Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Arti Tidak Berdaya Yang Sesungguhnya



Nayla dan Azel berlari dengan panik di sepanjang lorong rumah sakit. Saat tiba di ruangan yang dimaksud, mereka menemukan anak laki-laki mereka sedang menunduk sendirian disana.


Kaki Nayla lemas seketika ketika melihat baju Raka yang penuh dengan darah.


“Raka…” panggil Nayla, lirih.


Raka menoleh. Pandangan matanya kosong.


Nayla dan Azel langsung mendekat pada anak mereka. Nayla menggenggam tangan Raka. Betapa kagetnya dia saat menyadari tangan anak laki-lakinya itu bergetar dengan hebat.


“Davina gimana, Ka?” Nayla tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


“Raka takut, Ma…” Raka merasa asing dengan suaranya sendiri.


Masih jelas di ingatannya segala kejadian yang baru terjadi. Davina yang tergeletak dengan bersimbah darah di jalan. Raka yang kalut dan tidak bisa berpikir apapun. Untungnya dia masih bisa melangkahkan kaki keluar dari mobil, menggotong Davina sendirian kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan luar biasa.


Davinanya sempat mengigau di dalam mobil.


“Sa… kit… ma…” Davina mengerang pelan, terbata-bata.


“Sebentar, Sayang… sebentar… tolong bertahan… tolong jangan tinggalin aku…” Raka merintih. Suaranya begitu tersiksa.


Begitu tiba di rumah sakit, semua petugas kesehatan langsung membawa Davina ke ruang gawat darurat untuk tindakan pertama.


Raka hanya bisa pasrah saat petugas kesehatan menariknya keluar dari ruangan, lalu menutup pintu di hadapan wajahnya.


Beginikah sakitnya Davina saat Raka membanting pintu di depan wajahnya kemarin malam? Tapi kenapa harus Davina yang mendapat ganjaran dari tingkah bodohnya? Harusnya Raka saja yang berada di dalam sana!


“Davina bakal baik-baik aja, Ka. Kamu tenang ya.” Azel merangkul Raka.


Dia bergeming. Tidak tahu harus menjawab apa.


Dia yang paling tahu bagaimana kondisi terakhir Davina tadi. Dia yang melihat Davina bersimbah darah di pelukannya. Dia yang melihat Davina tidak sadarkan diri…


Dan yang terpenting dialah yang… menyebabkan semua ini terjadi!


Tak lama kemudian, Diana dan Dave muncul. Wajah mereka pucat pasi. Diana bahkan tidak tahu lagi harus berkata apa.


“Davina gimana, Ka?” tanya Dave.


Raka menatap Dave dengan mata berkaca-kaca, dengan lirih dia berkata, “Raka gak tahu, Pa.”


“Dokter sama suster bilang apa?”


“Belum keluar sama sekali.”


“Dari tadi?”


Raka tidak menjawab. Hal itu seperti kenyataan pahit yang tidak bisa diucapkan secara langsung. Bahwa belum ada kepastian sama sekali bagaimana kondisi Davina saat ini. Sebab meski dia merasa ingin mati sekarang, pasti perasaan Dave dan Diana jauh lebih tidak tertahankan.


Diana hanya menangis di dalam pelukan Dave. Laki-laki itu berusaha tetap tegar dengan mendekap istrinya erat.


Raka sendiri sudah menggenggam tangan Nayla dengan erat berharap menemukan kekuatan disana.


“Davina bakal baik-baik aja,” gumam Dave pada Diana.


Lalu Dave juga menoleh pada Raka.


“Raka! Kamu juga harus yakin Davina bakal baik-baik aja!” kata Dave pada Raka. Sama sekali tidak ada nada menuduh dan menyalahkan. Sebab Dave sadar, ini bukan lah salah siapapun. Seluruh orang yang ada disana saat itu juga tahu jelas bahwa Dave hanya sedang meyakinkan dirinya sendiri.


***


Beberapa menit yang berlalu setelah itu terasa seperti neraka sendiri untuk Raka. Inilah arti tidak berdaya yang sesungguhnya. Jika saja dia bisa, dia ingin menggantikan posisi Davina di dalam sana.


Dan akhirnya… setelah penyiksaan demi penyiksaan yang menyerangnya tanpa ampun, seorang suster keluar dari ruangan.


“Kelurga Davina Elisabeth,” panggil suster tersebut.


Raka segera berdiri dari bangkunya. Namun, tidak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutnya.


“Silahkan masuk ke dalam ruangan.” Suster membukakan pintu ruangan tersebut pada mereka semua.


“Bagaimana kondisi anak saya, Sus?” Suara Diana terdengar begitu tersiksa.


“Sedang dalam masa pemulihan. Dokter saja yang menjelaskan ya.” Suster tersebut mengarahkan mereka semua ke depan unit gawat darurat. Dokter sedang menunggu mereka disana.


“Anak saya gimana, Dok?” tanya Diana lagi.


“Tadi kita sudah lakukan CT scan karena ada luka di kepala Davina, tapi untungnya tidak ada cedera yang serius di bagian itu,” jelas dokter itu. Seluruh orang langsung bernafas lega.


“Tapi ada beberapa trauma di bagian punggung dan kaki Davina. Butuh beberapa jahitan karena lukanya lumayan lebar. Mungkin butuh waktu yang agak lama untuk pemulihan kaki Davina."


Semua orang langsung merasa seperti dicabut setengah jiwanya.


“Ka… ki?” Raka merintih, pelan. Tidak ada yang bisa mendengarnya. Hanya hatinya saja yang terasa sakit luar biasa.


“Tenang saja. Akan sembuh dengan beberapa kali fisioterapi. Namun, waktu pemulihannya mungkin tidak sebentar. Saat ini, kondisi Davina masih tidak sadarkan diri karena tadi sempat berontak saat akan dijahit. Jadi, kita kasih penenang. Tapi, harusnya tidak lama lagi sudah siuman.”


Dokter tersebut menepuk bahu Dave, “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Pak. Davina akan sembuh. Silakan menunggu di dalam ruangan.”


“Terima kasih, Dok. Terima kasih.” Dave dan Diana tidak henti mengucapkan terima kasih pada dokter tersebut.


Lalu, mereka pun berjalan masuk ke dalam sebuah pintu.


Raka melangkah dengan gontai. Seluruh nyawanya telah hilang sejak tadi. Apalagi saat memasuki ruangan…


Dia melihat betapa tidak berdayanya Davina…


Betapa rapuhnya tubuh itu…


Betapa lalainya dia menjaga Davina…


Betapa bodohnya dia membiarkan Davina menyeberang sendirian…


“Dav…” Diana merintih sambil memegangi tangan Davina yang terbalut perban. Raka merasa nafasnya semakin tercekat, apalagi saat menyadari bahwa hampir seluruh permukaan tubuh Davina terbalut perban.


Jika ada sesuatu yang bisa dia sesali, itu adalah ketika dia pertama kali membiarkan dirinya sendiri jatuh cinta pada Davina. Bagaimana dia mungkin membiarkan dirinya yang tidak layak ini mencoba mencintai dan menjaga Davina? Seluruh dari Raka adalah kegagalan. Bahkan mencintai kekasihnya pun dia sudah tidak becus lagi…


“Ma…” Tiba-tiba sebuah suara menyentak mereka semua.


Mata Davina perlahan mengerjap. Dia mencoba menggerakkan tangannya.


“Iya, Sayang. Mama disini… Mama disini, Dav...” Diana sudah bersimbah airmata.


“Ma… Pa…” Davina terbata-bata lagi.


“Oh, terima kasih, Tuhan, terima kasih…” Dave sudah tidak bisa menahan airmatanya lagi.


Davina membiarkan kedua orangtuanya menciuminya sejenak. Lalu, matanya beralih ke sekeliling ruangan. Mencari seseorang, untuk menyelamatkan orang itu dari neraka yang dia ciptakan sendiri. Dia yakin Raka pasti sedang tidak baik-baik saja.


Dan begitu menemukannya, dia berkata lirih, “Ra… ka…”


Wajah Raka goyah.


Dalam hatinya, sungguh dia berharap masih layak untuk menjadi kekasih Davina, menjadi orang yang layak berada di sisinya. Bagaimana pun juga, Raka begitu mencintai kekasihnya itu. Seburuk apapun dia, setidak pantas apapun dia...


Namun, gerakan Davina terhenti. Dia menyadari ada sesuatu yang berbeda pada kakinya.


“Kaki… ku… kena… pa?” Davina merintih.


“Gak apa-apa, sayang. Ada trauma dan beberapa jahitan. Tapi dokter bilang bakal pulih dengan fisioterapi.” Diana mencoba menjelaskan pada Davina.


“Iya, ta…pi bera..pa la…ma?” Airmata Davina perlahan mengalir.


"Gak ada yang bisa pastiin, Dav."


"Oh, no... no..." Davina merintih pilu.


Raka tidak tahan lagi. Seluruh impian Davina bertumpu pada kakinya sendiri. Betapa hati Davina pasti sangat hancur saat ini, apalagi jika tahu bahwa pemulihannya akan memakan waktu yang tidak sebentar.


Raka diam-diam melangkah keluar dari ruangan. Dia menutup pintu, lalu bersandar disana. Perlahan nafasnya memburu.


Tidak ada yang lebih menghancurkan diri sendiri selain perasaan tidak layak dan tidak pantas.


Raka mengingat kembali pembicaraannya dengan Davina di satu pagi.


“Tahun ini pasti tahunnya kamu.”


“Gak yakin sih…”


“Devni…”


“Hm?”


“Kamu percaya mimpiku. Jadi, bolehin aku percaya sama mimpi kamu juga ya.”


Raka merasa sesak di dada. Harusnya mulutnya tidak lancang mengatakan apapun! Harusnya dia lebih tahu diri!


Seluruh perasaannya pun tumpah. Airmatanya perlahan mengalir. Untuk pertama kalinya, Raka tidak tahu apa yang harus dia perbuat.


Sebenarnya apa yang Raka becus lakukan?


Raka memegang dadanya dan menangis dalam diam. Dia sesunggukan tanpa suara, menunjukkan betapa nelangsanya hatinya saat ini.


Ya, Raka benar-benar bersyukur luar biasa Davina berhasil selamat dari kecelakaan itu.


Namun, melihat betapa pilunya Davina menyadari luka di kakinya, sepertinya ada satu hal yang pasti yang semesta ingin beritahukan pada Raka…


Bahwa Raka tidak akan pernah menjadi layak untuk Davina...


***