Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Bukan Sebuah Bencana



“Kamu udah makan?” tanya Raka, begitu Davina masuk ke dalam mobil.


“Belum.”


Raka terpelongo, “Dari pagi?”


Davina mengangguk.


“Kamu tuh nyari penyakit apa gimana sih?” Raka menggeram.


Davina tidak menjawab.


Raka menarik tangan Davina dan memegang pergelangannya yang kecil dan kurus.


“Kamu tuh udah kurus banget, Devni.”


“Aku cuma gak sempat. Bukan karena takut gendut.” Davina segera menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Raka.


Laki-laki itu tidak mau melanjutkan pertengkaran. Lebih baik dia fokus untuk memberikan solusi.


“Kamu mau makan apa? Literally apa aja! Kamu mau makan daging kelinci juga aku anterin ke Bogor.”


Davina tersenyum, jelas tahu bahwa Raka memang akan melakukan apa saja saat ini agar dia makan. Lalu, Davina tiba-tiba teringat sesuatu.


“Mama Nay masak apa?” tanyanya.


Dahi Raka merengut.


“Aku serius!” Davina mendesak.


“Err, aku gak tahu sih. Mau aku tanyain?”


Davina mengangguk.


Raka segera menyambungkan ponselnya yang ke nomor Nayla. Tak lama kemudian, mamanya langsung menjawab melalui speaker mobil yang terhubung dengan ponsel.


“Kenapa, Ka?” tanya Nayla.


“Mama hari ini masak apa?”


“Hm? Tumben banget nanya? Kamu mau mampir?”


“Tergantung Mama masak apa.”


“Dasar durhaka!”


“Kalau Raka baik, bumi gonjang-ganjing.”


Nayla tertawa pelan, “Iya sih.”


“Jadi, Mama masak apa?”


“Cumi saos padang.”


Davina diam-diam meneguk liurnya sendiri. Bayangan rasa pedas seperti sudah terasa di lidahnya sendiri.


“Pantesan Papa kolesterol. Dicekokin cumi mulu.” Raka menggerutu.


“Gak usah datang kamu ya! Mama gembok pagar rumah biar kamu gak bisa masuk!”


Raka terkekeh, “Kayak tega aja.”


“Ngadepin anak kayak kamu harus tega!”


Raka senyum-senyum, kangen juga mendengar omelan mamanya. Namun, dia harus fokus. Davina perlu makan!


Dia pun melirik wanita kesayangannya itu.


“Mau gak?” tanya Raka, pelan.


Davina pun mengangguk.


Nayla di ujung sana dapat mendengar Raka sedang berbicara dengan orang lain.


“Kamu lagi sama siapa sih, Ka?” tanya Nayla, penasaran.


Raka langsung menempelkan telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan agar Davina diam. Davina menurut.


“Ada deh,” jawab Raka pada mamanya.


“Serius, Ka! Katanya kamu mau ngejar Davina, kok sekarang udah sama cewek lain sih?!” Nayla terdengar marah.


“Habisnya Davina gak mau lagi sama Raka, ya udah Raka cari cewek lain aja.”


“Awas aja kamu kalau berani! Mama yang antar kamu ke neraka terdalam, gak perlu lagi malaikat pencabut nyawa!” Nayla mengancam.


“Loh?! Kok Mama yang marah sih?” Raka terkekeh lagi.


Diam-diam Davina tersenyum.


Terkadang bersama Raka memang semudah bernafas. Seperti ini. Saat Nayla malah akan menghukum anaknya sendiri demi Davina.


Ironis sekali saat ibu sang mantan kekasih jauh lebih mencintai kita daripada calon mertua sendiri.


***


Begitu melihat Raka dan Davina lah yang muncul di depan pintu rumahnya, Nayla langsung memukul bahu Raka.


“Kamu tuh jelmaan malin kundang atau gimana sih?” Nayla mengomel.


Raka terkekeh.


“Kamu kok mau sih jalan berduaan sama setan, Dav?” tanya Nayla.


Davina tertawa. Tanpa sungkan, tangannya langsung menggandeng Nayla.


“Mama Nay masak cumi saos padang ya?” tanya Davina.


“Iya. Mama kayak punya feeling deh kamu mau datang.”


Davina mengangguk. Cumi saos padang ala Nayla memang adalah salah satu favoritnya.


Mereka berjalan menuju ruang keluarga. Azel langsung menoleh begitu mendengar suara-suara.


“Halo, Dav!” Azel tersenyum.


“Halo, Pa!”


“Beneran sama Raka kesini?” Azel bertanya begitu Raka juga muncul di belakang Nayla dan Davina.


“Beneran, Pa.” Davina tertawa, lagi.


Rumah ini sangat hangat, menciptakan aura bahagia bagi siapapun pengunjungnya. Itulah yang Davina rasakan setiap kali main kesini.


“Kamu gak main dukun kan, Ka? Dilarang agama loh!” Azel menghardik anaknya.


Raka memutar bola matanya, “Papa kali yang dulu dukunin Mama. Mana ada cewek muda yang cantik mau sama kakek-kakek berstatus duda?!”


Nayla dan Davina tertawa.


“Papa kan charming. Mama kamu yang duluan suka sama Papa.” Azel membela diri.


“Halah! Omongan Papa tuh template semua bapak-bapak Indonesia!” Raka mencibir.


“Beneran kok! Ya kan, Nay?!” Azel menoleh pada Nayla.


Nayla mengangkat alis, “GR kamu!”


“Dih, gak mau ngaku! Kamu aja suka sama aku dari SMP kan?!” Azel meledek Nayla.


“Ya, ya! Ntar aja mesra-mesraannya. Raka lapar. Mau makan.” Raka berakting seakan-akan menengahi. Padahal dia hanya ingin agar Davina cepat-cepat makan.


“Ya udah. Yuk, makan, Dav.” Nayla menarik Davina ke ruang makan.


Karena umur yang sudah mulai senja, Nayla dan Azel menjadi semakin religius dari hari ke hari. Azel memimpin doa makan hari ini. Dalam doanya, tidak lupa dia meminta untuk kesehatan Davina dan kesuksesan Espoir. Davina diam-diam terharu.


Dave dan Diana bukan orang yang terlalu dekat dengan agama. Makanya, terkadang konsep agama sedikit kabur untuk Davina. Namun, berada di tengah-tengah keluarga ini, selalu mengingatkannya bahwa segalanya akan kembali kepada Tuhan.


Bahkan pulihnya hubungan Dave dan Diana yang sempat retak pun tak terlepas dari peran seorang pemuka agaam. Pendeta Jefri. Pendeta yang menikahkan Nikolas dan Davina.


Pendeta Jefri adalah kenalan Azel dan Nayla. Dialah yang menjadi salah satu tiang bertumpu bagi Diana selama Dave pergi dulu. Diana bahkan sempat mendekatkan diri pada agama selama beberapa saat. Dan hal itulah yang Davina yakini, dapat membuat Diana semudah itu memaafkan Dave. Karena di hatinya, ada damai dan kebesaran hati untuk memaafkan.


Semua alasan itulah yang membuat Davina selalu mengagumi Pendeta Jefri. Makanya, salah satu impiannya adalah dinikahkan oleh Pendeta Jefri.


Raka tahu itu.


Nikolas pun tahu itu.


Tapi keinginan sederhana itu malah menjadi awal mula semuanya. Penyebab dari segala bencana ini dimulai. Dimulai dengan perjanjian sebulan antara Raka dan Nikolas yang sebentar lagi akan berakhir.


Jadi, disinilah Davina sekarang, kebingungan setengah mati, di tengah kekacauan bencana tersebut.


“Dav, tambah dong! Makannya kok dikit banget sih!” Suara Nayla menyentak Davina dari lamunan.


“Eh, iya, Ma.” Davina menyendokkan lebih banyak cumi-cumi ke dalam piringnya. Tak menunggu lama, dia sudah melahap hidangan tersebut dengan nikmat.


Raka berusaha mengalihkan perhatian Azel dan Nayla agar tidak tertuju pada Davina. Wanita kesayangannya itu sedang makan dengan lahap, jangan sampai sebuah perhatian mengusik seleranya.


“Alis Papa udah ubanan juga ya?” celetuk Raka.


Azel melirik Raka dengan jengkel, “Ya, masa rambutnya ubanan, alisnya enggak? Emang Papa itu kucing yang bulunya belang-belang?”


Raka terkekeh.


“Mama pengen deh ajak kamu liburan, Ka,” kata Nayla.


“Kok tiba-tiba? Liburan kemana?” tanya Raka, heran.


“Ke Dubai yuk?! Katanya disana ada Burj Khalifah, gedung tertinggi di dunia.”


“Iya, terus?”


“Ya, pengen aja naik sampe ke lantai paling atas, ngelihat pemandang kota Dubai, lampu-lampu kota. Terakhir, Mama jorokin kamu dari lantai paling atas!” Nayla merepet.


Raka tertawa sambil berkata, "Jahat!"


"Kamu tuh iblis neraka jahanam!"


“Mama ratu iblisnya kalau gitu!” balas Raka.


Mereka semua pun tertawa melihat ibu dan anak itu saling meledek.


Davina diam-diam mengamati keluarga itu. Apa tadi katanya? Awal mula bencana?


Well, keluarga ini bukanlah sebuah bencana untuknya. Mereka justru menjadi sebuah berkat yang harus dia syukuri dalam hidupnya.


Harusnya dulu dia lebih erat memegang Raka, sekuat apapun laki-laki itu mencoba melepaskannya...


***


IG : @ingrid.nadya