Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
43



" Tegakkan kepalamu !! lngat .... Nanti kau harus berbicara seperti yang diajarkan oleh Mommy . Berkata katalah dengan lemah lembut tapi terkesan cerdas , Mommy yakin Sean akan terpesona denganmu ... " ujar Davina yang saat ini ada di sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari gedung Alexander .


Untuk kesekian kali dia mengundang Sean untuk makan siang atau makan malam , tapi baru kali ini sekretaris utama Sean menjadwalkan pertemuannya . Beruntung pria menyebalkan yang merupakan tangan kanan Sean tidak mengetahui rencana ini karena Davina langsung berkoordinasi dengan sekretaris utama Alexander .


Sebelum datang ke kafe itu dia dan putrinya sempat pergi ke butik untuk membuat tampilan Ranaa sempurna . Sebuah dress selutut warna peach dan polesan tidak berlebih pada wajah cantiknya membuat tampilan Ranaa segar dan semakin manis .


Walau tidak suka Ranaa tetap menuruti semua yang ibunya inginkan , lagipula dia yakin selera Sean Jayde bukanlah gadis seperti dirinya . Suka atau tidak setidaknya ia sudah memenuhi permintaan ibunya . Dan setelah ini dia akan bisa kembali pada kehidupan normalnya . Kehidupan yang tidak mengharuskan ia untuk selalu tampil sempurna dengan bulu mata ataupun dress yang tidak ia suka .


" Selamat siang .... "


Suara bariton yang tiba tiba menyapa membuat mereka langsung menoleh ke arah suara , dan Davina berdecih kasar ketika tahu siapa yang sudah hadis di tengah tengah mereka . Seorang pria yang benar benar tak ia harap kehadirannya karena selama ini selalu mencegah pertemuannya dengan Sean .


Sedang Damian ataupun Ranaa sedang saling menatap dengan sorot masing masing yang tak bisa di artikan . Tapi hanya sebentar karena setelahnya mereka membuang muka . Ranaa tak menyangka akan bertemu pria monster itu ditempat ini . Pantas saja tempo hari para penjahat itu tidak berani menyentuh Damian karena ternyata pria itu adalah bagian dari perusahaan Alexander .


" Mana Tuan Sean ? Kenapa jadi kau yang datang ? Aku tidak punya janji temu denganmu !! " sinis Davina tanpa melihat ke arah lawan bicaranya .


" Boleh saya duduk ? "


Walau pertanyaannya belum mendapat jawaban tapi Saking langsung duduk di depan tua wanita beda generasi itu . Ada sedikit miris karena mengetahui jika putri dari wanita bernama Davina itu adalah seseorang yang sudah beberapakali bertemu dengannya . Gadis pemberani yang sangat ceroboh dan semaunya sendiri !


" Bukannya anda membuat janji dengan alasan membahas mega proyek Adipraja di negara ini Nyonya ?? Berbicara dengan tuan Sean atau saya sama saja jika itu bersangkutan dengan bisnis .Tuan Sean sedang sangat sibuk .... Bukannya kemarin saya sudah mengatakan hal itu pada Nyonya ?? "


" Aku hanya diam berbicara dengannya ... titik !! Jangan harap kalian menang tender proyek Adipraja itu tanpa aku !! " pekik Davina menyedekapkan tangannya untuk menunjukkan kesombongannya . Wanita itu berpikir Damian akan berpikir ulang ribuan kali saat ini .


Mega proyek Adipraja adalah incaran semua pengusaha di negeri ini . Proyek itu dipimpin langsung oleh Prabu Endaru Adipraja yang merupakan putra sulung dari pasangan Janu Kamma dan Queen Ava . Sebenarnya Davina tidak bekerja langsung dalam proyek itu , tapi dia punya beberapa kenalan yang mungkin bisa membantunya .


" A-apa ... tidak mungkin !! Jadi ... "


" Ehhmm maaf , saya ke toilet sebentar ! " Ranaa yang sebenarnya sangat malu dengan tingkah ibunya langsung pamit pergi . Dia tak ingin melihat wajah menyebalkan Damian yang pasti sudah merasa menang dan mengejek kebodohan mereka .


Damian hanya melirik sekilas wanita yang tampil berbeda dari biasanya itu . Damian merasa Ranaa tidak sedang menjadi dirinya sendiri , ia tahu jika gadis itu pasti sangat malu karena sudah menjadi gadis yang akan dikorbankan oleh ibunya sendiri . Tapi Damian tetaplah seorang Damian , walau sedikit iba tapi dia merasa itu bukan menjadi urusannya .


" Jadi apa yang ingin anda bicarakan dengan saya terkait proyek itu Nyonya ?? " tanya Damian tersenyum.smirk melihat wajah yang masih kebingungan itu .


" Pergi !!! Aku tidak punya urusan denganmu , aku masih punya banyak urusan lainnya !! "


" Baik jika begitu , saya pamit kembali ke perusahaan . Dan terimakasih untuk sambutannya Nyonya " ujar Damian kemudian beranjak pergi .


Pria dengan wajah berparut itu sempat menjadi perhatian beberapa pengunjung , ada beberapa yang berdecak kagum karena tubuh sempurnanya tapi ada juga yang mengernyitkan dahi ketika melihat luka di wajahnya . Reaksi yang sudah biasa Damian lihat .


Sampai di area parkir Damian segera masuk ke mobilnya , bersiap untuk kembali ke perusahaan karena setelah ini dia akan memimpin pertemuan intern perusahaan antara divisi marketing dan keuangan . Tapi sebelum ia menginjak gas tiba tiba seorang gadis masuk ke mobil dengan nafas terengah , dan tanpa aba aba malah naik ke pangkuannya dengan posisi berhadapan .


" Apa yang kau lakukan !!? " geram Damian yang melihat gadis yang tadi sempat ia temui terlihat sangat panik dengan pandangan ke belakang . Sepertinya seseorang sedang mengejarnya .


" Kiss me ... hurry !! "


" Ap .... Emmmpphhttt !!! "