Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
My Heart Hurts So Good



**Disarankan membaca bab ini sambil denger lagu ILYSB dari Lany. Hehe. Happy reading **🤗


***


Raka mengecup lembut kening Davina saat wanita itu terbangun.


"Udah malam ya?" tanya Davina dengan suara serak, sambil mengucek matanya. Sudah berapa lama dia tertidur? Dia tidak sadar sama sekali.


Raka mengangguk. Daritadi dia tidak bisa tidur, dia hanya mengamati betapa damainya Davina tertidur di dalam pelukannya.


"I sleep like a pig." Davina mengeluh.


Raka terkekeh. Dia menyentuh pipi Davina.


"Are you okay?" tanya Raka, khawatir. Dia sebenarnya takut jika ada tindakannya tadi yang menyakiti Davina.


Tapi Davina langsung segera menepis ketakutan Raka.


"More than okay. I feel amazing!" Davina malah mengerling.


Raka tertawa pelan. Dia menyentuh hidungnya sendiri. Hal yang biasa dia lakukan saat merasa gugup. Mungkin dia sudah beberapa kali ‘melakukannya’. Namun, baru kali ini ‘melakukannya’ dengan cinta.


Ternyata rasanya jauh lebih menakjubkan. Hatinya seperti terasa nyeri, tapi dengan cara yang luar biasa menyenangkan. Kehadiran Davina seperti adiksi yang memabukkan. Dan dia tidak ingin sadar sama sekali dari candu ini.


Raka menarik Davina untuk masuk lagi ke dalam pelukannya. Davina segera menautkan kakinya di kaki Raka.


"Kenapa aku jadi guling?" Raka pura-pura protes.


"Udah, terima aja."


Raka tidak menjawab, hanya menempelkan bibirnya sekali lagi di kening Davina. Wanita itu balas meletakkan kepalanya di dada Raka, menikmati gerak nafasnya. Keheningan yang begitu manis.


Banyak sekali yang ada di pikiran Raka dan Davina. Tapi terkadang keheningan sudah berbicara lebih besar dari kata apapun yang bisa diucapkan.


Davina mengamati wajah Raka.


“Apa?” tanya Raka, akhirnya. Dia sedikit bingung kenapa Davina menatapnya lama sekali.


“Ichigo ichie,” gumam Davina.


Kening Raka berkerut, “Kamu pakai bahasa apa lagi sekarang?”


“Bahasa Jepang.”


“Kali ini mau kasih tahu artinya gak?”


Davina menyusuri wajah Raka dengan satu jarinya. Dari pelipis sampai jatuh ke dagu.


“Artinya, satu pertemuan cuma terjadi satu kali. Gak bakal bisa terulang lagi.”


Raka tersenyum, dia menahan tangan Davina, lalu meletakkannya di atas bibirnya. Dia mencium telapak tangan Davina.


“We are ‘ichigo ichie’, Ka. Treasure us.”


Raka mengangguk. Kalimat ini akan selalu dia ingat. Sebab, baik Davina maupun Raka sadar, tidak banyak yang bisa seberuntung mereka. Bertemu sejak kecil dalam satu keluarga yang cukup rumit, namun justru itu yang membuat mereka jadi tidak terpisahkan. Dia dan Davina hanya akan terjadi sekali seumur hidup.


Ah, barulah Raka sadar bahwa perasaannya pada Davina jauh lebih dalam dari yang dia bayangkan. Belum apa-apa, bahkan Davina masih ada di pelukannya, tapi Raka sudah merindukannya. Aneh sekal rasanya merindukan seseorang yang masih berada di sebelah kita.


Raka pun menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Davina, menghirup aroma manis dari tubuh wanita kesayangannya itu. Bibirnya kembali menyapu bahu Davina.


Tangan Raka sekarang kini sudah turun lagi untuk memeluk pinggang Davina. Davina menyambut perlakuan Raka dengan senang hati. Tubuhnya begitu mengenal sentuhan Raka dengan baik.


Saat wajah Raka kembali ke dekat wajahnya. Dia langsung memeluk tengkuk Raka.


“Jangan pernah pergi lagi ya,” bisik Davina di telinganya.


“Never, Devni, never...”


***


Saat pagi menyambut, Davina akhirnya berhasil mengalahkan kantuknya. Dia terbangun dan menemukan Raka yang masih tidur pulas di sebelahnya.


Sepanjang malam Raka memperlakukannya dengan lembut, dengan penuh perasaan. Dia tidak bisa membayangkan pengalaman pertama yang lebih sempurna dari apa yang mereka lalui tadi malam. Baru kali ini Davina merasakan bahwa cintanya sama besarnya dengan cinta Raka saat ini. Dia tidak perlu penjelasan apapun atas masa lalu mereka yang menyakitkan. Dia hanya butuh Raka saat ini, disini, bersamanya.


Dia ingin terus mengamati Raka seperti ini, tapi ternyata kebahagiaan tidak dapat mencegah lapar. Perutnya keroncongan karena kemarin, seharian, semalaman, mereka hanya... Ah, sudahlah. Tidak usah dijelaskan lebih lanjut.


Davina ingin pergi ke dapur untuk mencari makanan, tapi dia tidak ingin membangunkan Raka. Dia berusaha sepelan mungkin untuk bergerak keluar dari dekapan Raka. Setelah berhasil, matanya menjelajah ruangan.


Hanya ada sweater putih Raka yang tergeletak tak jauh dari tempat tidur, dia pun segera mengenakannya.


Lalu, dia segera beranjak ke dapur untuk mencari apapun yang bisa mengganjal perutnya. Untung Raka membeli beberapa makanan beku kemarin. Dia menyalakan kompor lalu mulai mencelupkan kentang goreng dan sosis ke dalam minyak panas.


Davina sedikit tersentak saat sepasang tangan tiba-tiba merengkuh pinggangnya dari belakang.


“Morning, Babe,” sapa Raka dengan suara parau, khas orang yang baru saja bangun tidur.


Davina terkekeh mendengar panggilan barunya.


“Sejak kapan aku jadi Babe? Bukan Devni lagi?”


Raka tidak menjawab. Dia menenggelamkan wajah bantalnya di bahu Davina.


“Maaf ya, sweater kamu jadi aku yang pake. Kamu ambil baju lain gih. Ini lagi dingin banget loh.” Davina mengingatkan.


Raka menggeleng. Dia malah mengeratkan pelukannya pada Davina, “Gini aja, udah hangat.”


“Tapi aku jadi susah geraknya.” Davina mengeluh.


“Gak peduli.”


Davina mendengus. Namun, Raka benar-benar tidak melepas pelukannya sama sekali.


“Kamu duduk dulu sana,” protes Davina, menunjuk meja makan.


“Gak mau.” Raka merengek.


“Ntar gak aku bagi makanannya.”


Raka cemberut. Akhirnya dia mengalah dan beranjak. Karena dia juga merasa sangat lapar!


Raka mengamati Davina yang sibuk menggoreng. Tak lama kemudian, wanita itu segera datang membawa piring makanan dan meletakkannya di depan Raka.


Raka tersenyum-senyum sendiri. Rambut Davina masih awut-awutan, bahkan sweater putihnya yang dipakai wanita itu kebesaran dan menghilangkan setiap leluk tibuhnya. Namun Raka bersumpah, Davina terlihat sangat seksi saat ini.


Davina mengernyit tidak mengerti senyum rahasia Raka.


“Apa sih senyum-senyum?” tanya Davina, heran.


Raka menggeleng. Dalam hatinya, dia akan meninggalkan sweater itu nanti agar bisa Davina pakai saat dia pulang ke Indonesia. Sebuah token yang akan selalu mengingatkan Davina tentang malam terbaik mereka.


Dia menarik Davina untuk duduk di pangkuannya.


“Can I kiss you?” tanya Raka.


Davina tersenyum, lalu mengalungkan tangannya di leher Raka dan mengecup singkat bibir Raka.


Davina ingin segera menjauhkan wajahnya dari Raka, namun laki-laki itu segera menahan. Dia ingin lebih!


Tangannya memeluk tubuh Davina erat. Tiba-tiba Raka menyadari sesuatu.


Segera dijauhkannya tubuh Davina, dia dudukkan di kursi sebelahnya. Wajahnya memerah.


“Kenapa?” Davina bingung dengan kelakuan aneh Raka yang tiba-tiba itu.


Raka membuang wajahnya.


“You’re not wearing anything inside!” Raka memaki.


Davina hanya bisa tertawa. Ternyata dia dapat membuat Raka jadi secemen ini.


***