
“Jadi, apa dong yang bisa kita lakuin sekarang?” Akhirnya, setelah Julia dapat menguasai diri, dia mulai bisa berpikir logis lagi. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menyesali kelalaiannya. Ini adalah saatnya memikirkan bagaimana mengatasi semua masalah yang ada.
“Om gue lawyer. Dia lagi ngecekin semua pasal di kontrak kita dengan Wetix. Mending kita tenang dulu, katanya dia akan get back ke kita as soon as possible.” Albert mencoba menenangkan Julia.
Tapi segala sesuatu memang harus dimulai dari diri sendiri. Karena Albert pun belum berhasil menenangkan dirinya sama sekali, dia pun tidak berhasil memberikan pengaruh kepada Julia.
Raka mengangkat gelas plastik Ice Americano-nya, lalu menyeruputnya dengan tenang. Meski kepalanya sekarang sedang merangkai beberapa kemungkinan terburuk, dia tetap berusaha terlihat tenang dari luar.
Albert dan Julia menoleh pada Raka. Sikap pura-pura tenang Raka itulah yang malah memberikan pengaruh positif pada mereka berdua.
“Jules, nasi goreng lo udah dingin. Es krim di pancake lo udah mencair. Sebelum kita jatuh miskin, lo mending nikmatin deh semua kemewahan ini,” seloroh Raka.
Julia menggaruk kepala.
“Lo masih juga bisa bercanda…” Dia bergumam.
Raka menggedikkan bahu, “Ya, mau gimana lagi gak sih? Udah kejadian. Mending nikmatin deh masa-masa sekarang.”
“Bener juga! Ini bakal jadi barang mewah buat gue nantinya!” Julia pun akhirnya mengangkat sendoknya dan mulai menyantap makanannya.
“Kalau kita berhasil ngelaluin semua ini, kayaknya Raka emang harus jadi CEO Creature sih nantinya,” gumam Albert.
“Gak cocok gue…” Raka hanya bisa geleng-geleng.
“Gue yakin sama lo, Ka!” Albert menepuk bahu Raka.
“Udah deh. Mending sekarang, lo berdua mulai cari-cari cara gimana gue bisa bertahan hidup di penjara nantinya. Apa gue jadi bandar aja ya disana?” Raka bercanda sambil tertawa sendiri.
“Lo tuh kok masih bisa sesantai ini sih?” Julia cemberut.
“Padahal nama dia yang ada di semua agreement dan akta. Kalau ada apa-apa, dia yang kena duluan.” Albert salut.
Raka hanya bisa menggedikkan bahu lagi.
Well…
Mereka tidak tahu saja badai apa yang ada di dalam kepala Raka saat ini…
Kalau ada parameter yang bisa menilai tingkat kegilaannya, mungkin dia sudah ada di batas akhir. Namun, dia berusaha tidak menunjukkannya. Karena kalau dia panik, bagaimana lagi dua temannya ini?
“Kira-kira kita bakal didenda berapa ya? Kita patungan masing-masing jual satu ginjal cukup gak?” tanya Raka lagi.
“Gak cukup kayaknya. Hati juga bolehlah. Iris aja dikit. Ntar numbuh lagi,” lanjut Albert.
Julia mengambil ponselnya, mengetik sesuatu.
“Yah…” Dia mengeluh.
“Kenapa?”
“Kirain manusia bisa hidup dengan satu paru-paru…”
Albert dan Raka pun tertawa.
“Lubang hidung lo aja ada dua, Bambang!” kata Raka.
“Yaaa kan satunya bisa disumbat kapas.” Julia membela diri.
“Limpa sama kantung empedu gimana?” Albert menambahkan lagi.
“No hope.” Julia mengamati hasil pencariannya di google.
“Siaaaal! Kirian laku juga!”
“Laku sih laku, tapi lo ikutan mati.”
Mereka tertawa lagi.
“Atau gini deh, Ka. Lo pernah nonton Shawsank Redemption?” tanya Julia.
“Pernahlah. Siapa yang belum?”
“Nah, ntar kita selundupin martil kecil aja. Lo korek-korek dah tuh dinding penjara sampe lo bisa lolosin diri!”
“Siaaaaal!”
Mereka tertawa lagi.
Well, terkadang masalah yang terlalu berat untuk dipikirkan lebih baik ditertawai saja. Seperti apa yang mereka bertiga hadapi saat ini.
***
Raka, Albert dan Julia baru mulai bisa bercanda lebih lepas dan tidak memikirkan masalah yang ada, saat ponsel Albert berdering.
“Ini Om gue.” Albert menunjukkan layar ponselnya.
Wajah Raka dan Julia langsung menegang.
Albert segera menjawab teleponnya. Dia menekan tombol loudspeaker agar Raka dan Julia ikut mendengar.
“Gimana, Om?” tanya Albert.
“Om udah baca semua kontraknya. Sebelum kita ambil langkah, ada beberapa hal yang harus Om tanyakan. Lebih bagus kalau kita ketemu langsung atau gimana?”
Raka memberikan isyarat agar Albert mengiyakan.
“Oke, Om. Kira-kira Om bisa hari ini?”
“Bisa. Tapi Om ada meeting sampai jam enam sore. Kalian kira-kira mau nunggu setelah itu?”
“Iya, Om. Bisa. Kita tunggu aja. Ketemu dimana?”
“Datang ke kantor aja.”
“Oke, Om.”
“Jalan sekarang juga gak apa. Siapa tahu meetingnya kelar lebih cepat.”
“Oke, Om. Thank you. Kita kesana sekarang.”
Albert pun memutuskan hubungan telepon. Mereka bertiga saling tatap untuk sejenak.
“Good news atau bad news ya?” Julia merenung.
Julia dan Albert mengangguk setuju pada kalimat Raka.
“Lo bawa mobil, Bert?” tanya Raka.
“Bawa. Jules bareng gue aja!” kata Albert. Julia mengangguk.
Namun, baru mereka hendak bangkit berdiri, ponsel Albert berbunyi lagi. Nama Mama muncul di ponselnya.
“Astaga, gue sampe lupa harus jemput nyokap. Lo sama Raka deh, Jules. Kita langsung ketemu di kantor Om gue aja.”
“Sip!”
Mereka pun memanggil pelayan untuk meminta bill. Raka mengeluarkan dompetnya.
“Eh, jangan, Ka!” Albert dan Julia menolak dibayari.
“It’s okay. Siapa tahu ini jadi yang terakhir.” Raka berseloroh.
“Si Raka mah! Udah gak lucu loh!” Julia ngambek.
Raka tertawa.
Mereka pun berjalan ke arah kasir hendak membayar.
“Aduh, nyokap gue udah nelponin mulu. Gue duluan lah ya! Ketemu disana ya!” Albert pun segera melesat keluar dari kafe tersebut setelah Raka dan Julia mengangguk.
Selesai membayar di kasir, Raka dan Julia pun juga berjalan keluar.
Kepala Raka kembali dibanjiri segala kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
Bagaimana kalau begini…
Bagaimana kalau begitu…
Apakah mungkin kalau sampai tuntutan hukum ini membuatnya berakhir di penjara? Bagaimana orangtuanya? Dia tidak pernah sekalipun mengecewakan mereka…
Dia tidak sanggup membayangkan bagaimana sedihnya Nayla dan Azel…
Raka begitu larut dalam pikirannya sampai tidak awas sama sekali dengan sekelilingnya.
“Eh, bener!” Tiba-tiba Julia memekik.
Raka menoleh kaget, apalagi saat Julia menarik lengannya.
“Ka! Ada Davina!” Julia menunjuk ke sebuah arah.
Pandangan Raka mengikuti arah telunjuk Julia.
Dan Davinanya duduk disana.
Ah, kenapa dia sampai lupa pada Davina? Harusnya kan dia harus menjemput wanita kesayangannya itu. Kenapa Davina ada disini? Bukankah harusnya masih di…
Tunggu…
Siapa yang berada di hadapan Davina??? Siapa laki-laki yang duduk bersama kekasihnya itu???
Rahang Raka mengeras. Air mukanya perlahan berubah kaku.
“Kamu kenapa disini?” tanyanya dengan nada datar. Sebuah rasa tidak suka tercermin jelas dari gerak-gerik dan cara bicara Raka.
Davina tidak langsung menjawab, pandangan matanya malah jatuh ke tangan Julia yang masih melingkari lengan Raka.
Julia cepat-cepat melepas genggamannya.
“Itu Albert masih di parkiran. Kamu jangan mikir aneh-aneh.” Raka menunjuk ke luar jendela.
Davina serba salah. Dia sama sekali tidak menuduh Raka. Dia hanya tidak suka melihat ada wanita lain menyentuh kekasihnya!
“Kamu kenapa ada disini? Bukan di Nararya?” Raka mengulang pertanyaannya sekali lagi.
“Kamu gak jawab telepon. Jadi aku singgah kesini sebentar sama Yuni.”
“Yuni?” Alis Raka terangkat satu, dengan terang-terangan menatap Nikolas lurus-lurus. Seperti ingin mengkonfrontasi Davina.
“Ini Niko, temennya Yuni. Yuni lagi toilet. Bentar lagi juga keluar.” Davina gelagapan sambil mencari Yuni ke segala arah. Tapi keberadaan sahabatnya itu ntah dimana.
Tidak… tidak…
Jika begini Raka akan salah paham.
Tak mau menunggu terlalu lama, Raka akhirnya memilih untuk berpaling. Dia hampir gila rasanya! Kepalanya benar-benar seperti akan pecah sebentar lagi!
“I don’t have time for this bullsh*t now. I gotta go. Ayo, Jules!” Raka segera beranjak pergi.
“Raka!” Davina mencoba memanggil kekasihnya. Bukankah Raka perlu menunggu untuk melihat secara langsung bahwa dia memang datang bersama Yuni?
Tapi Raka sudah tidak peduli.
Dia berjalan keluar dari kafe itu dengan terburu-buru.
“Ka, gue naik taksi aja deh, gue gak enak sama Davina,” kata Julia, yang berjalan tergopoh-gopoh menyusul langkah Raka yang panjang.
Raka melirik Julia, jengah.
Dia tidak punya waktu sama sekali untuk drama lain.
Dia menarik tangan Julia yang hampir berjalan meninggalkannya.
“Lo jangan aneh-aneh deh. Kita buru-buru!” Dia menarik tangan Julia sampai ke mobilnya.
Julia sempat melirik ke arah jendela tempat Davina duduk. Tapi sungguh, mereka tidak punya waktu. Dia tidak punya pilihan lain, apalagi saat Raka…
“Jules, cepat masuk!” desak Raka.
Julia pun akhirnya masuk ke dalam mobil dengan wajah bersalah.
Mobil melaju.
Meninggalkan Davina dalam kepanikan luar biasa.
***