
“Rakaaaaaaa!” Davina merengek ke arah layar.
Namun, orang yang dipanggil sudah begitu larut dalam mimpinya. Wajah tidur Raka tampak begitu damai, membuat Davina jadi tidak tega untuk melanjutkan percakapan.
Beginilah rutinitas mereka sehari-hari, berbicara ngalor ngidul sampai salah satu dari mereka jatuh tertidur.
Dia mengelus-elus wajah Raka yang tampak di layar, “À bientôt, mon amour...”
(See you soon, my love...)
Dia pun memutuskan hubungan telepon tersebut. Lalu segera beranjak keluar dari kamarnya, menemui kedua orangtuanya.
“Udah selesai packing, Dav?” tanya Diana.
Davina mengangguk.
“Cie, yang akhirnya mau ketemu pacar!” goda Dave. Dia mencolek-colek dagu Davina. Yang dicolek hanya bisa memandang papanya dengan jengah.
Diana sendiri masih tampak bergidik setiap kali diingatkan bahwa anaknya sendiri pacaran dengan anak mantan suaminya. Kenyataan yang berusaha tidak terlalu mau dia pikirkan.
Namun, seperti kata Dave, dalam beberapa hari ke depan mereka semua akan bertemu di Jepang. Liburan keluarga kali ini dicetuskan oleh Raka dan juga Davina. Ngakunya sih karena kangen dengan Rara yang sudah berkeluarga dan ingin mengajak jalan-jalan keponakan mereka di Disney Land.
Tapi, siapa coba yang tidak tahu kalau mereka sebenarnya hanya ingin bertemu satu sama lain?! Well, ini akan jadi pertama kalinya mereka akan go public dengan hubungan mereka di depan keluarga. Ntah akan bagaimana reaksi keluarga mereka semua nantinya, tidak ada yang tahu. Davina tidak mau terlalu peduli.
Sebab hanya satu hal yang Davina pedulikan saat ini. Bahwa dalam beberapa saat lagi, dia akan segera bertemu dengan Raka. Melihat lagi wajah kekasihnya itu secara langsung. Tidak lagi hanya melalui sebuah layar. Seperti setahun belakangan ini...
Sebentar lagi akan bertemu...
Sebentar lagi dia akan berada dalam pelukan Raka lagi...
***
Begitu pesawat mereka mendarat, Davina merasa jantungnya langsung berdegup lebih kencang. Dia merasa telapak tangannya berkeringat.
Raka dan keluarganya sudah tiba lebih dulu di Jepang. Pasti saat ini, mereka semua sedang menunggu di pintu kedatangan Bandar Udara Narita.
“Cie, nervous,” ledek Dave, lagi.
“Papa mau Davina bakar hidup-hidup?” Davina mengancam.
Dave langsung meledak dalam tawa.
“Kamu tuh gak bisa panik sedikit apa, Dave??? Ini bentar lagi kita bakal ngelihat secara langsung loh Davina benar-benar pacaran sama Raka!!!” Diana histeris.
“Ya ampun, kenapa harus panik sih? Kan mereka gak langsung nikah besok! Paling bentar lagi juga putus!” Dave mulai berteori.
“Papa!!!” Davina tidak terima.
Diana tampak berpikir sejenak. Waktu seumur Davina, Diana memang masih suka berpetualang. Dave ada benarnya! Dia menjadi sedikit lebih tenang.
Davina bermisuh-misuh. Tidak terima dengan ucapan papanya. Memang dia tidak ada berencana menikah dalam waktu dekat, tapi putus lagi dari Raka tentu tidak masuk dalam daftar keinginannya!
Begitu keluar dari pesawat, mereka bertiga disambut dengan hangatnya mentari.
“Aaaaah, hangaaaaat!” Diana bergumam senang. Memang sudah musim semi di Jepang.
Davina sendiri hanya bisa mengikuti langkah kaki orangtuanya yang lambat dengan penuh kesabaran. Padahal keinginan hatinya saat ini adalah berlari secepatnya ke pintu kedatangan untuk segera bertemu dengan kekasih hatinya.
“Dav, mukanya biasa aja. Jangan tegang banget gitu!” ledek Dave lagi.
“Papa bentar lagi aku santet loh!”
Dave tertawa. Davina memilih mengabaikan papanya itu.
Davina sudah beberapa kali ke Jepang, dan selalu mendarat di Bandara Narita. Namun, baru kali ini dia merasa perjalanan menuju pintu kedatangan terasa panjang dan menyiksa.
Dan setelah beberapa saat, akhirnya mereka keluar dari pintu kedatangan. Mata mereka beredar ke seluruh penjuru ruangan.
Lambaian heboh dari beberapa orang mencuri perhatian. Davina menoleh.
Dan di tengah lautan manusia yang berada di Narita siang itu, hanya satu orang itu saja yang jadi fokus pandangan Davina. Sekelilingnya mendadak pudar. Dan jadi tidak berarti lagi.
Rakanya berdiri disana. Melambai sambil tersenyum miring. Senyum favoritnya. Seakan ingin meledek Davina dengan kalimat, “Kangen banget, heh?!”
TENTU SAJA DIA KANGEN SETENGAH MATI!!!
Davina menoleh sejenak pada papanya. Sedikit kaget papanya bisa mengerti keinginannya.
“Udah, sanaaaaa!” Dave mendorong pelan punggung Davina.
“Thanks, Pa!”
Dave mengangguk.
Davina menoleh lagi ke arah Raka dan mulai berjalan. Awalnya, dia melangkah lambat, namun perlahan lebih cepat, kemudian tiba-tiba saja dia merasa harus berlari. Dia rindu!!! Tentu saja dia rindu!!!
Dia terus berlari sampai akhirnya dapat meraih Raka. Laki-laki itu merengkuhnya dalam pelukan. Erat, lama. Seperti mengisyaratkan bahwa dia juga merasakan kerinduan yang sama.
Jadi... begini rasanya kembali ke pelukan orang yang kita cintai setelah berpisah selama beberapa saat?
Well, kalau memang begitu, this is the best feeling in the world, pikir Davina.
***
“Mau pelukan sampe kapan?” sindir Azel, tidak sabar, begitu mereka semua berjalan mendekat ke arah Davina dan Raka.
Davina hendak melepaskan Raka, namun laki-laki itu segera menahan.
“Gak boleh, masih kangen,” rengek Raka, sambil menenggelamkan wajahnya di bahu Davina.
Azel dan Diana terpelongo. Dave, Rara dan suaminya tertawa terbahak-bahak. Nayla? Diam-diam terharu melihat anak laki-lakinya ternyata punya hati!
Raka diam-diam menenggelamkan wajahnya di bahu Davina, ingin menghirup dalam-dalam wangi wanita kesayangannya. Setahun tidak bertemu membuatnya merana setengah mati. Jadi, jangan ada yang berani-beraninya memisahkan dia dengan Davina saat ini! Bahkan jika itu papanya sendiri!
Davina hanya bisa tersenyum minta dimaklumi pada keluarganya. Dia sendiri pun sebenarnya masih enggan melepaskan Raka.
Raka sendiri tidak peduli. Setahun ini dia menahankan seluruh perasaan rindunya. Dan begitu melihat Davina berjalan keluar dari pintu kedatangan tadi, dia baru menyadari bahwa perasaannya tidak lagi main-main. Dialah yang menyadari kehadiran Davina pertama kali. Well, dia sebenarnya akan selalu menyadari kehadiran wanita itu.
Dan ketika dia dapat merengkuh tubuh Davina lagi, segala sesuatu seperti terasa begitu lengkap lagi.
“Udah, udah. Jangan keenakan juga!” Dave menarik telinga Raka.
“Aw, sakit, Pa!” Akhirnya Raka pun mau melepaskan Davina. Kalau Azel, dia berani melawan. Tapi Dave? Well, dia kan orangtua Davina!
“Gue masih merinding ngelihat mereka,” gumam Azel.
“Sama.” Diana mengiyakan.
“Makanya kalau nikah tuh yang bener!” Dave meledek. Azel dan Diana terpelongo.
“Lah? Kalau nikahnya bener, Raka sama Davina gimana? Tetep di awang-awang gitu?” Raka menyindir.
“Bener juga!” Dave tertawa lagi.
“Udah, udah. Ayo, jalan! Laper!” kata Rara, akhirnya, menengahi.
“Iya. Yuk, yuk!” Mereka pun berjalan keluar.
Raka dan Davina sengaja berjalan lebih lambat dari yang lain. Mereka ingin punya waktu berbincang berdua sedikit saja sebelum tiba parkiran.
Raka menyampirkan tangannya di bahu Davina, lalu berbisik di telinganya, “I miss you, Devni.”
Davina hanya tersenyum. Tanpa kata-kata pun, Raka tahu pasti bahwa Davina merasakan hal yang sama.
Mereka menikmati kehadiran satu sama lain. Sesekali Raka mencium lembut pipi Davina saat tidak ada yang melihat. Ah, ternyata mencintai bisa semembahagiakan ini!
Tiba-tiba Raka mendapat sebuah ide. Ide yang hanya dimiliki seorang iblis seperti Raka.
Raka memandang jahil pada Davina.
“Devni...”
“Hm?” Davina merengut saat melihat wajah tengil Raka.
“Nanti malam nyelinap yuk?” tanya Raka.
Davina terbelalak tidak percaya. Apa-apaan ide Raka itu!!!
***