
Selesai meeting dengan kliennya Sean cepat cepat pergi ke hanggar di mana pesawat pribadinya berada . Malam ini juga dia harus kembali karena besok pagi putranya akan operasi . Dia harus ada agar Darrell tetap mempunyai semangat untuk sembuh .
Sampai di hanggar ia merogoh saku di jasnya karena mendengar beberapa notif pesan di ponselnya . Dahinya berkerut ketika melihat beberapa gambar di layar ponselnya . Gambar gambar itu adalah gambar kebersamaan Damian dan istri keduanya . Jika dilihat mereka tampak sangat akrab ! Saling memeluk , memasak bersama hingga ... berdiri di depan pintu masuk praktek dokter kandungan . Selain gambar juga ada sebuah pesan yang terkirim bersamanya ...
Sean Jayde Alexander , kau sudah mulai lengah !
DEGGHHHH ....
Otaknya masih mencoba menyatukan puzzle puzzle agar bisa dilihat dengan jelas . Dan dua tangannya mengepal dengan keras ketika menyadari jika ada sesuatu yang terjadi antara istri keduanya dan tangan kanannya . Mungkin pesan itu benar , jika ia sudah mulai lengah .
Pantas saja selama ini Damian terlalu memberikan perhatian lebih pada Lana ! Sering ia melihat Damian ' mengistimewakan ' istri keduanya itu . Sean merasa sudah di bodohi , bisa bisanya mereka mempunyai hubungan gelap di belakangnya .
" Bangsat !! Aku bersumpah akan menghancurkan kalian hingga menjadi debu !! "
Setelah beberapa jam terbang Sean segera memerintahkan satu orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan Damian dan Lana karena ia mendapat laporan jika mereka tidak berada di rumah sakit .
" Cari mereka di lubang semut sekalipun , sekarang !!! " teriak Sean hingga membuat para penjaga gentar , mereka tahu jika pemimpin Alexander sedang di kuasai amarahnya .
Sebuah mobil datang menjemput dan kemudian melaju ke rumah sakit, Sean ingin bertemu dengan Darrell terlebih dahulu sebelum menemui dua orang yang kini dianggapnya sebagai pengkhianat .
Ditengah perjalanan sebuah pesan kembali terdengar di ponselnya . Dan pria itu memejamkan kedua matanya karena pesan itu menambah bara di dadanya .
Pria menyedihkan ... Kau pergi dan mereka sedang berbagi peluh di apartemen . Jangan bilang jika kau tidak tahu dimana apartemen Damian , tangan kanan kesayanganmu itu !
" Kita ke apartemen Damian sekarang !!! " perintah Sean pada supirnya yang tampaknya merasa akan ada hal besar yang tejadi malam ini . Tidak seperti biasanya Sean semurka ini .
" Baik Tuan ... "
Benar saja sebelum sampai ke apartemen Sean melihat mobil Damian yang melaju sangat kencang . Sang supir yang tanggap situasi segera menyusulnya dengan tetap menjaga jarak agar Damian tak menyadarinya .
Sean sengaja tidak mengikuti sampai ke basement , tapi ia segera menuju unit penthouse milik Damian yang berada di lantai dua . Sengaja ia menggunakan tangga agar lebih cepat sampai dan tak berpapasan dengan dua pengkhianat itu . Dia hanya ingin memastikan kebenaran dari pesan pesan yang dikirimkan padanya .
Dan apa yang dilihatnya benar benar membuat emosinya berada di puncak kepalanya . Damian terlihat membopong tubuh Lana yang tampak bergelayut manja , mungkin saking mesranya mereka menjadi tidak menyadari kehadirannya yang sudah berada di samping pintu lift yang terbuka .
B*jingan !! Damian benar benar membawa istrinya ke dalam apartemennya , bahkan pria itu lupa menutup pintu karena tergesa ingin segera masuk ke dalamnya .
" Kalian berdua benar benar menjijikkan !!! "
Damian yang masih membopong tubuh Lana sontak membalikkan badan , dan Lana yang masih bisa mendengar suara suaminya berusaha untuk turun dari rengkuhan Damian walau nyeri diperutnya masih terasa menyiksa .
" Nyonya hati hati .... " kata Damian yang melihat Lana masih meringis kesakitan dengan tangan memegang perutnya . Pria itu tidak sadar jika perkataan yang baru saja keluar dari mulutnya adalah bara yang membuat hati Sean bertambah panas .
Sebelum sempat menjelaskan Sean sudah memberikan satu pukulan yang tepat mendarat di rahangnya hingga Damian sempat terhuyung satu langkah ke belakang .
" Apa yang ada di otakmu hahh !! Kau tahu siapa dia ... Kenapa harus dia !!?? Apa yang ****** itu tawarkan padamu hahh !!! "
BUGGHHH ....BUGGHHHH
Sean langsung memanfaatkan kesempatan ketika melihat Damian tersungkur , ia segera berada ditubuh pria berparut itu dan bertubi tubi melayangkan pukulan di titik titik yang mematikan , dia tak peduli dengan tangisan Lana yang terdengar sangat lirih . Sudut matanya bisa melihat wanita itu diam dan duduk bersimpuh tak jauh darinya . Mungkin saja wanita itu sedang menangisi bajingan yang sedang ia hajar .
Sampai akhirnya tangannya terasa kebas dan lelah , pria dengan wajah penuh lebam dan darah itu terlihat tersenyum mengejeknya .
" Sudah ?? Hanya seperti ini saja !? "
" Cihhh ... Kalian adalah pasangan yang sangat cocok ! Pengkhianat sepertimu sudah seharusnya bersama dengan ****** sepertinya "
" Tarik kata katamu ... " ujar Damian yang tak lagi menggunakan bahasa formal pada atasannya . Dia bisa melihat air mata yang deras mengucur di kedua pipi Lana . Beban mental ini akan sangat beresiko untuk kandungan wanita itu .
" Sudah aku katakan jika ini tidak seperti yang kau lihat ! Aku tahu kau terlalu mencintainya hingga hati dan matamu buta untuk melihat kenyataan , tapi jangan pernah ucapkan kata kata yang tak pantas itu padanya .... Tarik kata katamu !! " geram Damian berusaha keras untuk duduk walau seluruh tubuhnya terasa sangat sakit .
Sengaja dia diam ketika Sean menghajarnya habis habisan karena berharap jika emosi pria itu sudah tersalurkan maka pikiran pria itu bisa lebih terbuka .
" Aku tidak akan menjilat ludahku sendiri , jangan pernah lagi menampakkan diri di depanku lagi !! Karena jika tidak maka aku tak segan melenyapkan sampah seperti kalian !! " pekik Sean dengan mata menatap tajam pada wanita yang duduk bersandar di bawah sofa .
Dengan mengumpulkan semua tenaganya Lana berusaha menanggapi semua kebencian suaminya . Semua yang ia lihat dan dengar sangat menyakiti hatinya .
" Dari awal kau sudah membenciku Tuan Sean , jadi bukan masalah jika sekarang kau menuduhku dengan hinaan yang paling hina untukku ! ****** ( tertawa kecil ) .... kata katamu benar Tuan karena hidup denganmu pun aku tidak pernah merasa mempunyai kehormatan . Dengarkan ini Tuan Sean Jayde ... Aku berjanji tidak akan pernah muncul didepanmu lagi ! Tapi aku tak pernah keberatan jika sekarang kau ingin membunuhku . Aku sudah mati ketika menikah denganmu .... "
" Kau menantangku j*lang ??!! "
Damian yang melihat Sean merangsek maju ke arah Lana langsung berdiri dan sekuat tenaga menarik bahu Sean . Dia hanya tak ingin Sean gelap mata dan menyakiti istrinya sendiri .
" Brengsek !! Minggir kau !! "
Sean yang sudah terbakar emosi segera mengambil apapun yang bisa ia raih . Pria itu meraih sebuah guci besar yang tak jauh dari sofa tempat Lana bersandar . Tanpa berpikir lagi mengayunkan guci besar itu ke arah tubuh Damian .
PYAARRRRR ..
" Nyonya !! "