
Disarankan membaca bab ini sambil mendengarkan lagu “Man On A Wire” oleh The Script.
***
Raka tidak tiba di rumah keluarga Mahardhika begitu saja, ada beberapa hal yang harus dia hadapi sebelum akhirnya dia melihat Davina lagi.
"Lo mau kemana??" Tia bertanya saat melihat Raka terburu-buru bangkit dari bangkunya ketika acara townhall selesai.
"Gue ada urusan penting, Ti."
"Lo tuh semua-mua dianggap penting, kecuali Creature." Tia merepet.
Julia, yang duduk di sebelah Tia, bisa mendengar perdebatan antara mereka berdua.
Raka serba salah. Dia memang sudah sering sekali lepas tangan terhadap Creature beberapa minggu terakhir. Tapi sejujurnya, akhir-akhir ini dia sudah berusaha membagi waktu, meski bagi sebagian orang tetap dirasa tidak maksimal.
“Please, Ti. Ini penting banget.” Raka memelas. Kali ini Raka tidak bisa memprioritaskan Creature. Ini tentang hidup dan mati hatinya sendiri.
Julia, yang diam-diam memperhatikan kegundahan Raka, langsung tersenyum meledek.
"Davina ya?" bisik Julia.
Raka menggaruk kepala. Meski tidak mengiyakan, Julia sadar tebakannya benar.
Dia pun langsung menoleh pada Tia.
“Raka tuh cuma mau nganterin gue balik ke kantor kok, Ti,” kata Julia, tiba-tiba.
Raka langsung melirik Julia.
“Be-beneran?” Tia kebingungan sendiri. Dia mungkin bisa menentang bosnya sendiri, Raka. Tapi tidak akan punya daya bila berhadapan dengan investor.
Dan akhirnya, Tia pun melepaskan kedua orang itu berjalan keluar dari Kantor Creature. Mereka berdua, berdiri bersisian menunggu lift.
“Thanks, Jules,” kata Raka, tulus. Apalagi yang bisa dia ucapkan?
Julia tersenyum saja.
Pintu lift terbuka, mereka pun masuk ke dalamnya.
“Lo gak bawa mobil kan? Gue bisa nganterin kok.”
“Eh, gak usah. Gue bawa kok.”
“Beneran?”
“Bener!”
“Oke deh,” kata Raka, akhirnya.
Tapi Julia menekan tombol lobby, bukan basement yang menjadi area parkiran.
“Kok lobby?” tanya Raka.
“Bos itu harus disupirin, Ka. Gue nunggu dijemput di lobby aja.” Julia cengengesan.
Raka mencibir, “Iya deh, iya, ibu bos yang terhormat!”
Tanpa terasa, lift pun sampai di lobby. Pintu terbuka, Julia pun keluar dari lift tersebut.
Selagi pintu menunggu untuk ditutup, Julia berbalik pada Raka.
“Pada akhirnya, lo gak bakal pernah bisa berpaling dari Davina ya, Ka?” tanya Julia, sambil nyengir.
Raka terperanjat, dia terpaku…
Apa… maksud Julia?
“Gue harap lo bahagia terus ya, Ka.” Julia melambaikan tangannya. Kini senyumnya telah berubah menjadi senyum pilu. Lalu, Julia pun berbalik, meninggalkan Raka.
Raka memandang punggung Julia, dan tiba-tiba tersadar. Bagaimana mungkin dia melewatkan semua ini? Bagaimana mungkin dia tidak menyadari apapun sejak dulu?
Raka refleks menahan pintu lift yang hampir tertutup.
“Jules!” panggil Raka.
“I’m not okay now. Just go!” Suara Julia bergetar. Dia tetap berjalan menjauh dari Raka.
(Gue lagi gak baik-baik aja sekarang. Pergi aja!)
Raka bisa melihat pundak Julia yang bergerak naik turun dengan cepat. Wanita itu sedang menangis. Untuknya?
“Jangan kejar gue! Kejar Davina aja!” Julia berteriak lagi.
Tanpa Raka sadari, tangannya pun langsung melepaskan pintu lift. Dia membiarkan pintu tersebut menutup sempurna.
Raka masih terpaku di tempatnya.
Bahkan setelah mengetahui bahwa ada orang lain yang memiliki perasaan padanya pun, hati Raka tetap hanya punya satu nama. Dan kepada satu-satunya wanita itulah kakinya kini melangkah.
Raka berkendara dengan hanya memikirkan Davina. Banyak sekali yang ingin dia ucapkan, dia luapkan. Tapi dia tidak bisa memilih kalimat yang tepat.
Dan begitu tiba di depan rumah keluarga Mahardhika, Raka memandang sejenak pintu masuknya.
Dia menyempatkan diri untuk bernazar dalam hati, jika dia bisa mendapatkan Davinanya kembali…
Seluruh hati dan jiwanya akan dia serahkan kepada wanita itu. Tidak akan pernah ada lagi –baik apapun atau siapapun– yang akan membuatnya mampu melepaskan Davina.
Dan tentu, bernazar saja tidak cukup. Dia akan membuktikan seluruh perkataannya itu seumur hidupnya.
Raka pun dengan mantap masuk ke dalam ruang keluarga itu. Dia pun melihat lagi wajah itu.
Wajah wanita kesayangannya…
Wajah yang dia rindukan setengah mati…
Wajah orang yang dia kasihi sepenuh hati…
Raka kehilangan kendali. Seluruh isi hatinya langsung tumpah ruah. Raka menggila.
Namun…
Meskipun begitu…
Meskipun Raka memaki Davina, mempertanyakan seluruh tingkahnya yang kelewat abu-abu, meluapkan seluruh kekecewaannya…
Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Raka hanya ingin mendengar satu kalimat sederhana dari Davina. Tiga kata yang dia rindukan. Tiga kata yang harusnya bisa membuat semua kegilaan ini berakhir.
***
Davina mendorong tubuh Raka ke atas ranjang lalu malah tertidur dalam rangkulannya. Raka semakin frustasi. Dia menginginkan jawaban, tapi inilah yang dia dapatkan dari Davina. Dia menginginkan kepastian, tapi justru terombang-ambing dengan sikap Davina yang tidak pasti.
Lagi-lagi sebuah tindakan aneh yang sepertinya tidak ada arti lebih untuk Davina. Wanita kesayangannya itu memandangi matanya, jatuh tertidur dengan menggenggam sedikit bagian kemejanya, menjadikan lengannya sebagai bantal tidur.
Raka merasakan akal sehatnya semakin hilang. Apalagi saat melihat wajah pulas Davina. Wajah itu terlihat lelah, namun kini tertidur dengan sangat damai.
Bagi wanita ini sajalah, Raka rela menjadi pecundang. Bagi wanita ini sajalah, Raka seculun bocah belasan tahun, yang hanya bisa memandangi wajah tidur wanita yang disayang.
Namun, Raka tidak akan pernah menampik kenyataan bahwa Davina sudah memilih orang lain.
Ah, hatinya kembali merasakan nyeri luar biasa.
Bersama Davina saat ini, Raka merasa seperti tiba-tiba dipaksa berjalan di atas seutas tali. Tidak ada pegangan apapun yang dapat menyelamatkannya, terlalu berbahaya. Salah langkah, dia akan jatuh berkeping-keping dan tidak akan pernah pulih lagi.
Raka yakin betul, hatinya memang tidak akan pernah bisa sembuh jika kehilangan Davina. Bagaimana dia sanggup menghadapi hidup tanpa wanita mungil yang tertidur di sebelahnya ini? Semuanya akan percuma, semua akan tidak berarti lagi…
Raka ingin mengkonfrontasi Davina, ingin bertanya apa yang sebenarnya dimaui oleh wanita itu. Niatnya sudah bulat untuk membangunkan Davina. Tangannya bahkan sudah tergapai untuk menepuk pipinya…
Namun, dia segera kalah…
Raka terlalu cinta…
Sampai tidak rela mengusik kedamaian di wajah Davina.
Tapi semakin Raka memaksakan diri untuk menerima semua ini, semakin tidak tertahankan segala perasaannya.
Dia pelan-pelan membawa Davina ke dalam pelukannya. Begitu hati-hati, seperti tidak ingin menyakitinya sedikit pun lagi.
Dan akhirnya, Davina berada dalam pelukannya. Semuanya langsung terasa utuh kembali. Semuanya terasa tepat.
Harusnya… disinilah tempat Davina berada.
Memang, di pelukan Rakalah, harusnya pilihan pertama Davina.
Raka memejamkan mata, dia mencium lembut dahi Davina.
“It hurts a lot, Devni. It hurts a lot. How can you do this to me?” bisiknya, pilu.
(Ini sakit banget, Devni. Ini sakit banget. Gimana bisa kamu ngelakuin hal ini padaku?)
Tanpa sepengetahuan Raka, Davina telah terbangun ketika dia membawanya ke pelukannya tadi. Davina mendengar kalimat putus asanya barusan. Davina sadar saat dahinya dicium dengan lembut oleh Raka.
Davina terenyuh…
Davina bahagia…
Davina tersenyum…
Dan…
Davina tidak ingin merusak semua itu…
Dia pun hanya berdiam diri dalam pelukan Raka, sambil terus berharap hal ini tidak akan pernah berakhir. Sebab dicintai memang selalu semembahagiakan ini.
***
Jangan lupa ya, jam tiga ☺️
IG : @ingrid.nadya