Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
You’re All And More



Davina berkali-kali menelepon nomor Raka. Namun, laki-laki itu tidak menjawab panggilannya sama sekali.


“So sorry, Dav…” gumam Nikolas, tidak enak, juga untuk kesekian kalinya. Dia melirik Davina dari spion mobil.


“It’s not your fault, Nik,” jawab Davina. Karena memang ini bukan salah siapa-siapa. Tadi Davina harusnya menunggu dengan tenang saja di Nararya, bukannya pergi bersama Yuni dan Nikolas. Raka juga seenaknya pergi tanpa mendengarkan penjelasan apapun. Ini jelas kesalahan mereka berdua.


“Gue juga minta maaf banget ya, Dav. Tadi gue tuh ketemu temen lama di toilet, jadi ngobrol dulu. Gue emang bego banget.” Yuni menyesal.


“Never mind, Yun. Paling kalau udah ketemu, kita baikan. Raka kalau marah cepet kok selesainya.” Davina berusaha nyengir.


“Tapi gue tetep gak enak. Mau gue aja yang jelasin sama Raka?” tanya Yuni, lagi.


“Gak usah, Yun. But thanks for offering.”


Davina memang orang yang sangat tertutup perihal hubungan pribadinya. Dia tidak ingin orang lain tahu apapun masalahnya dengan kekasihnya.


“Jadi, lo mau dianterin kemana, Dav?” tanya Nikolas lagi.


Davina pun menyebutkan nama apartemen Raka.


Yuni menolehkan wajahnya lagi pada Davina, “Lo yakin Raka udah pulang?”


Davina mengangguk, “Yakin, Yun.”


“Oke.”


Mobil pun melaju ke arah apartemen Raka.


Sesampainya disana, sebelum membuka pintu, Davina berkata, “Thanks for everything ya, Yun, Nik. Sorry for making a scene. Maaf udah bikin kalian ngerasa gak nyaman.”


“Ya ampun! Gak apa-apa, Dav. Justru kita yang gak enak.” Nikolas ternyata masih merasa bersalah.


“Just call me if you need me,” kata Yuni.


Davina mengangguk, lalu segera keluar dari mobil Nikolas.


Mereka berdua menatap kepergian Davina.


“Such a pure soul, right?” Yuni bergumam.


“He’eh. Kayak malaikat. Emang orangnya sebaik itu atau cuma…”


Yuni memukul bahu Nikolas, “Davina emang sebaik itu.”


“Iya, iya! Jangan ngamuk! Just wondering… kok bisa ada sih cewek sebaik itu?” Nikolas juga ikut bergumam.


“Banyak ya! Mantan lo aja kali yang jahat!” Yuni menyindir.


Nikolas terkekeh.


“Tapi sayang ya Davina udah punya pacar,” kata Nikolas, lagi.


“Yep! Sayang udah punya pacar! Tapi kalau pun belum, gue gak rela dia sama lo.”


“Hahaha. Kenapa?”


“Karena cewek sebaik itu harusnya pacaran sama Nabi!”


Nikolas tertawa lagi.


“Jadi pacarnya sekarang sesempurna Nabi?”


“Nabi? Raka mah Dajjal! Udah ah, jalan yuk?”


Nikolas tertawa. Meski penasaran apa maksud Yuni, dia memutuskan untuk memendam rasa penasarannya.


Belum waktunya…


Pikir Nikolas, sambil melajukan mobilnya.


***


Davina bersandar di depan pintu apartemen Raka. Sudah berapa lama dia berada disini? Empat jam? Lima jam? Tapi Raka masih tidak juga muncul.


Dia sudah mencoba menghubungi Nayla, jaga-jaga apakah kekasihnya itu pulang ke rumah orangtuanya. Tapi Nayla juga tidak tahu keberadaan Raka sama sekali.


Jadi, dia hanya bisa menunggu disini.


Bodohnya Davina, sudah lima hari dia berada di Indonesia, tapi kenapa dia tidak pernah bertanya tentang password kunci otomatis apartemen Raka. Dia sudah mencoba memasukkan tanggal ulangtahun Raka sendiri, orangtuanya, tapi tidak ada satu pun yang berhasil.


Dia pun hanya bisa menunggu di luar.


Dia akan pulang ke Paris dua hari lagi. Dia sama sekali tidak ingin masalah ini mengganggu hubungannya dengan Raka. Mereka sudah berhasil menjalani hubungan ini selama setahun lebih. Tidak pernah ada pertengkaran yang berarti. Jarak dan beda waktu tak pernah kadi masalah.


Raka adalah segalanya untuknya, bahkan lebih. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau…


Dia bahkan tidak berani mengucapkannya.


Dia pernah sekali kehilangan Raka.


Dan dia tidak ingin merasakan kegilaan itu untuk kedua kalinya.


Davina mengetikkan sesuatu di ponselnya.


Davina : Sayang, kamu dimana?


Berapa lama pun dia mengamati ponselnya, tak juga ada balasan. Ironis sekali rasanya, dia malah memanggil Raka pertama kali dengan panggilan ‘sayang’, justru di saat keadaan kacau balau seperti ini.


Davina duduk di lantai sambil mengamati ponselnya. Raka tidak juga membaca pesannya. Dia juga tidak sekali pun terlihat online di aplikasi pesan tersebut.


Sepertinya Davina akan berada disini lebih lama lagi…


***


Davina sudah hampir menyerah untuk menunggu Raka. Namun, saat itulah, sebuah sosok muncul.


Raka keluar dari lift, membuat Davina lega sekaligus kaget luar biasa. Lega karena kekasihnya pulang, namun juga kaget karena wajah Raka saat ini terlihat sangat merah.


Wajah Raka perlahan berubah ketika menyadari kehadiran Davina. Bukan berubah melembut seperti biasanya. Ekspresinya justru berubah kaku.


Dan saat Raka mendekat, Davina dapat mencium bau alkohol dari tubuh Raka. Davina sempat kaget. Saat acara keluarga, Raka memang diperbolehkan minum oleh orangtuanya. Tapi tidak pernah sampai seperti ini. Raka sebenarnya kenapa?


Raka bersih keras untuk tidak membicarakan semua ini dengan Davina malam ini. Sebenarnya Raka ada benarnya. Raka mabuk, dan Davina pun lelah.


Tapi, siapa yang bisa menyalahkan Davina? Dia sengaja pulang ke Indonesia untuk bertemu kekasihnya. Namun, bukannya menjalani hari-hari yang bahagia, Davina malah dibuat merana terus-menerus oleh Raka.


Bahkan hari ini, sejujurnya bukanlah sepenuhnya salah Davina. Raka yang duluan lupa menjemputnya. Namun, dia membuang seluruh egonya, agar masalah ini cepat selesai.


Dia telah belajar dari hubungannya yang dulu dengan Raka. Dia tidak ingin meninggalkan Raka untuk merenung sendirian. Hasilnya tidak pernah baik untuk hubungan mereka.


Namun, karena Davina terus mendesak, Raka tiba-tiba berteriak, “Aku bilang besok!!!”


Davina terdiam.


Raka tidak pernah sekasar ini. Rakanya tidak pernah memakinya seperti ini. Airmatanya langsung menggenang.


Raka sempat tertegun saat melihat Davina hampir menangis. Namun, dia segera berpaling.


“Makanya aku bilang bahasnya besok aja!” Nada Raka tidak juga memelan. Dia bahkan menyentak pintu sampai terbuka dengan kelewat kasar.


Davina merasa nyeri yang teramat hebat di hatinya. Seluruh perasaan yang dia coba tahan sejak awal dia tiba di Indonesia meronta.


“Raka…” Davina memanggil, lirih.


Raka berhenti.


“Aku ini emang cuma sekedar omong kosong ya buat kamu?” Suaranya bergetar.


Tanpa menoleh sama sekali Raka menjawab, “Kalau itu, menurut kamu…”


Lalu dia membanting pintu tepat di depan wajah Davina.


Airmata Davina langsung mengalir.


Untuk pertama kalinya, dia mendapat perlakuan sekasar ini. Dia benar-benar tidak terima! Dia melakukan segalanya untuk Raka, membiarkan dirinya terlihat bodoh di depan teman-temannya, membela laki-laki itu dimana pun, tapi apa yang dia peroleh.


“Masa bodoh dengan perasaanku! Kamu emang gak pernah pantas dapetin aku lagi!” gumam Davina, sambil mengusap air matanya.


Dia berjalan menjauh meninggalkan apartemen Raka.


Davina dapat mendengar pintu apartemen Raka terbuka lagi, namun Davina sudah tidak peduli.


“Devni…” panggil Raka.


I don’t care anymore…


Pikir Davina, sambil berlari menjauh dari unit Raka.


***


Semoga hari ini aku bisa update 2 bab ya. Ditunggu aja 🤍