
Setelah mengucapkan semua kalimatnya, Angel menyempatkan diri melirik Davina dari atas hingga ke bawah.
Davina jengah. Baru kali ini dia tersadar bahwa selama ini, Angel lebih mementingkan pendapat orang lain dibandingkan kenyamanan Davina sendiri.
Memangnya apa yang salah dengan baju olahraga oversized dan celana legging yang dia pakai? Well, Davina kan baru mengajar anak didiknya di Espoir. Masa dia mengajar dengan mengenakan gaun panjang ala princess, seperti yang dikehendaki oleh Angel selama ini?
Lagipula, tidak ada masalah jika dia berpakaian seperti ini ke salah satu hotel ternama di Jakarta, asalkan dia dapat membayar. Mulai sekarang, Davina akan mengenakan apapun yang menurutnya pantas dan nyaman.
Davina sengaja mengalihkan pandangannya kepada Nayla. Dia harusnya bersyukur saja dengan apa yang dia miliki saat ini. Sebab Nayla tidak akan pernah mengomentari apapun yang dikenakannya. Nayla hanya peduli dengan kebahagiaan Davina.
“Mungkin nanti aja ya dibahas, Ngel. Kita semua lagi makan dengan tenang disini.” Diana pura-pura tersenyum. Dalam hati, dia sebenarnya ingin menumpahkan seluruh isi hatinya. Tapi dia tahu Dave tidak akan setuju. Jadi, dia mencoba menenangkan diri.
“Gimana aku bisa diam, Di, kalau anakku jadi korban atas semua ini?! Sejak awal harusnya Davina bilang kalau tidak mau menikah dengan Nikolas!” Angel menuduh.
Davina kelepasan tertawa.
Angel menoleh dengan dramatis.
Begitu pun seluruh keluarga. Seperti tidak pernah mereka melihat Davina seperti ini. Tertawa menyindir di saat orangtua sedang berbicara.
“Kenapa ketawa, Dav?” hardik Angel, tidak senang.
“Maaf, Tante…” Davina menekankan panggilan Tante saat mengucapkannya. Dia ingin Angel tahu bahwa dia tidak menganggap Angel sebagai calon mertuanya lagi. Sama sekali tidak. Dia senang telah melepaskan diri dari Angel.
“Tapi kalimat Tante tadi ada yang lucu.”
Wajah Angel semakin merah padam. Dia ingat jelas setiap detail kata-katanya, namun baginya, tidak ada satu pun yang mengisyaratkan guyonan.
“Tante gak tahu ya yang mana yang lucu?” Davina tersenyum.
Angel menggeram.
“Biar aku kasih tahu. Itu loh, kalimat Tante yang bilang kalau anak Tante adalah korban.” Davina menjelaskan.
Semua keluarga kaget. Di keluarga mereka, selalu diajarkan untuk menyebut nama sendiri saat berbicara dengan orangtua. Tidak menggunakan kata pengganti, baik aku ataupun saya.
Dan ketika peraturan itu dilanggar, artinya Davina benar-benar sudah kehilangan kesabarannya.
“Memang Nikolas adalah korban dari perselingkuhan kamu dengan laki-laki ini!” Angel menunjuk Raka, terang-terangan.
Nayla tersinggung melihat anaknya ditunjuk-tunjuk dan dituduh seenaknya. Rasanya dia ingin mencaci maki Angel.
Tapi Raka cepat-cepat menggeleng pada Nayla.
Bukannya Raka terima dengan perkataan Angel. Namun, ini momen Davina. Biarlah dia memiliki momen balas dendamnya sendiri. Selama ini dia sudah terlalu lama diam dan menerima semuanya. Sekarang, biarkan Davina menuntaskan semuanya.
“Aku yang selingkuh? Tante yakin?” Davina tertawa lagi.
Angel bingung dengan perubahan sikap Davina ini. Sebelumnya, Davina selalu menerima apapun yang dikatakan Angel. Baru kali ini, Davina melawan. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Davina tiba-tiba berubah sinis kepadanya?
“Ma-maksudnya apa, Dav?” Wajah Angel mulai terlihat ragu.
Diana dan Dave sendiri hanya menatap Angel tanpa ekspresi. Ketika mereka menelepon Angel untuk membatalkan pertunangan, mereka sengaja tidak memberitahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka memang tidak pernah suka menunjuk kesalahan seseorang. Mereka hanya mengingatkan Angel untuk berbicara saja pada Nikolas. Namun, hal itu malah menjadi simalakama.
Ingin berbuat baik agar Angel tidak terlalu malu kepada Keluarga Mahardhika, tapi ternyata malah disalahkan seperti ini.
Angel sendiri sebenarnya sudah bertanya pada Nikolas, tapi anaknya itu hanya mengatakan bahwa Davina sudah memilih orang lain. Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Jadi, Angel menyimpulkan bahwa semuanya memang kesalahan Davina.
“Tante mending ngobrol dulu sama Nikolas baik-baik, sebelum menyalahkan anak orang lain.” Davina menambahkan lagi.
Angel semakin panik. Apakah anaknya memang melakukan kesalahan? Tidak, tidak mungkin! Nikolas adalah anaknya yang paling menurut dan penyayang. Nikolas tidak boleh memiliki satu kecacatan apapun!
Angel masih memproses semua itu, sementara Davina sudah membenarkan lagi posisi sendok dan pisaunya. Lalu, lanjut makan dengan nikmat.
Rara menatap kagum pada Davina. Adiknya telah berubah menjadi setangguh ini. Dia sampai harus menyembunyikan senyuman bangganya dengan kembali melahap makanannya.
Melihat Rara dan Davina kembali makan, tanpa menghiraukan Angel, semua keluarga yang lain juga ikut melakukannya.
“Nanti kita makan dessert juga ya, Ka, setelah habisin semua ini! Soalnya kan sekarang udah gak ada yang larang aku makan lagi!” Davina menambahkan.
Yes, yes, that’s my girl!
Raka rasanya seperti bisa tertawa dalam hatinya sendiri.
Angel semakin mengatupkan mulutnya. Dia benci sekali dipojokkan seperti ini.
Dan seperti tidak habis-habisnya drama dalam kehidupan Davina, tak lama kemudian, Nikolas tampak memasuki restoran tersebut bersama seorang wanita. Tidak lain dan tidak bukan, Sienna.
Davina langsung cekikikan.
Semua orang langsung menoleh ke arah pandnagan Davina. Termasuk Angel.
Nikolas mendatangi sebuah meja, tempat ayahnya sendiri duduk, menanyakan sesuatu pada ayahnya. Lalu, dia menoleh ke arah yang ditunjuk. Dan betapa terkejutnya dia, saat melihat mamanya sedang berdiri di dekat keluarga siapa. Wajahnya langsung panik. Davina semakin puas melihat ketakutan di wajah laki-laki itu.
Nikolas cepat-cepat menyusul mamanya ke meja tersebut.
“Ma, ayo, pergi.” Nikolas menarik tangan mamanya. Dia tidak melihat sama sekali ke mantan calon keluarganya.
“Kok buru-buru sih, Nik? Gak nyapa dulu?” Davina tersenyum.
Langkah Nikolas terhenti. Wajahnya kaku. Tampak begitu tidak senang melihat Raka dan Davina ada disini.
Well, Davina tidak peduli. Nikolas pun bersama Sienna. Skornya satu-satu untuk mereka.
“Padahal tumben-tumben loh ngelihat kamu sama Sienna serapi ini, pakai pakaian lengkap lagi…” Davina cengengesan.
Mata Angel membelalak. Dia menatap Nikolas tidak percaya.
“Thanks,” kata Nikolas, dengan wajah dingin.
“Sama-sama,” jawab Davina sambil menyuapkan sepotong daging besar ke mulutnya.
Nikolas pun segera menarik tangan Angel menjauh dari keluarga itu. Namun, bukannya kembali ke meja semula, mereka langsung pergi keluar dari restoran. Bahkan ayahnya dan Sienna pun akhirnya mengikuti langkah ibu dan anak tersebut.
Setelah keluarga tersebut menghilang, semua orang langsung menoleh pada Davina. Raka dengan sigap mengambil garpu dan pisau dari tangan Davina, sebelum tangannya yang bergetar menjatuhkan kedua benda tersebut.
“Gilaaaaaaa! Adek gue kereeeen bangettttttt!” Rara berdiri sambil bersorak senang, tidak peduli orang-orang melihatnya.
Begitu pun Diana, dia bertepuk tangan dengan bangga pada anaknya. Bahkan Nayla dan Azel juga ikut-ikutan. Bagi mereka, Davina sangat membanggakan hari ini. Dia speak up tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Siapapun berhak melakukannya!
Davina hanya tersenyum nervous sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. Dia memandangi satu per satu keluarganya. Dan dia mengerti bahwa dia akan selalu punya mereka, apapun yang terjadi ke depannya.
Lalu, akhirnya dia menoleh pada laki-laki di sebelahnya.
“Hebaaaat!” Raka menggenggam tangannya.
Dan segalanya kembali damai.
Semoga setelah ini, hidupnya kembali terasa tenang…
***
IG : @ingrid.nadya