
Raka membuka pintu apartemen sambil menenteng beberapa bungkusan. Well, dia membeli beberapa makanan kesukaan Davina dan sebuah cake bertuliskan Merry Chirstmas. Kalau keluarga mereka sedang merayakan natal bersama-sama, Natal takkan bisa terasa lengkap tanpa sebuah kue. Dan itu yang coba dihadirkan Raka saat ini.
Dia juga membeli beberapa dekorasi Natal. Dia akan menghias apartemen Davina sedikit. Sebab jangankan pohon Natal, tidak ada satu pun pernak-pernik yang menyimbolkan bahwa sang pemilik apartemen turut merayakan Natal.
Raka membuka pintu apartemen sambil bersiul pelan. Tanpa firasat apapun, tanpa pikiran apapun.
Begitu pintu terbuka, dia kaget semua lampu sudah menyala. Oh, tidak. Apakah tadi dia keluar tanpa mematikan lampu?
Tapi, begitu dia melangkah masuk, dia melihat seseorang sedang berbaring di sofa ruang tamu.
“Devni? Udah pulang?” tanya Raka, dengan polosnya, sambil meletakkan beberapa bungkusannya di sebelah pintu.
Davina tampak tersentak. Dia terduduk dengan pandangan tidak percaya. Raka sama kagetnya, apalagi saat melihat pipi Davina yang dipenuhi airmata.
"Devni, kamu kenapa nangis?" Raka berjalan mendekat.
Tadinya dia berpikir akan mendapat makian, cacian atau apapun yang mengisyaratkan bahwa semua itu bukan urusan Raka lagi. Namun, Davina malah berlari ke arahnya lalu memeluknya erat. Raka langsung terpaku di tempatnya.
"Devni... kamu kenapa?" Raka kebingungan. Bukannya dia tidak senang. Tentu dia bahagia dipeluk lagi oleh Davina! Tapi saat ini tangannya masih memegang beberapa bungkusan. Dia berusaha meletakkan bungkusan-bungkusan tersebut di lantai tanpa mengganggu Davina yang sedang terisak di pelukannya. Tapi tentu itu masih menimbulkan gerakan.
"Kamu bisa diam gak sih?" Davina meraung.
"Aduh, iya, pengennya gitu. Tapi tanganku penuh. Bentar, ini aku beli cake."
"Buang ajaaaaa!" Davina merengek.
"Ya, jangaaaan! Ini kan buat nanti malam Natal."
Davina meregangkan pelukannya sedikit. Lalu mengamati tangan Raka yang masih memegang beberapa bungkusan. Akhirnya dia melepaskan pelukannya.
"Bentar ya, nanti biar kamu bebas peluk lagi. Aku taro makanan dulu ke ruang makan." Raka mengingatkan sambil mengerling, lalu berjalan cepat-cepat ke ruang makan.
Davina terpelongo karena ditinggal begitu saja. Airmatanya langsung berhenti menetes. APA-APAAN INI??? BUKANNYA INI HARUSNYA JADI MOMEN YANG MENGHARUKAN???
Setelah itu, Raka muncul lagi di ruang tengah sambil merentangkan tangan, "Udah nih. Sini peluk lagi!"
Davina semakin tidak habis pikir. Dia mengusap airmatanya, lalu berjalan menghentak-hentak ke sofa. Dia membanting tubuhnya sendiri kesana.
"Loh? Kok jadi marah lagi?" Raka kebingungan.
Davina diam saja. Dia duduk sambil menunduk, mengamati jari-jarinya yang bergelung. Meski dia marah karena ketidakpekaan Raka, namun dia bersyukur ternyata laki-laki itu kembali. Airmatanya kembali merebak. Ya, benar. Yang penting, laki-laki itu tidak pergi lagi...
Raka menghela nafas. Dia pun berjalan mendekat, lalu duduk di karpet, menghadap ke Davina. Dia mengamati wajah Davina yang kini berubah sendu lagi.
"Devni, kamu kenapa sih?" Raka refleks menyentuh pipi Davina.
Davina mengangkat tangan. Raka pikir tangannya akan ditepis, namun Davina malah menumpukan tangan di atas tangan Raka. Hati Raka bergetar. Baru kali ini Davina tidak menolak. Akhirnya, Davina mau menyambutnya lagi. Davina mau merespons sentuhannya.
"Kamu kenapa?" Raka mengelus pipinya.
"I thought you were gone..."
Raka terenyuh. Apalagi airmata Davina menggenang lagi sekarang. Sedihkah Davina jika tidak ada Raka? Bolehkah Raka senang atas sesuatu yang menyakiti Davina ini? Ternyata kehadirannya dibutuhkan! Ternyata kehadirannya diam-diam menyenangkan Davina!
"Emang aku mau kemana lagi, Devni? Semuanya selalu berhenti di kamu."
"Raja gombal!"
Raka menggeleng. Hanya hal itu yang bisa dia lakukan untuk membantah. Sebab dia ingin Davina tahu bahwa hal itu benar adanya. Bukan hanya sekedar omong kosong.
Mereka hanya saling memandang beberapa saat. Davina tidak ingin meragu lagi, tak peduli harus membuang harga dirinya, dia akan memeluk kebahagiaannya sendiri. Dia lelah menyiksa diri.
Raka sendiri telah menjatuhkan kedua tangannya ke pinggang Davina. Dia ingin wanita itu menghadap sepenuhnya kepadanya. Jangan sampai dia berani-berani menghadap ke laki-laki lain lagi.
"Udah ya? Berhenti nolak aku ya?"
Davina mengangguk.
Raka tersenyum. Lega karena Davina telah kembali. Davina sudah menerimanya lagi. Rasanya tubuhnya langsung melemas. Dia menumpukan kepalanya di pangkuan Davina.
"Thank you, Devni. Thank you."
Davina hanya diam saja. Tangannya terangkat untuk mengelus kepala Raka.
Dia menikmati momen itu selama beberapa saat. Namun, kerinduannya pada Davina tidak akan pernah bisa selesai.
Lalu dia mengecup pipi Davina. Lanjut ke mata yang terlalu sering menangis untuknya. Kemudian, lanjut ke hidung. Dan berakhir mencium lembut bibir Davina. Dia menumpahkan segala kerinduannya dalam ciuman itu.
Dia merasakan bibir Davina bergetar. Airmata meleleh lagi di pipi wanita itu.
Raka kaget. Takut bahwa dia telah bersikap kurang ajar. Terlalu cepatkah untuk sebuah ciuman?
Dia segera menjauhkan wajahnya dari Davina.
"Maaf," bisik Raka, lirih.
Davina menggeleng. Dia menarik bagian depan sweater putih Raka agar kembali mendekat padanya.
Raka akhirnya mengerti.
Bahwa itu bukan airmata kesedihan.
Justru itu adalah airmata haru.
Saat Raka menciumnya lagi, Davina segera menutup matanya. Tangannya merengkuh tengkuk Raka. Mereka semakin larut, bahkan jari-jari Davina mulai menelesup ke dalam rambut ikal Raka. Betapa Davina sangat merindukan Raka. Rasanya seperti sesuatu yang hilang dari hatinya telah kembali. Seperti potongan terakhir puzzle yang selama ini lenyap ntah kemana. Dan betapa leganya dia bisa menemukan potongan itu kembali. Semuanya kembali terasa lengkap.
Raka memeluk pinggang Davina semakin erat. Dia tidak ingin ada jarak lagi di antara mereka. Sudah cukup selama ini mereka berpisah terlalu lama. Karena dia tidak akan mau lagi melepaskan Davina.
Dengan mudah, Raka mengangkat tubuh Davina agar duduk di pangkuannya.
Davina menatap sejenak wajah Raka, "Je ne peux pas vivre sans toi, Raka. Tu es l'amour de ma vie."
(I can’t live without you, Raka. You are the love of my life.)
Raka terkekeh, "Devni, aku ini ahli bahasa C++, bukan bahasa Perancis . Aku gak ngerti."
Davina menggedikkan bahu, seakan acuh tak acuh, seakan kalimatnya bukan sesuatu yang menyiratkan seluruh perasaannya untuk Raka. Lalu dia menarik lagi sweater Raka, dan berkata, "Artinya, just shut up and kiss me!"
Raka tersenyum, "Walaupun aku tahu itu bukan artinya. But I'll do it anyway..."
Raka kembali mencium Davina. Begitu dalam dan menggebu-gebu. Davina sendiri telah kembali menelusupkan jemarinya di rambut Raka. Dia begitu larut sampai terlalu kuat menarik rambut Raka.
"Devni, I love you. But you hurt me," gumam Raka, iseng.
Davina kaget. Dia segera melepas Raka dan bergerak sedikit menjauh.
"No, no. It's okay. It's okay. Aku cuma iseng." Raka mengalungkan lagi tangan Davina di lehernya.
Dia menarik lagi pinggang Davina agar semakin dekat padanya. Dia mulai lagi dengan mengecup pipi Davina, kening, mata, hidung, dan berakhir di bibir. Davina bisa merasakan Raka tersenyum saat dia kembali membalas ciuman Raka. Sama dalamnya, sama menuntutnya.
Davina kembali memainkan rambut ikal Raka dengan jemarinya, kali ini lebih lembut. Raka menggeram. Hasratnya begitu menggebu-gebu.
"I can't stop..." rintih Raka, seakan ingin memberi peringatan pada Davina. Dia melepas sejenak ciuman mereka. Dia ingin memberikan pilihan itu pada Davina.
This is Davina, after all.
Dia tidak ingin menyakiti Davina lagi. Dia ingin memperlakukan Davina sebaik-baiknya, sesempurna yang dia bisa.
Namun, jika Davina tidak menginginkanya, dia pun siap.
Dia menatap dalam-dalam mata Davina.
Namun, wanita kesayangannya bukannya ketakutan. Davina tahu betul bagaimana sepak terjang Raka di Jakarta, beberapa temannya sukarela memberi kabar betapa banyaknya wanita yang mengisi hari-hari Raka. Tapi Davina tidak peduli.
Dia mencintai Raka.
Sangat mencintai laki-laki itu.
Raka selalu jadi yang pertama untuknya. Dan dia ingin, selalu dalam segala hal.
"Then, don't stop..." Davina tersenyum.
Raka menatap Davina takjub. Perasaannya semakin tidak tertahankan. Dia sangat mencintai Davina. Dan dia pun menuangkan seluruh perasaannya di tiap sentuhannya kali ini. Segala kerinduan, segala permintaan maaf atas kebodohannya. Segalanya.
Agar Davina mengerti bahwa dia akan kembali dicintai. Dengan sedemikian hebatnya...
***