
Damian memarkirkan mobilnya di area kamp pelatihan karena untuk menuju rumah kayu harus ditempuh dengan perjalanan jalan kaki . Sengaja dia tidak memberi akses kendaraan untuk menuju kesana karena ia ingin tempat tinggalnya terpelihara lingkungannya .
Pria itu membuka pintu rumah yang terkunci dengan kunci duplikat yang ia miliki . Suasana sangat sunyi , ia mengira kelinci kecilnya sudah tertidur karena hari memang sudah menjelang pagi . Damian berjalan menuju kamarnya agar bisa segera beristirahat , badannya terasa lelah karena beberapa hari ini dia sangat kurang tidur .
CEKLEKKKK ...
Pria itu tersenyum ketika melihat Ranaa yang sudah tertidur pulas di atas ranjang . Tidak mungkin ia tidur bersebelahan dengan gadis itu walau sebenarnya sangat ingin merebahkan tubuhnya di empuknya ranjang yang ada didepannya . Setelah melihat gadis itu baik baik saja Damian segera menuju ke ruang depan . Disana terdapat kursi kayu panjang yang bisa ia pakai untuk sekedar mengistirahatkan tubuhnya .
Belum sempat memejamkan matanya pria itu terganggu dengan berkali kali panggilan diponselnya , hingga terpaksa ia bangun dan duduk untuk melihat siapa yang menelponnya .
" Hissshh ... apa lagi , jangan bilang kalau dia masih butuh bantuanku untuk menghajar cecunguk itu " gumam Damian kesal setelah melihat nama yang terpampang di layar datarnya .
" Ya halo Tuan ... "
" Aku ingin bertemu dengannya sekarang ... " terdengar suara sang atasan di seberang sana . Nada suara yang terdengar memohon itu membuat Damian ingin terbahak .
" Saya rasa belum ... "
" AKU MEMAKSA !! "
Damian terdengar menjauhkan ponsel dari telinganya sambil memutar bola matanya malas . Ternyata di saat seperti ini arogansi pria itu tidak berkurang sedikitpun .
" Anak dan istriku sedang membutuhkan aku , dan aku yang bertanggung jawab penuh atas diri mereka . Bukan kau atau teman doktermu itu !!! "
Damian mengatur nafasnya agar bisa menanggapi atasannya yang ia rasa hampir gila itu . Tak ada satupun orangnya yang ia tempatkan di rumah sakit milik Kimberly karena area itu benar benar terjaga dengan pengamanan ketat . Walaupun tidak sebesar rumah sakit yang dimiliki Alexander tapi rumah sakit milik Kim mempunyai sistem keamanan yang lebih canggih .
" Jadi apa yang harus aku lakukan agar aku bisa menemuinya ?! "
" Saya rasa anda bisa minta tolong pada Tuan Prabu Endaru Adipraja " jawab Damian tenang , sebagai teman dia kurang lebih tahu tentang kehidupan dari cucu Daniel Brown itu .
" Tuan Prabu ?? Memang ada hubungan apa dia dengan dokter itu !? " tanya Sean heran , sebagai pengusaha ia hanya tahu jika baik Adipraja ataupun Brown adalah keluarga pengusaha besar .
" Saya terlalu lelah untuk menceritakan kisah panjang mereka , tapi jika enggan merepotkan beliau maka satu satunya cara anda harus menjadi pasien di rumah sakit itu "
" Kau pikir aku pria sakit sakitan yang perlu perawatan !? "
Semua sumpah serapah terucap dalam hati pria dengan wajah berparut itu , jika diteruskan maka bisa saja ia berbicara dengan pria setengah gila itu sampai pagi .
" Hanya itu yang bisa saya sarankan , maaf tapi sekarang saya sedang sibuk . Dan jangan bertanya saya sedang melakukan apa karena anda sudah tahu pasti apa jawabannya ! "
Damian langsung menutup panggilan teleponnya walau dia tahu pasti Sean sedang merutukinya dengan segala sumpah serapah . Matanya sudah sangat mengantuk , yang dia inginkan sekarang hanyalah memejamkan mata dan menikmati alam mimpinya . Tapi sebelum memejamkan mata ia terlihat mengetikkan sesuatu di layar ponselnya ...
Siapkan semua berkasnya besok ! Panggil semua orang yang diperlukan di acara itu nanti ...
Sebuah senyum tersungging di bibirnya , ia tak menduga jika akan berbuat segila ini ! Tapi hanya ini jalan satu satunya agar gadis itu tidak di manfaatkan oleh kedua orang tuanya yang gila harta . Dia tak peduli jika mungkin gadis itu belum mempunyai rasa yang sama dengannya tapi ia yakin seiring berjalannya waktu mereka akan terikat pada sebuah rasa yang sama .
Masih ada trauma tentang masa lalunya , tapi ia tidak bisa terus terusan berkubang dalam rasa itu .
" Good night Mrs Kahl ... "