita yang berbeda untuk memuaskan hasratnya . Hans bertahan dengan Tiffany karena wanita itu adalah tambang uangnya .


Hans selalu berhasil meminta uang pada Tiffany dengan memakai berbagai alasan . Dan Darrell adalah nama yang dia gunakan untuk mengancam , Hans mengancam jika dia akan mengatakan semuanya pada Sean jika keinginannya tidak terpenuhi . Walau sudah mempunyai usaha tapi itu tak pernah bisa cukup untuk membiayai gaya hidupnya yang foya foya .


" Cinta ?? Bahkan kalian berniat menyingkirkannya enam tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan , kalian buat Darrell harus hidup di atas kursi rodanya . Apa seperti itu cinta yang kalian maksud ?! "


" Dan bodohnya aku menyangka jika kecelakaan itu disebabkan oleh orang lain ! " Sean tampak menjeda kata katanya , hatinya terasa nyeri ketika mengingat semua kebencian yang ia berikan pada istri keduanya ... Ah tidak ! Lana akan menjadi istri satu satunya jadi ia tak akan menyebut wanita itu sebagai yang kedua .


" Jika ada yang ingin aku lakukan saat ini adalah melenyapkanmu dan membuatmu menyesal karena pernah hidup di dunia ini !! Tapi aku tidak ingin mengotori tanganku dengan darahmu .... PENJAGA !!! "


Hans panik karena tiba tiba saja dua penjaga dengan tubuh besar masuk ke ruang tempat dimana mereka berada .


" Aku hanya ingin kalian menanganinya , pastikan jika aku tidak akan pernah melihatnya lagi .... "


Bukan tanpa alasan jika Sean mengurungkan niatnya untuk meluapkan emosi pada pria selingkuhan mantan istrinya itu . Tapi dia tak ingin ada kelak ada kesalahpahaman antara dirinya dan Darrell mengenai hal ini . Sean memang ingin pria itu lenyap ... Tapi tidak dengan tangannya sendiri .


" Baik Tuan ... "


Setelah berkata seperti itu Sean keluar dari ruangan pengap itu , tak peduli ketika selang tak berapa lama terdengar lolongan kesakitan dari dalam sana . Saat ini tujuannya hanya satu , bisa tidak bisa ia harus melihat Lana malam ini juga .


Hanya akan melihat karena sesuai dengan perkataan Damian , kehadirannya mungkin akan membuat sebuah pukulan emosi yang membahayakan untuk janin yang sedang dikandung istrinya .


" Tunggu aku sayang .... "


*


" Euugghhhh ... "


Suara lenguhan itu tak terasa lolos dari bibirnya , Lana merasa kali ini dia bermimpi sangat indah , ia sedang bermimpi jika iblis jelek menyebalkan itu sedang mengecup suruh bagian wajahnya . Dan dia merasa bersemangat ketika bibir pria itu sudah membungkam bibirnya dengan penuh kelembutan.


Lana sangat menikmatinya karena entah sejak kapan tapi ia merasa sangat merindukan setiap sentuhan suaminya . Mungkin hormon kehamilan membuatnya ingin dimanja dan dicintai oleh pria yang menjadi ayah dari janin yang di kandungnya . Walau itu tidak mungkin terjadi karena Sean sangat membencinya .


Beruntung jika ia bisa menikmati cumbuan itu dalam alam mimpinya karena ia tak mungkin mau merespon sebaik ini jika berada di alam sadarnya . Lana meremat pundak sang suami ketika ciuman yang mulanya sangat lembut itu menjadi sedikit ' panas ' .


Lana mengimbangi setiap cecapan dan hisapan lembut pada bibirnya , hingga kemudian ia merasa kehilangan karena suaminya melepas tautan bibir mereka . Sungguh ia masih ingin menikmati mimpi indahnya itu lebih lama . Tapi bibirnya kemudian tersenyum ketika samar terdengar sebuah suara yang mampu mendamaikan hatinya .


" Aku mencintaimu sayang ... maafkan aku ! "