Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Terlalu Berharga Untuk Dilepaskan



Davina segera masuk ke dalam apartemennya. Dia mencari backpack Raka yang biasanya diletakkan sembarangan di sebelah sofa. Namun, dia tidak menemukannya.


Dia juga mencari ke kamar mandi. Tapi tidak ada siapa-siapa di dalam sana.


Dia terduduk lemas di sofa, tidak bisa berpikir.


Sebenarnya apa yang sudah dia lakukan seminggu terakhir ini? Satu-satunya orang yang dia cintai sepenuh hati kembali hadir dalam hidupnya. Tapi daripada merangkul kebahagiaannya sendiri, dia malah keasyikan menghukum Raka.


Dia memaki. Dia menyakiti. Mengucapkan kalimat-kalimat jahat.


Untuk apa?


Untuk membalas rasa sakitnya dulu?


Namun, menangkah dia?


Pada akhirnya, dia selalu kalah.


Sebab dalam hubungan ini, dialah yang lebih cinta. Dialah yang akan selalu takluk pada perasaannya sendiri. Lihat saja, meski dia yang menyuruh Raka pergi dari apartemen ini, tapi tetap dialah yang merasa sedih setengah mati.


Harusnya Davina sadar sejak awal bahwa dia tidak akan bisa kemana-mana jika Raka menginginkannya lagi. Bahkan tidak perlu berpikir lama untuk memutuskan seseorang yang mencoba mengetuk hatinya selama beberapa bulan terakhir.


Harusnya dia tahu bahwa sampai kapanpun perasaannya untuk Raka tidak akan pernah hilang.


Dia mengambil ponselnya, mencari sebuah nomor yang sudah lama tidak dia hubungi. Nama orang itu tetap sama di ponselnya. Elraka. Selengkap-lengkapnya nama depan Raka. Sebab meski Davina jarang memanggil nama itu dengan lengkap, namun dia sangat menyukainya.


Elrakanya.


Harusnya jadi Elrakanya lagi.


Kalau saja dia tidak sombong. Tidak mementingkan ego dan kebodohannya.


Dia menekan tombol panggilan ke nomor Raka.


Dia sempat berharap.


Tadinya dia sempat berharap...


Dia bahkan rela meminta maaf, rela meminta Raka untuk kembali lagi kesini.


Namun, nomornya sudah tidak lagi aktif. Davina jelas tahu bahwa Raka hanya punya satu nomor itu saja. Kalau nomornya tidak aktif artinya dia hanya sedang tidak ingin dihubungi.


Coba bayangin, lo habis ini pulang ke apartemen dan sama sekali gak nemuin Raka dimana-mana. What would you do?


Davina menggigit bibirnya. Airmatanya mulai menggenang.


Hatinya berkata untuk segera beranjak mengejar Raka, mencari laki-laki itu di seluruh penjuru kota, namun tubuhnya seperti diremukkan dalam sekejap. Davina pernah ditinggalkan sekali oleh Raka. Saat itu, Davina mampu bangkit lagi. Tapi untuk yang kedua ini, Davina sudah tidak lagi punya perlawanan, dia sudah tidak punya sisa kekuatan.


Davina membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Bantal itu masih tetap memiliki wangi Raka. Dia menarik selimut. Dan wangi Raka juga masih tertinggal disana.


Davina memeluk selimut itu dengan erat.


Airmatanya mulai menetes satu per satu.


“I’m so stupid...” bisik Davina, lirih.


Sejak pertama kali dia menginjakkan kaki di Paris, tak pernah terbayangkan olehnya sedikit pun untuk bisa melihat Raka lagi. Apalagi melihat Raka yang menginginkannya lagi.


Raka dalam ingatan terakhirnya adalah yang melepasnya begitu saja di bandara. Tanpa satu kata pun.


Namun, laki-laki itu muncul.


Disini.


Mengatakan bahwa dia selalu mencintai Davina, dan akan terus begitu.


Davina menutup mata, meresapi pedihnya. Dia hanya ingin menghukum dirinya sendiri. Semua ini terlalu konyol untuk dipahami.


Davina tidak bergerak satu senti pun...


Dia hanya terus menangis...


Sampai tiba-tiba seseorang menekan pin kunci otomatis apartemennya...


Pintu terbuka...


“Devni? Udah pulang?” tanyanya.


Davina tidak mempercayai pendengarannya. Dia cepat-cepat membuka matanya. Dan berdirilah disana. Orang yang dia cintai sepenuh hati. Elrakanya.


Saat itulah Davina sadar bahwa laki-laki itu terlalu berharga untuk dilepaskan.


***


Begitu Davina keluar dari apartemennya pagi tadi, Raka hanya bisa terduduk lemas di sofa. Rasanya dia hampir menyerah saja.


Penolakan dan makian dari Davina saat ini tidak ada apa-apanya dengan rasa sakit wanita itu karena tingkah bodohnya dulu. Ucapan-ucapan jahat yang tidak termaafkan...


Dia menggaruk kepalanya.


Tidak ada gunanya menyesali masa lalu. Yang penting sekarang adalah apa yang akan dia lakukan untuk memperbaiki semuanya!


Dia kembali mengerjakan semua pekerjaan rumah setelah itu. Perbuatannya sekarang benar-benar memalukan. Kalau sampai Nathan dan Rafael tahu, dia akan jadi bulan-bulanan seumur hidup.


Bagaimana mungkin bisa mengdapatkan lagi hati wanita yang dia sayangi dengan mencuci piring kotor dan menyikat wc-nya?


Raka, Raka!


Kekonyolan yang tidak ada habisnya!


Dia mengusap peluh yang mengalir di pelipisnya, memandangi sekelilingnya yang sudah bersih mengkilap. Dia bangga pada hasil kerjanya! Semua sudah bersih dan rapi!


Mungkin ini tidak bisa mengambil hati Davina. Namun, dia senang membuat gadis kesayangannya itu merasa nyaman di apartemen ini.


Sebuah pesan masuk ke ponselnya tak lama kemudian. Dari Nayla.


Nayla : Raka, kalau kamu gak balas pesan Mama ini. Kamu gak usah pulang ke Jakarta lagi!


Raka menghela nafas. Kenapa emosi mamanya ini selalu meledak-ledak sih?


Dia pun akhirnya mengalah. Dia pun segera menelepon Nayla. Dan benar saja! Dia harus menjauhkan ponselnya dari telinga selama beberapa detik untuk membiarkan Nayla melampiaskan rasa kesalnya telah diabaikan Raka berhari-hari.


Setelah suara Nayla memelan, barulah Raka menempelkan ponsel lagi di telinganya.


“Ma, I’m fine. Don’t worry,” kata Raka.


Nayla bermisuh-misuh di ujung sana. Raka senyum-senyum saja. Sangat bisa membayangkan bagaimana wajah Mamanya itu saat ini. Ternyata rindu juga!


“Gimana sama Davina?” Nayla bertanya pada akhirnya.


“Masih belum luluh, Ma.”


Nayla menarik nafas, “Udahlah, Ka. Mungkin Davina udah gak mau lagi sama kamu. Kamu pulang aja ya. Jangan jadi benalu di rumah orang.”


“Raka gak mau! Davina terlalu berharga untuk Raka lepasin lagi!”


“Ya ampun! Kamu belajar norak darimana sih, Ka?” Tiba-tiba Azel menyeletuk.


Raka menggeram.


“Mama lagi loudspeaker???” Dia berteriak.


Nayla dan Azel langsung tertawa di ujung sana. Raka semakin emosi. Di saat-saat seperti inilah kepercayaan antara anak dan orangtua semakin terkikis.


“Udahlah, Raka malas ngomong lagi.”


“Ngambekan deh kamu! Masa Papa gak boleh sih tahu kabar anak Papa?” Azel menggoda Raka. M


“Dih, diam aja! Ngambek beneran deh! Ya udah, kalau kamu masih mau berjuang disana. Bentar lagi natal. Kamu cobalah kasih surprise ke Davina, bikin apa kek, biar dia luluh.”


“Ah, benar juga!” gumam Raka. Memang harusnya dia lebih banyak bercerita dengan Nayla soal wanita!


“Makanya, kalau ditelpon bok ya diangkat. Kan bisa Mama kasih ide.”


“Thanks, Ma! Aku pergi dulu!”


“Eh–“ Belum sempat Nayla mengucapkan kalimatnya, Raka sudah menutup telepon.


Sebentar lagi Natal! Dia harus bisa merayakannya berdua dengan Davina! Dia akan membuat Davina tidak dapat menolaknya!


Dia harus membeli beberapa hal! Dia cepat-cepat meraih dompet dan ponselnya.


Ah! Batere ponselnya tinggal dua persen!


Ya sudahlah. Tidak akan ada juga yang menghubunginya lagi. Dia tidak perlulah mengisi daya ponselnya lagi.


Lalu saat akan beranjak, dia tiba-tiba teringat sesuatu. Dia kan sudah tidak punya lagi baju bersih. Sepertinya dia harus melaundry baju-baju kotornya di binatu di lantai dasar apartemen.


Dia segera mengambil backpacknya dan berjalan keluar dari apartemen itu. Tidak pernah seumur hidupnya untuk pernah mencuci bajunya sendiri. Ya meskipun mesin cuci sih yang nanti akan melakukannya untuknya! Namun dia tetap bangga!


Oh yeah, Elraka goes to laundry YO!


***


Cie, Davina dan readers kena prank 🙂


Benci gak? Benci dong? Masa enggak?