Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Behind The Curtain (1)



Bandung, Seminggu yang Lalu…


“Nik, kamu kenapa? Kok diam aja sih?” tanya Sienna, sambil mengelus pipi Nikolas.


Pandangan Nikolas yang tadinya hanya tertuju ke jalanan, kini sudah beralih ke wanita di sebelahnya.


“Gak apa-apa kok,” jawabnya, singkat. Lalu, kembali fokus pada jalanan.


“Bohong! Pasti lagi ada pikiran ya? Kenapa? Davina lagi?” Sienna menyecar.


Nikolas hanya diam. Dia sama sekali tidak ingin membahas hal ini dengan Sienna.


Sienna menghela nafas. Dia memang hanyalah wanita kedua untuk Nikolas, tapi tidak ada satu orang pun di dunia yang suka jika dia tidak diutamakan. Dia tidak perlu diperlakukan selayaknya kekasih sungguhan, hanya saja dia tidak suka dengan ide bahwa lawan bicaranya tidak memberikan perhatian sama sekali.


“Nik, kamu tiba-tiba jemput aku dan ngajak ke Bandung. Jangan bilang aku diajak kesini cuma nemenin kamu murung begini!” Sienna mengomel panjang lebar.


Nikolas tersadar. Dia pun segera memegang tangan Sienna. Takut kalau tujuannya mengajak Sienna ke Bandung malah tidak terpenuhi.


“Maaf, gak sengaja.” Dia tersenyum simpul.


Sienna menghela nafas.


Dia tahu hanyalah menjadi sebuah pelarian ketika Nikolas sedang bermasalah dengan Davina. Dan, dia tidak keberatan sama sekali.


Sebab bukan orang yang sedang mencari hubungan serius dengan siapapun. Dia cukup puas hanya menjadi selingan untuk bosnya yang sedang merana itu.


Dan, sudah semestinya Sienna tidak mengomel hanya karena masalah sepele seperti ini.


“Kita tidur dimana malam ini?” tanya Sienna, akhirnya.


Nikolas menyebutkan sebuah hotel ternama di Bandung. Sienna langsung tersenyum sumringah. Setidaknya selama beberapa hari ke depan, saat Nikolas pergi bekerja, dia bisa merasakan spa di hotel tersebut.


Nikolas langsung tersenyum begitu melihat binar di mata Sienna.


“Finally, a smile!” kata Sienna, sambil menunjuk wajah Nikolas.


(Akhirnya, sebuah senyuman!)


Dia cukup puas dengan senyuman tipis Nikolas. Tak lama kemudian, dia sudah kembali sibuk dengan ponselnya.


Pandangan Nikolas sendiri sudah terfokus lagi pada jalanan. Namun, pikirannya tidak bisa berhenti berpikir…


Kenapa Davina tidak seperti wanita lain yang sangat mudah untuk disenangkan?


***


Nikolas meletakkan kepalanya di atas dada Sienna, meringkuk seperti seorang bocah lima tahun kepada ibunya. Seperti inilah guna Sienna untuknya. Menjadi sandaran, menjadi penenang.


Sienna ingat betul kapan pertama kali hubungan ini dimulai.


Di malam yang seharusnya jadi malam pernikahan Nikolas dan Davina. Nikolas kembali ke apartemennya dengan begitu banyak pikiran, kepalanya seperti hampir pecah.


Tinggal selangkah lagi, tinggal satu kalimat saja dari Pendeta Jefri. Harusnya semua ini sudah selesai. Harusnya Davina tidak lagi dalam pengaruh bayang-bayang orang lain.


Nikolas memerlukan alkohol malam itu…


Untuk meredakan kekalutannya.


Maka, dia menghubungi Sienna.


Sebagai seorang sekretaris yang sangat berdedikasi dan rela-rela saja diganggu waktunya di luar jam kerja, Sienna pun menurut. Dia segera melajukan mobilnya untuk membeli sebotol minuman alkohol favorit bosnya dan kemudian mengantarkannya langsung ke apartemen Nikolas.


Saat membuka pintu apartemennya, Sienna menyadari bahwa bosnya itu sedang luar biasa pusing.


“Ini pesanan lo.” Sienna menyerahkan botol tersebut.


Nikolas menerima, lalu berkata, “Thanks, Si. Sorry banget gangguin lo malam-malam.”


“No problem! That’s what a secretaris are for!” kata Sienna, sarkas.


(Gak masalah! Kan itu gunanya punya sekretaris!)


Nikolas tertawa kecil. Akhirnya dia bisa tertawa! Setelah seharian wajah dan pikirannya hanya dipenuhi ketegangan!


Sienna sedikit khawatir dengan kondisi bosnya itu. Dia sudah mendengar bahwa pernikahan bosnya batal, meski tak tahu penyebab pastinya. Dia takut ada apa-apa dengan bosnya. Maka, dia mempertimbangkan sejenak.


“Can I join you?” tanya Sienna, ragu.


Nikolas tidak keberatan sama sekali. Lagipula, dia sedikit merasa bersalah sudah mengganggu Sienna semalam itu.


Dan duduklah mereka di ruang tamu apartemen Nikolas…


Sienna hanya memancing dengan pertanyaan beberapa kali. Dan betapa terkejutnya dia, ketika mengalirlah seluruh cerita dari Nikolas.


Raka adalah bayang-bayang masa lalu yang sulit dilupakan oleh Davina. Namun, dia pikir itu hanyalah perasaan sepihak Davina. Tidak bersambut sama sekali. Baru hari itu dia sadar, bahwa Raka juga memiliki perasaan yang sama dengan Davina!


Dia tidak percaya diri menghadapi hal itu!


Hidup Nikolas terbiasa dikontrol oleh sang ibu. Hanya Davinalah yang sedikit terlepas dari pengendalian Angel. Namun, malah itu yang menjadi kacau balau.


Mungkin, untuk selanjutnya, dia akan membiarkan Angel mengambil perannya lagi. Sebab segala sesuatu yang dikekang oleh tangan besi ibunya selalu berhasil.


Dia.


Ayahnya.


Perusahaan keluarga mereka.


Seluruhnya!


Sienna sekonyong-konyong merasa iba pada sosok laki-laki di hadapannya. Yang dari luar terlihat tangguh, namun ternyata hatinya butuh sebuah sandaran.


Lalu, semua terjadi begitu saja.


Tidak pernah ada hal baik yang datang saat menenggak minuman beralkohol. Dimulai dari tepukan biasa di punggung tangan, yang malah berlanjut dengan pagutan bibir keduanya.


Nikolas mengatasnamakan kerentanan perasaannya saat itu, sementara Sienna hanya mengisi waktu luangnya saja.


Di pagi hari, saat mereka terbangun tanpa sehelai pakaian pun di atas tempat tidur, mereka langsung berjanji akan menyimpan hal itu hanya untuk mereka berdua saja, sampai ke liang kubur. Mereka juga berjanji tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi!


Namun, keadaan Nikolas yang semakin terdesak di hati Davina justru memperparah segalanya. Nikolas dan Sienna bertemu lagi. Juga melakukannya lagi. Esoknya berjanji lagi tidak akan mengulangi. Namun, tidak butuh satu hari, mereka sudah akan melakukannya lagi.


Dosa memang selalu menggoda.


Makanya, mereka ada disini, di sebuah hotel, malam ini.


“Kamu gak mau aktifin hape kamu? Siapa tahu Davina nelepon,” kata Sienna.


Nikolas mendecih sinis.


“Tadi kita ketemu Raka di kondangan. Aku lagi sibuk ngobrol sama kolega bisnisku, tiba-tiba dia hilang. Ternyata pergi berduaan sama Raka.”


Sienna diam saja, hanya lanjut menyisiri rambut Nikolas dengan jari tangannya. Padahal dalam hati, Sienna tidak setuju dengan pendapat Nikolas. Toh, Nikolas yang dengan bodohnya memberikan kesempatan pada Raka. Kenapa sekarang dia mengomel seperti bocah lima tahun hanya karena Raka mempergunakan kesempatan tersebut?


Namun, Sienna tidak tega membuka mulutnya. Laki-laki yang kini berada di pelukannya memiliki perasaan dan tingkat kepercayaan diri yang sebenarnya sangat rentan.


Nikolas tidak bisa bersama Davina yang juga memiliki kepercayaan diri yang sama rentannya. Nikolas harus bersama seseorang sekuat ibunya. Seteguh Angel.


Sebab dia sudah terbiasa seperti itu. Sudah terbiasa dikontrol.


Tapi segala pemikiran itu hanya dipendam Sienna jauh di dalam lubuk hatinya. Dia tidak ingin terlibat secara emosional sama sekali dengan Nikolas. Dia hanya butuh hubungan yang kasual, tidak mengikat.


“Besok kamu kerja sampai jam berapa?” tanya Sienna, mengalihkan perhatian.


“Jam sepuluh juga udah kelar. Cuma visit pabrik sebentar kok. Kamu ada mau kemana gak?” Nikolas balas bertanya.


“Kulineran di Bandung yuk?”


“Boleh.”


“Ya udah, kamu tidur gih. Besok harus ke pabrik pagi-pagi banget.”


“Oke.”


Nikolas melepas pelukannya dari Sienna, lalu tidur memunggungi wanita itu.


***


Hai, teman-teman! Kisah anak setan bakal tamat bulan ini, kalau berkenan boleh kasihvote dan poin kalian sebagai kenang-kenangan terakhir untuk Raka ya hehe. Terima kasih.


PS : Kalau bisa aku double up ya hari ini 😘


IG : @ingrid.nadya