
“Gue pengen lo tahu kalau lo selalu punya pilihan lain. Dan gue yakin, lo gak bakal nyesal kalau membuka diri sama gue.”
Kalimat itu terngiang kembali di kepala Raka. Tangannya mencengkram erat kemudi mobilnya.
Dia sungguh pengecut! Dia benar-benar pengecut!
Tadi dia sudah mencoba memberanikan diri untuk datang ke rumah Davina, membawakan buket bunga kesukaan kekasihnya itu. Ingin meminta maaf atas segala tindakan kurang ajarnya selama beberapa hari terakhir. Ingin memohon lagi pada kekasihnya bahwa meski dia tidak layak, dia tetap ingin tetap bersama Davina. Bahwa hidupnya sudah begitu kacau, tapi dia akan baik-baik saja, kalau ada Davina di sisinya.
Namun, akhir-akhir ini, kenyataan begitu tidak ramah pada Raka. Begitu tiba disana, dia melihat Davina sedang duduk berdua sambil saling bertatapan dengan Nikolas. Dia ingin marah. Dia tidak suka jika Davina memandang laki-laki lain!
Lalu, kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Nikolas…
Yang membuat seluruh amarah Raka menguap seketika.
Ya, Davina selalu punya pilihan itu…
Pilihan yang lebih baik dari dirinya sendiri…
Kenyataan yang dia coba hindari beberapa hari terakhir, namun ternyata sekarang dilemparkan tepat di depan wajahnya.
Dia segera pergi dari tempat itu. Namun sebelum dia masuk ke dalam mobil, seseorang menyapanya.
“Eh, Mas Raka! Kok gak masuk?” tanya Mbak Nur.
“Gak apa, Mbak… Aku buru-buru…” Raka mencoba mengelak.
Mbak Nur terlihat kebingungan.
Dan inilah kebodohan Raka, tingkah kanak-kanak yang tidak akan pernah ada habisnya. Dia menyerahkan bunga itu pada Mbak Nur.
“Minta tolong kasih ke Davina ya, Mbak…”
Mbak Nur tampak kebingungan. Lalu, Raka segera masuk ke dalam mobilnya tanpa penjelasan apapun.
Sungguh konyol…
Raka ingin memaki dirinya sendiri…
Sebenarnya untuk apa dia tetap memberikan bunga itu???
Ingin menunjukkan pada Davina bahwa dia tadi datang???
Bahwa di atas segala keburukannya, segala kebodohannya, pilihan-pilihan yang jauh lebih baik daripada dirinya, Raka tetap ingin Davina memilihnya…
“Lo malu-maluin!!!” maki Raka sambil memukul kemudi mobilnya.
Dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya bisa terus melajukan mobilnya, memang lebih baik dia mendekam saja di apartemennya sejak tadi.
***
Begitu Raka memasuki apartemennya, Albert dan Julia sudah menunggu dengan wajah penuh harap.
“Gimana?” tanya mereka.
“Lo berdua gak perlu tahu,” jawab Raka, seadanya.
Albert dan Julia menghela nafas. Dapat menebak bahwa teman mereka ini tadi pasti tidak bertemu Davina.
Raka menghempaskan tubuhnya di sofa. Lalu meringkuk dan membenamkan wajahnya ke dalam bantal.
“Lo kenapa, Ka?” tanya Albert.
Raka tidak menjawab, dia memilih menutup mata. Dia ingin melupakan pikirannya sejenak.
“Gue ngantuk. Kalau kalian mau balik, ntar jangan lupa tutup pintu,” gumam Raka, dengan nada ogah-ogahan. Dia benar-benar tidak bisa bersosialisasi dengan manusia lain saat ini. Isi kepalanya hanya racun, begitupun jika dia dipaksa untuk mengatakan sesuatu. Hanya akan ada kalimat-kalimat kejam tanpa saringan saat ini. Jadi, lebih baik dia berdiam diri saja. Tidak perlu ada yang tersakiti jika dia seperti ini.
Tak lama kemudian, tidak ada lagi suara yang terdengar dari Raka, sepertinya dia sudah terlelap.
Albert dan Julia saling tatap.
“Ini orang maunya apa sih, Jules?” Albert terlihat kesal.
“Lo gak bisa salahin dia sepenuhnya…” Julia menghela nafas.
Perlahan ekspresi Albert berubah. Wajahnya kini berubah sedih. Dia mengamati Raka dengan tatapan simpatik.
Kemarin, kuasa hukum Wetix baru saja mengajukan isi tuntutannya pada Creature di persidangan. Belasan milyar. Kalau tuntutan pokok tersebut tidak dipenuhi, maka Raka selaku orang yang bertanggung jawab secara legal di setiap akta dan agreement dengan Wetix akan menghadapi tuntutan pidana.
“Gue bakal dipenjara sih…” gumam Raka seselesainya sidang.
“Kita gak punya duit sebanyak itu, Bert,” keluh Raka.
Julia sendiri sudah menangis.
“Lo jangan sedih, hey!” Raka menempeleng kepala Julia.
“Tapi…” Julia sesunggukan, tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
Raka tidak lagi banyak bicara setelah itu. Mereka berdua sudah kebingungan setengah mati sejak kemarin bagaimana caranya menghibur Raka.
Dia tidak mau membicarakan perasaannya sama sekali. Dia hanya makan dan tidur. Tadinya mereka pikir Raka akan baik-baik saja setelah bertemu Davina, ternyata pendapat mereka salah. Raka bahkan tidak mau menemui Davina.
Albert mengerti betul perasaan Raka.
Sejak zaman nenek moyang, laki-laki selalu jadi pencari nafkah. Maka tidak ada yang heran jika pria mana pun akan mengalami depresi yang berkepanjangan jika sesuatu terjadi di pekerjaannya.
“Gue harus gimana ya, Bert?” tanya Julia, menarik kembali fokus Albert.
“Gimana apanya? Emang kita bisa apa, Jules?”
“Seenggaknya, gue pengen ngelakuin sesuatu buat Raka…”
“There’s nothing we can do. Soal hubungan dia dengan Davina, itu masalah mereka, Jules."
"Tapi, masa gak ada yang bisa kita lakukan?" Julia mendesah, frustasi.
Tiba-tiba pintu apartemen Raka terbuka. Mereka berdua menoleh. Seseorang mendorong Davina di atas kursi roda, masuk ke dalam apartemen Raka.
Seorang laki-laki!
Albert dan Julia tertegun. Siapa gerangan laki-laki itu?
"Raka tidur?" tanya Davina pada Julia dan Albert saat menyadari Raka yang meringkuk di atas sofa.
"Iya, Dav." Julia yang menjawab.
"Kerjaan kalian lagi banyak banget ya?" tanya Davina, lagi. Hanya ingin mengkonfirmasi kenapa Raka jarang menghubunginya.
Julia menoleh pada Albert. Dia tidak suka berbohong, bahkan pada orang yang tidak terlalu dikenalnya, seperti Davina.
"Lo harus ngobrol berdua sama Raka sih, Dav." Akhirnya Albert yang berbicara. Dia tidak ingin ikut campurt terlalu jauh dalam urusan pribadi Raka. Tapi dia juga tidak ingin Raka terus menerus menyembunyikan segalanya dari Davina.
Akhirnya Davina mengangguk.
"Kita pergi dulu kalau gitu." Albert dan Julia pun bangkit dari tempat duduknya.
"Lo mau gue pergi? Atau gimana?"
Albert dan Julia sempat mendengar laki-laki tadi bertanya pada Davina. Dan mereka akhirnya mengerti kenapa Raka terlihat begitu kacau sepulangnya tadi. Mereka cepat-cepat beranjak keluar dari ruangan itu, tidak ingin mengetahui lebih banyak lagi masalah teman mereka itu.
"Iya, Nik. Sorry banget ya. Makasih udah nganterin kesini..." kata Davina.
"No problem. Semoga masalah lo sama Raka cepat selesai ya," kata Nikolas, seadanya. Meski dalam hati, dia tidak mengamini sama sekali perkataannya.
Laki-laki itu pun beranjak keluar.
Davina menatap sejenak kepergiaan Nikolas. Dia jelas-jelas sedang memanfaatkan laki-laki tersebut. Namun, dia tidak punya pilihan lain. Dia tidak bisa membiarkan kedua orangtuanya tahu bahwa ada masalah dalam hubungannya dengan Raka. Sampai Davina harus menemui Raka seperti ini.
Pintu pun menutup.
Davina menoleh lagi ke arah Raka.
Dia tertegun saat badan Raka sudah bergerak untuk bangkit.
Dia tidak pernah menyangka bahwa Raka sama sekali tidak tidur sejak tadi.
***
Selamat berkurban untuk teman-teman yang merayakan 🤗🤗
Semoga segala kebaikannya dibalas oleh Sang Maha Pemberi 🤗🤗
Maaf ya beberapa hari kmrn sempat menghilang, ada beberapa urusan RL yang bikin aku sedikit frustasi HEHE 🥲🥲
Hari ini akan aku coba update lebih banyak, ditunggu ya 🤗🤗