
Davina dan Nikolas duduk di rooftop selama beberapa saat. Tidak banyak yang mereka bicarakan, hanya seputar kegiatan masing-masing selama Davina menghindarinya.
Mereka duduk di atas dua kipas AC sambil saling berhadapan.
"Gimana persiapan Espoir untuk acara lusa?" tanya Nikolas.
"Udah matang banget, doain ya supaya acaranya lancar."
Nikolas mengangguk.
Sebenarnya ada satu hal yang ingin ditanyakan Davina, tapi tertahan di mulutnya.
“Aku udah masuk kantor,” kata Nikolas, seperti dapat membaca pikiran Davina.
“Don’t worry. Semuanya udah aman.”
Davina mengangguk, akhirnya memutuskan untuk tidak menyinggung apapun.
Lalu pikiran Davina beralih lagi pada hal lain. Selagi mereka diam seperti ini, ada banyak hal yang terlintas di kepalanya. Salah satunya…
Apakah ini saat yang tepat untuk menyinggung kedatangan Raka dan keluarganya di acara Espoir nanti?
Tapi daripada dia gila dan hanya menyimpan bom waktu ini terus menerus, sebaiknya dia utarakan langsung saja semuanya.
"Lusa Raka juga datang ke GKJ.”
Nikolas tertegun.
"Papa sama Mamanya juga." Davina menambahkan, lagi. Sampai-sampai Nikolas menggaruk kepalanya, yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.
Davina menunggu, membiarkan keheningan menguasai mereka. Dia tidak ingin mengatakan apapun.
Terkadang Davina bingung dengan sikapnya sendiri. Apakah dia hanya sedang ingin menyakiti Nikolas ataukah ada reaksi lain yang dia harapkan untuk ditunjukkan oleh Nikolas?
Tapi, lagi-lagi, Davina kecewa.
Nikolas malah mengalihkan pandangannya dari Davina. Pertama dia memandangi sepatunya. Kemudian lanjut memandangi kipas AC.
"Panas ya duduk disini," celetuk Nikolas.
Davina tetap diam.
"Padahal kita bisa kemana aja, tapi malah ngobrol di rooftop begini." Nikolas nyengir.
"Nik..." Davina akhirnya membuka suara.
"Apa, sayang?"
"Kalau kamu gak suka, marah dong."
"Emangnya kamu bisa marah kalau lagi gak suka?" Nikolas tersenyum, sedih.
Davina terdiam lagi. Nikolas membalikkan kalimatnya dengan tepat sasaran.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Davina. Davina mengambil ponselnya, menunduk untuk melihat dari siapa kira-kira pesan tersebut berasal.
Ternyata dari Raka.
Raka : Aku di depan Espoir. Kamu dimana?
Davina mengangkat kepala, dan beradu pandang dengan Nikolas.
"Dari Raka?" tanya Nikolas.
Davina mengangguk. Lagi-lagi tanpa mengerti maksudnya diri sendiri kenapa sejujur ini.
"Apa katanya?"
"Dia di bawah, mau jemput aku."
Nikolas tertegun, lagi.
Davina sudah tidak tahan dengan sikap Nikolas. Dia pun menyatakan hal paling rasional yang harusnya dikatakan Nikolas, “Aku bisa gak pergi, kalau kamu larang.”
Nikolas menggeleng, "Kamu sendiri mau pulang sama dia gak?”
Davina tidak menjawab. Dia berhasil terperangah karena pertanyaan Nikolas ini. Apakah keinginannya begitu penting sampai Nikolas mengizinkannya pergi dengan laki-laki lain? Sebenarnya apa maksud semua ini.
Namun diamnya Davina malah disalahartikan okeh Nikolas. Dia berkesimpulan bahwa itu adalah tanda bahwa Davina ingin pulang bersama Raka.
"Then, go,” kata Nikolas.
"Ini gak sehat, Nik!" Suara Davina meninggi.
"Apapun, Dav... Apapun bisa aku terima... Asal kamu gak ninggalin aku..."
"Kamu konyol!" Davina menggeram. Dia pun bangkit berdiri dan meninggalkan Nikolas. Bahkan bunga pemberian Nikolas masih tergeletak disana.
Davina menuruni tangga, mengambil tasnya dari kelas, berjalan menuju pintu keluar Espoir. Dia dapat melihat mobil Raka dari kejauhan. Lalu, dia menengadah ke rooftop gedung Espoir. Nikolas berdiri disana, mengamatinya
Davina terus berjalan meninggalkan gedung Espoir. Raka melihatnya, lalu melambaikan tangan dari dalam mobil. Laki-laki itu tersenyum miring. Senyum favoritnya. Selalu jadi favoritnya.
Davina tetap berjalan. Namun, ke arah yang berlawanan dari mobil Raka.
Wajah Raka bingung.
Davina sudah menoleh darinya. Dia tidak peduli lagi. Dia bahkan dapat mendengar Raka keluar dari mobilnya.
Namun, Davina sudah masuk ke dalam mobilnya sendiri. Dibiarkannya Raka tercengang mengamatinya berlalu dengan mobilnya. Lalu, Davina menyempatkan diri untuk melirik Nikolas di atas gedung.
Laki-laki itu tersenyum. Dengan kekonyolan yang luar biasa. Davina tidak pernah melihat laki-laki sebodoh ini.
Kenapa...
Tidak Raka...
Tidak Nikolas...
Kenapa selalu membiarkannya pergi begitu saja??? Kenapa tidak ada usaha sedikit pun dari mereka untuk mempertahankan Davina??? Apakah Davina sesungguhnya tidak seberharga itu??? Laki-laki mana yang rela calon istrinya diantar pulang oleh laki-laki lain???
Dia sanggup memaafkan apapun. Dia sanggup menerima semua kekurangan Nikolas, sebagaimana adanya. Hanya satu yang tidak bisa Davina maafkan… jika laki-laki itu tidak mau berjuang untuknya.
Sama seperti yang Raka lakukan dulu padanya.
***
Davina sengaja tidak langsung pulang. Dia tahu bahwa Raka akan segera menyusulnya kesana. Nikolas? Jangan harap laki-laki tidak tegas itu mau mengkonfrontasinya!
Davina beberapa kali mendapat telepon masuk dari Dave dan Rara. Tapi dia jelas tahu bahwa itu hanya akal-akalan Raka. Laki-laki satu ini kan jelas selalu mendapatkan apa yang dia mau.
Davina sebenarnya tidak pergi kemana-mana. Hanya duduk di sebuah restoran cepat saji di dekat rumahnya, menikmati kesendiriannya sambil memesan milk shake cokelat dan kentang goreng porsi besar.
Masa bodoh soal gendut. Masa bodoh soal lemak membandel. Dia tidak peduli lagi!
Kenapa hidupnya hanya diatur oleh Nikolas saja?
Dia membuka Netflix di ponselnya, lalu menonton film legendaris Titanic. Semua orang tahu tentang kisah cinta tragis antara Jack dan Rose.
Ending film ini selalu membuat Davina frustasi setengah mati. Dan sekarang sepertinya dia juga cukup frustasi sampai-sampai menonton film ini lagi agar tingkat kegilaannya mencapai titik maksimum.
Maksudnya….
Lihat Jack!
Kenapa dia harus mati? Kenapa dia mengorbankan begitu banyak hal untuk Rose? Bukankah cinta patut diperjuangkan? Memangnya mereka tidak bisa mencari dua bilah kayu yang bisa menopang agar Jack tidak jadi mati kedinginan? Dan penulis macam apa yang malah membuat kisah cinta semanis sekaligus setragis ini??? Bukankah semua orang berhak mendapatkan happy ending???
Lalu, Davina membalikkan semuanya pada dirinya sendiri. Lalu, dimanakah kira-kira happy ending Davina berada?
Davina tidak butuh seorang Jack yang rela mengorbankan sebilah kayu itu agar dia tetap hidup, sementara Jack mati dan tenggelam di dasar samudera. Davina butuh seorang laki-laki yang justru mencari mati-matian bilah kayu lain agar bisa hidup dengannya. Berjuang untuknya, bersamanya.
Davina tidak butuh seorang Jack yang berprinsip “you jump, I jump”. Dia akan memilih seseorang yang menangkap tangannya, menariknya sekuat tenaga dan meyakinkan Davina bahwa hidup bersamanya akan menjadi hal paling luar biasa.
Sesederhana itu…
Tapi tidak dia dapatkan dari siapapun…
Selagi, Davin sibuk berpikir tentang segalanya itu. Seseorang muncul di balik punggung Davina. Wajahnya tampak lega begitu menemukan wanita kesayangannya itu.
“Akhirnya… ketemu juga…” Suara itu menyentak Davina.
Airmatanya merebak
Saat dia dengan frustasi mengharapkan laki-laki yang lebih baik dari seorang Jack Dawson, yang dia maksud sama sekali bukan Raka!
Sebab meski Raka selalu berhasil menenangkan kegilaannya, dia justru juga menjadi sumber kegilaan itu sendiri.
Davina berbalik, mengangkat wajahnya untuk bertemu pandang dengannya.
“Kamu gak boleh gini terus, Ka, aku ini calon istri orang lain.” Davina terisak.
Raka mengernyit. Bingung kenapa Davina malah menangis. Namun, kalimat Davina jelas mendapat seluruh atensinya.
“Terus, kenapa kalau kamu ini calon istri orang lain?” tantang Raka.
“Ya, itu artinya aku gak bisa lagi sama kamu!”
“Mau kamu jadi istri orang lain sekalipun, aku gak bakal nyerah, Devni.”
“Maksudnya?!”
“Sekali lagi aku bilang, aku gak bakal nyerah, sekalipun kamu udah jadi istri orang lain!” kata Raka, mantap.
Davina tercengang.
Jack to my rose? No way! This is Raka to our Davina.
***
IG : @ingrid.nadya