
Alih alih berbicara dengan putranya Tiffany malah terlihat duduk di sofa dengan memainkan ponselnya , sepertinya sedang bertukar pesan dengan seseorang . Baginya percuma menunjukkan perhatian jika tidak ada Sean disana , lagipula Darrell sama sekali tidak terlihat menyukai kehadirannya . Dan ia tidak begitu peduli akan hal itu , yang terpenting untuknya adalah bisa kembali mendapatkan suaminya .
Wanita itu berdecak kesal karena Sean tak juga kunjung tiba padahal tadi Darrell mengatakan jika ayahnya hanya akan keluar sebentar untuk bicara dengan Damian . Dia khawatir jika pengasuh tadi keluar dan mencoba menjerat suaminya yang juga sedang ada di luar . Tiffany akui jika Lana adalah gadis muda dengan kecantikan luar biasa , hanya saja tidak terpoles dengan sempurna karena penampilannya yang terkesan sederhana .
Tak sabar lagi akhirnya ia membuka pintu kamar bermaksud ingin bertanya pada penjaga untuk mengetahui keberadaan suaminya . Tapi dahinya berkerut ketika malah melihat Damian duduk di kursi tunggu yang ada diluar kamar rawat putranya .
" Mana suamiku !! " ketus Tiff yang tahu manusia es didepannya pasti akan menutupi keberadaan Sean , dari dulu Damian memang tidak menyukai keberadaannya .
" Nyonya ... " Damian berdiri menghadap istri pertama atasannya .
" Mana Sean ?? " tanya Tiff angkuh dengan wajah yang diangkat untuk menunjukkan jika dia masih menjadi orang kedua yang berkuasa di Alexander .
" Beliau sedang keluar untuk membeli sesuatu , mungkin sebentar lagi akan kembali . Ada sesuatu yang Nyonya inginkan !? "
" Membeli sesuatu ?! Come on ... Hanya untuk membeli sesuatu ia harus melakukannya sendiri ? Apa gunanya kalian hahh !! Dengan santainya kau malah duduk disini !! " seru Tiff kesal , bagaimana bisa seorang Sean Jayde membeli keperluannya sendiri padahal pada penjaga sedang santai di tempat ini .
" Tugas kami adalah menjaga beliau , tapi Tuan Sean punya keinginan ataupun privasi yang tak bisa kami langgar . Sebaiknya Nyonya kembali ke kamar sebelum Tuan Muda kebingungan karena tidak ada yang menjaganya di dalam kamar "
" Jangan mengaturku !! " walau terlihat sangat kesal nyatanya Tiff tetap kembali ke kamar rawat Darrell . Dia harus sedikit bersabar jika ingin suaminya kembali ke sisinya lagi .
*
Lana hanya diam ketika Sean masih menarik tangannya untuk keluar menuju minimarket yang terletak tepat di depan rumah sakit . Wanita itu sesekali meringis kesakitan karena tangan kekar itu masih mencengkeram erat pergelangan tangannya .
Sebenarnya di kantin rumah sakit pun tersedia minuman dingin tapi Sean sengaja membawa istrinya keluar agar lebih leluasa berbicara . Sampai ke dalam minimarket barulah ia melepas tangan istrinya walau tetap berjalan di belakangnya .
" Pilih minuman atau makanan ringan untuk stok dua atau tiga hari ke depan "
" Tapi .... "
" Ckk ... Pilih saja !! Kenapa mulutmu harus selalu kau gunakan untuk melawanku !!! "
" Aku hanya menurutimu suamiku tersayang , aku akan belanja untuk stok tiga hari kedepan !! Istrimu ini adalah tikus pengerat pemakan segala , makanku banyak ! " kata Lana dengan menekan kata suami ataupun istri .
Pria itu hanya menganggapnya budak jadi sekali kali ia ingin membuatnya kesal dengan memanggil iblis itu sebagai suami tersayang . Bukannya iblis itu tak akan bisa berbuat apa apa di tempat umum seperti ini ?? Tanpa menoleh lagi dengan cepat ia segera memasukkan semua yang ia inginkan hingga empat keranjang di tangan Sean penuh . Dia tertawa senang ketika melihat Sean begitu kerepotan membawa empat keranjang itu secara bersamaan .
Tanpa ia tahu jika panggilan suami tersayang yang tadi ia ucapkan mampu membuat hati iblis itu berbunga bunga . Dan ini adalah pengalaman pertama seorang Sean berbelanja bersama , tak bisa ia pungkiri kegiatan sederhana ini terasa sangat menyenangkan walau sedikit kerepotan . Sengaja ia tak mengijinkan penjaga mendekat karena menurutnya ini adalah momen yang hanya boleh dinikmati olehnya saja .
" Bayar .... tadi bukannya aku tidak boleh menggunakan kartuku ?? " kata Lana yang tak mau berdebat di depan kasir jika ia nekat tetap menggunakan kartunya sendiri .
Bukannya menyerahkan kartu pada kasir tapi Sean menyerahkannya pada Lana .
" Terima , simpan dan gunakan itu untuk keperluanmu . Jika menolak maka mungkin akan menyenangkan jika kita bercinta disini hingga kau sadar jika kau tidak akan bisa menolak perintahku . Dan ... "
" Dasar gila !!! Menyebalkan ... " Lana membungkam mulut sang suami yang selalu bicara frontal tak mengingat tempat , pipinya memerah karena para petugas kasir terlihat tersenyum geli ke arah mereka . Mungkin saja mereka berpikir jika dia dan Sean adalah pasangan gila' yang melarikan diri dari rumah sakit jiwa .
Dengan segera mereka kembali ke dalam rumah sakit tapi tiba tiba saja terlihat seorang wanita melangkah tergesa dan menabrak tubuh Lana . Beberapa penjaga mendekat tapi Lana melihat ke arah suaminya seolah meminta untuk tidak membuat keributan . Dan Sean mengangkat satu tangan pertanda jika tak ada seorang pun ia ijinkan untuk mendekat .
" Maaf Nyonya .... maafkan saya !! "
" Tidak apa apa , saya tahu anda sedang terburu buru . Saya Lana ... Salah satu keluarga anda sedang dirawat di sini ??! " kata Lana ramah , wajah wanita didepannya terlihat panik .
" Saya Nina , putra kedua saya demam tinggi ! Dia sudah ada di lGD dan saya ingin menjemput putra pertama saya yang masih ada di depan ! " sahut wanita itu dengan berusaha menyembunyikan wajahnya dengan selalu menunduk .
" Ya sudah jika begitu , saya juga sedang menunggu putra saya Nyonya Nina . Saya doakan semua akan baik baik saja "
" Terimakasih .... "
Lana sekilas melihat kepergian wanita bernama Nina itu . Jika dilihat ia begitu ketakutan ketika tadi melihat suaminya yang ada di belakangnya . Padahal Sean tak sekalipun melihat ke arah mereka karena pria itu sedang menerima telpon dari seseorang . Tapi mungkin hal itu wajar , karena aura iblis itu memang sangat menakutkan .