Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Tik Tak Tik Tak, DAR!



Davina sadar betul dengan apa yang dia dan Raka jalani saat ini. Semua ibarat bom waktu.


Tik… tak… tik… tak…


DAR!


Dan semua hancur berantakan.


Begitulah yang Davina rasakan saat melihat Angel muncul di Segarra sore ini. Dia bahkan bersumpah bisa mendengar ledakan di kepalanya sendiri.


“Kamu kenapa disini???” Nada Angel meninggi.


Davina tidak punya pembelaan.


Kini mata Angel sedang mengamati tangan Raka dan Davina yang sedang beratutan. Wajahnya semakin terlihat kaku.


Davina langsung menarik tangannya, melepaskan diri dari genggaman Raka.


Angel lalu melirik ke meja tempat dia dan teman-temannya duduk. Tidak jauh dari tempatnya berdiri kini. Dia hanya bisa berharap teman-temannya tidak melihat calon istri anaknya sedang berduaan dengan laki-laki lain.


Sementara itu, Raka hanya bisa memperhatikan ekspresi kedua wanita di hadapannya. Dia pun bingung harus bersikap bagaimana. Yang jelas, dia tidak ingin siapapun melihat Davina sebagai wanita yang tidak baik.


“Saya yang maksa Davina untuk datang kesini, Tante.” Raka menjelaskan.


“Saya tidak butuh penjelasan dari kamu.” Angel menolak tegas.


Lalu, dia menoleh pada Davina dan bertanya, “Dav, boleh kita ngomong berdua?”


Davina tidak punya pilihan lain. Dia segera bangkit berdiri dan berjalan mengikuti Angel.


Tidak lama kemudian, Angel berhenti di balik sebuah dinding, dimana tak seorang pun dapat melihat mereka. Dia memegang kedua lengan Davina, lalu bertanya, “Dav, kenapa kamu berduaan sama Raka disini?”


Davina menggigit bibirnya, tidak tahu harus memberi alasan apa. Toh, Angel tidak akan pernah mempercayai setiap omongannya.


Sekejap saja, dalam benak Angel, muncul sebuah kemungkinan besar bahwa pernikahan Nikolas dan Davina akan kembali batal. Dia tidak bisa membayangkan betapa malu keluarganya kalau pernikahan itu batal dua kali.


“Dav, kamu marah ya karena sikap Mam akhir-akhir ini sama kamu? Maafin Mama ya. Kan kamu tahu Mama lagi banyak pikiran karena masalah batalnya pernikahan kamu sama Nikolas.” Angel memegang kedua tangannya.


Davina terpaku.


Sifat orang di hadapannya berbeda seratus delapan puluh derajat dengan sikapnya tempo hari. Betapapun menakutkannya sifat semena-mena Angel, lebih menakutkan lagi kalau dia bisa bermuka dua.


“Kamu lagi ada masalah sama Niko, Dav? Biar Mama bilangin ke dia.” Suara Angel terdengar membujuk.


Davina sama sekali tidak mengerti siapa yang ada di hadapannya saat ini. Bukankah harusnya Angel marah karena dia ketahuan berduaan dengan Raka?


“Gak ada masalah kok, Ma.” Akhirnya Davina menjawab. Masalah? Dia bahkan tidak tahu lagi hubungan apa yang dia miliki dengan Nikolas. Barusan dia hampir saja mengiyakan kalimat Raka!


“Kamu baik-baik ya sama Nikolas, Dav. Mama gak mau pernikahan kalian batal dua kali. Nama baik keluarga loh taruhannya.” Angel berkata dengan halus, namun ada ancaman di balik setiap kata-katanya.


Davina bergidik. Dia sungguh tidak mengenal orang di hadapannya. Padahal harusnya dia merasa dekat dengan Angel, sebentar lagi dia harus menganggap Angel seperti ibu kandungnya sendiri. Tapi setiap kata yang terucap dari mulutnya begitu menakutkan bagi Davina.


“Ma, Davina minta maaf karena pergi berduaan sama Raka kesini. Davina gak punya pembelaan apapun.”


“Gak apa-apa. Wajar kalau kamu mau nakal-nakal sedikit sebelum pernikahan.” Angel tersenyum.


Nakal?


Davina sungguh-sungguh tidak suka kata itu disematkan padanya!


“Ya udah, kamu pulang ya, Dav. Mama lagi ada arisan sama temen-temen Mama disini. Jangan sampai mereka lihat kamu berduaan sama laki-laki lain disini!” Angel mengusap-usap kedua tangan Davina.


Sementara Davina hanya bisa mengangguk. Dia segera pamit undur diri. Hal terakhir yang dia inginkan saat ini adalah melihat wajah Angel lebih lama lagi. Dia muak!


***


Begitu melihat Davina berjalan ke arahnya, Raka langsung mengerti bahwa mereka harus pulang. Dia bangkit berdiri.


“Gimana?” tanya Raka, begitu Davina tiba di hadapannya.


Bukannya menjawab, Davina malah bertanya balik, “Kita pulang yuk, Ka?”


Wajah Davina tampak gusar.


“Kamu gak mau cerita dulu?” Raka prihatin dengan ekspresi Davina.


Namun, wanita kesayangannya itu cepat-cepat menggeleng.


“Udah, buruan!” Davina menarik tangan Raka.


Saat berjalan keluar dari Segarra, Davina dapat merasakan tatapan seseorang dari kejauhan. Namun, Davina memilih tidak peduli. Justru semakin mengeratkan genggamannya pada Raka.


Masa bodoh dengan gosip. Masa bodoh dengan ancaman Angel. Jika kelak mereka akan menjadi keluarga, Davina tidak mau hanya menjadi penurut yang akan diinjak-injak oleh siapapun, Angel perlu diberikan pelajaran!


***


Begitu sampai di parkiran, Davina langsung melepas genggamannya pada Raka.


“Kok dilepas sih?” Raka meledek.


“Shut up and open the door!” maki Davina.


“Ouch! Kemana sih perginya Davina yang lembut dan gak bisa marah?”


“Udah lama mati…”


Raka tertawa, lalu menekan remote mobil untuk membuka pintu. Davina cepat-cepat masuk.


“Kamu kesetanan?” Raka terkekeh.


“Iya, kesetanan kamu! Kebanyakan deket-deket sama kamu! Jadinya sifat setannya nular!”


Raka kini meledak dalam tawa.


“Dimarahin tadi?”


“Enggak.”


“Jadi kenapa kamu kayak baru dapat ceramah satu kitab suci?”


“Justru karena dia gak marah, aku serem. I hate her!” Davina menggerutu.


“Why?”


Davina menggedikkan bahu, “Bingung sama sifat aslinya yang mana.”


“Makanya, mending mertuanya Mama Nay kan?” Raka meledek sambil melajukan mobil.


Davina terdiam.


Raka sampai melirik ke sebelahnya.


Dia mengharapkan caci maki atau sanggahan dari Davina. Tapi, kini wanita kesayangannya itu malah tampak merenung.


Tak lama kemudian, Davina bergumam, “Emang mendingan Mama Nay kemana-mana sih kalau soal itu…”


Raka nyengir.


“Emang bener ya, kalau Mamanya baik, anaknya kayak setan. Kalau anaknya baik, mamanya yang kayak setan. Tinggal pilih mau yang gimana.” Davina lanjut mengeluh.


Raka tertawa.


“Karena kesempurnaan hanya milik Tuhan, Devni…”


“Setan gak usah bawa-bawa Tuhan.”


Raka tertawa lagi.


“Kamu mau kemana habis ini?” tanya Raka, setelah bisa mengentikan tawanya.


“Keliling-keliling aja deh, Ka. Aku gak mau pulang dulu.”


“Siap, Madam!”


***


Setelah beberapa jam memutari Jakarta tanpa tau arah, akhirnya Davina mengajak Raka pulang. Beberapa menit kemudian, mobil Raka memasuki halaman rumah keluarga Mahardhika. Davina tertegun begitu melihat satu mobil terparkir disana.


Bom keduanya ada disini.


Nikolas ada disini.


“Pangeran baik hati kamu datang deh,” gumam Raka.


Davina menghela nafas.


Dia boleh meneriakkan kepada seluruh dunia bahwa Nikolas adalah sosok baik hati yang sempurna bagi siapapun.


Tapi hanya Davinalah yang tahu, apa sebenarnya yang ada dalam isi hatinya.


Begitu mobil berhenti, Raka menoleh pada Davina.


“Devni…”


“Ya?”


“Bukannya udah saatnya kamu memilih?”


Tik…


Tak…


Tik…


Tak…


Davina baru sadar bom terbesarnya justru adalah Raka.


***


IG : @ingrid.nadya