
Raka dan Davina kembali ke meja sambil membawa beberapa dessert.
"Emang kalau baru jadian gitu ya, ngambil dessert aja harus berdua," sindir Rara.
Raka dan Davina hanya cengengesan.
"Mau lihat kita suap-suapan juga gak, Kak?" Raka menggoda Rara. Lalu menyodorkan satu sendok panna cotta kepada Davina, yang langsung diterima Davina dengan senang hati.
"Enaaaaak, Kak. Rasa cinta!" Davina ikutan tidak tahu malu seperti Raka.
"Asli, lo pada norak banget!" Rara mengeluh.
"Mama mau muntah!" Diana ikut-ikutan.
"Babe, kamu mau aku suapin juga?" goda suami Rara. Rara mendelik. Kenapa serangan jadi kembali pada dia?
"Kamu mau aku jitak?" Rara mengancam.
"Ampun, ampun!"
Semua pun tertawa.
"Kamu juga mau aku suapin?" Dave menawarkan pada Diana.
"Gak perlu. Dulu sering sama Azel," kata Diana, enteng.
Semua tertawa lagi. Cuma Azel yang geleng-geleng.
Saat suasana kembali tenang, barulah Davina menyadari bahwa ponselnya daritadi bergetar. Dia sempat terpaku melihat nomor yang tertera di layarnya. Kenapa sekolahnya di Paris dulu menelepon dia?
"Siapa?" tanya Raka, saat melihat Davina tertegun melihat layar ponselnya.
"Ada. Bentar ya, aku jawab dulu."
Davina segera beranjak dari meja mereka, lalu berjalan ke arah lobby hotel.
"Halo?" Davina menyapa, walaupun nadanya bertanya. Dia penasaran kira-kira kenapa sekolahnya dulu menghubunginya lagi.
"Hei, Davina. Apa kabar?" Dia langsung disambut dengan logat Perancis yang familiar. Adalah Kenneth, guru kesayangannya, yang merasa paling kecewa saat Davina berhenti dari sekolahnya dulu.
"Hey, Ken. Baik dong. Kamu gimana?"
"Baik, Dav."
Davina pun diam saja, menunggu apa yang mau disampaikan oleh Kenneth.
"Kamu nunggu aku ngomong apa mauku ya?" Kenneth tertawa karena Davina tidak melanjutkan basa-basi mereka tadi.
"Kan kamu kenal aku, Ken." Davina juga ikut tertawa.
"Ya, ya. Tetap gak berubah ya."
Davina adalah orang yang sangat ambisius ketika masih di Paris dulu. Berbeda sekali dengan sikapnya yang cenderung santai saat ini, di sekolahnya dulu dia lebih sering mempergunakan waktu untuk berlatih balet ketimbang bersosialisasi.
"Jadi, aku tuh baru berkunjung ke Indonesia beberapa hari yang lalu. Dan, aku datang ke acara Nararya dan Espoir..." Kenneth menggantungkan kalimatnya.
Davina merasa tersanjung. Guru kesayangannya mau datang ke acara sekolah kecilnya. Mungkin Nararya memang sudah besar, tapi Espoir... siapa yang mengenal?
"Wow, aku tersanjung, Ken, kamu mau datang."
"Kamu murid paling berkesan, Dav. Dan kamu melakukan pekerjaan luar biasa di Indonesia. Tiara salah satu buktinya!"
Davina terharu. Dipuji oleh guru sendiri adalah salah satu prestasi terbesar dalam hidup Davina.
"Thank you, Ken."
Lalu, hening setelah itu. Davina mengira bahwa pembicaraan tersebut sudah akan berakhir. Bahwa gurunya itu benar-benar menelepon hanya untuk memuji penampilan EspoirxNararya.
Namun, tiba-tiba Kenneth lanjut berbicara.
"Jadi, Davina, aku menelepon untuk membuat sebuah penawaran ke kamu..."
Davina menunggu, lagi. Tidak pernah menyangka bahwa apa yang akan ditawarkan oleh Kenneth akan mengguncang seluruh dunianya, yang hanya baru beberapa menit terasa begitu tenang dan damai.
***
Setelah pembicaraan dengan Kenneth selesai. Davina kembali berjalan menuju meja tempat keluarganya berkumpul. Sebelum semakin mendekat, dia sengaja mengamati wajah mereka semua satu per satu. Tawaran dari Kenneth sangat menarik, tapi apakah dia akan menjadi orang yang egois jika menerimanya? Walaupun sebenarnya Davina sudah seratus persen bulat dengan keputusannya. Sebab dia sadar betul, ini adalah kesempatan sekali seumur hidup. Tidak semua orang bisa mendapatkannya.
"Telepon dari siapa?" tanya Raka, begitu Davina kembali duduk di sebelahnya.
Davina berusaha tersenyum, tapi bibirnya terasa kaku. Dia sebenarnya tidak terlalu takut memberitahu keluarganya, tapi dia teramat takut memberitahu laki-laki di sebelahnya ini.
Raka.
Satu-satunya laki-laki yang dia cintai.
Yang baru kembali padanya.
Apakah laki-laki itu akan memiliki reaksi yang sama seperti dulu?
Dan ntah bagaimana caranya, Raka mengerti bahwa ada sesuatu yang sedang dirahasiakan oleh Davina.
"Devni, you should tell me everything..." kata Raka, meyakinkan.
Raka tidak pernah mau mengulangi kesalahan yang sama. Kali ini, mereka harus mengkomunikasikan segala sesuatunya!
Davina langsung menggaruk kepala.
"Mau ngomong berdua aja?" tanya Raka.
Davina menggeleng. Dia perlu memberitahu hal ini kepada semua orang, tidak hanya Raka.
Tadinya ada pertentangan batin. Dia ingin menjelani sisa malam ini dengan sempurna, hanya dengan tawa dan candaan dengan keluarganya seperti tadi. Namun, dia tidak ingin menyimpan rahasia apapun lagi dari keluarganya.
Dan akhirnya, dia pun memutuskan untuk memberitahu segalanya. Dia berdehem untuk menarik perhatian semua orang.
"Kenapa, Dav?" tanya Diana, yang langsung menyadari bahwa Davina ingin memberitahu sesuatu.
"Tadi Ken, guru balet Davina di Paris, nelepon."
"Terus?"
"Katanya dia baru mampir ke Indonesia dan nonton acara Espoir dan Nararya kemarin. Katanya mereka lagi pengen kerja sama dengan sekolah lokal untuk bikin sekolah balet dengan kurikulum yang sama dengan mereka. Dan, mereka tertarik untuk kerja sama dengan Espoir di Indonesia."
Semua orang langsung bersorak.
Kecuali Raka. Dia menunduk, seperti memandangi sesuatu di kakinya sendiri. Sesuatu berkecamuk di hatinya. Sebab Raka tahu, selalu ada kata tapi untuk sesuatu yang baik...
Dan benar saja, saat semua orang hendak memberikan selamat kepada Davina, dia langsung terlihat enggan.
"Tapi Davina dan guru-guru Espoir yang lain harus pelatihan kurikulum mereka di Paris selama satu tahun..."
Semua orang refleks menoleh kepada Raka. Rara dan Nayla langsung waswas, takut Raka berpikir dan bertindak yang tidak-tidak.
Begitu pun yang Davina pikirkan. Sementara Raka, hanya terus menunduk.
Davina menarik nafas panjang-panjang. Ada keraguan besar di hatinya bahwa Raka tidak akan menerima semua ini, begitu saja. Namun, dia akan meyakinkan Raka bahwa ini adalah salah satu kesempatan yang harus dia ambil. Sekali ini saja, Davina akan memohon untuk memilih dirinya sendiri. Demi mimpi barunya. Demi Espoir.
"Ka..." Davina meletakkan tangannya di punggung tangan Raka.
Raka akhirnya mengangkat wajahnya.
"I have to do this..."
(Aku harus melakukan ini...)
Raka mengamati wajah kekasihnya itu sejenak. Wanita kesayangannya. Cinta sejatinya. Raka bisa saja egois, namun bukankah dia sudah bernazar bahwa tidak akan ada apapun atau siapapun juga yang akan membuatnya kehilangan Davina lagi.
Dan, akhirnya, Raka memangguk. Dengan senyum miring favorit Davina, dia pun berkata, "Yeah, you have to go. Because your dream is my dream."
(Iya, kamu harus pergi. Karena mimpimu adalah mimpiku juga.)
Airmata Davina merebak.
Davina bangkit berdiri dan segera menarik Raka agar bisa memeluk laki-laki itu seerat mungkin.
"Thank you, Ka. Thank you so much."
Raka mengelus dengan sayang kepala Davina sambil mencium puncak kepalanya.
Apapun akan dia lakukan, apapun akan dia berikan, asalkan Davina selalu bahagia. Dia tidak akan pernah lagi melakukan sesuatu yang menyakiti Davina. Termasuk mengesampingkan mimpinya sendiri.
Davina terus memeluk erat Raka. Posisinya saat ini membelakangi seluruh keluarga, sementara Raka dapat merasakan bahwa sekarang seluruh mata tertuju padanya. Dia mengangkat wajah, dan matanya bertemu dengan semua anggota keluarganya.
Mereka memandang satu kotak yang masih digenggam erat oleh Raka dengan pandangan simpatik. Yang daritadi Raka perhatikan saat Davina mengutarakan semua keinginannya.
Dia sempat bimbang, namun akhirnya memutuskan yang terbaik.
Raka tersenyum kecil.
Pelan-pelan, dia menyimpan kotak itu ke dalam saku celananya lagi. Dia sudah menyiapkan kalimat panjang yang mengharukan, juga sebuah cincin berlian besar yang kata Davina harus mencerminkan kesuksesan Creature. Seluruh keluarga juga sudah tahu dan menyiapkan dukungan penuh untuk Raka.
Tapi...
Semua itu tidak terlalu penting lagi. Davina tidak perlu tahu segalanya sekarang.
Raka hanya ingin Davina mendapatkan apapun keinginan hatinya. Meskipun itu artinya harus mengorbankan keinginannya sendiri.
Cincin itu tidak harus diberikan sekarang...
Nanti akan ada waktu yang tepat.
"This woman matters the most..." bisik Raka.
(Wanita ini lebih penting dari apapun...)
Dan semua orang langsung mengerti bahwa Raka, kini telah sepenuhnya menjadi seorang laki-laki dewasa.
***
Aaaaak anak cetan kecayanganku 🥺
IG : @ingrid.nadya