Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Perfectly Bad For Each Other



Davina baru selesai mengisi bak mandinya, menaburkan garam mandi dan essential oil beraroma lavender, ketika dia mendengar suara ribut-ribut dari halaman rumahnya.


"Davinaaaa!" Seseorang meneriakkan namanya.


Davina merasakan jantungnya langsung berdegup begitu kencang. Bahkan dengan mendengar laki-laki itu masih menyebutkan namanya saja rasanya dia sudah tidak sanggup lagi.


Dia keluar dari kamarnya seperti kesetanan. Mencari seseorang yang tadi sengaja dia usir. Lalu menarik tangan laki-laki itu untuk kembali ke kamarnya.


Dia bisa melihat kebingungan di wajah Raka, namun dia tidak lagi punya waktu untuk menjelaskan. Yang ada di dalam dipikirannya saat ini adalah keinginan untuk mengembalikan setiap rasa sakit dan trauma yang dia rasakan kepasa Nikolas. Dia ingin balas dendam. dia dirasuki perasaan ingin menyakiti kembali.


Dia pun membuka pintu balkon kamarnya lebar-lebar. Dan berdirilah disana sang pengkhianat!


Seluruh tubuh Davina bergetar oleh amarah. Bagai sebuah hunung berapi yanhg siap memuntahkan lahar panas, begitulah Davina saat ini.


Nikolas tampak terkejut melihat Raka kini berada di sisi Davina. Dan hal itu begiru memuaskan untuk davkna.


"What do you want from me, cheater???" tanya Davina dengan suara dramatis.


Dari ekspresinya, Davina dapat melihat Nikolas terluka. Davinanya yang baik, yang selalu tersenyum, yang selalu bersikap lembut, sejak kapan menjadi berubah sebarbar ini?


"Davina, kasih aku waktu untuk ngomong sama kamu." Nikolas memelas.


Saat itulah, Rara keluar mengejar Nikolas.


"Kamu ngapain disini???" Rara memaki.


"Kak, please??? Tolong, aku harus jelasin ke Davina." Nikolas berjalan menjauh dari serbuan Rara.


"Kak, biarin aja!" pekik Davina dari balkon.


Rara menoleh tidak percaya pasa Davina. Tapi adiknya itu mengangguk. Rara menghela nafas, akhirnya mengalah. Dia segwra berjalan masuk lagi ke dalam rumah.


Sedang Davina kini telah melepaskan genggamannya dari Raka, lalu melipat kedua tangannya. Dia ingin terlihat setegar karang dari luar. Takkan ada lagi yang akan pernah melihatnya lemah. Tidak Nikolas. Tidak juga Raka.


"Ngomong aja, aku denger dari sini," kata Davina, dengan suara lantang.


"Aku butuh waktu ngomong berdua sama kamu."


"Tapi, aku gak butuh."


"Dav..." Nikolas mengiba.


Davina bergeming. Nikolas jadi semakin putus asa. Dia menyesal, sungguh menyesal. Seandainya dia bisa menunggu saja sampai hari berganri saja. Semua tidak akan menjaei seperti ini...


"Sienna yang ngajak aku duluan, Dav," kata Nikolas.


Davina terbelalak. Dia tidak percaya dengan pendengarannya sama sekali. Sungguh sebuah tindakan hina bagi seorang laki-laki. Sebab bagi Davina, siapapun yang memulai sebuah pendekatan dengan seseorang yang punya pasangan...


Jika hal itu berakhir dengan sebuah perselingkuhan, maka pihak yang paling bersalah tetaplah si orang yang punya pasangan. Bukan sebaliknya. Jadi, tidak mungkin dia akan sanggup menyalahkan Sienna. Sebab yang dia inginkan sekarang adalah mencaci maki Nikolas.


Bagi Davina saat ini, betapa kerdilnya jiwa Nikolas. Bagaimana mungkin dulu dia sempat percaya bahwa Nikolas akan memberikan segalanya dan menjadi yang terbaik untuknya? Sebuah kekonyolan yang Davina sesali.


Sementara itu, dari sisi Nikolas...


Pembelaan laki-laki itu adalah bahwa dia sebatas sedang putus asa. Pernikahannya dirusak, dia ketahuan selingkuh, dan sekarang dia benar-benar akan kehilangan Davina, wanita yang selama ini menjadi hal terbaik dalam hidupnya.


Nikolas menyesal. Kenapa selama ini hanya omong besar pada Davina? Kenapa dia malah membuktikan hal yang sebaliknya kepada wanita itu?


"Kamu memalukan, Nik." Davina geleng-geleng kepala. Segala perkayaan yang diucapkan Nikolas dulu padanya menjadi sia-sia. Dia bilang dia akan selalu memberikan yang lebih lagi untuk Davina. Namun, satu hati yang penuh saja ternyata tidak bisa dia berikan.


Kebodohannya di Bandung dululah yang menyebabkan semua ini terjadi. Seandainya mereka tidak kecelakaan seandainya dia lebih berhati-hati, Nikolas yakin, Daavina akan masih berada di sisinya, sampai garis akhir.


"Dav, please..." Nikolas mengiba, lagi. Inilah yang akan jadi permohonan terakhirnya.


Namun, Davina sudah tidak peduli. Diambilnya lagi tangan seseorang yang berdiri kebingungan di sebelahnya, lalu digenggamnya erat.


"Jadi, ini keputusan kamu?" tanya Nikolas.


"Ini SELALU jadi keputusanku," kata Davina, memang berniat menyakiti Nikolas. Dia ingin Nikolas tahu bahwa malam itu, memang bukan Nikolaslah yang akan menjadi pilihannya. Dia hanya ingin menyakiti. Davina sesederhana ingin mengobati harga dirinya yang terluka karena menjadi pihak yang diselingkuhi.


"Menurut kamu, kenapa Raka disini hari ini?" Davina tersenyum kecil. Nikolas tidak percaya bahwa perbuatannya sendirilah yang telah mengubah Davina untuk menjadi sekejam ini.


Tapi, Davina belum selesai...


"Sekarang silahkan pergi ke rumah Sienna, lakukan apa yang menurut kamu baik dan pantas. Sementara aku disini, cukup mencintai Raka, dengan pakaian yang masih lengkap."


Nikolas berkaca-kaca. Dia telah kalah telak, memang harusnya dia tidak datang ke tempat ini.


"Ooops!" Davina pura-pura keceplosan.


Nikolas tidak tahan lagi. Dia pun segera berbalik, beranjak menuju mobilnya.


Dan saat itulah, Davina langsung kehilangan seluruh kesombongannya. Dia menyesal telah mengucapkan semua itu, harusnya dia bisa bersikap lebih dewasa. Dia pun memandangi punggung Nikolas yang menjauh. Jadi, hanya beginj saja akhir sebuah hubungan yang harusnya telah dipersatukan oleh Tuhan? Hanya dengan saling menyakiti?


"Good bye, Nik. And thank you for everyrhing," bisik Davina, kepada angin lalu, sambil melihat mobil Nukolas keluar dari halaman rumahnya.


(Selamat tinggal, Nik. Dan terima kasih untuk segalanya.)


Lalu, Nikolas benar-benar menghilang.


Davina dan Nikolas adalah pasangan yang benar-benar buruk untuk satu sama lainnya. Mereka tidak pernah menjadi penuh untuk masing-masing. Ternyata, mereka hanya saling memaksakan diri dan malah berakhir dengan saling menyakiti.


Lalu, Davina pun akhirnya menoleh pada masalah selanjutnya.


Raka telah memandanginya dengan tatapan bingung luar biasa. Kasihan sekali laki-laki ini harus terlibat sesuatu yang dia tidak ketahui sama sekali...


Dan Raka semakin bingung saat tangan Davina kembali menyentuh kedua pipinya. Sebenarnya apa yang baru saja terjadi? Bisakah seseornah membantu Raka? Karena saat ini, dia benar-benar buntu, tidak bisa mencerna apapun sama sekali.


Kemarin, dia melalui waktu untuk bermuram durja, bahkan menangis karena Davina telah memilih Nikolas. Dan hari ini, dia melalui waktu untuk menelan semua penolakan dari Davina.


Tapi kenapa barusan Davina dan Nikolas saling mencela? Saling menghina? Apa yang dia lewatkan?


"Boleh jelasin semua ini?" tanya Raka, akhirnya. Wajahnya bingung setengah mati. Seperti mendapatkan sebuah teka-teki yang tidak bisa disesaikan...


Davina langsung cengengesan...


"Gimana bisa sih Creature semaju itu sementara bosnya selemot ini?" tanyanya gemas, sambil mencubiti kedua pipi Raka.


Raka semakin putus asa.


"Devni, kamu tuh benar-benar mau bikin aku gila ya?"


***


IG : @ingrid.nadya