Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Good Lover, Not A Good Friend



Setelah kelamaan berenang-renang bersama author di samudera masa lalu, sekarang author ajak naik kapal masa sekarang ya.


Semoga masih pada sayang sama anak rawon. Walaupun dari komen yang aku baca sih pada emosi semua ya hahahahaha 🥲


***


Kembali Ke Masa Sekarang…


Raka melanggar batasan, dia merengkuh tubuh Davina, memeluknya erat. Dia telah dicintai, namun malah menyakiti. Betapa tololnya Raka yang dulu.


"Kita gak bisa lagi, Ka." Davina terus mengoceh, dan mencoba terus menolak Raka.


"Enggak. Tempat kamu disini," kata Raka.


Davina tertegun. Kalimat itu...


"Tempat kamu disini, di pelukanku."


Davina bertahan selama beberapa saat di dalam pelukan Raka.


Tak pernah ada tempat yang lebih nyaman dari ini. Pelukan Raka selalu terasa familiar. Mengingatkannya pada satu waktu di masa lalu ketika dia bergelung lama-lama di pelukan itu karena dinginnya cuaca Paris.


Namun, senyaman apapun pelukan ini sekarang, tetap saja, Davina punya seseorang yang perlu dijaga hati dan cintanya.


Nikolas.


Calon suaminya.


Tunangannya.


Seseorang yang akan bersedih jika tahu Davina mendua hati seperti ini. Dan jangan lupa, Raka adalah orang yang membatalkan pernikahan mereka! Seperti tidak habis-habisnya perasaan bersalah Davina.


Davina mendorong pelan dada Raka. Tapi Raka bergeming.


“Lepasin aku!” Davina protes karena Raka tidak kunjung mengerti.


“Aku mau peluk!” kata Raka, tidak tahu diri.


“Tapi aku gak mau dipeluk!” Davina berontak sekuat tenaga. Raka sampai kewalahan.


Akhirnya, dengan berat hati, Raka pun melepaskan pelukannya. Bukan karena kalah dengan tenaga Davina. Sekarang dia hanya ingin menghormati keinginan Davina.


“TEMPATKU DISINI KEPALAMU!” Davina memaki tepat di depan wajah Raka.


Laki-laki itu cemberut, “Sekarang kamu kok kasar banget sih, Devni?”


“Kamu ngeluh aku kasar sekali lagi, aku tempeleng kepala kamu!” Davina memaki lagi.


Namun anehnya, laki-laki itu malah terkekeh setelah itu. Diam-diam dia memang selalu terkagum melihat kegalakan Davina. Airmata bahkan masih membasahi pipi wanita itu, tapi dia tetap mampu memarahi Raka seperti ini.


“Kamu jangan galak-galak dong. Kan kamu tahu kalau aku paling suka dimarahin begini sama kamu.” Raka tersenyum miring.


Davina mendengus sambil mengusap airmatanya.


Selanjutnya, mereka sempat terdiam sejenak, terlarut di dalam pikiran mereka sendiri. Segala kenangan masa lalu membanjiri ingatan. Bagaimana mereka jatuh cinta pertama kali, saling melepaskan pertama kali, lalu berjuang lagi, dan pada akhirnya menyerah pada keadaan.


“Is it terrifying?” tanya Davina.


(Apakah menakutkan?)


Raka menoleh, “Apanya?”


“Berurusan dengan hukum.”


Raka terlihat berpikir.


“Udah lama berlalu, Ka. Jujur dong,” desak Davina.


Raka menggaruk kepalanya. Mungkin memang sudah waktunya dia menceritakan isi hatinya yang sebenarnya…


“I was scared to death.”


(Aku ketakutan setengah mati.)


Davina terdiam.


“Tapi waktu itu, aku bener-bener gak tahu gimana cara nyeritainnya ke orang lain,” lanjut Raka sambil tertawa kaku. Dia mengelus tengkuknya, karena topik ini selalu membuat bulu kuduknya meremang. Kenangan masa lalu yang dia benci setengah mati. Apalagi hal itu juga mengingatkannya pada kecelakaan Davina…


Tapi bagaimana pun dia mencoba menjelaskan, tidak akan ada yang mengerti kekacauannya pada saat itu. Bahkan kedua orangtuanya saja masih belum tahu sampai sekarang tentang masalah yang pernah dilalui Creature dulu. Raka menutupinya dengan sempurna.


“Kamu tahu gak, aku tuh kadang ngerasa perpisahan kita adalah salahku juga,” gumam Davina, tiba-tiba.


Raka tersentak, “Hah?!”


“Yeah. I might be a good lover. But I wasn’t a good friend for you.”


(Aku mungkin dulu adalah seorang kekasih yang baik. Tapi kayaknya aku bukan seorang teman yang baik untuk kamu.)


“No way! Ini sepenuhnya salahku, Devni.”


“It takes two to tango, Ka. Mungkin ada sikapku yang bikin kamu sama sekali gak nyaman buat cerita.”


Raka cepat-cepat menggeleng.


Davina menggedikkan bahu.


“Devni… kamu jangan ngomong kayak gitu…”


Davina tersenyum kecil pada Raka, “It is what it is.”


“Devni…”


“Hm?”


“Salahku, gak pernah ada di saat kamu butuh aku. Salahku, malah ngebiarin semua masalah jadi bom waktu, bukannya langsung menyelesaikan saat itu juga. Salahku, ngusir kamu di saat kamu udah nyingkirin ego kamu untuk kasih pertolongan untukku. Semua salahku, Devni. Kamu jangan hukum aku lagi dengan nganggap diri sendiri bersalah.” Raka menjelaskan dengan panjang lebar. Baru kali ini dia punya kemampuan merangkai kata-kata sepanjang ini.


Wajah Davina sekonyong-konyong berubah mendengar kalimat panjang Raka.


“Ya iyalah. Kalau yang itu, semuanya salah kamu!” katanya, tidak terima.


Raka mengernyit. Sedikit heran dengan perubahan mood yang tiba-tiba itu.


“Aku kan cuma bilang aku salah karena gak bisa jadi temen cerita kamu. Udah, itu aja. Yang lain mah emang semuanya harus kamu yang salah!” Davina merepet.


Raka langsung meledak dalam tawa.


“Malah ketawa.” Davina mencibir.


“Iya, iya. Semua aku yang salah kok. Kamu bahkan gak boleh nyalahin diri sendiri karena aku gak cerita. Itu, akunya aja yang emang bodoh.” Raka masih terkekeh.


Davina akhirnya tersenyum, “We met at each other’s worst time, huh?!”


(Kita ketemu di waktu-waktu terburuk dalam hidup kita, hah?!)


Raka mengangguk.


“Makanya, Ka, gimana kalau kita lupain semuanya? Kita balik jadi temen lagi,” kata Davina, lagi.


Raka memutar bola matanya.


“Kamu kan belum coba!”


“Like I can, Devni… Pilihannya daridulu cuma dua, aku dapetin kamu lagi, atau kita putus hubungan sama sekali.”


(Kayak aku bisa aja.)


“Gimana mau putus hubungan? Kakak kita aja sama!”


“Makanya balikan sama aku.”


“Like I can!” Davina membalikkan kata-kata Raka.


“Yes, you can.”


“Cape ngomong sama kamu.”


“Ya udah, gak usah ngomong. Peluk aja.” Raka merentangkan tangannya lagi.


“Peluk nih guling, sampe lecek!” Davina melemparkan bantal guling ke kepala Raka.


Laki-laki itu terkekeh, tapi sekarang dia benar-benar mengambil bantal itu lalu memeluknya.


“Devni, aku masih punya dua minggu lagi…”


“Kamu pikir bakal ada yang berubah dua minggu ini?”


Raka menggedikkan bahu, “Gak ada salahnya berharap.”


“Terserah kamu deh! Cape ngomong sama kamu!” Davina mengeluh sambil membaringkan badannya lagi. Dia memunggungi Raka lagi.


Raka mengamati punggung Davina lagi. Dengan gerakan pelan dan tidak disadari, dia mencium pelan bahu Davina.


“Rakaaaaa!!!” Davina protes.


Raka terkekeh. Dia cepat-cepat menjauh dari tempat tidur sebelum Davina bisa meraihnya.


“Kamu dulu pernah bilang, paling ngerasa aku sayangin kalau aku cium bahu kamu kan?! Itu… biar kamu ingat kalau aku sayang banget sama kamu… sampe sekarang.”


“I HATE YOU!!!”


“Kalau benci, gak mungkin muka kamu merah sekarang!” Raka meledek.


Davina sudah bersiap-siap melemparkan bantal lagi, tapi Raka sudah bersembunyi di balik pintu kamar.


“Get well soon, Devni…” Dia tersenyum, lalu menghilang di balik pintu sepenuhnya.


Davina terus menerus memaki diri sendiri karena membiarkan dirinya terbiasa lagi dengan kehadiran Raka.


Tanpa dia sadari…


Ponselnya sudah berbunyi daritadi.


Nama Nikolas terpampang berkali-kali di layar ponselnya.


***