Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Mickey To My Minnie



Raka menghampiri Davina yang sedang memilih-milih sesuatu di toko belanjaan di dalam Disney Land.


"Mau beli apa?" tanya Raka.


"Pas banget! Sini, Ka!"" Davina kegirangan melihat Raka. Dia pun langsung memasangkan bando Mickey Mouse ke kepala Raka.


"Kawaii!" gumam Davina begitu melihat penampilan Raka dengan bandonya.


Raka terpelongo.


"Ogaaaaah!" Raka mengangkat tangan, hendak melepas bando tersebut.


Tapi Davina buru-buru menahan tangan Raka.


"Kalau dilepas aku ngambek! Aku marah!"


"Devni, ini gak aku banget!"


"Bodo! Pake! Kalau kamu lepas, aku gak mau ngomong sama kamu sampe liburan selesai."


Raka menggeram. Sudah jarang bertemu, sekarang dia diancam akan dicuekin selama masa liburan. Bagaimana dia bisa menolak???


"PFFFT!" Beberapa orang tampak menahan tawa saat melihat Raka.


"Ya ampun! Cute banget sih adek gueeeeee!" Rara muncul sambil merekam Raka dengan ponselnya.


Raka hanya bisa pasrah.


"Lebih bucin dari Azel!" Dave meledek.


"Buah emang gak jatuh jauh!" Azel geleng-geleng.


"Kamu mau aku pakein juga?" Nayla mengancam Azel, tidak rela kalau anaknya dihina. Azel langsung terdiam. Dave semakin tertawa terbahak-bahak. Sungguh sikap Raka tidak ada ubahnya dari Azel kalau urusan asmara.


"Kak, lihat dong hasilnya. Emang gue kayak gimana sih."


Rara pun memberikan ponselnya pada Raka. Dia mengamati sejenak, lalu berasumsi sendiri, "Ya udahlah, orang ganteng mah, mau diapain juga tetap ganteng."


"Najis!" Semua jadi malas mengomentari Raka.


Davina memeluk lengan Raka sambil menunjuk kepalanya sendiri yang menggunakan bando Minnie Mouse.


"Mickey to my minnie."


Raka mengelus kepala Davina, "Apapun, Devni, apapun buat kamu."


***


Nayla bahagia bukan main hari ini. Bukan hanya karena berkumpul bersama keluarganya, tapi juga karena melihat bagaimana anak laki-lakinya memperlakukan Davina.


Mengingat betapa tengil dan melawannya Raka, dia selalu merasa ada yang salah dengan didikannya selama ini. Apalagi saat tahu bagaimana Raka menyakiti Davina dulu.


Tapi ternyata dia salah.


Ternyata... Raka bahkan jauh lebih manis dari Azel saat memperlakukan kekasihnya.


Seperti saat ini...


Davina sedang menggendong Keysha saat menyadari tali sepatunya terbuka.


"Ka, pegangin Key sebentar dong. Aku mau ikat tali sepatu," kata Davina, menyodorkan Keysha.


Tapi bukannya mengambil Keysha dari Davina, Raka malah berjongkong di depan Davina, "Gak usah. Sini aku aja yang ikat."


Mata Nayla semakin berbinar melihat hal itu.


Namun tangan Raka mendadak berhenti begitu mendengar suara riuh.


"Ya ampun, anak gue ngiketin tali sepatu pacarnya!" ledek Azel.


"Dav, kamu tuh pake pelet apa sih ke Raka?" Diana cekikikan.


"Bagus, Dav. Emang laki-laki tuh harus jadi budak!" Dave meledek.


Mereka tidak tahu saja bahkan dulu Raka sudah merangkap jadi ART bagi Davina saat berkunjung ke Paris setahun lalu.


Davina langsung salah tingkah, dia berusaha menarik Raka agar berdiri, "Jangan, Ka!"


Raka menengadah, memandangi Davina, "Udaaah, cuekin aja. Gak bakal berhenti ledekan mereka seumur hidup."


Davina merasa Raka ada benarnya. Akhirnya, dia membiarkan Raka mengikatkan tali sepatunya dengan ledekan silih berganti dari keluarganya. Tidak apalah. Biar keluarganya tahu kenapa dia bisa begitu mencintai Raka. Karena laki-laki itu selalu memperlakukannya istimewa.


Raka dan Davina sempat mengasingkan diri sebentar saat Rara mengambil alih Keysha. Mereka berdiri di sebuah bianglala besar sambil ngobrol berdua. Tidak ada obrolan yang berarti, hanya ngalor ngidul, seperti kebanyakan pasangan lain.


"Davina, Raka, sini Mama foto berdua." Tiba-tiba Nayla muncul ntah darimana.


"Eh?" Raka kaget.


"Eh, eh! Gak sopan!" Nayla memukul bahu Raka.


Si tersangka hanya terkekeh.


"Ngerepotin, Ma." Davina merasa tidak enak, padahal dalam hati berharap. Karena dia jarang sekali punya foto berdua dengan Raka.


Untungnya Nayla mengabaikan kalimat Davina sepenuhnya, dia mengambil kamera dan mengabadikan pose kaku Davina dan Raka.


"Awkward banget sih. Yang mesra dong, Ka. Davina dirangkul kek, dipeluk." Nayla protes.


"Beneran boleh? Mama gak bakal ngeledekin?"


"Enggak dong."


Akhirnya Raka menyampirkan tangannya di bahu Davina.


"Satu... du–" Nayla tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Dia bahkan terang-terangan tersenyum senang saat Raka mengarahkan wajahnya dan mengecup lembut rambut Davina.


Wajah Davina langsung memerah.


"Raka!" Davina protes, sambil memukul bahu Raka.


"Oke, udah difoto, silahkan dilanjutkan..." Nayla ikut terkekeh, lalu kembali ke kerumunan suami dan keluarganya.


"Kamu nakal banget sih!!!" Davina menggeram saat Nayla sudah menghilang.


Raka nyengir.


"Apa?" tantang Davina karena Raka tidak juga mengucapkan kalimat apapun.


"Kata Mama boleh dilanjutin..." Raka menurunkan rangkulannya ke pinggang Davina. Senyumnya terlihat terlalu jahil.


"Gak tahu malu!!!" Davina menggerutu sambil menghempaskan tangan Raka.


Raka tertawa terbahak-bahak. Menggoda Davina akan selalu jadi kegiatan favoritnya.


***


Waktu berlalu dengan cepat saat kita merasa bahagia. Itulah yang dirasakan oleh Davina dan Raka. Liburan seminggu mereka selesai begitu saja. Tibalah saat mereka harus kembali ke dunia nyata. Menghadapi long distance relationship lagi.


Raka menghampiri kamar Davina paginya, mengetuk pintu kamar. Ternyata Raralah yang membukakan pintu.


"Duh, yang mau pisah, sedih amat mukanya," ledek Rara.


Raka mencibir.


Mereka pun masuk ke dalam kamar, menemukan Davina yang sedang menutup kopernya.


"Gue boleh berduaan sama Davina dulu gak, Kak?" Raka memelas.


Rara mendelik.


"Ya ampun, cuma setengah jam kok sebelum check out. Bisa ngapain sih?" Raka menggerutu.


Rara menghela nafas.


"Gue kasih lima belas menit deh ya," katanya, lalu berjalan keluar kamar.


"Thanks, Kak."


Pintu pun tertutup.


Raka duduk di ranjang, tepat di sebelah Davina yang baru selesai packing. Dia mengelus tengkuknya sendiri, kebingungan harus mengatakan apa.


Dia hanya bisa memperhatikan Davina yang malah berjalan mondar-mandir, seperti memeriksa apakah ada tinggal. Sebenarnya hal ini Davina lakukan hanya agar fokusnya terpecah. Dia benci diingatkan bahwa dia akan berpisah lagi dari Raka beberapa saat lagi.


"Devni..." panggil Raka, lembut.


"Hm?"


"Devni..."


"Ya?"


"Sini dulu dong..."


Davina akhirnya menoleh pada Raka. Ah, dia benci ini! Belum apa-apa airmatanya sudah menggenang lagi.


Raka mengulurkan kedua tangannya, "Sini yuk? Kangen-kangenan dulu sama aku."


"Kamu tuh..." Davina merintih.


"Aku kenapa?"


"Gak bisa pura-pura aja apa? Anggap aja kita gak bakal pisah bentar lagi."


"Yaaa gak bisa. Kan emang mau pisah."


Davina cemberut.


"Makanya sini. Aku mau dipeluk yang lama, biar gak lupa kalau punya pacar."


Davina berjalan menghentak-hentakkan kaki sampai ke hadapan Raka. Dia menuding wajah Raka dengan telunjuk, "Jangan berani-beraninya kamu lupa!!!"


Raka terkekeh, "Lagi nangis, tetep aja galak."


"Jangan ngejek!"


Raka menarik jari Davina yang berada di hadapannya, lalu dia letakkan di belakang lehernya. Davina mengerti. Dia pun meletakkan tangan satunya lagi, seperti mengalungkan kedua tangannya di leher Raka.


"Aku bakal kangen digalakin." Raka nyengir.


"Harus!"


Raka mengamati wajah Davina, merekam baik-baik wajah kekasihnya itu dalam benaknya.


"Ini, biar kamu tetap kangen..." Davina mendekatkan wajah, lalu mencium lembut bibir Raka.


Raka tersenyum dalam ciuman itu. Dia akan benar-benar sangat merindukan sentuhan kekasihnya ini!


Setelah beberapa saat, Davina menjauhkan wajahnya.


"À bientôt, mon amour," bisik Davina.


Raka mengangguk, merengkuh Davina dalam pelukannya, "À bientôt, Devni. Janji sama aku, kamu bakal datang ke Indonesia sebulan lagi."


Davina mengangguk, "Aku janji..."


***


Kawaii \= cute, menggemaskan (Bahasa Jepang)


À bientôt, mon amour \= sampai ketemu lagi, sayangku (Bahasa Perancis)


***


Hi, readers! Mohon maaf updatenya bakalan gak teratur banget nih. Urusan RL lagi banyak banget, teman-teman yang follow IG pribadiku pasti tahu kenapa hehe. Semoga kalian tetap mau mengikuti ya 🙂