Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Aku Rela Jadi Norak Selamanya



Setelah Nikolas dan keluarganya menghilang, mereka semua kembali menyantap makanan dengan lahap. Kali ini Davina mampir ke bagian masakan Jepang dan mengambil beberapa sushi dan baby octopus.


"Kamu makan bayi gurita?" Raka mengernyit.


Davina mengangguk, "Emang kenapa?"


"Dia kan bayi."


"Tapi kan bayi guritaaaa!"


"Tetap bayi."


Davina jadi berniat mengisengi Raka. Dia menunjukkan piring baby octopus berwarna merah itu ke hadapan Raka, lalu berkata, "Help me, Raka. Help me. Davina wants to eat me."


(Tolong aku, Raka. Tolong aku. Davina mau memakanku.)


Raka bergidik.


"Help meeeeee!" ledek Davina, lagi.


Raka cepat-cepat menjauh darinya. Davina pun langsung tertawa terbahak-bahak. Ternyata si tengil Raka malah kasihan dengan bayi gurita. Padahal kan enak.


"Mamaaaa, mau panacota. Aku mau panacota!" Keysha protes, dan menarik-narik mamanya menuju bagian dessert.


Davina tersenyum-senyum melihat Rara ditarik-tarik oleh anaknya sendiri.


"Happiness looks good on you, Dav," kata suami Rara, yang tiba-tiba muncul di sebelah Davina.


(Kamu cocok bahagia, Dav.)


Davina cengengesan, "Thanks, Bang."


Suami Rara nyengie sambil mengacak rambut Davina sebentar, lalu pergi meninggalkannya. Davina tersenyum. Meski abang iparnya tidak banyak bicara, dia selalu punya cara tersendiri untuk menunjukkan kepeduliannya.


Ah, Davina memang benar-benar diberkati oleh keluarga-keluarga yang baik!


Davina pun kembali ke bangkunya. Dia tersenyum-senyum melihat Raka yang berusaha menghindari melihat piring baby octopus-nya.


"Help meeeee!" ledek Davina, lagi, sambil menunjukkan piring tersebut.


"Stop it!" Raka mengeluh, tapi tidak punya kuasa untuk menolak Davina.


Nayla dan Azel memandangi kejadian di depan mereka dengan takjub.


"Anak Mama kenapa sih, Dav?" tanya Nayla, iseng.


Saat itulah, semua keluarga sudah kembali lagi ke meja dengan membawa makanan masing-masing. Mereka pun mengikuti pembicaraan yang sedang terjadi.


"Dia gak suka Davina makan baby octopus, Ma!" Davina tertawa.


"Dih, kenapa lo?!" ledek Rara.


"Katanya, walaupun ini gurita, tapi ini tetap bayi."


Semua langsung tertawa. Raka mendengus. Dia benar-benar tidak punya harga diri lagi di depan keluarganya.


"Raka tuh emang punya sentimen sendiri deh kayaknya sama hewan-hewan air, Dav," kata Azel, iseng.


Raka langsung memelototi papanya itu.


"Paaaa, jangaaaaaan!!!"


Nayla yang langsung menangkap maksud Azel pun jadi tertawa.


"Maaaaa!!!"


"Eh, kenapa sih, Paaa, Maaa?!" tanya Davina, penasaran.


"No way! Mau dunia kiamat juga, kamu bakal jadi satu-satunya orang yang gak boleh tahu soal ini!" ucap Raka dengan nada panik.


"Ih, kok gitu sih?"


"Zel, bisikin gue aja deh!" Dave ikut penasaran.


"Ini rahasia negara." Azel tertawa.


"Ih, Paaaa, apaan sih?! Bikin penasaran!" Rara merengek.


Raka langsung tahu jika kakaknya yang meminta, sang papa akan segera memuntahkan semua informasi rahasia apapun. Dia pun dengan sigap menutup kedua telinga Davina dengan kedua tangannya.


"Rakaaaaa, apaan sih?!" Davina berontak.


Semua orang langsung tertawa.


"Jadiiiii..." Azel berbicara dengan kuat dan lantang. Tapi ternyata Davina tetap tidak bisa mendengar.


"Paaa, bentarrrr! Davina gak bisa dengaaar!" Kini Davina merengek.


"Noooooo!" Raka tidak juga melepaskan tangannya dari telinga Davina.


Raka mengkeret.


Sejak disakiti Nikolas, Davina memang jadi sangat galak.


Semua orang tertawa lagi begitu Raka melepas telinga pacarnya itu dengan pasrah. Dave bahkan sampai memukul-mukul meja karena tertawa sangat keras. Kapan lagi lihat anak Dajjal ini bertekuk lutut? Pasrah sepasrah-pasrahnya...


Ternyata penangkalnya adalah anak sendiri!


"Tadi kenapa, Pa?" tanya Davina, lagi.


Azel terkekeh, sambil memberikan pandangan minta maaf kepada anaknya.


"Jadi, waktu dia mikir kamu milih Nikolas, dia datang ke rumah Papa. Galau seharian." Azel sengaja memberi jeda.


Raka rasanya hampir gila. Dia mengambil serbet makan, dan meletakkannya di mukanya sendiri.


"Ngelihat hujan, galau. Makan gak selera, sampe nyisain makanan, tumben-tumbenan. Sampe akhirnya dia main ke taman, dan malah ngomong sama ikan-ikan di kolam."


Suara tawa langsung meledak di meja tersebut. Wajah Davina sampai berubah merah seperti kepiting rebus.


"Dan tahu dia bilang apa, Dav?!" Nayla ikut-ikutan.


"Apa, Ma?"


"Enak ya jadi ikan, gak bisa patah hati."


Suara tawa kembali membahana. Dave benar-benar puas tertawa. Sementara Raka sudah berlagak mati di kursinya.


"Tapi Papa sama Mama Nay juga gak tahu kan gimana si raja drama ini pas datang ke rumah buat nemuin Davina?!" Rara pun ikut-ikutan menambahkan. Tawa kembali berderai dari Dave dan Diana. Sementara Raka duduk semakin merosot di bangkunya.


"Kamu... kenapa kamu malah milih Nikolas!" Rara mempraktekkan semua kalimat Raka dengan super tepat, baik secara intonasi dan gerakan tubuh.


AUK AH, NAIK KE ROOFTOP APA YA? LOMPAT?!


Pikir Raka di dalam serbet makan.


Sementara itu, Nayla dan Azel sedang tertawa terbahak-bahak. Jiwa drama Nayla ternyata mengalir persis di darah Raka.


"Kenapa kamu mau ke rumah Papa sama Mamaku beberapa hari yang lalu? Kenapa kamu cium kepalaku? Kenapa kamu..." Diana melanjutkan drama Raka dengan ekspresi yang sama persis.


Dave sampai kehabisan nafas karena tertawa. Dia sampai harus menarik nafasnya dalam-dalam karena takut kehabisan udara di paru-parunya.


"Ya ampun, Ka, kamu malu-maluin banget," kata Nayla, sambil memegangi rahangnya yang sakit karena kebanyakan tertawa.


"Raka udah ngambang sama ikan-ikan di kolam," sahut Raka, pelan, dari dalam serbet.


Hal itu malah membuat tawa kembali meledak. Semua wajah orang di meja itu benar-benar sudah memerah. Ada yang sampai harus menyeka airmata yang keluar karena kebanyakan menertawai Raka.


Raka sadar betul dengan kelakuan kurang ajarnya selama ini, biarlah keluarganya jadi punya bahan untuk meledeknya seumur hidup.


Tak lama kemudian, Raka merasakan serbet tersebut ditarik dari wajahnya. Muncullah wajah wanita kesayangannya.


"Jahat kamu ya, ketawanya puas banget." Raka mengeluh.


Davina nyengir, malah mencubiti kedua pipi Raka, "Lucu banget sih kalau lagi patah hati."


Raka diam-diam mengamati wajah Davina yang terlihat sangat lega dan bahagia malam ini.


Apapun, apapun yang bisa membuat Davina bahagia...


Batinnya.


"Sekarang sih lucu. Kemarin enggak tuh." Raka berkata sejujur-jujurnya.


"Ohh, cup-cup-cup. Mau makan cokelat?! Sini aku temenin ya ambil cokelat..." Davina menarik tangan Raka.


Raka tahu betul ini hanya alasan Davina. Wanita kesayangannya itu pasti hanya ingin berduaan dengannya saat ini. Dia pun menurut.


Davina menggandeng tangan Raka erat-erat. Rasanya bahagia sekali saat kita dicintai begitu hebatnya.


Setelah yakin betul bahwa keluarga mereka tidak bisa melihat mereka sama sekali, Davina mencium pipi Raka sekilas.


"I love you, cowok norak."


"Aku rela jadi norak selamanya, asal itu bikin kamu senang," ucap Raka sambil merangkul bahu Davina, kemudian balas mencium keningnya dengan cepat. Dia yakin dapat terus membahagiakan Davina seperti ini.


Mereka sangat menikmati momen malam itu...


Sampai Davina tidak menyadari bahwa ada sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Sebuah nomor dari Paris.


***


Anak cetan kecayangan otor dah mo tamat, otor cedi 🥲💗


IG : @ingrid.nadya