
"Engkau hanya satu dan satu-satunya."
–Idris Sardi–
***
Disarankan sambil mendengarkan lagu "Afterglow" oleh Ed Sheeran.
***
Davina terbangun di dalam pelukan Raka. Di luar sudah mulai terang. Dia mengamati wajah damai kekasihnya yang masih tertidur. Cahaya samar mentari di musim dingin jatuh di permukaan wajah Raka. Membuatnya bersinar.
Jatuh cinta selalu luar biasa.
Jatuh cinta sungguh membahagiakan.
Tangannya mengusap lembut rambut ikal Raka. Selama beberapa saat, dia bertahan melakukan aktivitas yang sama. Setelah bosan bermain-main dengan rambut kekasihnya, Davina beralih ke alis dan bulu matanya yang panjang.
Di balik kelopak mata yang tertutup itu, tersimpan sebuah tatapan yang akan selalu menghanyutkannya. Davina pun mencium pelan kelopak mata tersebut.
Perlahan bibirnya menyapu turun ke hidung Raka. Kemudian, ke pipinya. Lanjut ke bibirnya. Ah, Raka benar-benar membuatnya jatuh sejatuh-jatuhnya. Cinta secinta-cintanya.
Lama dia menikmati semua momen mengagumi Raka, mencintai Raka, sendirian. Kadang cinta memang tidak bisa ditebak kemana akan bermuara. Dan disinilah Davina, berakhir di sisi kekasihnya. Orang kecintaannya dari dulu, hingga sekarang.
Davina beralih pada sesuatu yang membuatnya semakin bahagia. Yaitu, cincin di jari manis tangan kirinya. Senyum kembali terkembang sempurna di bibirnya. Perasaannya memang begitu berbunga-bunga setelah lamaran Raka tadi malam. Tidak menyangka bahwa seorang Raka akan berlutut dengan satu kaki untuk memintanya menikah. Jika dilakukan laki-laki lain, hal itu terasa masuk akal. Tapi ini Raka!
Davina sudah tidak tahan lagi. Baru kali ini dia merindukan seseorang yang sebenarnya ada di sebelahnya. Konyol sekali rasanya.
"Sayaaaang, bangun doooong," Davina mengguncang badan Raka, dengan manja.
"Sebentar, Devni." Dia mengelak.
"Rakaaaaa!" Davina merengek, kali ini mengguncang dengan lebih kuat. Sampai akhirnya, Raka mengalah. Dia mengintip sebentar dengan satu mata. Lalu, dia mencium Davina sekilas.
"Udah kan? Hadiahnya tidur sepuluh menit ya..."
Davina terpelongo selama beberapa saat.
Mata Raka benar-benar terpejam lagi.
Davina pun menggeram.
"Elraka Aditya!"
Dalam sekejap, Raka langsung bangkit dari tidurnya. Duduk dalam keadaan masih gamang selama beberapa saat. Setelah kesadarannya pulih sepenuhnya, dia mengamati wajah marah Davina.
"Galak amat sih." Raka menarik pinggang Davina untuk mendekat padanya.
Davina pun mengalungkan tangannya di leher Raka.
"Aku kangen."
"Kan aku disini."
"Tapi tetap kangen." Davina pun mencium Raka, lembut. Perlahan. Lama.
Raka tersenyum.
"Lagi cinta-cintanya ya?" tanya Raka, di sela-sela ciuman mereka.
"He'eh." Davina hanya menggumam, masih terlalu sibuk dengan bibir Raka. Kekasihnya itu pun semakin mempererat pelukannya di pinggang Davina. Kecanduan sentuhan dari orang yang kita cintai adalah kecanduan paling membahagiakan di seluruh dunia.
Badan Davina selalu menurut pada sentuhan itu. Saat perlahan, Raka kembali menidurkannya. Lalu, menatapnya lekat-lekat selama beberapa saat. Tangan Raka menggenggam erat tangan Davina. Memperhatikan jari manis tempat cincin terpasang.
Keputusan paling tepat yang dia pernah lakukan di seumur hidupnya.
Raka mencium cincin tersebut, lalu kembali memandang Davina.
"Kamu bahagia gak?"
"Banget."
Raka tersenyum, lalu menidurkan kepalanya di perut Davina, memeluk pinggang wanita itu erat-erat.
Kebahagiaan dan haru membuncah di dada Davina. Untuk pertama kalinya Raka memanggilnya sayang.
"Makasih udah selalu jadi satu-satunya kamu. Karena kamu memang selalu jadi satu-satunya," lanjut Raka lagi.
Davina mengelus kepala Raka, mencoba menunjukkan seluruh perasaannya pada kekasihnya itu. Segalanya ini terlalu sempurna. Membahagiakan. Sampai kalau dia mengucapkan satu kata saja, airmatanya akan segera tumpah.
Raka menengadahkan wajahnya untuk melihat Davina. Wanita kesayangannya sudah berkaca-kaca. Raka tersenyum.
"Kamu gombal banget..." keluh Davina, sambil mengusap sudut matanya.
Raka tersenyum miring, "Itu bukan gombalan."
Davina tidak tahan lagi. Dia segera menarik tubuh Raka agar sejajar dengannya dan memeluk tubuh kekasihnya itu. Lalu, dia memyembunyikan wajahnya di dada Raka.
"Elraka..." bisik Davina.
Raka menunggu. Davina bukan orang yang bisa mengungkapkan perasaan cintanya secara gamblang, dengan kalimat romantis yang gampang dimengerti. Raka menunggu Davina akan mengucapkan bahasa-bahasa alien lagi untuk mengungkapkan perasaannya. Sesuatu yang tidak bisa dia mengerti lagi.
Tapi Davina tidak mau melarikan diri lagi. Perasaannya terlalu nyata untuk dihindari, terlalu membahagiakan untuk tidak diucapkan. Sejelas-jelasnya. Agar Raka mengerti.
"You always have me, body and soul."
(Kamu selalu memilikiku, tubuh dan jiwa.)
Davina melonggarkan pelukannya, lalu meletakkan tangan Raka di dadanya. Di jantungnya. Yang berdetak hanya untuk Raka. Untuk mencintai laki-laki tersebut.
Dan satu kalimat itu sudah cukup untuk Raka mengerti bahwa Davina teramat mencintainya. Sepenuh hati.
"Kalimat kamu salah, Sayang..." gumam Raka, sambil melingkupi tubuh mungil Davina sepenuhnya dengan tubuhnya.
"Hm?"
"Karena bikin aku gak bakal bisa berhenti lagi."
Davina menggedikkan bahu, malah menyusuri rambut Raka dengan jari-jemarinya, lalu meletakkan tangannya dengan santai di tengkuk Raka. Jika tubuh Davina selalu menurut kepada sentuhan Raka, tubuh Raka selalu bereaksi sebaliknya terhadap sentuhan Davina. Dia meronta, ingin menguasai dan menuntut lebih.
"Aku justru protes kalau kamu berhenti." Davina menambahkan.
Raka tertawa. Sungguh Davina memang tidak tertahankan!
Dia segera mencium Davina. Menuntut. Dengan seluruh perasaan yang dia miliki. Davina membalas, sama menuntutnya. Bagi mereka, segala kerinduan ini memang tidak akan pernah ada habisnya.
***
Percakapan biasa dengan readers...
Readers : Thor, belum bisa move on dari Raka.
Ingrid : Aku juga gak mau kalian move on 😝
Readers : Masa Raka bahagianya sebentar aja sih, Thor?
Ingrid : Bonchapnya bakal dibanyakin. Tapi kalian sabar ya. Hehehe.
Readers : Novel baru dimana, Thor?
Ingrid : Tetep di NT kok. Sampai tamat, kalau rame.
Readers : Kalau gak rame?
Ingrid : Aku mending fokus ke RL dulu deh 🥲
Readers : Tapi aku tetap belum bisa move on dari anak setan, Thor.
Ingrid : Jagoan baruku dipanggil Abang. Dia bakal lebih ngaco kok dari Raka. Yuk mampir. Kalau rame, aku lanjutin hehehe.
Udah, segitu aja dulu halunya hehehe. Happy weekend ya, readers! Nantikan bonchap Raka selanjutnya 😝
IG : @ingrid.nadya