
Davina pernah menebak-nebak…
Kira-kira kapan dia akan berhenti menari balet di atas panggung. Kapan dia akan berhenti memukau orang-orang dengan segala gerakan-gerakan anggunnya.
Mungkin saat berumur tiga puluh tahun.
Atau empat puluh tahun.
Dulu rasanya semua itu masih begitu jauh. Dia berharap bisa terus membuat orang berdecak kagum dari atas panggung.
Tidak pernah dia menyangka bahwa saat ini, untuk berjalan aja dia harus berjuang keras. Dia menatap pantulan dirinya di ruangan fisioterapi. Wajah yang lelah. Bahkan hanya untuk berjalan saja.
Apakah nanti dia akan masih bisa menari??? Apakah karirnya sebagai balerina sudah berakhir???
Untuk yang kali ini, Davina tidak mau menebak-nebak.
Meski patah setiap tulangnya. Meski hancur seluruh kakinya. Satu yang tidak boleh hilang dari dirinya. Yaitu, semangat untuk sembuh!
Terkadang bekas jahitan yang membentang di sekitar lututnya masih terasa nyeri. Namun, dia berjuang keras untuk mengabaikan rasa sakit itu.
Selain karena dia sangat mencintai balet dan tidak ingin punya pilihan untuk mengakhiri kecintaannya itu, sebenarnya dia punya satu alasan lagi. Dia ingin pulih, ingin sembuh, secepat yang dia bisa. Agar Raka tidak lagi perlu merasa bersalah. Agar kekasihnya itu mau kembali ke pelukannya.
Konyol sekali sebenarnya… Bahkan terasa sangat ironis…
Di saat-saat seperti ini, dia malah harus menyemangati dirinya sendiri untuk orang lain. Saat-saat emosi dalam dirinya begitu bergejolak, Raka tidak ada disana untuk menenangkannya. Raka malah tidak berada di sisinya.
Davina tidak mau menyalahkan kekasihnya. Karena hal itu justru akan memperparah hubungan mereka. Dia hanya bisa berusaha meyakinkan diri bahwa apa yang dilakukan Raka hanya karena laki-laki itu terlalu menyayanginya.
Meski sekarang batasan antara “terlalu menyayangi” atau “memang hanya ingin acuh” sudah tidak bisa lagi dibedakan. Karena sebenarnya terkadang Davina merasa lelah jadi orang yang selalu memulai komunikasi dengan Raka.
Kalau dia tidak menghubungi duluan, jangan harap Raka mau mengiriminya pesan.
Tapi Davina harus bersabar…
Agar kejadian yang dulu tidak akan terulang lagi. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa Raka.
Dia pun mengirimkan sebuah gambar untuk Raka di sesi fisioterapinya tadi. Hari ini dia sudah bisa berjalan sendiri!
Davina : Udah bisa jalan. YEAY! Kasih aku selamat dong?
Pesan langsung dibaca hanya dalam beberapa detik.
Dan Raka membalasnya dengan… sebuah emoticon peluk.
Raka membalasnya dengan emoticon peluk!!! Raka tidak lagi bersikap dingin. Apakah Raka sudah kembali??? Apakah kesayangannya itu sudah tidak lagi marah pada keadaan???
Lalu sebuah pesan masuk lagi.
Raka : Makasih udah berjuang keras untuk sembuh, Devni.
Airmata Davina menggenang. Setelah beberapa minggu terakhir, akhirnya pesan Raka tidak lagi bersikap sedingin biasanya!
Davina yakin betul saat dia sembuh total nanti, Raka akan kembali ke sisinya. Dia pun menyandarkan kepalanya ke bahu Diana. Mamanya itu tersenyum.
“Kamu kenapa? Tiba-tiba senang sendiri?”
“Gak apa-apa.”
Seperti biasa, Davina tidak pernah suka membicarakan masalahnya dengan Raka pada siapapun. Bahkan dari mamanya sekalipun. Kadang sebenarnya Davina pun merasa heran, kenapa dia terlalu menjaga nama baik Raka.
Well, mungkin memang sebodoh itulah cinta.
Mobil pun masuk ke dalam halaman rumah Mahardhika, Davina menyadari sebuah mobil terparkir di rumahnya. Yuni? Tumben sekali sahabatnya itu datang ke rumahnya.
“Maaaa, aku bisa dorong kursi rodanya sendiriiii…” Davina merengek.
Tapi Diana mengabaikannya. Mamanya itu mendorong Davina masuk ke dalam rumah. Saat itulah, dia melihat Yuni dan Nikolas sedang bersenda gurau dengan Dave di ruang tamu. Lebih tepatnya Nikolas yang sedang bercanda berdua dengan papanya. Yuni hanya tertawa sesekali.
“Eh, udah pulang, Dav?” Dave yang lebih dulu menyadari kehadiran Davina dan Diana. Dia langsung menghampiri Davina, hanya untuk sekedar memegang tangan putrinya itu.
“Gimana tadi?” tanya Dave.
“Udah bisa jalan dong.” Diana yang menjawab.
Davina nyengir kepada Dave. Jika dia bisa berpura-pura kuat di depan semua orang, hanya pada Dave saja dia tidak bisa berbohong. Papanya menangkap seluruh isi hati Davina, dia meremas tangan Davina seakan ingin memberi semangat.
“Temen kamu datang, disapa dong…” Dave mengingatkan. Davina menoleh malas-malasan pada Yuni.
“Davinaaaaa!” Si tersangka malah tersenyum lebar.
Davina memasang tampang yang tidak terlalu ramah begitu tahu bahwa Yuni membawa ‘temannya’.
“Kok tumben datang gak bilang-bilang?” tanya Davina. Sebenarnya dia tidak akan bertanya tentang hal ini jika Yuni datang sendirian, namun kenapa harus ada Nikolas juga?
Davina sedang malas menimbun masalah. Dia sudah punya koleksi yang banyak untuk itu. Jangan lagi Yuni menambahkan satu!
Yaitu, Nikolas.
Sebenarnya Nikolas tidak ingin tampak seagresif ini, berkali-kali menjenguk, meski baru mengenal. Namun, Yuni terus meyakinkannya.
“Gue gak suka dikasih surprise,” cibir Davina.
Yuni tertawa pelan.
Nikolas jadi salah tingkah. Benar-benar merasa canggung karena sadar bahwa Davina tidak begitu menyukai kedatangannya.
“Eh, Tante Diana, aku boleh koleksi bunga Tante gak?” tanya Yuni tiba-tiba.
Diana langsung tersenyum lebar. Dia baru memulai hobinya ini. Senang rasanya ada orang yang juga tertarik.
“Ayo, Yun! Sini Tante kasih lihat!” Diana langsung menarik tangan Yuni dan menghilang menuju taman belakang rumah Mahardhika.
“Papa sebentar ya ke toilet,” Dave menepuk punggung tangan Davina.
“Jangan lama-lama!” Davina merengek.
“Iyaaaaa!” Dave tertawa, lalu ikut menghilang. Meninggalkan Davina dan Nikolas berduaan di ruang tamu.
Mereka sempat saling membisu selama beberapa saat. Namun, Nikolas tidak betah dengan kecanggungan ini. Dia ingin bertanya terang-terangan.
“Lo gak suka kalau gue datang ya?” tanya Nikolas.
Davina tidak membantah, tidak juga mengiyakan. Kebisuan itu justru sudah bisa menjadi jawaban untuk Nikolas.
“Ya udah, kalau lo gak suka, gue gak bakal datang lagi,” kata Nikolas.
“This is just not right, Nik.”
“I know.”
Mereka membisu lagi.
Tapi Nikolas tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia ingin Davina tahu apa yang bisa dia tawarkan.
“Gue cuma pengen lo tahu, Dav,” kata Nikolas.
Davina menatap mata cokelat laki-laki itu. Mata yang sepertinya ingin menampung segala keresahan Davina.
Wanita itu hanya diam.
Meski mata itu dapat menawarkan segalanya. Bukan mata itu yang dia inginkan.
“Gue pengen lo tahu kalau lo selalu punya pilihan lain. Dan gue yakin, lo gak bakal nyesal kalau membuka diri sama gue,” kata Nikolas, lagi, mantap.
Davina tidak langsung menjawab. Dia berlama-lama menatap laki-laki tersebut hanya untuk memastikan bahwa apapun yang terjadi, seburuk apapun hidupnya sekarang, sekacau apapun hubungannya dengan Raka…
Tapi hanya Rakalah yang dia inginkan. Hanya Rakalah yang dia cintai.
Hal itu begitu mutlak dan tidak bisa terbantahkan.
“Maaf, Nik.” Satu kalimat itu yang meluncur dari mulutnya begitu saja, sudah jadi jawaban paling tepat untuk Nikolas.
Laki-laki itu sebenarnya masih ingin mengobrol lebih lama. Mengungkapkan lebih lanjut isi hatinya, bahwa dia tidak ingin menyerah begitu saja. Namun, Dave sudah kembali.
“Davina masuk dulu ya, Pa. Davina cape.” Davina mendorong sendiri kursi rodanya.
Dave mengangguk saja, mengerti betul bahwa putri kesayangannya itu hanya ingin dibiarkan sendiri saat ini.
Namun, Davina tidak ingin pergi ke kamarnya. Dia malah melajukan kursi rodanya menuju ruang makan. Dia membuka kulkas dan mencari cokelat.
Dia perlu menenangkan diri!
Dia baru akan melakukan gigitan pertama saat Mbak Nur muncul di dapur dengan sebuah buket bunga.
“Cie Mbak Nur dapat bunga. Dari siapa?” goda Davina.
Namun ekspresi wajah Mbak Nur bukannya senang, dia malah terlihat sedih.
“Mbak Nur kenapa?” Davina mengernyit.
Mbak Nur berjalan mendekat ke arah Davina. Feeling wanita itu langsung tidak enak.
“Ini dari Mas Raka, Mbak. Dia tadi kasih ke Mbak, katanya gak enak ganggu.”
Cokelat di tangan Davina langsung terjatuh. Oh tidak, tidak!!! Apakah Raka tadi melihatnya dengan Nikolas???
***