Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Kok Gak Kayak Orang Patah Hati?!



Seseorang masuk dan meletakkan kunci sembarangan dengan suara berisik. Azel dan Nayla langsung menoleh ke asal suara. Jarang-jarang ada yang berkunjung ke rumah mereka di hari Minggu, apalagi sepagi ini.


Dan, muncullah Raka, dengan wajah super kusut di pintu ruang keluarga.


“Raka? Kok tumben?” Nayla mengernyit.


Raka tidak menjawab, malah menghempaskan tubuhnya di karpet depan orangtuanya. Dia menyandarkan kepalanya, seperti biasa, di pangkuan sang ibu.


“Kamu kenapa?” tanya Nayla, sambil mengelus kepala anaknya.


“Patah hati,” jawab Raka, singkat.


Nayla dan Azel saling berpandangan.


“Davina nolak kamu?” tanya Azel, akhirnya.


Tidak ada jawaban dari Raka.


“Beneran ditolak, Ka?” Nayla jadi ikutan bertanya.


“Tau ah…” Raka kini sudah memeluk kaki mamanya.


“Ya ampun! Perjaka tua deh anak gue!” keluh Nayla.


“Gak yakin sih Raka masih perjaka.” Azel mendecih.


“Azeeeel!” Nayla marah.


Tapi saat Nayla melotot pada Azel, Raka malah ikut melirik pada papanya itu, lalu mengerling, tanpa sepengetahuan mamanya.


Azel tertawa. Begitu pun Raka.


“Kenapa kalian ketawa?” Nayla menoleh bolak balik pada Azel dan Raka.


“Nay, Raka tuh anak aku loh. Brengseknya juga pasti nurun.” Azel menaik-naikkan alisnya.


Nayla menghela nafas, “Bener juga. Maaf ya, Ka, mama malah pilihin bapak yang begini buat kamu…”


“Hey! Kalau gak aku, bentukan Raka gak bakal begini!” Azel membela diri.


“Iya sih. Gak bakal aku punya anak macam iblis begini.” Nayla mengeluh lagi.


Kali ini Azel dan Raka tertawa berbarengan.


Setelah puas tertawa, Raka kembali meletakkan kepalanya di pangkuan Nayla.


“Kamu kok kayak gak sedih gitu sih ditolak Davina?” tanya Nayla.


“Sedih gak bakal bikin Davina jadi nerima Raka kan?” tanya Raka balik.


Nayla mengamati ekspresi Raka diam-diam, kemudian berpikir sejenak. Mungkin ini hanyalah naluri seorang ibu. Tapi sepertinya, anaknya tidak sedang baik-baik saja.


“Ya udah, kamu mau makan apa hari ini? Mama masakin deh buat anak mama yang lagi patah hati.”


“Semur jengkol.”


“Sejak kapan kamu makan jengkol?”


“Kalau lagi patah hati, rasa makanan sama aja. Sama-sama pahit.”


Azel berusaha keras untuk tidak tertawa. Nayla sampai harus memukul bahu Azel.


Raka mengangkat kepalanya, lalu mengamati kedua orangtuanya.


“Mama papa kenapa sih?” tanyanya.


“Papa kamu sinting! Kamu mau makan apa, Ka, beneran ini.” Nayla mendesak.


Raka menghela nafas, lalu berkata dengan lesu, “Apa aja, Ma. Beneran apa aja. Tapi Mama nanti aja masaknya, Raka mau begini dulu.”


Lalu, Raka semakin mengeratkan pelukannya pada kaki Nayla.


Nayla diam-diam melirik Azel, sambil membuat isyarat bahwa Raka benar-benar sedang tidak baik-baik saja.


Azel menghela nafas. Baiklah, nanti dia akan mencari waktu yang tepat untuk berbicara dua mata dengan anaknya.


***


Akhirnya, Raka mau melepas kaki Nayla setelah sejam lebih bermanja-manja disana. Itu juga setelah mendapat ancaman dari Nayla.


“Kalau kamu gak lepasin juga, Mama bakal telepon Davina, buat nanya kenapa gak milih anak Mama.”


“Mama kok gitu sih?!”


Raka mencibir, namun akhirnya menurut. Dia membiarkan mamanya itu beranjak ke dapur untuk memasakkan apapun untuknya.


“Mama jahat banget sih?!” gerutu Raka.


Azel tidak menanggapi. Merasa diabaikan, Raka mengambil bantal dari sofa dan membaringkan badannya di karpet. Lalu, dia meringkuk sambil memeluk bantal.


Azel membiarkan anaknya bermuram durja sejenak.


“Papa gak nonton kan?!” Raka seenaknya mematikan televisi, lalu memasang lagu dari ponselnya.


Azel tercengang. Alisnya semakin naik ketika mendengar lagu yang diputar oleh Raka. Someone You Loved dari Lewis Capaldi.


“Now the day bleeds into nightfall. And you’re not here to get me through it all. I let my guard down. And then you pulled the rug. I was getting kinda used to being someone you loved.” Raka menyanyikan refrain dari lagu tersebut dengan teriakan dan suara yang kelewat fals.


Azel semakin tidak habis pikir dengan kelakuan anaknya. Well, waktu dia patah hati, kondisinya juga tidak lebih baik dari Raka. Tapi waktu itu, dia tidak punya ayah untuk menjadi temannya bercerita. Raka punya.


“Ka…” Azel menyenggol punggung Raka dengan ujung jempol kakinya.


Raka tidak menjawab, masih bernyanyi.


“Elrakaaaa!” Azel memanggil dengan tidak sabar.


“Apaan sih, Pa?!” Raka mengomel.


“Matiin dulu lagu cengeng kamu itu!”


“Gak mau!”


Azel menggeram. Anaknya kenapa sangat menyebalkan seperti ini? Azel bangkit berdiri, lalu merebut ponsel Raka dan mematikan suaranya.


“Papa!” Raka merepet.


“Jangan cengeng!”


Raka cemberut. Dia memilih untuk mengabaikan Azel, lalu meringkuk lagi di atas karpet.


“Pantesan Davina gak milih kamu. Kelakuan kamu begini!”


Raka melirik Azel dengan tatapan marah sebentar. Namun, dia menyadari sesuatu. Mungkin memang ada yang salah dengan kelakuannya selama ini, makanya Davina tidak mau lagi dengannya.


Setiap kali mengingat bahwa Davina sekarang mungkin sedang berada di pelukan Nikolas, hatinya terasa nyeri. Dia kini mengambil bantal dan menutup wajahnya secara keseluruhan. Dia tidak ingin mendengar siapapun, dia tidak ingin diingatkan bahwa Davina sudah memilih orang lain.


Azel menghela nafas. Mungkin dia harus membiarkan anaknya seorang diri dulu. Dia pun beranjak ke kamarnya, meninggalkan Raka untuk sementara, menikmati patah hatinya.


***


Setelah makanan siap, Nayla pun memanggil Azel dan Raka untuk bersantap bersama. Kali ini, Raka benar-benar terlihat seperti orang yang tidak berniat makan.


Tiba-tiba suara gemuruh terdengar. Dari jendela ruang makan, mereka bisa melihat hujan turun dengan derasnya.


Raka terpaku sejenak mengamati jendela. Selera makannya sudah benar-benar lenyap seketika. Dia meletakkan sendok.


“Ma, Raka gak habis ya,” katanya.


Tanpa menunggu jawaban dari Nayla, Raka sudah mengangkut piringnya ke wastafel.


“Dia gak baik-baik aja, Zel,” gumam Nayla pada suaminya.


Azel menghela nafas, “Tapi kita bisa apa, Nay? Tadi aku mau coba ajak ngomong, tapi dicuekin.”


“Dia lagi bohong sama dirinya sendiri. Dia kira dia baik-baik aja…”


Raka muncul lagi, melewati ruang makan, lalu berjalan ke arah kolam ikan. Tiba-tiba saja dia merasa rumah itu cukup sempit, sesak. Dia butuh udara segar!


Sesampainya disana, Raka berjongkok di daerah yang masih ditutupi kanopi, sehingga dia tidak terkena hujan. Namun, dia masih bisa melihat riak permukaan kolam yang menyambut tetesan hujan dari langit. Ikan koi di dalamnya malah tampak semakin kegirangan di dalam sana karena rumahnya terkena hujan.


“Enak ya jadi ikan, gak perlu patah hati,” gumam Raka, tidak jelas.


Nayla dan Azel yang diam-diam mengikuti Raka, langsung saling bertatapan begitu mendengar kalimat aneh Raka.


“Kamu ngomong sekarang juga sebelum anak kita jadi gila!” Nayla mengancam Azel, lalu pergi meninggalkan mereka.


Azel pasrah. Dia pun berjalan ke arah Raka, dia harus menyelamatkan anaknya, sebelum benar-benar kehilangan akal sehatnya.


***


Setannya hilang kalau lagi patah hati 😂


IG : @ingrid.nadya