
Semesta kadang suka keterlaluan saat bercanda. Ada jutaan orang berwisata ke Bali setiap tahunnya, namun kenapa Raka dan Davina harus bertemu dengan satu manusia ini di Bali? Tepat dua hari sebelum pernikahan mereka pula…
Dan siapa yang paling tidak tenang dengan pertemuan saat ini?
Adalah Raka, yang daritadi terlihat pucat dan tegang.
Ia percaya pada karma. Hukum tabur tuai. Mata diganti mata. Atau apapun sebutan untuk semua itu. Makanya, dia selalu takut akan apa yang menunggu di depan sana, setiap kali dia teringat telah menggagalkan pernikahan Davina dan Nikolas dulu.
Dan benarlah ketakutannya.
Nikolas berdiri di hadapan mereka.
Ia melihat wajah Davina berubah pias.
“Hai, Dav!” sapa Nikolas, canggung.
Raka mengeratkan genggamannya pada tangan Davina. Ingin menunjukkan pada Nikolas bahwa dia adalah pemilik tunggal dari Davina. Tidak akan berbagi pada siapapun.
Davina pun tersadar dari lamunannya. Dia menoleh pada Raka karena tangannya kesakitan. Dia baru akan protes, tapi saat melihat wajah kaku Raka, dia sukses terdiam.
Dan, akhirnya, sadar bahwa Raka sedang merasa terancam saat ini.
Yang seharusnya tidak perlu...
Sepenuh hati Davina adalah milik Raka sejak dulu.
Dia hanya sedang dihadapkan pada ketakutan terbesar sekaligus penyesalan terdalamnya, Nikolas. Dia pernah mencintai sekaligus dicintai lelaki di hadapannya. Namun, berakhir saling menyakiti.
"Hai, Dav!" Suara seorang perempuan menyentak Davina. Mendengar suara tersebut, barulah Davina rasanya kembali menjejak bumi.
Dia menoleh ke asal suara, lalu menatap perempuan itu datar. Tidak ingin beramah tamah, dia hanya mengangguk.
"Ngapain di Bali?" tanya Sienna, dengan nada ramah, seperti tidak tahu malu.
Nikolas segera menahan tangan Sienna, seperti mengisyaratkan bahwa tidak selayaknya mereka bersikap seramah itu.
Davina tidak ingin menjawab pertanyaan tersebut, dia hanya menggedikkan bahu.
"Bu, maaf, botol asi Nina ketinggalan di dalam mobil." Seseorang berbaju suster menghampiri Nikolas dan Sienna. Di dalam pelukan suster tersebut, meringkuklah seorang bayi tanpa dosa, begitu lucu dan cerianya. Wajahnya penuh senyum. Wajah itu gabungan antara Sienna dan Nikolas.
Siapa tadi namanya?
Nina?
Ah, nama pun harus pula menggabungkan kedua nama mereka.
Norak sekali.
Davina meledek dalam hati.
Dia pun meneliti lagi.
Dari ukuran bayi tersebut, dia bisa menebak umurnya pasti menjelang tahun.
Dan, Davina langsung merasa ditampar tepat di kesadarannya.
Davina bukanlah seseorang yang religius. Dia tidak pernah memprioritaskan agama dalam hidupnya. Namun, baru kali ini dia merasa jalan Tuhan adalah jalan yang terbaik. Tidak terselami, tidak dapat dimengerti. Namun, di satu titik, kita akan mengerti bahwa semuanya akan menjadi luar biasa indahnya.
Sebab jika benar perhitungan Davina, bayi itu telah hadir di rahim Sienna bahkan sebelum Davina dan Nikolas putus.
Davina tidak bisa membayangkan akan sebagaimana hancurnya dia, apabila dia tetap memilih Nikolas dan ingin menikahinya lagi, namun di saat yang sama, perempuan lain ternyata sudah memiliki bayi calon suaminya.
Sungguh hidup Davina nantinya akan tiada hentinya menjadi sebuah opera sabun murahan.
Dan inilah revelasi dari Davina.
Sebuah pencerahan.
Davina pun memandangi wajah polos bayi tersebut. Dan dalam sekejap, hatinya melepaskan pengampunan. Segala hal yang telah diperbuat Sienna dan Nikolas di belakangnya dulu telah dia maafkan. Akan dia tinggalkan jauh-jauh di sebuah tempat, bernama masa lalu.
Nina. Atau siapapun nama bayi tersebut menghapus segala kebencian di hati Davina.
Dia malah bersyukur.
Bahwa segala sesuatu selalu berakhir pada titik yang paling tepat.
Ternyata inilah takdir terbaik yang Tuhan maksudkan untuknya.
Tepat beberapa hari sebelum pernikahannya, dia meninggalkan seluruh beban perasaannya.
Dia pun menoleh pada Raka.
Calon suaminya.
Cinta sejatinya.
Hal terbaik yang pernah terjadi.
Segala pelajaran dalam hidupnya.
Tempat segala sesuatunya berakhir.
Raka selalu jadi segalanya.
Raka bisa membaca situasi Nikolas, Sienna dan Nina. Dia dan Davina dapat menghubungkan semua titik tersebut. Dan dalam sekejap, melihat senyum Davina, Raka sadar bahwa segala sesuatu telah berakhir. Tak perlu lagi ada ketakutan akan kehilangan Davina. Sebab setelah semuanya ini, Davina akan berjalan bersama dirinya untuk selamanya.
Davina adalah satu-satunya orang yang bisa menghancurkan kepercayaan diri Raka, namun sekaligus yang bisa mengembalikannya hanya dalam beberapa detik.
Dan sekonyong-konyong, wajah Raka berubah tengil. Telunjuknya diarahkan pada Nina, lalu dia berkata pada sang wanita kesayangan, "Hampir kamu jadi ibu tiri."
Davina tidak bisa menahan lagi. Tawanya langsung meledak. Dia sampai memegangi perutnya.
Sementara itu, setelah memberikan kunci mobil pada susternya, Nikolas dan Sienna sudah memfokuskan diri pada Davina dan Raka. Mereka langsung cemberut mendengar celetukan Raka.
"Tuhan tuh sayang banget ya sama aku," kata Davina sambil tersenyum-senyum.
Raka mengangguk.
"Udah puas ngeledekinnya?" Sienna masih cemberut.
Davina hanya menggedikkan bahu. Perhatiannya tertuju pada pakaian Sienna sekilas. Tidak ada lagi pakaian-pakaian terbuka, seluruh yang dikenakan perempuan tersebut adalah pilihan sang mertua.
Davina tersenyum tipis.
Nayla tidak akan pernah melakukan itu padanya.
Saat ini saja, dia hanya mengenakan celana pendek, kaos putih biasa serta sepasang sendal jepit . Hal yang tidak akan pernah disetujui oleh Angel, yang mungkin lebih bisa ditolerir oleh Sienna.
Bertambahlah satu hal lagi yang harus dia syukuri.
"Kalian mau nikah ya di Bali?" tanya Nikolas, lagi. Basa-basi yang sebenarnya tidak perlu. Namun, dia hanya ingin bertanya sesuatu yang membuatnya penasaran setiap kali melihat update media sosial Davina yang hanya selalu berisi Raka dan Raka lagi.
Raka dan Davina kemudian saling tatap. Lalu, kompak mengangguk.
"Semoga lancar ya," ucap Nikolas, tulus.
"Thanks," jawab Raka, singkat.
Nikolas pun menggenggam tangan Sienna sama eratnya.
"Well, see you then," katanya, lalu berlalu masuk ke dalam restoran duluan.
Tinggallah Davina dan Raka di depan pintu masuk restoran. Mereka langsung menoleh ke masing-masing.
"Aku sih ogah ya see them again." Davina mengibaskan tangan.
"Aku apalagi." Raka juga mengeluh.
Lalu, mereka tertawa bersama setelah itu. Selama beberapa saat.
Setelah puas, barulah Raka mengamati calon istrinya lama-lama.
"Apa lihat-lihat?" tanya Davina.
Raka langsung menarik bahu Davina ke dalam pelukannya, lalu menciumi puncak kepalanya.
"Aku bakal bahagiain kamu terus."
Davina terkekeh, lalu balas memeluk Raka.
"Bener ya? Kasian dong sama orang yang hampir jadi ibu tiri di umur dua puluh lima tahun."
Raka tertawa.
Namun, dia menggeleng sejurus kemudian.
"There is no chance kamu bakal pernah milih Niko, Devni."
Giliran Davina berpikir.
"Bener juga."
"Aku selalu jadi pilihan kamu sejak awal, sampai seterusnya."
Davina memandangi calon suaminya dan mengiyakan kalimat itu hanya di dalam hati saja.
"Masuk yuk? Aku laper," ajak Davina.
"Gak mau jawab kalimatku dulu?"
"Enggak."
Raka mencibir, "Pelit."
Davina tertawa, lalu melepaskan diri dari pelukan Raka. Dia pun menarik tangan calon suaminya untuk masuk ke dalam restoran. Berjalan terus, sampai tiba ke sebuah meja penuh dengan keluarganya.
Dia melihat Diana, Dave, Azel, Nayla, Nathan, Felis, Rara danbsuaminya, Rafael berserta istri dan anaknya, dengan penuh rasa syukur.
Memanglah benar segala sesuatu sungguhlah selalu berakhir di titik yang tepat.
***
IG : @ingrid.nadya