
Damian terpaksa membawa istrinya ke apartemen karena jaraknya lebih dekat dari restoran tempat pertemuan mereka dengan Jakob dan Davina . Walau sudah sadar tampaknya kelinci kecilnya masih sangat marah hingga menatapnya pun rasanya enggan . Ya , Ranaa sempat pingsan sebentar tadi mungkin karena shock mendengar jika wanita itu sudah sah menjadi miliknya ... Ranaa sudah menjadi istrinya !
Bahkan ketika mereka tiba di area apartemen Ranaa tidak bertanya apapun , wanita itu tetap mengikuti langkahnya menuju lantai dua tempat unit apartemennya berada . Damian berpikir mungkin Ranaa ingin berdebat dengannya secara pribadi , bukan di tempat umum .
" Marahlah jika ingin marah ... "
Sampai di dalam apartemen Ranaa tetap berdiri walau suaminya sudah duduk di sofa ruang tamu . Sedang Damian siap mendengar apapun isi hati istrinya , caranya untuk mendapatkan kelinci kecilnya mungkin salah . Tapi menurutnya hal itu adalah satu satunya jalan yang efektif agar gadis itu bisa hidup dengan tenang .
" Jadi pagi tadi yang aku tanda tangani adalah akta nikah ?? Bukan surat perjanjian sewa rumah ? "
Damian menjawabnya dengan sebuah anggukan , raut marah itu tampak begitu menggemaskan untuknya . Gadis di depannya terlihat berkali kali menarik nafas dengan tangan yang bergerak naik turun seakan mengontrol ritme nafasnya .
" Kenapa kau harus berbuat seperti ini ?! Kenapa kau membuat keputusan sebesar ini tanpa adanya persetujuan dariku ?? Pernikahan ini bukan hanya tentang dirimu ... Ini juga tentang hidupku !! " seru Ranaa dengan tatapan tajam menghunus pada pria yang masih duduk dengan tenang di depannya .
" Jika tidak salah mereka sudah memintamu untuk membaca berkas yang akan kau tanda tangani . Kau juga menjawab jika kau dengan suka rela dan dengan kesadaran penuh menerima apapun yang menjadi poin dari berkas yang sudah disodorkan untukmu . Kau juga sangat yakin menjawab " mengerti ' ketika salah satu dari mereka bertanya tentang hal dan kewajiban yang kau punya setelah kita sah menjadi suami istri " kata Damian mengingatkan semua yang terjadi pagi tadi .
" Tapi itu .... "
" See ?? Kau sangat ceroboh dan itu membuat orang orang disekitarmu bisa dengan mudah memanfaatkan dirimu . lbumu sedang memasang perangkap baru yang akan membawamu pada seorang pengusaha kaya dari negara XX yang sedang mempunyai kunjungan bisnis di negara ini . Pria tua itu bahkan sudah mempunyai cucu . Dan jalan satu satunya agar aku bisa melindungi mu adalah membuat dirimu masuk dalam hidupku ! Davina tidak akan bisa memanfaatkan kebodohanmu karena sekarang kau adalah istriku . Kau sudah menjadi Nyonya Kahl, bukan lagi Nona Smith !! "
Ranaa tampak duduk bersandar di kursi dengan memejamkan kedua matanya . Pikirannya sedang berusaha berpikir positif agar ia tidak terlalu khawatir tentang apa yang akan terjadi kedepannya . Mungkin maksud pria di depannya baik , tapi menjadi istri dari seorang Damian Kahl benar benar tidak terpikir olehnya .
" Berapa lama aku akan menjadi istrimu ? Maksudku bukannya kau melakukan ini agar ibu tidak melakukan hal gila lagi !? Bagaimana jika suatu saat dia sadar dan kemudian menghentikan aksi aksi konyolnya untuk menjodohkan aku dengan pria kaya ?? "
Pertanyaan itu membuat Damian menegakkan punggungnya , hati Ranaa menciut ketika melihat pria dengan wajah berparut itu menatapnya dengan tajam .
" Kau yang membuat aku berpikir seperti itu ! Jangankan rasa cinta kita bahkan belum mengenal satu sama lain " sahut Ranaa dengan mata sinisnya .
" Tapi bukan berarti jika aku akan mempermainkan sebuah pernikahan . Aku tidak akan memaksamu untuk melakukan hak ataupun kewajibanmu sebagai istriku . Tapi berjalannya waktu kau harus belajar tentang semua itu , karena suatu saat sebagai suami aku berhak meminta peranmu sebagai istriku "
" Jadi itu artinya mau tidak mau kita harus ... " Ranaa menyatukan dua telunjuknya seakan menyiratkan tentang penyatuan yang akan terjadi suatu saat nanti .
" Kau keberatan ?! "
" Ckk itu akan sangat sulit " cicit Ranaa , menurutnya kegiatan ranjang sangat berhubungan dengan perasaan . Lagipula sulit ia bayangkan jika suatu saat ia harus berbagi peluh dengan pria dewasa didepannya . Jarak usia mereka cukup jauh , ditambah badan pria itu yang menurutnya sangat padat dan ' oversize ' . Walau belum pernah tersentuh sedikitpun oleh seorang pria tapi sebagai gadis cukup umur dia kurang lebih tahu tentang apa yang disebut kegiatan ranjang .
PLETAKKK ...
" Awsssshhhh .... "
" Apa yang kau pikirkan gadis nakal !!?? " Damian menyentil lembut kening gadis yang tampak berpikir dengan sangat serius itu .
" Aku tidak memikirkan apapun " sahut Ranaa dengan wajah merona . Entah tapi sekarang ini dia berharap jika dia bisa segera menghilang dari hadapan pria yang menyebut diri sebagai suaminya .
" Sebaiknya sekarang kita istirahat karena banyak yang harus kita lakukan besok "
" Memang ada apa dengan besok !? " tanya Ranaa dengan sikap waspada .
" Besok adalah hari pertamamu belajar menjadi istri Damian Kahl ! "