Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Everything Comes To An End



Untuk segala sesuatu ada masanya. Untuk segala kesusahan di bumi tentu ada akhirnya.


Saat ini, Raka, Albert dan Julia sedang menunggu putusan sidang kedua. Julia mengepalkan tangan kuat-kuat. Dia ketakutan sekali.


"Lo bisa tenang gak sih?!" Raka mengeluh.


Julia menoleh pada Raka. Akhirnya, Raka mau buka suara lagi padanya.


"Udahlah, Jules. Gue udah kehilangan Davina. Creature juga bakal struggling habis-habisan kalaupun menang di kasus ini. I have nothing more to lose."


Albert menghela nafas mendengar kalimat Raka.


"Maaf ya semua gara-gara gue," kata Julia, lagi.


"Udahlah."


Albert dan Julia mengamati Raka. Teman mereka itu memang tampak rileks kali ini. Beda sekali dibandingkan dengan sikapnya saat menghadapi sidang pertama.


Raka memang sudah tidak peduli lagi. Sejak hari dimana dia membiarkan Davina pergi dari hidupnya, dia sudah mengubur segala perasaan dan keinginannya.


Tak lama kemudian, hakim masuk ke dalam ruangan sidang. Setelah membacakan berbagai pertimbangan kasus, hakim pun masuk ke topik putusan.


"Dengan ini, hakim memutuskan untuk mengabulkan sebagian tuntutan penggugat. Yaitu, denda sebesar dua milyar tanpa sanksi hukuman pidana kepada pemilik Creature. Meski tidak menampik kelalaian dari Creature, namun Wetix selaku pemberi wadah sharing data juga dianggap punya kelalaian sendiri dalam menjaga sistemnya."


Julia menangis. Begitupun Albert.


Mereka memeluk Raka erat-erat dengan senyum mengembang.


"We did it, Ka! We did it!'


Raka membiarkan tubuhnya dipeluk oleh kedua temannya. Jiwanya masih tidak berada disana.


Dua milyar saja? Creature masih bisa menanggungnya. Pinjam sana-sini, dari bank dan penggadaian surat piutang. Banyak yang bisa Creature lakukan untuk menutupi semua itu.


Raka menutup mata.


Akhirnya, berakhir. Segalanya berakhir.


Kali ini, Raka tidak mengemudikan mobilnya langsung ke apartemennya. Dia menuju ke sebuah rumah. Yang akan menjadi penenangnya. Rumah yang dia tidak berani datangi sejak awal dia menghadapi masalah ini.


Dia memarkirkan mobilnya begitu saja.


Saat memasuki ruang keluarga, dia langsung menemukan yang dia cari.


"Raka?" Wajah Nayla berbinar.


"Tumben ingat pulang..." Azel mencibir.


Raka merasakan matanya memanas.


Dia cepat-cepat duduk di hadapan Nayla, memeluk dan menumpukan kepalanya di pangkuan mamanya itu.


"Kamu kenapa?" tanya Nayla, kaget, dengan perlakuan anaknya itu.


Raka menggeleng.


"Mau minta duit kamu ya?" tanya Azel, curiga.


"Enak aja! Raka udah lama mandiri dari kita!" Nayla memukul bahu suaminya. Lalu dengan perlahan tangan Nayla mengelus bahu Raka, lalu ke kepalanya.


"Raka kan anak kebanggaan Mama," kata Nayla.


Raka tidak bisa menahan rasa harunya. Mamanya itu tidak tahu saja apa yang baru Raka lalui. Kalau tahu, Nayla tidak mungkin bisa setenang ini.


Tapi tidak apa-apa.


Raka mengeratkan pelukannya kepada mamanya. Karena disanalah dapat ditemukannya ketenangan.


Sudah tidak apa-apa. Segalanya telah berakhir. Segalanya telah benar-benar berakhir.


***


Enam Bulan Kemudian...


"Kenapa lo harus ajak gue sih, Ka?" keluh Julia sambil merapikan baju terusannya.


"Ini permintaan terakhir gue sebelum lo cabut dari Creature!" kata Raka sambil mengemudikan mobilnya dengan perlahan.


Julia mencibir. Dia memang sudah membuat keputusan besar untuk keluar dari Creature. Awalnya Albert dan Raka tidak terima. Namun saat mendengar perusahaan apa yang meminang Julia, dan berapa gaji yang ditawarkan padanya, mereka langsung paham kenapa Julia ingin pergi.


Raka diam-diam mengamati Julia yang berkali-kali mematut diri di cermin mobilnya.


"Udah sih, Jules, kayak mau ketemu calon mertua beneran deh," sindir Raka.


Julia memandangnya dengan tatapan membunuh.


"Diam lo! Mantan pacar lo tuh Davina! Terus kalau gue datang berantakan itu namanya gue mempermalukan diri sendiri!" Julia merepet.


Raka tertawa.


"Iya sih. Davina sets the standard too high ya."


"Makanya! Gue juga malas banget sebenarnya dandan cuma buat lo, kalau gak ingat hutang budi gue sama lo!"


Raka tertawa lagi.


Hari ini ada acara perayaan anniversary Dave dan Diana di sebuah ballroom hotel terkenal. Orang kaya memang bebas saja.


Raka tahu sekarang Davina sudah tidak sendiri lagi. Jadi,dia meminta Julia untuk menemaninya agar dia terlihat tidak terlalu menyedihkan.


Begitu tiba di ballroom tersebut, mereka langsung disambut oleh Nayla dan Azel.


"Oh, ini pacarnya Raka yang sekarang. Halo, Julia!" Nayla mengulurkan tangan pada Julia.


"Cuma temen, Tante," jelas Julia, sambil terkekeh.


"Yang cantik begini jarang loh, Ka. Buruan diikat, kalau gak diambil orang loh," kata Nayla pada Raka.


"Tali kali ah, diikat-ikat," jawab Raka.


Mereka pun mengikuti acara itu sejenak.


Lalu Raka melihatnya...


Davina...


Secantik biasanya...


Laki-laki lain.


Dia mengenal laki-laki itu. Nikolas.


"Nyesel kan lo?! Nyesel kan?!" bisik Julia.


Raka tersenyum simpul. Dia sudah tidak punya hak lagi. Dia yang membiarkan Davina pergi. Dia mengabaikan Davina di saat wanita itu begitu membutuhkannya. Siapa dia berhak menyesal?


"She deserves someone better, Jules."


"Deserve someone better, my a*s! Tiap orangnya lihat kesini lo pegang-pegang tangan gue! Ngapain? Pengen bikin dia cemburu?" Julia mencibir.


"Sadar juga lo!" Raka tertawa.


Julia mendengus.


Satu jam kemudian, acara tersebut mulai memasuki acara bebas. Ada sebuah band akustik legendaris Indonesia di atas panggung sedang melantunkan lagu slow. Beberapa orang terlihat berdansa di dekat panggung. Termasuk Davina dan Nikolas.


Raka memutuskan duduk di sebuah bangku sambil menikmati gelas beer ketiganya.


"Masih jam delapan udah mau mabuk aja, bos?!" Dave tiba-tiba muncul di sebelah Raka.


Raka terkekeh, "Beer gak bisa bikin mabuk, Pa."


"Kalau segalon sih mabuk ya," kata Dave, sambil menyesap juga gelas beernya.


Raka mengabaikan kalimat Dave.


"Kok yang punya perayaan malah duduk disini sih?" sindir Raka.


"Yang punya perayaan tuh Mama kamu! Papa cuma bisa ngikutin apa maunya!" Dave mencibir. Raka hanya bisa tertawa.


Lalu, mereka hening sejenak.


Perhatian Dave teralih sejenak pada sosok Julia yang berdiri tak jauh dari mereka. Julia sedang menggendong Keysha sambil tertawa-tawa bersamanya.


"She's beautiful, inside and out," kata Dave pada Raka, sambil menunjuk Julia.


(Dia cantik, luar dan dalam.)


Raka nyengir saja. Dia tidak pernah berpikiran seperti itu tentang Julia.


"But she's only a friend. Am I right?" Nada Dave berubah jahil.


(Tapi dia cuma teman. Ya kan?)


Raka tertawa, "Emang enam bulan cukup buat ngelupain anak Papa?"


Dave menggedikkan bahu, "Yap! That's my point!"


Dave kemudian merogoh saku tuxedonya, mengambil ponselnya.


"Denger-dengar Creature lagi nyari klien baru ya? Masih butuh duit buat recover kan? Ini Papa ada kenalan, katanya lagi pengen bikin aplikasi buat kantornya." Dave mengetikkan sesuatu pada pesan pribadi dengan Raka.


"Eh, gak perlu, Pa!" Raka mengelak.


"Udah. Hubungin aja. Dia yang punya Infitro." Dave menyebutkan sebuah nama perusahaan besar.


"Infitro?" Wajah Raka berbinar.


Dave mengangguk.


"Orang kaya emang koneksinya cihuy!" kata Raka.


Dave mencibir.


"Makasih, Pa. Walaupun Raka brengsek, tetep dibantuin," gumam Raka.


"Kamu tuh udah kayak anak Papa sendiri. Apapun kesalahan kamu, tetep Papa maafin."


"Walaupun kesalahan Raka nyakitin anak beneran Papa?"


Dave merenung.


"Dia pernah bahagia banget sama kamu, Ka. Cuma itu yang Papa mau ingat."


Raka terdiam.


Dave menepuk bahu Raka, lalu beranjak pergi.


Raka meneguk sampai habis gelas ketiganya. Kemudian kembali berjalan ke meja yang memberi free flow beer.


Saat sudah selesai mengisi gelas keempatnya, dia menyadari Davina sudah berdiri di sebelahnya. Keduanya sama kaget saat menyadari kehadiran masing-masing.


Davina berusaha bersikap biasa sambil menuangkan beer ke gelasnya sendiri.


"Jadi, kamu sama Julia sekarang?" tanya Davina. Nadanya tenang, tidak lagi ada kecemburuan yang tercermin.


"Kamu juga sama Nikolas sekarang?" balas Raka.


"Yap!"


Hening sejenak.


"Berapa lama di Indonesia?" tanya Raka lagi, akhirnya.


"Aku udah menetap disini."


Raka terbelalak. Dia harus mencengkram gelasnya erat-erat agar tidak jatuh.


Davina menerawang, mengamati Nikolas yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Aku gak bisa menggapai mimpiku, Ka. Jadi, aku mencari mimpi baru. Dan sekarang, aku udah dapetin mimpi itu."


Lalu, Davina berjalan menjauh.


Meninggalkan Raka seorang diri.


Raka menenggak lagi gelas beer keempatnya.


Segalanya memang sudah berakhir. Termasuk segalanya tentang dia dan Davina.


***