
“Nganterin Davina,” jawab Raka, singkat, pada wanita di hadapannya.
Wajah Angel memerah, menahan amarah. Dia beralih pada Davina, menatapnya tajam seperti meminta penjelasan.
Davina langsung terlihat serba salah, sampai tidak dapat mengatakan apapun.
Raka sendiri dapat menangkap gelagat takut dari Davina. Dia sampai memutar bola matanya, terheran-heran dengan sikap Davina yang seperti ini.
“Keberadaan saya disini gak ada hubungannya sama Davina. Saya yang maksa untuk nganterin karena saya khawatir dia nyetir sendirian dalam keadaan kalut.” Raka menjelaskan. Dia tidak suka jika orang lain memandang rendah Davina.
Namun hal itu bukannya membuat Angel tenang, wajah calon mertua Davina itu kini berubah kesal. Karena dia tidak butuh penjelasan dari orang lain. Harusnya Davina dapat memberikan penjelasan sendiri padanya.
“Davina, nanti Mama butuh penjelasan.” Angel seakan menegaskan bahwa penjelasan Raka tidak ada gunanya.
“I-iya, Ma…” Davina menjawab, pasrah.
Raka tidak habis pikir. Tidak hanya pada sikap Angel, tapi juga kepada sikap Davina yang menjadi selemah ini di depan orangtua Nikolas. Raka mengalihkan pandangannya ke arah suami Angel, tapi laki-laki tersebut bergeming. Wajahnya acuh dan dingin seperti tidak peduli bagaimana istrinya memperlakukan orang lain.
Angel berjalan melewati mereka. Tapi sebelum masuk ke dalam kamar Nikolas, dia berbalik secara dramatis dan menatap Davina tajam, “Mau sampai kapan kamu ninggalin calon suami kamu sendirian di dalam sini, Dav?”
Davina segera melangkah menjauh dari sebelah Raka.
Raka tidak tahan melihat itu semua.
“Tunggu!” Dia menyela.
Langkah Davina berhenti. Dia berbalik dan melotot pada Raka. Dia mengenal laki-laki itu seumur hidup, jelas dia tahu apa yang ada di dalam isi kepala Raka saat ini. Dan hal itu bukanlah sesuatu yang baik!
“Maaf, tapi sebelum saya pergi, saya cuma ingin mengutarakan pendapat saya….” Raka memberi jeda sejenak agar mendapat perhatian Angel.
Begitu Angel mau menatap matanya, Raka melanjutkan kalimatnya lagi, “Kalau Tante percaya dengan kemampuan anak Tante untuk mempertahankan Davina, Tante tentu gak perlu ragu kalau saya nganterin Davina.”
Wajah Angel semakin bertambah kesal.
“Dan Davina sekarang disini untuk anak Tante. Saya gak perlu jelaskan apa artinya, kan? Atau ternyata Tante juga ragu sama kemampuan anak Tante?” Raka tersenyum kecil.
“Raka!!!” Davina memarahi Raka.
Laki-laki itu hanya menghela nafas sambil menggedikkan bahu.
Raka adalah mahluk paling egois semuka bumi. Dia memang telah menjadi perundung Davina seumur hidupnya, tapi dia tidak suka ada orang lain yang mengusik wanita kesayangannya itu. Baginya, hanya dialah yang boleh mengganggu Davina.
“Jangan tambah masalahku lagi.” Davina kini memohon. Wajahnya terlihat sangat lelah.
Raka kehilangan dayanya. Melihat Davina yang tampak begitu putus asa saat ini langsung mengurungkan niatnya untuk mengkonfrontasi Angel lebih lama lagi. Dia sadar bahwa hal itu hanya akan menimbulkan masalah bagi Davina.
Dan… dia… tidak ingin melakukannya lagi…
“Okay, I’m going.” Raka akhirnya mengalah, lalu melangkah pergi.
Sebelum benar-benar menghilang, Raka sempat berbalik. Dia memandang Davina yang sedang melangkah masuk ke dalam kamar rumah sakit.
Dia dapat memberikan segalanya pada Davina saat ini… lebih dari apa yang wanita itu dapatkan dari Nikolas…
Tapi bagaimana membuktikan hal ini pada Davina di saat yang diinginkan wanita itu saat ini hanyalah untuk berada di sisi Nikolas?
***
Davina jadi orang yang paling terakhir masuk ke dalam kamar rumah sakit.
“Kenapa kamu ngebiarin Raka nganterin kamu sih, Dav?” Angel memulai ceramahnya pada Davina.
Tapi belum sempat Davina menjawab, suara Angel yang keras ternyata membangunkan Nikolas.
“Mama?” Nikolas langsung menyadari kehadiran ibunya.
“Oh, anakku! Kamu kenapa bisa sampai begini?” Angel memeluk Nikolas.
“Aw, sakit, Ma.” Nikolas mengeluh. Dia juga punya memar di bagian perut dan rusuknya. Pelukan ibunya menimbulkan sensasi nyeri disana. Sepertinya obat pereda rasa nyeri yang tadi dia minum sudah kehilangan efeknya.
“Ya ampun, sakit ya? Mama minta maaf, Nik.”Angel langsung melepas pelukannya.
Nikolas hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.
“Mama kenapa marah-marah?” Nikolas sengaja mengalihkan topik pembicaraan.
“Kamu tahu Davina diantar sama siapa kesini?” tanya Angel pada Nikolas.
Laki-laki itu langsung mengerti.
“Tahu,” jawab Nikolas, singkat.
“Kenapa kamu gak marah???” Angel tidak terima dengan sikap tenang Nikolas.
Davina menunggu…
Menunggu reaksi calon suaminya. Bagaimana Nikolas menyikapi kejadian ini.
Davina memandangi Nikolas. Berharap sesuatu yang baik keluar dari mulut laki-laki itu. Kepalanya dipenuhi hal-hal buruk, dia hanya ingin mendengar sesuatu yang menenangkannya saat ini.
“Udahlah, Ma.” Akhirnya Nikolas bersuara.
“Udahlah gimana, Nik? Calon istri kamu datang kesini sama orang yang udah bikin pernikahan kalian batal!” Angel berapi-api.
“Ma, udah ya?! Aku gak mau bahas ini.” Nikolas mengelak, memilih kembali masuk ke dalam selimutnya. Dia hanya sedang tidak ingin membahas apapun, pada siapapun.
Dan Davina harus menelan bulat-bulat kekecewaannya. Bagaimana mungkin Nikolas melakukan hal ini padanya! Setelah apa yang dilaluinya…
Setidaknya, dia berhak mendapatkan pembelaan. Nikolas harusnya menjelaskan pada Angel bahwa keadaanlah yang memaksa Davina untuk diantar oleh Raka. Bahwa ini bukanlah kemauan Davina…
Harusnya Davina mendapat semua itu…
Harusnya tidak ada yang boleh meragukan Davina!
Tidak Angel…
Tidak siapapun…
Nikolas yang paling tahu itu! Bukankah mereka tadi sudah membicarakannya! Bahwa terlepas dari segala yang terjadi, Davina tetap memilih Nikolas. Tetap disini untuknya.
Karena Davina sudah berjanji…
Davina sudah memilih…
Amarah Angel kembali membara. Kini dia beralih pada Davina.
Tapi Davina sudah kehilangan – baik kemauan ataupun kemampuan – untuk mengatakan apapun. Ataupun merasakan apapun.
“Davina, kamu lihat kan Nikolas lagi gak baik-baik aja?! Jangan sekali pun lagi kamu ketemu sama Raka! Kamu harus sadar, kamu perempuan terhormat, jangan mau aja diantar oleh laki-laki yang udah menggagalkan pernikahan kalian!”
Davina menatap Angel. Sudah kehilangan minat untuk mengatakan apapun.
“Iya, Ma,” jawabnya, singkat.
Davina masih dapat mendengar seluruh kalimat yang tumpah ruah dari mulut Angel. Tapi tak ada satu pun yang dapat menarik perhatiannya lagi.
Davina menatap ke luar jendela kamar rumah sakit. Langit mulai temaram. Senja akan berakhir sebentar lagi. Semburat jingga perlahan digantikan oleh pekatnya malam.
Matahari telah pamit.
Meninggalkan langit dalam kegelapan.
Kesunyian.
Seperti dirinya.
Selalu membiarkan orang lain meninggalkannya dalam kegelapan.
Ntah sampai kapan.
Tidak tahu kapan akan berakhir.
Kenapa Davina selalu membiarkan semua hal ini terjadi padanya?
***
Halo halo, aku kembali setelah istirahat panjang! Semoga setelah ini, bisa update teratur lagi ya. Jaga kesehatan ya, readers semua 🤗