
Raka menunggu reaksi Davina. Suasana langsung berubah hening. Menyiksa. Namun, Raka sama sekali tidak akan berbicara sebelum Davina mau membuka mulut.
“Kamu bisa kasih aku waktu sedikit lagi?” tanya Davina, akhirnya memecah keheningan.
“Mau sampai kapan, Devni? Waktuku udah gak banyak lagi.”
“Tunggu aja…”
“Devni…”
“Habis acara Espoir, aku bakal kasih jawabannya ke kamu,” kata Davina. Kini ada kesungguhan di matanya.
Raka menghela nafas, kemudian menempelkan punggungnya ke jok mobil.
“Kalau kamu mau nolak aku, lebih baik sekarang, Devni,” gumam Raka sambil mengacak rambutnya, frustasi.
“Please?” Davina mengiba. Memangnya Raka punya daya untuk menolak Davina?
“Seenggaknya kasih aku bocoran sedikit aja.” Kini Raka yang berbalik mengiba.
Davina tidak menjawab, hanya menatap lekat-lekat ke dalam mata Raka. Laki-laki itu terpaku. Dalam hatinya timbul sebuah pengharapan. Benarkah? Bolehkah dia berharap?
Lalu, Davina tersenyum, menyentuh pipi kanan Raka, sambil berkata, “Thanks for kidnapping me today.”
(Makasih udah nyulik aku hari ini.)
Raka rasanya masih tersihir. Dia hanya bisa membalas dengan anggukan.
“Good night, Raka.” Davina pun melepas tangannya dari wajah Raka, lalu berbalik hendak membuka pintu. Namun, Raka menahan.
“Kenapa?” Davina menoleh lagi pada Raka.
“Aku gak mau nunggu lebih lama lagi, Devni. Kalau kamu gak datang nemuin aku di malam setelah acara Espoir selesai, aku anggap kamu milih Nikolas.”
Davina tersenyum kecil, lalu berkata, “Oke.”
Dia segera keluar dari mobil. Namun, dia tidak sempat melambai pada Raka. Sebab calon suaminya, Nikolas, sudah berdiri di teras dengan wajah datar.
Raka tidak punya pilihan lain, selain melajukan mobilnya untuk segera keluar dari kediaman Mahardhika.
Setelah mobil memasuki jalan raya. Dia memasang radio. Sebuah lagu dari Ed Sheeran sedang diputar. Best Part of Me.
But she loves me, she loves me,
Why the hell she loves me?
When she could have anyone else.
(Tapi dia mencintaiku, dia mencintaiku.
Kenapa bisa-bisanya dia mencintaiku?
Ketika dia bisa mendapatkan siapa saja.)
Wajah Raka tidak bisa berhenti tersenyum. Dia tidak bisa mengentikan dirinya dari semua kemungkknan baik. Sungguhkah ini nyata? Ataukah ini hanya harapan semu saja?
***
Begitu Davina melangkah ke teras rumahnya, wajah Nikolas menampilkan sebuah senyuman.
“Darimana aja?” tanyanya, basa-basi. Dia mengulurkan tangan. Namun, Davina tidak menyambut tangan tersebut.
“Kamu pasti udah denger dari Mama, Nik.” Davina memutus rantai basa-basi tersebut dengan cepat.
“Iya, aku udah denger kamu ke Segarra sama Raka. Cuma aku pengen denger langsung dari kamu aja.”
“Yap, itu benar!”
“Dav, kita ini udah putus atau gimana sih sebenarnya?” Nikolas memelas.
Davina tersentak. Dia memandang wajah Nikolas. Berharap ada semacam percikan, apapun, yang membuatnya kembali mencintai laki-laki itu. Namun, kosong. Yang ada hanya kehampaan.
“Memangnya masih ada harapan buat kita, Nik?” tanya Davina, retorik.
Pertanyaan yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban. Sebab keduanya tahu apa yang menghalangi mereka berdua.
“Jadi, kita putus?” tanya Nikolas. Bermaksud memberikan pertanyaan retorik yang sama. Sebenarnya dia berharap pertanyaan ini mengambang saja. Tidak perlu dijawab.
Namun, Davina sebenarnya sudah memiliki jawabannya. Sejak terakhir kali dia mampir ke rumah Nikolas, dan pulang dengan penuh airmata.
“Aku bakal kasih jawaban ke kamu sehabis acara Espoir,” kata Davina, mantap.
Nikolas menarik nafas, berusaha mengisi paru-parunya dengan udara sebanyak mungkin, sebab rasanya sesak di dada.
“Oke, aku tunggu,” kata Nikolas, dengan susah payah.
“Kalau aku milih kamu, aku bakal datang ke kamu. Tapi kalau aku gak muncul juga, anggap aku milih Raka.”
Nikolas mengangguk.
“Aku boleh masuk kalau gitu?” tanya Davina.
Nikolas mengangguk lagi.
Namun, baru Davina membuka pintu, Nikolas sudah memanggil namanya lagi. Davina menoleh.
“Tadinya, aku datang mau nunjukin kesungguhan aku. Mau bener-bener ngerebut kamu lagi dari tangan Raka.”
Airmata Davina menggenang. Semua ternyata telah berubah dimulai dari kejadian di Bandung.
“Harusnya kamu gak perlu rebut aku, Nik… harusnya kamu gak perlu…” Suara Davina bergetar. Nikolas tertegun. Davina pun cepat-cepat masuk ke dalam rumah, sebelum pembicaraan ini berlanjut lebih lama.
Nikolas pun akhirnya melangkah masuk ke dalam mobilnya. Segala pengesalan datang bertubi-tubi.
Harusnya dia memang tidak memberi Raka kesempatan…
Harusnya dia…
And I hate to say I love you,
When it’s so hard for me.
And I hate to say I want you,
When you make it so clear,
You don’t want me.
(Aku benci mengatakan bahwa aku mencintaimu,
Ketika semuanya terasa berat untukku.
Aku benci mengatakan aku menginginkanmu,
Ketika kau memperjelas bahwa,
Kau tidak menginginkanku.)
Nikolas melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia perlu ke suatu tempat, agar bisa menenangkan hatinya yang pilu.
***
Begitu menutup pintu di hadapan Nikolas, Davina menangis lagi.
Dia memang harus mengakhiri semua ini. Akan lebih mudah untuk siapapun. Agar dia tidak lagi perlu menyalurkan segala sakit hati apapun kepada dua laki-laki tersebut.
“Anak Mama populer banget sih.” Diana tersenyum jahil pada Davina.
Davina mendengus, sambil mengusap airmatanya.
“Davina gak pernah pengen dikejar-kejar dua cowok, Ma.”
“You have my genes, Dav. Terima nasib aja.” Diana terkekeh.
(Kamu punya gen Mama, Dav.)
Davina akhirnya bisa tertawa, meski airmatanya masih membasahi pipi.
“Kalau dua-duanya bener sih gak apa ya,” gerutu Davina.
Diana menggedikkan bahu, “Gak ada yang bisa sempurna, Dav.”
“Davina tahu, Ma. Tapi Raka itu Dajjal. Sementara Nikolas itu…”
“Niko kenapa?”
“Gak bisa nolak apapun perkataan ibunya.”
“Emang Raka bisa nolak perkataan Mama Nay?”
“Tapi Mama Nay sayang sama Davina. Kalau Mama Angel…”
Diana tersenyum, jahil.
“Mama! Davina lagi curhat!” Wajah Davina kontan memerah.
Namun Diana sudah berbalik menjauh dari Davina, lalu berteriak, “Daaaave! Kayaknya aku kalah taruhan deh!”
“Taruhan yang mana? Taruhan kita terlalu banyak!” Dave menyahut dengan teriakan juga.
“Davina udah tahu mau pilih siapa!” jerit Diana lagi.
Suara tawa Dave langsung membahana.
“Mama! Davina kan belum bilang apapun!” Davina merengek.
Diana menoleh. Alisnya terangkat, seperti meremehkan Davina.
“Dav, kamu ada di dalam perut Mama sembilan bulan. Gak perlu dukun untuk tahu perasaan kamu.”
“Terserah dehhh!” Davina berjalan ke kamarnya, sambil menghentak-hentakkan kaki.
Begitu sampai di kamarnya, Davina segera menghempaskan diri ke atas kasurnya. Dia memang sudah tahu isi hatinya sendiri, sudah tahu siapa pilihannya. Namun, ada beberapa hal yang harus dia pastikan, dia tuntaskan.
Jangan sampai dia salah langkah lagi…
Ada yang perlu diakhiri, ada yang perlu dimulai lagi…
Davina menghela nafas.
Terlalu banyak kejadian hari ini.
Dia mengambil headphone, lalu memasang lagu apapun yang pertama dia bisa temukan.
The Heart Wants What It Wants dari Selena Gomez.
And I’ll bet the odds against it all
There’s a million reasons I should give you up
But the heart wants what it wants
(Dan aku akan bertaruh dengan kemungkinan kecil itu.
Meskipun ada jutaan alasan untukku melepaskanmu.
Tapi hati tetap menginginkan apa yang dia inginkan.)
Davina tertidur sambil mendengar lagu itu. Hatinya hanya menginginkan satu nama. Dan dia sudah tahu pasti apa yang diinginkan hatinya.
***
IG : @ingrid.nadya