Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Not Invited Guest



Raka dan Davina berada di posisi yang sama selama beberapa jam. Tapi, keduanya punya pikiran yang berbeda.


Yang satu kalut dan menggila, sementara yang lainnya bahagia dan jatuh cinta. Raka stres sendirian, Davina malah tersenyum-senyum.


Namun, Raka tidak mengeluh sama sekali. Dia suka jika Davina ada di pelukannya. Dia sanggup menahankan rasa sakit di kemudian hari jika memang Davina tidak ingin bersamanya, asalkan hatinya terobati sedikit di masa kini.


Davina sendiri dapat merasakan gerakan kaku di tangan Raka. Dia yakin betul bahwa tangan laki-laki itu sudah kesemutan. Dia sebenarnya masih ingin lebih lama lagi bermanja di pelukan Raka, namun dia tidak tega juga.


Akhirnya, dia pura-pura menggeliat, menguap, dan merenggangkan badan. Agar Raka tidak tahu bahwa daritadi dia sebenarnya sudah terbangun.


"Udah bangun?" tanya Raka.


Davina mengangguk. Lalu, mata mereka bertemu.


Mata itu selalu menghanyutkannya.


Ah, nanti akan lebih banyak waktu lagi untuk hanyut di pandangannya, untuk berada di pelukannya lagi.


"Kamu keluar dulu dong," kata Davina.


Raka mengernyit.


"Ayooo, keluaaaar!" Davina menarik tangan Raka.


"Kenapa–" Raka terlalu bingung, sampai akhirnya hanya bisa menuruti perintah Davina.


Davina terus menyeret Raka sampai ke pintu kamarnya.


"Thanks! Tidurku nyenyak!" kata Davina.


"I feel used..." Raka mengeluh.


(Aku ngerasa dimanfaatin...)


"Gak suka?"


"Justru karena terlalu suka..."


"Oke, lain kali aku minta jasa kamu lagi. Sekarang hus... hus..." Davina mengibaskan tangan di depan Raka, lalu menutup pintu tepat di wajahnya.


Raka terpelongo.


Tidak bisa mencerna apa yang terjadi.


Apa-apaan itu? Apa yang baru saja terjadi? Davina lagi-lagi menutup pintu padanya? Setelah dia memeluk Davina berjam-jam? Inikah balasan yang dia dapatkan?


"Bentar lagi aku beneran gila karena kamu, Devni..." Raka merintih sambil mengantukkan kepalanya sendiri ke daun pintu.


Davina bisa mendengar kalimat Raka dari balik pintu. Dia tersenyum-senyum sendirian. Senang rasanya bisa membuat Raka blingsatan seperti ini. Senang rasanya sesekali menjadi bukan yang terlalu cinta.


Sebentar lagi saja... sebentar lagi...


Janji Davina pada diri sendiri.


Lalu dia berjalan ke kamar mandi. Ingin berendam dan menenangkan diri. Ah, hidupnya akan menjadi lebih baik lagi, mulai dari sekarang.


***


Sementara itu, Raka dapat mendengar suara cekikikan ketika dia berhenti mengantukkan kepalanya ke pintu kamar Davina. Raka menoleh. Dan berdirilah disana, Rara.


"Apa?" tanya Raka, galak.


Pasti kakaknya itu sudah menyaksikan kegilaannya barusan.


Rara malah berjalan meninggalkannya.


"Pertunjukan yang menarik, Ka," kata Rara, mengacungkan jempol, lalu berlalu.


Raka menggeram. Dia benci ledekan Rara. Namun, dia tahu, hanya Raralah yang bisa menjadi sumber informasinya saat ini. Dia tidak akan sanggup berjuang sendirian tanpa tahu medan perang sama sekali.


"Kaaaak, mau kemanaaa?" Raka merengek, sambil mengejar kakaknya itu.


"Lo kira gue gak punya kerjaan?" Rara malah berjalan lebih cepat untuk meninggalkan Raka.


"Kaaaak, pleaseeee gue bingung banget. Gue hampir putus asa, Kak." Raka tetap berusaha mengejar.


"No way! Mikir aja sendiri!"


"Kaaaaaak!" Akhirnya Raka berhasil menghadang Rara.


"Apaaa?"


"Sekarang gue harus gimana, Kak?"


"Ya, mana gue tahu."


"Please, bantuin gue. Gue udah buntu."


"Kenapa buntu?"


"Soalnya Davina udah milih Nikolas. Tapi dia bersikap seakan-akan masih sayang sama gue."


Rara harus mati-matian menahan senyuman di wajahnya. Dia sebenarnya tidak tahu persis apa yang terjadi antara Raka dan Davina saat ini, namun dia bisa merasakan bahwa Raka sedang salah paham dengan kondisi Davina.


"Lo kepedean banget sih. Emang lo ngapain aja sama Davina di kamar?" Rara tersenyum jahil.


Raka mengernyitkan dahi. Rasanya aneh Rara tidak marah-marah jika dia dekat dengan Davina, apalagi menghabiskan waktu yang lama di dalam kamar berduaan.


"Apaan sih, Kak?! Gak ngapa-ngapainlah! Emang gue mau dibunuh Papa Dave?"


"Terus kenapa lo mikir Davina bersikap seakan-akan masih sayang sama lo?"


Raka menggaruk kepala. Dia sebenarnya enggan memberikan informasi pribasi pada Rara. Namun, hanya dengan cara ini, dia bisa memperoleh kepercayaan Rara. Dan kepercayaan Rara itu mungkin akan membantunya sedikit.


Raka menggaruk kepalanya. Dia jarang sekali membicarakan tentang hubungannya dengan Davina pada siapapun. Rasanya janggal. Apalagi dengan kakak sendiri.


"Jadi daritadi Davina ketiduran?"


Raka mengangguk.


"Dan lo cuma meluk dia?"


Raka mengangguk, lagi.


Rara tertawa terbahak-bahak.


"Adek gue sejak kapan jadi cupu???" Rara memegangi perutnya yang sakit karena tertawa begitu kencang.


Raka menggeram.


"Kaaak, harga diri gue udah gak ada lagi. Nol besar. Please jangan jadiin minus."


"Iyalah. Lo sih, ngapain pake drama-dramaan di depan Papa Dave dan Mama Dee?! Gue yakin lo gak bakal lepas dari ledekan mereka seumur hidup."


Raka semakin frustasi. Kini dia tidak hanya menggaruk kepalanya sendiri, bamun sudah mengacak-acak rambutnya dengan rasa frustasi yang mendalam. Pikirannya kacau balau.


"Kalau pada akhirnya gue berhasil dapetin Davina lagi, gue gak keberatan," gumam Raka.


Dia memberikan jeda sejenak.


Rara menunggu.


"Gue gak keberatan dengan apapun juga, asalkan dia mau balik sama gue, Kak." Raka menatap lekat-lekat pada Rara.


Rara terenyuh.


Adiknya ini sudah beranjak dewasa.


Dia bisa melihat kesungguhan di mata itu.


Mungkin Raka bukan seseorang yang sempurna. Dia tengil, bertindak semaunya dan egosentris. Tapi dia tidak pernah sekali pun mengkhianati Davina dengan wanita lain. Raka memang adalah turunan sang ayah. Jika sudah mencintai, dia memang akan setia sampai pada akhirnya.


Rara menepuk bahu Raka.


"Kenapa bilang ini sama gue? Bilang ke Davina dong."


Raka menunduk.


"Udah?" tanya Rara, karena Raka tidak menjawab.


Raka menggeleng.


"Kenapa?"


"Takut."


Rara menahan diri untuk tidak mencubit gemas pipi adik laki-lakinya itu. Bagaimana mungkin setan alas, iblis dari kerak neraka terdalam ini, bertingkah begitu menggemaskan hanya karena seorang wanita?


"Gimana kalau Davina gak peduli, Kak?"


"Emang kalau belum bilang, bakal tahu jawabannya?"


"Enggak sih."


"Nah, makanya–"


Belum sempat Rara menyelesaikan kalimatnya, bel rumah terdengar. Wajah Rara langsung berubah panik seketika.


"Sebentar, sebentar." Rara langsung segera berlari meninggalkan Raka.


Raka terpelongo. Rara bahkan belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Haruskah dia selalu diperlakukan seperti ini?


"Ya Tuhan! Gue tuh di kehidupan sebelumnya tuh pasukan Belanda apa ya? Karma gue gini amat." Raka kembali mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.


Namun, gerakannya terhenti ketika mendengar suara sayup-sayup dari luar rumah.


"Davinaaaaaa!"


Hati Raka mencelos.


Itu kan suara...


Raka tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.


Kenapa orang itu berteriak-teriak dari luar rumah? Kenapa–


Raka tidak bisa berpikir lebih lanjut, sebab tiba-tiba Davina muncul lagi di hadapannya dengan wajah merah padam. Dia menarik tangan Raka, bahkan bisa dikatakan mencengkramnya dengan kuat-kuat. Raka sampai yakin saat tangannya terlepas dari genggaman Davina nanti, akan tertinggal bercak merah di tangannya.


Tapi selalu seperti kerbau dicucuk hidungnya, Raka menurut saja ketika Davina menyeretnya masuk kembali ke dalam kamar.


Mereka berjalan keluar beranda kamar...


Dan benar saja tebakan Raka.


Nikolas berdiri di halaman rumah keluarga Mahardhika, tepat di hadapan beranda kamar Davina. Sebenarnya ada apa ini?


Yang semakin Raka tidak mengerti, kini Davina tidak hanya menggenggam, wanita kesayangannya itu beralih menggandeng lengan Raka di depan laki-laki pilihannya.


Dan terucaplah satu kalimat dari Davina.


"What do you want from me, cheater???"


(Apalagi yang kamu mau dari aku, tukang selingkuh???)


Nadanya keras dan tajam. Tubuh Davina bergetar penuh amarah. Sementara itu, Raka di sebelahnya, tidak tahu apa yang terjadi. Dia benar-benar tidak sanggup mencerna semua ini.


***


IG : @ingrid.nadya