Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
73



Sean dan Tiffani terlihat berada jendela kaca untuk melihat Darrell yang masih berada di ruang isolasi . Setelah operasi anak itu ditempatkan diruang isolasi agar tidak terganggu , Darrell masih dalam pengaruh bius hingga belum mendapat kesadarannya .


Dua orang pria dengan mengenakan jas putih terlihat menghampiri mereka dan menyapa dengan sangat ramah .


" Tuan dan Nyonya Alexander jangan khawatir , Tuan Muda Darrell akan bisa keluar dari ruangan itu sekitar dua atau tiga jam nanti . Setelah dia mendapat kesadarannya dan kami pastikan kondisinya maka dia diperbolehkan dipindah di ruang rawat " jelas salah satu dokter yang bisa melihat sorot khawatir pada dua orang didepannya .


" Kapan dia bisa berjalan !? "


Jika saja bukan seorang Sean Jayde yang bertanya mungkin saat ini dua dokter itu akan tertawa , walau sudah menjalani proses pencangkokan sum sum tulang belakang tapi tetap saja masih ada proses panjang untuk Darrell bisa berjalan seperti anak lainnya . Tapi jika mereka melakukan itu maka bisa saja mereka mempertaruhkan pekerjaan atau bahkan nyawa mereka sendiri .


" Tuan Muda harus tetap menjalani beberapa terapi , masih butuh proses menuju kesana Tuan "


" Apa operasi ini bisa memastikan jika putraku bisa berjalan dengan normal !? " tanya Tiffany yang dari tadi hanya diam dan mendengarkan .


" Kami para dokter hanyalah manusia yang jauh dari kata sempurna Nyonya ! Semua yang akan terjadi nanti adalah kuasaNya , jadi yang saat ini kita lakukan selain mendukung penuh semua yang terkait tentang kesembuhan Tuan Muda adalah terus berdoa . Saya yakin kekuatan doa mampu mengalahkan semua kesulitan bahkan yang terlihat tidak mungkin untuk kita "


Sean terlihat menghela nafasnya dalam dalam , dokter itu benar . Bukankah dia tak bisa melawan apa yang sudah di gariskan untuk setiap makhluk yang bernafas di dunia ini ?


Setelah kedua dokter itu meninggalkan mereka Sean berniat melangkah pergi , dia berpikir bisa pergi ke kantor sebentar untuk mengambil berkas berkas yang mungkin bisa ia bawa dan selesaikan di sini . Memang harus dia sendiri yang mengambil karena hanya dia dan Damian yang tahu berkas mana saja yang harus segera diselesaikan .


Dia juga ingin mendengar laporan dari orang orang yang dia tugaskan untuk mencari keberadaan istri keduanya . Sean ingin sekali mengetahui keadaan Lana , ingin memeluk dan mengatakan jika ia tak pernah bermaksud menyakitinya . Diapun tak pernah menyangka guci itu akan menghantam tubuh yang kemungkinan besar sedang mengandung itu . Dan bagaimana jika janin di perut Lana adalah anaknya ? Bagaimana jika ia sudah menyakiti anaknya sendiri ? Bagaimana Lana dan anaknya mengalami hal buruk akibat perbuatannya ?


Semua pikiran buruk itu terus berkecamuk dalam otaknya . Ada sesal yang tak bisa dia ungkapkan karena baru pertama kali rasa seperti ini begitu menyiksanya . Malam itu pasti Damian membawa istrinya untuk diperiksa oleh dokter wanita yang berpapasan dengannya saat keluar dari unit apartemen milik tangan kanannya itu .


Tunggu , dokter itu ! Mungkin Lana masih bersama dengan dokter itu , ia bisa menyelidiki siapa dan di mana dokter itu bekerja . Kenapa hal seperti ini tidak terpikir olehnya !


" Dam ... !!! " kata katanya terputus karena ingat jika pria yang selama ini ia percaya sudah tidak bekerja untuknya lagi .


" Sayang kau mau kemana ... "


Suara Tiffany tak mampu menghentikan langkahnya . Dia hanya mencoba menahan diri agar tidak melakukan hal gila disaat Darrell masih butuh ketenangan . Walau sebenarnya ia benar benar ingin melenyapkan wanita jahat itu sekarang juga .


Dia tak habis pikir bagaimana mungkin seorang ibu bisa merencanakan pembunuhan terhadap anaknya sendiri . Tapi Sean berpikir dia akan segera membuat perhitungan pada wanita itu setelah kondisi Darrell pulih . Jika saja Tiffany bukan ibu kandung putranya maka semua akan menjadi mudah untuknya . Sean hanya ingin melakukan hal yang tepat agar tak menyakiti hati Darrell di kemudian hari .


" Nanti akan ada pengacara menemuimu , yang perlu kau lakukan hanyalah menandatangani surat yang dia berikan . Dan jangan berpikir untuk membuatnya menjadi sulit !! " kata Sean tanpa melihat lawan bicaranya , pria itu tetap melangkah meninggalkan ruang isolasi . Dia harus bergegas agar ada di saat putranya sadar nanti .


" Surat ?? Surat apa ?? " cicit Tiff yang kemudian juga melangkah meninggalkan ruang di mana putranya masih terbaring memejamkan mata . Dia ingin kembali ke ruang rawat Darrell karena disana dia bisa lebih nyaman beristirahat . Tapi dia terkejut karena di kamar itu sudah duduk seseorang yang ia kenal sebagai pengacara keluarga Alexander .


" Selamat siang Nyonya Tiffany , silahkan duduk ! Ada sesuatu yang harus saya sampaikan pada Nyonya "


" Ada apa ?? Aku tidak ada urusan hingga memerlukan kehadiranmu " kata Tiffany menyambut jabat tangan dari sang pengacara kemudian duduk di sofa single disampingnya .


" Saya hanya butuh tangan tangan Nyonya , dan saya minta Nyonya bisa bekerjasama kali ini " ujar pria itu mengeluarkan beberapa berkas dari tas yang di bawanya .


Tiffany mengambil berkas itu karena penasaran apa isi di dalamnya , tapi kemudian ia melempar semua berkas itu hingga sebagian mengenai wajah pria di depannya .


" Tidak !! Aku tidak akan pernah mau bercerai dengan suamiku !! " pekik Tiff histeris , bagaimana bisa Sean menggugat cerai dirinya di saat seperti ini .


" Anda tahu benar jika anda harus bisa bekerjasama Nyonya ! Tuan Sean Jayde tidak pernah suka jika dirinya dipersulit ... Maksud saya anda tahu akibatnya jika mempersulit apa yang sudah di inginkannya "


" Br*ngsek !! Kau mengancamku pria tua !?? Kau tidak tahu siapa aku hahh !! " teriak Tiff yang kemudian berdiri tegak di depan pengacara itu .


" Seharusnya saya yang memberikan pertanyaan itu untuk anda . Saya rasa anda belum mengenal Tuan Sean Jayde dengan baik . Saya tak ingin anda menyesal karena sudah melakukan semua ini ... "