
Setelah berhasil menenangkan diri, Raka masuk lagi ke dalam ruangan. Semua orang kaget melihat wajah Raka yang sembab. Tidak ada yang pernah menyangka bahwa Raka dapat menunjukkan emosinya seperti ini.
“Raka…” Davina mengulurkan tangannya pada Raka.
“Iya.” Raka menjawab singkat sambil segera berjalan ke arah Davina. Saat tangan Davina berada di dalam genggamannya, betapa dia merasa sangat tidak layak.
“Just give them some time,” kata Dave, sambil merangkul Diana, mengajaknya keluar dari ruangan. Nayla dan Azel pun menyusul mereka.
Setelah semua orang keluar dari ruangan, Raka duduk di sebelah Davina.
“Kamu kenapa?” tanya Davina.
Laki-laki itu hanya bisa menggeleng. Dia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana tangan ini tadi terkulai kaku di dalam pelukannya…
Dia… takut setengah mati.
“Aku baik-baik aja. Kamu jangan merasa bersalah,” kata Davina.
Raka tertawa pelan, tawa frustasi yang dilakukannya untuk meledek dirinya sendiri.
“Kamu baik-baik aja gimana sih, Devni?” Tanpa dia sadari, airmatanya menggenang lagi. Davina terenyuh. Tak menyangka bahwa Raka dapat menjadi seemosional ini.
“Kepala, kaki, punggung, tangan, semuanya bekas jahitan. Kamu gak bakal bisa pulang ke Paris besok. Ditambah kamu harus fisioterapi dan absen balet sampai beberapa waktu ke depan. Kamu tuh baik-baik gimana sih?” Nada suara Raka meninggi. Tapi dia bukan sedang memarahi Davina. Dia ingin memaki dirinya sendiri, bahkan mengutuk segala perbuatannya.
Raka cepat-cepat memalingkan wajahnya untuk mengusap airmatanya sendiri. Betapa menyedihkannya dirinya saat ini. Betapa tidak berdayanya dia. Kenapa segala hal dalam hidupnya jadi serumit ini?
Jika menyangkut dirinya sendiri, seperti masalah Creature, dia masih sanggup menanggungnya. Tapi dia tidak sanggup jika kesialannya juga menular pada Davina.
Davina ikut menangis bersama Raka. Inilah yang paling dia takutkan.
Saat dia keluar dari mobil Raka…
Saat mobil itu melaju kencang ke arahnya…
Saat dia sadar akan segera mengalami kecelakaan tepat di depan kekasihnya…
Dia langsung tahu begitu saja bahwa Raka akan menyalahkan dirinya sendiri.
“Raka…” panggil Davina.
Raka bergeming.
“Elraka Aditya…” Davina memanggil lagi.
“Dengan kondisi begini, aku gak bisa nyamperin kamu… Kamu tolong bantu aku dong…”
Raka akhirnya menoleh lagi pada Davina, menatap kekasihnya dengan tatapan tidak percaya.
“Aku yang bikin kamu kayak gini, Devni…” Suara Raka terdengar begitu menderita.
“Enggak!” Davina menolak, dia terdengar sama emosionalnya dengan Raka.
Kekasihnya itu masih tidak menjawab. Airmata Davina langsung berjatuhan, seakan kenangan ketika Raka dulu membiarkannya pergi melintas kembali di ingatannya.
“Raka!!! Kamu jangan berani-berani ninggalin aku dengan keadaan kayak gini ya!!!”
Raka terguncang. Bagaimana mungkin Davina masih merasa bahwa Raka layak?
“Rakaaaaa… Aku gak mau… Aku gak mau… Don’t you dare!!!” Davina tersedu-sedu.
Raka cepat-cepat menggenggam tangan Davina dengan erat. Dia tidak lagi bisa berkata-kata. Dia hanya menumpukan dahinya ke punggung tangan Davina, lalu menangis lagi disana.
Bolehkah dia? Layakkah dia? Sanggupkah dia? Beribu pertanyaan itu terngiang terus di kepalanya.
“Ini bukan salah kamu, Ka! Ini bukan salah kamu!” Davina meraung. Dia tidak bisa menyampaikan secara gamblang seluruh isi hatinya saat ini. Yang dia tahu sekarang adalah dia dapat kehilangan apapun, dia dapat melupakan seluruh mimpinya untuk sementara waktu, asalkan Raka tidak meninggalkannya.
Raka sendiri hanya bisa menggenggam erat tangan Davina. Tanpa tahu bagaimana caranya untuk bisa memaafkan diri sendiri.
***
Raka sempat tertidur di kursi sebelah ranjang Davina selama beberapa saat. Davina sama sekali tidak mau melepas genggamannya dari Raka bahkan saat dia tertidur seperti ini.
“Ka…” Nayla mengelus kepala Raka, untuk membangunkan anaknya itu.
Raka terbangun dan mendapati mamanya sedang memegang sebuah piring.
“Makan ya?” Mamanya menyodorkan piring tersebut pada Raka.
“Gak bisa, Ma.” Raka menunjuk tangan kanannya yang sedang dipegang erat oleh Davina.
“Mama aja yang suapin. Kamu belum makan daritadi.”
“Gak usah, Ma. Nanti aja. Raka belum lapar. Mama Dee sama Papa Dave kemana?”
“Ambil baju sebentar ke rumah. Kan mau nginep disini. Ayo, Ka, makan dulu!” Nayla mulai menyendokkan nasi dan menyodorkannya di hadapan wajah Raka.
Tapi Raka masih terlihat enggan.
“Davina udah makan kok tadi waktu kamu ketiduran,” kata Nayla, lagi.
Akhirnya Raka mengalah. Dia membuka mulutnya, membiarkan mamanya mengurusnya lagi seperti kanak-kanak.
“Ambil baju kamu ke apartemen.”
Raka mengangguk.
“Kamu tidur disini nanti?” tanya Nayla sambil menyuapkan lagi makanan untuknya.
“Gimana bisa pulang, Ma?” Raka merenung sambil memandangi tangan Davina yang memegang erat tangannya.
Nayla mengangguk, mengerti sekali kondisi Raka dan Davina saat ini.
“Menurut Mama…” Raka menggantungkan kalimatnya.
Nayla menunggu anaknya berbicara dengan sabar.
Raka terlihat ragu mengatakan isi hatinya.
“Just tell me…” Nayla tersenyum.
“Raka masih layak gak jadi pacar Davina?”
“Kenapa ngomong gitu, Ka?”
“Davina begini karena Raka.”
“Gak ada yang nyalahin kamu. Papa Dave dan Mama Dee aja gak pernah sekalipun nyalahin kamu, Ka.”
Raka terdiam.
“Ka, kalau kamu menjauh dari Davina karena hal ini, karena kamu merasa bersalah, itu artinya kamu egois.”
Raka memandangi Nayla.
“Ini waktu-waktu crucial untuk Davina, Ka. Dia pasti ngerasa down banget. Dia gak bisa nari balet untuk beberapa waktu. Kalau kamu menjauh, kamu pikir itu bisa bikin Davina sembuh?”
Raka menggeleng.
“Davina butuh support kamu, Ka.”
“Oke, Ma.”
Nayla menyentuh pipi anaknya.
“Davina lagi down banget, Ka. Disini kamu yang harus kuat.”
Raka mengangguk, pelan.
Walaupun dia masih tidak tahu ntah bagaimana caranya dia bisa menjadi kuat menghadapi segalanya…
Setelah itu, Raka tidak lagi banyak berbicara. Hanya makan dalam diam.
Tak lama kemudian, Davina terbangun, tepat saat Azel datang membawa pakaian untuk Raka.
“Aku ganti baju sebentar ya?” Raka meminta izin dari Davina.
“Kamu janji gak bakal kemana-mana kan?” Davina menggenggam erat tangan Raka.
“Emang kamar mandi punya jendela sebesar apa sih bisa bikin aku kabur?” Raka mencoba tersenyum.
Melihat sudah mulai ada raut cerah di wajah kekasihnya, akhirnya Davina melepas genggamannya dari Raka.
Laki-laki itu pun masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti bajunya yang penuh dengan bekas darah Davina. Kepalanya pusing lagi melihat hal itu.
Setelah beberapa saat, dia pun keluar dari kamar mandi.
“Ngobrol sebentar yuk, Ka?” Azel menunjuk pintu keluar.
Davina langsung menggeleng, “Jangan, Pa!”
“Kalau Raka kabur, Papa yang nyeret dia balik kesini lagi, Dav.” Azel tertawa, pelan.
Davina masih tidak percaya.
“Aku gak bakal kemana-mana,” janji Raka.
Barulah akhirnya Davina memperbolehkan mereka pergi.
Raka dan Azel pun duduk di lorong rumah sakit.
Azel menepuk punggung Raka, “How do you feel, Son?”
Raka menggedikkan bahu, “Not so good.”
“This is not your fault,” kata Azel, lembut.
Raka sampai harus meremas tangannya sendiri agar airmatanya tidak kembali mengalir.
“Ini sama sekali bukan salah kamu, Ka…”
***