Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Messi Versus Ronaldo



Ballon d’Or adalah sebuah penghargaan yang diberikan kepada pemain sepak bola terbaik dunia. Selama satu dekade terakhir, hanya ada dua pesepak bola yang bergantian memperoleh penghargaan ini, yaitu Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.


Lionel Messi sering dianggap sebagai pesepak bola dengan bakat alami, sementara Cristiano Ronaldo benar-benar bekerja keras agar bisa sampai di posisinya yang sekarang. Tentu saja Lionel Messi perlu mengasah bakatnya dengan berlatih, namun tidak ada yang bisa menandingi kerja keras Cristiano Ronaldo.


Dan saat ini, Dave seakan sedang berhadapan dengan Messi dan Ronaldo di ruang keluarganya.


Yaitu, Raka dan Nikolas.


Yang sedang berlomba mendapatkan hati anak perempuannya.


Ntah kenapa mereka terjebak di dalam posisi canggung seperti ini. Saat Dave tadi sedang asyik-asyiknya menonton, tiba-tiba mereka semua mulai bermunculan di ruang tamu.


“Kok udah selesai main bolanya?” tanya Dave, saat melihat wajah Rara yang masam.


“Davina ada tamu!” keluh Rara, sambil menunjuk Davina yang baru muncul di pintu.


“Siapa?” tanya Dave.


Lalu muncullah Nikolas. Dave langsung mengerti kenapa wajah Rara berubah masam.


Tapi Dave adalah tipe ayah yang selalu menghormati keputusan Davina, dia pun mempersilahkan Nikolas duduk di sebelahnya.


Tak lama kemudian, Raka juga muncul di pintu, sambil menggendong Keysha. Wajahnya berubah kesal melihat Dave duduk bersama Nikolas.


“Pengkhianat!” tuding Raka.


Dave langsung tertawa mendengar kalimat kepahitan dari Raka. Sebenarnya kalau tidak ada Nikolas, pasti dia membalas kata-kata Raka. Namun, dia tidak ingin terlalu menunjukkan kedekatan pada Raka. Dia ingin terlihat seadil mungkin.


Dan begitulah kira-kira, kenapa mereka semua akhirnya berakhir di ruang keluarga Mahardhika pagi ini. Kecuali Rara, yang sudah pamit undur diri untuk masuk ke kamarnya.


Balik ke masalah Messi dan Ronaldo tadi.


Raka kini terlihat sedang memangku Keysha sambil bermain-main dengan keponakannya itu dengan nyaman. Raka adalah orang yang memiliki bakat natural untuk disayangi. Ntah kenapa, betapa salah pun perbuatannya, semenyebalkan apapun sifatnya, dia tetap mendapat dukungan dan kasih sayang dari semua orang. Bukan hanya karena dia memang sudah jadi bagian dari keluarga sejak dulu, namun begitulah Raka. Sulit dijelaskan kenapa semua orang tidak bisa membencinya.


Sementara Nikolas…


Dia perlu berusaha keras untuk sampai berada di posisi ini. Perjuangannya tidak hanya untuk menaklukkan Davina. Tapi dia juga berjuang untuk dapat diterima di keluarga Mahardhika. Mengganti posisi Raka yang begitu lovable di keluarga ini begitu sulit. Seperti saat ini. Dia berkali-kali melemparkan topik obrolan agar dapat berbincang. Dan Dave tentu saja berbaik hati meladeninya. Baginya, Nikolas adalah laki-laki pekerja keras yang sanggup menjaga putrinya.


Dan dari semua penjelasan itu, dapat disimpulkan bahwa Raka adalah Messi disini, dan Nikolas adalah sang Ronaldo. Semua itu akan membawa kita pada satu pertanyaan, siapa yang pantas mendapatkan ballon d’Or tersebut? Siapa yang pantas menjadi pasangan Davina?


Dave tidak tahu. Meskipun sebenarnya sudah punya jagoan sendiri di kepalanya.


Lalu, Davina muncul dengan membawa dua kaleng coca cola di tangannya.


Inilah sang FIFA. Yang berhak menentukan kepada siapakah ballon d’Or diberikan. Dave mencoba menebak-nebak, kepada siapa Davina akan menyerahkannya.


Dan…


Saat itulah, Davina memberikan satu kaleng coca cola pada Nikolas.


“Thanks!” Nikolas tersenyum. Davina hanya mengangguk.


Saat Raka berpikir bahwa satu kaleng lagi adalah untuknya, ternyata Davina malah duduk di sebelah calon suaminya, lalu membuka tutup kaleng di tangannya.


Dia mengerjapkan matanya tidak percaya. Dia tidak mendapat apapun? Davina sungguh tega!


“Aku yang olahraga, malah orang lain yang dikasih coca cola!” Raka mencibir lagi dengan penuh kepahitan, namun suaranya dibuat sepelan mungkin. Meskipun yahhhh, satu ruangan tetap dapat mendengarnya dengan jelas.


“Punya kaki kan untuk ambil sendiri?” Davina membalas dengan ketus.


Raka mendengus.


Dave berdehem untuk menyembunyikan kegeliannya atas apa yang terjadi saat ini di hadapannya. Dia memutuskan beralih pada Nikolas.


“Tangan kamu masih diperban gitu, naik apa kesini, Nik?” tanya Dave. Kali ini dia berbaik hati memberikan topik obrolan baru pada Nikolas.


“Kok bisa kecelakaan sih di Bandung?” tanya Dave, lagi.


Nikolas melirik Davina. Namun, calon istrinya itu sudah membuang muka. Dia pura-pura sibuk dengan acara televisi di hadapannya.


Nikolas sadar tidak akan dibantu sama sekali.


“Kurang hati-hati, Pa,” jawabnya.


Bak iblis yang tidak bisa melihat celah kesalahan manusia, Raka langsung menyambar, “Diri sendiri aja gak bisa dijaga, apalagi anak perempuan orang lain.”


“Diem kamu!” Davina menghardik Raka.


“Dih, kok situ yang marah?!” Raka meledek. Dia kan berniat memancing Nikolas, tapi kenapa Davina yang menyambar.


Dave sampai harus berdehem lagi agar dia tidak tertawa. Dia tidak enak pada Nikolas jika merasa omongan Raka tadi lucu.


Sebenarnya diam-diam Dave salut juga dengan sikap tenang Nikolas. Hebat sekali dia bisa bertahan tidak menonjok Raka yang tengil itu. Ya, walaupun tidak bisa dipungkiri, Nikolas sendirilah yang memberikan semua kesempatan ini untuk Raka.


“Abaikan aja anak setan di sudut sana” kata Dave pada Nikolas.


Raka mencibir lagi, “Harusnya tadi malam Raka biarin aja pas Papa ketiduran di kursi ini. Biarin kedinginan disini sendirian.”


Dave kali ini tidak bisa menahan tawanya. Raka sungguh-sungguh bersikap penuh kepahitan saat ini.


Davina sendiri sudah menatap Raka dengan jengah. Dia tahu Raka hanya sedang memanas-manasi Nikolas, seakan mengisyaratkan bahwa dia sudah disini semalaman.


“Tenang aja. Dia pulang kok, gak nginep disini,” jelas Davina pada Nikolas.


Anehnya, senyum Raka malah merekah. Matanya berbinar.


“Kok tahu sih aku pulang?” tanya Raka.


Davina terpelongo. Tidak menyangka bahwa perkataannya justru jadi boomerang.


“Cie, diam-diam perhatian,” goda Raka, semakin kurang ajar.


“Kamu tuh sinting ya?!” Davina tidak habis pikir dengan kelakuan Raka. Mungkin laki-laki itu sungguhlah ciptaan Dajjal!


Namun, Raka hanya tersenyum miring.


“Kita ngomong di tempat lain aja, Nik.” Davina langsung bangkit berdiri. Dia hendak menarik tangan Nikolas, namun tangan itu masih diperban.


Nikolas langsung mengerti, dia menurut dan bangkit berdiri.


“Padahal tanganku sehat, bisa loh ditarik kemana pun.” Raka menunjukkan kedua tangannya.


“Bodo amat!” hardik Davina.


Dia berjalan cepat-cepat keluar dari ruangan. Nikolas menyusul dengan terburu-buru.


Tinggallah disana Dave, Raka dan Keysha.


“Kamu tuh iseng banget sih.” Dave tertawa.


Raka menggedikkan bahu saja, lalu kembali sibuk bermain dengan Keysha.


Dave mengambil secomot kentang goreng dari piring di hadapannya. Pertandingan Raka versus Nikolas semakin menarik. Bahkan dia masih belum bisa menebak, ntah jagoannya dapat menang atau tidak.


***


Ironis juga ya Davina malah kasih coca colanya ke Nikolas. Padahal Cristiano Ronaldo kan gak minum coca cola 😂


IG : @ingrid.nadya