Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
88



" Apa dia ada di luar !? "


Felix yang tahu siapa yang di maksud putrinya segera mengangguk . Lana tampaknya sudah mengetahui keberadaan sang suami sejak awal kedatangannya . Tapi pria itu salut karena Lana bisa mengendalikan dirinya , Felix tahu jika putrinya sedang berusaha menghadapi ketakutannya .


" Dia sudah berjanji tidak akan masuk jika kau belum mengijinkan . Daddy tidak tahu apa yang sudah terjadi di antara kalian tapi jika kau benar benar sudah tidak bisa bertahan disisinya maka kembalilah pada Daddy ! Daddy yakin suamimu bisa mengolah perusahaan kita dengan baik , itu artinya para pekerja masih bisa bekerja dan menghidupi keluarganya dengan layak .... " sebelum menyelesaikan kata katanya sebuah suara bariton terdengar dari arah pintu .


" TIDAK ... "


Sean Jayde Alexander sedang berdiri tegak disana . Lana memalingkan wajahnya karena tidak ingin melihat wajah yang terakhir kali ia lihat di penuhi dengan kebencian padanya . Wanita itu tak ingin di ingatkan lagi dengan segala penghinaan atau ucapan penuh kebencian yang ditujukan padanya .


" Aku minta maaf jika harus mengatakannya , tapi sampai matipun aku tidak akan pernah melepas putri anda ! "


Lana meraih tangan Daddynya dengan kepala menggeleng pelan , seakan mengatakan jika Felix tak perlu menanggapi kata kata menantunya .


" Biarkan aku bicara dengannya Dad , empat mata ... " lirih Lana sambil memperbaiki posisi duduknya . Dia ingin mencari posisi ternyaman karena tahu pembicaraan ini nanti akan menguras emosinya . Dia juga mengangguk pelan ketika Kimmy ingin menarik keluar pria yang seenaknya masuk tanpa ijin darinya .


" Tidak apa apa Dokter , bukankah cepat atau lambat kami memang harus berbicara !!? "


" Hai sayang , apa tidak apa apa jika aku mendekat padaku . Rasanya tidak nyaman jika kita bicara berjauhan begini " suara Sean bergetar melihat sang istri yang masih tak mau melihat ke arahnya . Sebisa mungkin ia bersikap lembut agar Lana tidak ketakutan .


Karena tak juga mendapat jawaban akhirnya Sean memberanikan diri untuk berjalan mendekat ke arah ranjang .


" Aku tahu jika aku sudah membuat kesalahan besar , semua yang aku lakukan padamu adalah salah . Tapi tidak dengan pernikahan kita ! Aku cemburu ketika melihat kau bersama pria lain ... Itu menyiksaku ! Rasanya beribu kali lebih sakit daripada luka sayatan pisau "


" Bagaimana menurutmu tentang apa aku rasakan saat ini ?! Setiap gadis mempunyai mimpi yang indah dengan pernikahannya tapi tidak denganku . Aku masuk ke rumah suamiku bukan berstatus sebagai istri , tapi hanyalah seorang budak ... dan hampir tiap hari aku di ingatkan tentang hal itu . Dan aku lelah ... " getir Lana dengan satu tetes air mata tak sengaja jatuh ke pipinya .


" Sudah , jangan bicara lagi ! Aku tahu kau masih marah padaku ... tidak apa apa . Kau pantas marah padaku . Tapi demi apapun aku tidak akan pernah melepasmu . Jika masih tidak ingin bertemu denganku maka aku akan memberikan waktu padamu ! Dan suatu saat jika kau sudah menyembuhkan hatimu maka datanglah padaku , selamanya aku akan menunggumu ! " sahut Sean cepat yang tahu kemana arah pembicaraan istrinya .


" Aku membencimu ... "


" Aku mencintaimu , sangat mencintaimu sayang ! Aku pergi , dan jaga diri kalian baik baik " sahut Sean tersenyum ketika melihat mata Lana sudah berani menatapnya .


Setelah berkata seperti itu Sean segera keluar dari kamar rawat Lana dengan sebelumnya mengecup sekilas dahi istrinya . Sedang Lana meremat kuat jari jarinya , sungguh ... dia sangat membenci pria itu ! Tapi kenapa kecupan itu membuat hatinya bahagia ? Kenapa panggilan sayang Sean seperti air di padang oase di tengah kekeringan ?