
"Kaaaa, ini bukan waktu yang tepat!" Rara terlihat marah.
"Emang kapan waktu gue sama Davina tepat, Kak?" Raka bertanya dengan luapan emosi.
"Jangan sekarang, Ka!"
"Gue gak punya waktu lagi, Kak!"
Selagi kakak beradik itu berdebat di rumah orang, Davina melirik kepada Diana. Mamanya itu tampak menahan senyum melihat Raka seperti kesetanan. Terlihat sekali dia menikmati semua drama ini.
Davina kembali mengamati Raka. Hari ini, tumben-tumbennya laki-laki itu berpakaian formal. Jarang-jarang melihat Raka menggunakan kemeja.
Ganteng juga... Tapi pasti dia gak nyaman deh...
Pikir Davina, iseng. Karena memperhatikan lengan kemeja Raka telah digulung sampai ke siku. Tapi entah kenapa, malah menambah kekerenan laki-laki itu.
"Kasihan gak sih?" bisik Diana, sambil tersenyum jahil. Hal itu menyadarkan Davina dari lamunannya.
Davina ingin menggetok kepalanya sendiri. Belum dua puluh empat jam dari dia menangisi Nikolas, tapi dia sudah memperhatikan laki-laki lain.
"Kasihan sih, tapi biarin aja." Davina menggedikkan bahu.
Diana langsung tersenyum bangga. Ini baru putrinya!
"Udah, lo pulang dulu!" Rara menarik lengan Raka lagi.
"Gak mau, Kak! Biarin gue ngomong sama Davina dulu!" Ekspresi Raka memelas pada kakaknya. Setelah itu, dia langsung berbalik pada Davina. Dia tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi.
"Kamu!" Raka memarahi Davina. Tapi, wanita kesayangannya itu bergeming. Raka semakin frustasi. Seakan kedatangannya memang sudah tidak berguna lagi untuk menggoyahkan pendirian Davina.
"Kenapa kamu milih Nikolas?" Raka bertanya dengan dramatis.
Dave mengernyit. Dia hampir mengatakan sesuatu, tapi Diana langsung menahannya. Diana menggeleng padanya sambil tersenyum misterius. Rara, secara diam-diam, memperhatikan isyarat dari Diana.
Dan, mereka semua pun langsung mengerti...
Bahwa Raka tidak tahu apa-apa sama sekali.
Bahwa saingan terbesarnya justru sudah didepak sepenuhnya dari area pertandingan.
"Menarik..." bisik Dave, sambil melipat tangan dan menyandarkan punggungnya ke sofa. Seperti bersiap menonton sesuatu yang menarik di hadapannya. Dan hal ini menyebar juga kepada Diana dan Rara.
Kapan lagi melihat si anak dajjal lepas kendali? Biasanya Davina yang frustasi karena dia, namun kali ini mereka bisa melihat kegilaan di wajah Raka.
"Apa arti tatapan kamu dari panggung kemarin? Kenapa kamu selalu nyari aku?" Raka mulai meluapkan seluruh perasaannya.
Davina pun dengan apik memerankan lakonnya. Dia hanya menggedikkan bahu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, membuat Raka semakin menggila.
"Kamu gak mau ngomong apa-apa ke aku? Gak satu kata pun?"
Davina bergeming lagi. Membuat seluruh perasaan Raka semakin tidak tertahankan.
"Kenapa kamu mau ke rumah Papa sama Mamaku beberapa hari yang lalu? Kenapa kamu cium kepalaku? Kenapa kamu..." Raka tidak bisa melanjutkan kalimatnya, karena tenggorokannya sudah tercekat.
Hal ini begitu menakjubkan di mata Diana, Dave dan Rara. Skenario alam semesta memang patut diacungi jempol.
Davina yang daridulu selalu jadi pihak yang kalah, pihak yang tersakiti, kini menjadi pihak yang berada di atas angin. Anak setan yang selama ini selalu bertingkah seenaknya, kini bertekuk lutut di kakinya. Menggila. Karena berpikir Davina, pada akhirnya, memilih orang lain. Bukan dia.
Raka sendiri tampak menenangkan diri selama beberapa saat. Semua bisa melihat embun tipis di pandangan Raka, yang berusaha dia tahan mati-matian.
"Just tell me that you don't love me and want me to leave. Then, I will leave," kata Raka, dengan putus asa.
(Bilang aja kamu gak cinta sama aku dan pengen aku pergi. Maka, aku akan pergi.)
Akhirnya, Davina mengalah.
Pertunjukan ini sangat menarik.
Tapi dia tidak tega membiarkan Raka mempermalukan diri lebih jauh lagi. Sudah mendarah dalam diri Davina, untuk selalu mempedulikan Raka, untuk melindunginya, bahkan dari dirinya sendiri.
Davina pun bangkit berdiri.
Dia bersumpah sempat mendengar ******* sedih dari keluarganya. Karena hal ini berarti pertunjukan sudah berakhir.
"Ikut aku," kata Davina, lalu berlalu begitu saja.
Raka tertegun.
Luapan emosinya barusan...
Tingkah gilanya barusan...
Lebih baik dia dimaki, dimarahi, disumpahi sekalian, daripada dia bersikap gila sendirian di depan semua orang. Bukankah tidak adil jika hanya dia yang menumpahkan seluruh emosinya?
Tapi Raka mencintai Davina. Sangat mencintai wanita itu. Diajak ke Benua Antartika ataupun Planet Kerdil Pluto sekalipun, dia tetap akan menurut.
Dengan penuh kekalahan, dia pun berjalan mengikuti langkah Davina.
***
Davina berjalan ke kamarnya sendiri, sambil diikuti oleh Raka.
Yang Raka tidak sadari, bahwa bukan hanya dia yang bisa bertingkah gila. Davina pun juga. Tapi, taraf kegilaan Davina sudah melampaui batas siapapun.
Setelah patah, jatuh, berkali-kali. Dia hanya ingin bertingkah seenaknya pada siapapun juga.
Davina mendorong Raka ke ranjangnya sampai tertidur. Lalu memasang satu airpod kanan di telinga Raka. Sedang yang kiri dia gunakan di telinganya sendiri. Lalu, dia ikut berbaring di sebelah Raka. Dia menjadikan lengan Raka sebagai bantal kepala.
Lantunan lagu pun mengalun. Chasing Cars dari Snow Patrol.
"Devni..." panggil Raka.
"Ssst!" Davina memotong kalimat Raka.
Jika dulu Raka bisa seenaknya bersikap kepadanya, kenapa dia tidak boleh? Memangnya hanya laki-laki yang berhak menyakitinya?
If I lay here
If I just lay here
Would you lay with me and just forget the world?
Lagu itu mengalun di telinga mereka berdua.
Davina menutup matanya.
Memangnya siapa yang bisa dia bohongi lagi? Hatinya saja tidak sanggup lagi.
Bahkan dengan Raka berada di sisinya saja, dia merasa begitu tenang. Begitu damai. Seperti apapun yang baru terjadi, tidak menjadi masalah lagi untuknya.
Those three words
Are said too much
They're not enough
Benar. Kalimat aku sayang kamu, i love you. Mereka berdua sudah terlalu sering mengucapkannya dulu. Tapi semuanya, sudah tidak cukup lagi.
Davina meringkuk ke sisi Raka, menggenggam sedikit kemeja Raka dengan kedua tangannya.
"Kamu sebenarnya maunya apa sih, Devni?" tanya Raka, pelan, namun terdengar begitu frustasi.
Davina bergeming. Dia tidak ingin menjelaskan apapun. Dia hanya ingin berada di sisi Raka saat ini, seperti ini.
Lalu, tibalah di bagian lirik paling favorit Davina di lagu ini. Dia memandangi Raka.
All that I am
All that I ever was
Is here in your perfect eyes
They're all I can see
Seluruh Davina yang sekarang, seluruh Davina yang dulu memang selalu adalah milik Raka. Di antara seluruh luka dan kekacauan yang ditimbulkannya, namun memang hanya Rakalah satu-satunya yang Davina bisa lihat.
Tapi laki-laki itu tidak mengerti.
"Kenapa kamu gak bunuh aku aja, Devni?" tanya Raka, putus asa.
Davina membuang muka. Kembali meringkuk di sebelah Raka. Lalu memejamkan mata, dan jatuh tertidur. Meninggalkan Raka sendirian dalam kebingungannya sendiri.
Yang Raka tidak pernah tahu...
Harusnya tadi malam, setelah mengucapkan selamat tinggal pada Nikolas, Davina akan berlari kepada Raka. Harusnya tadi malam, Rakalah yang akan dia pilih. Sebab hanya Raka, yang akan dan selalu dia pilih.
***
IG : @ingrid.nadya