
“Emang kamu bisa gila karena aku?” Davina tersenyum simpul. Dia masih tidak bisa percaya bahwa Raka benar-benar mencintainya segila itu.
Dia tidak tahu saja apa yang sudah dilalui Raka selama dua hari belakangan. Berbicara dengan ikan, menangis di depan ayah sendiri, menolak wanita lain tanpa mengucapkan satu kata pun, mempermalukan diri di depan keluarga. Seluruhnya... hanya karena Davina.
“Pertanyaan macam apa itu?” Raka meringis.
Davina nyengir.
Raka semakin tidak habis pikir, “Jangan senyum-senyum, Devni. Aku makin gak ngerti.”
Kini Davina sudah meledak dalam tertawa.
“Nah, sekarang malah ketawa…” Raka semakin bingung.
Davina tidak tahan lagi. Dia tidak bisa mengerjai Raka lebih lanjut. Dia pun menggandeng tangan Raka untuk masuk ke dalam kamarnya.
Lalu mendudukkan Raka yang masih memandanginya dengan tatapan gamang.
“Kamu tuh kenapa bego banget sih sekarang, hah?” Davina gemas sendiri.
“Devni, I’ve been through hell since that night. Please enlighten me. I’m hopeless.”
(Devni, aku rasanya kayak udah melalui neraka sejak malam itu. Tolong kasih pencerahan. Aku putus asa.)
“Apa yang mau kamu tahu?”
“Kamu kenapa sama Nikolas?”
Davina menghela nafas. Kenapa harus langsung ke topik permasalahan sih? Suka sekali memulai sesuatu dengan membahas hal pahit. Kenapa Raka tidak memulainya dengan membahas perasaan masing-masing saja?
Tapi Davina tidak tega melihat wajah Raka. Dia perlu tahu segalanya sesuai dengan urutan yang dia inginkan.
“Putus. Dia selingkuh.”
Mata Raka membelalak. Dari tatapannya terlihat seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Sebab, jika ada seseorang yang dia yakini bisa menjaga Davina dengan baik dan tidak akan pernah menyakitinya, orang itu adalah Nikolas.
Namun, dari ekspresi pahit di wajah Davina, dia langsung mengerti bahwa perihal perselingkuhan itu benar adanya. Dan Raka pun langsung mengerti sebagian dari percakapan Davina dan Nikolas tadi.
“Kok kamu bisa tahu dia selingkuh?”
Ah, lagi-lagi selalu memulai semuanya dengan topik pahit...
Batin Davina.
Pandangannya menerawang, seperti kembali kepada malam itu lagi. Dan dalam sekejap, Raka melihat airmata Davina mulai menggenang. Hatinya terenyuh. Dia tidak sanggup melihat Davina bersedih seperti ini.
“Eh, kenapa jadi mau nangis?” Raka jadi panik sendiri. Dia pun meletakkan tangannya di tengkuk Davina, dan dengan ibu jari, dia mengelus-elus pipi Davina.
"Tell me every little detail, Devni..."
(Kasih tahu aku setiap detail sekecil apapun, Devni..)
Davina menggeleng, mencoba mengenyahkan seluruh ingatan buruk yang membayanginya selama beberapa hari terakhir. Dia juga menghapus airmatanya sendiri. Dia kan perlu menjadi tegar.
Meskipun dia tetap tidak bisa menampik bahwa Raka selalu menghadirkan kenyamanan. Membuatnya sedikit-sedikit membuka benteng pertahanannya.
“Well, aku mergokin dia tidur sama sekretarisnya sendiri," kata Davina, dengan susah payah.
Rahang Raka mengencang, tangannya mengepal. Dia sama sekali bukan orang baik, dia akan selalu punya citra setan dalam dirinya, tapi tidak pernah terlintas dalam benaknya sekali pun untuk melakukan kekejian itu terhadap Davina.
Davina bisa melihat perubahan ekspresi di wajah Raka. Davina menggenggam tangan Raka yang mengepal dengan kedua tangannya. Jangan sampai Raka berpikir untuk bertingkah macam-macam kepada Nikolas.
“I’m okay, Ka. I'm okay."
“Tapi, Devni…”
“I’m really okay!" Davina meyakinkan Raka, meski ini juga berarti harus meyakinkan dirinya sendiri.
Dan Raka bisa melihat semua itu. Betapa terluka sebenarnya Davina, melalui ekspresinya saat ini. Bahwa Davina hanya sedang berpura-pura tegar. Ah, wanita kesayangannya ini… betapa kuatnya dia bertahan. Selalu seperti ini.
Dia merengkuh tubuh mungil Davina. Dia tidak mengatakan apapun. Hanya ingin memeluk Davina untuk menyalurkan kekuatan pada wanita kesayangannya itu.
Kejadian barusan kembali melintas dalam ingatannya. Bagaimana Davina berpura-pura tangguh di depan Nikolas tadi. Bagaimana sebenarnya tangannya gemetar dan menggenggam Raka kuat-kuat seakan sedang berpegang.
Tidak, itu semua bukan hanya karena luapan amarah. Davina sendiri pun tidak sadar bahwa tadi dia teramat sangat ketakutan dan gentar. Seluruh tubuhnya perlahan menjadi tenang begitu Raka mendekapnya.
“Kamu memang bakal baik-baik aja, Devni. Kamu bakal baik-baik aja.” Raka menepuk-nepuk punggung Davina.
Dan, tanpa disadari, seluruh perasaan Davina meluruh. Airmatanya merebak lagi, nafasnya mulai memburu dan akhirnya, dia menangis lagi. Saat dia mengatakan kalimat itu pada diri sendiri, kalimat itu tidak punya kekuatan magis. Namun begitu Raka yang mengucapkannya, segala sesuatu menjadi sangat masuk akal.
“Sayangku… sayangku…” ucap Raka lembut, sambil terus menepuk punggung Davina. Ketenangan yang diberikan Raka malah membuat isakan Davina semakin kencang. Sebab kini dia merasa seperti kanak-kanak yang sedang ditenangkan oleh ibunya sendiri.
Lalu, secara perlahan, tangan Davina mulai melingkar di pinggang Raka. Dia menyerah. Dia tidak ingin menghukum Raka lagi. Hal yang dia inginkan saat ini adalah tenggelam sepenuhnya di pelukan lelaki itu.
Dan begitu Davina mendekapnya, segala sesuatu menjadi semakin tidak tertahankan bagi Raka. Dia mencintai Davina. Dan bagaimana wanita itu tahu kalau tidak dia ungkapkan sama sekali?
Bukankah ini saatnya Raka mengklaim Davina?
Sebab jika Nikolas –laki-laki yang selama ini dianggap sebagai pasangan terbaik Davina– saja sanggup menyakiti Davina, bukankah jadi tidak ada jaminan bahwa laki-laki lain juga tidak melakukan hal yang sama kepasanya?
"Devni..." bisik Raka.
Davina hanya mendengarkan, tidak menjawab.
"Let me love you..."
(Biarkan aku mencintai kamu...)
Davina bergeming.
"Aku janji akan memperlakukan kamu dengan benar kali ini. Aku akan melakukan segalanya yang aku bisa untuk selalu bertahan sama kamu..."
Raka melepaskan sejenak dekapannya dari Davina.
"Gak mauuuuu!" Davina menarik Raka lagi dalam pelukannya.
"Ya Tuhan..." Raka mengeluh.
Davina tidak mempedulikannya.
"Aku cuma pengen kamu lihat mataku. Aku pengen kamu percaya sama semua kalimatku."
Perlahan, pelukan Davina mengendur. Tapi dia tetap tidak membiarkan Raka lepas dari dekapannya. Dia hanya memberikan sedikit jarak agar Raka bisa melakukan apa yang dirasa harus dilakukan.
Raka cengengesan melihat sifat manja itu. Dia pun merengkuh kedua pipi Davina, lalu menatapnya lekat-lekat.
"Devni, aku minta maaf atas semua yang terjadi di hidup kamu. Segala kesalahan yang aku lakukan, segala kebodohan yang gak bisa aku perbaiki lagi. Tapi, Devni, aku sayang sama kamu, lebih dari hidupku sendiri. Kali ini, aku bakal bahagiain kamu. Kali ini, aku akan berikan sepenuhnya aku untuk kamu. Kamu mau kan kasih satu kesempatan lagi untuk menjadi yang terbaik untuk kamu?"
Davina tersedak dengan rasa haru.
Airmatanya menggenang lagi.
"Okay," katanya singkat, lalu kembali mendekap Raka erat-erat.
Raka terpukau.
"Okay... artinya... boleh?" Raka terbata-bata dengan bodohnya.
Davina mengangguk.
"Kamu SELALU jadi keputusanku, Raka." Davina mengulang lagi kalimat yang tadi dia ucapkan di depan Nikolas. Sepenuh hatinya, sejujur-jujurnya, agar tersampaikan seluruh perasaannya pada Raka.
Raka kembali melonggarkan pelukannya.
"Ja-jadi..." Raka berkaca-kaca.
"Malam itu, aku memang bakal milih kamu, Ka." Davina mengelus pipi Raka.
Raka tidak lagi bisa menahan rasa haru di dadanya.
"Maaf ya, aku telat. Ada sedikit urusan. Maaf juga malah ngebiarin kamu salah paham daritadi." Davina tersenyum, setengah bercanda. Tapi Raka sudah tidak peduli. Sama sekali.
Sebab dia bisa menahankan apapun, melalui apapun, berbicara dengan ikan manapun, menangis untuk memenuhi samudra, mempermalukan dirinya berkali-kali...
Asalkan Davina kembali padanya.
Satu-satunya yang dia cintai.
Satu-satunya yang berharga.
Raka bangkit berdiri secara refleks. Kebahagiaannya tumpah ruah. Dia mendekap Davina seerat-eratnya. Sampai tubuh mungilnya terangkat.
"Rakaaaaa..." Davina menjerit lan.
Namun Raka tidak peduli. Dia mendekap pinggang Davina erat. Dia memang harus mengangkat Davina sedikit agar wajah mereka menjadi sejajar.
Dia menatap lekat-lekat mata Davina.
"I love you, Devni, more than life."
(Aku sayang kamu, Devni, lebih dari hidupku.)
Davina tersenyum.
"Okay."
Jawaban yang cukup. Apapun Davina, bagaimanapun dia, akan selalu cukup untuk Raka.
Lalu, Davina mengalungkan tangannya ke leher Raka, dan menciumnya dengan penuh kerinduan. Ternyata mencintai sekaligus dicintai di saat yang bersamaan jauuuuh lebih membahagiakan dari apapun juga.
***
Terima kasih ikan-ikan di kolam yang udah nemenin Raka galau seharian 🙈
IG : @ingrid.nadya