
“Devni,” panggil Raka. Tapi Davina cepat-cepat berjalan menuju kamarnya. Sebenarnya mudah bagi Raka untuk mengejar Davina, tapi dia tidak mau ditendang lagi untuk kedua kalinya. Jadi dia membiarkan Davina masuk ke dalam kamarnya dengan mudah. Raka sudah mencoba memutar knop pintu, tapi Davina sudah menguncinya.
“Devni,” panggil Raka, lembut, sambil mengetuk pintu.
Tapi, hening. Tidak ada jawaban.
Raka menghela nafas, menyandarkan kepalanya ke pintu, dan berkata, “Selamat istirahat, Devni.”
Davina tetap tidak mau menjawab.
Raka menutup matanya, rasanya dia hampir gila sebentar lagi. Sikap Davina sangat membingungkan. Sebentar dia memberi harapan, sebentar dia menjauh. Tadi dia mencium, sekarang dia sama sekali tidak mau membuka pintu untuk Raka.
Raka benar-benar frustasi.
“Let me love you, Devni,” bisik Raka.
(Biarin aku mencintai kamu, Devni.)
Dia tidak berharap didengar. Bahkan dia sengaja mengucapkannya dengan sangat pelan. Ucapannya menyedihkan, dia tahu itu. Meminta seseorang yang telah berkali-kali disakiti untuk kembali padanya.
Perasaan Raka untuk Davina begitu besar. Begitu egois. Mungkin memang begitulah cinta. Pada akhirnya, cinta itu menuntut. Menuntut kepemilikan, menuntut balasan.
Sebab cinta sendirian seperti ini, sungguh menyakitkan.
Ponsel Raka bergetar. Rasanya ingin dia abaikan, namun sepertinya ada yang berkali-kali mengiriminya pesan.
Raka pun akhirnya menegakkan kepalanya, mengambil ponsel dari kantong celana, dan memeriksa pesan tersebut. Dari Albert.
Albert : Need discussion. Call me asap.
(Perlu diskusi. Hubungi gue secepatnya.)
Selebihnya hanya berisi ping-ping panjang dari Albert. Raka menggaruk kepala. Melihat betapa intens-nya Albert menghubunginya, pasti ada sesuatu yang penting untuk didiskusikan.
Raka segera berjalan menjauh dari kamar Davina, menekan nomor Albert. Hanya butuh satu nada panggilan untuk Albert menjawab teleponnya.
“Kenapa, Bert?” tanya Raka.
“Lo dimana? Ketemu dulu dong.”
“Kenapa? Ada masalah?”
“Kagak! Udah deh, lo dimana? Apartemen? Gue samperin ya?”
“Enggak. Kenapa sih? Bikin penasaran.”
“Ntar aja ngobrolnya pas ketemu. Lagi di deket kantor gak?”
“Tiga puluh menitanlah.”
“Ya udah, ketemu disana deh.”
“Penting gak?”
“Emang gue pernah ganggu lo kalau gak penting? Gue kan gak tahu lo lagi sibuk ngapain, malas gue gangguin.”
Raka cengengesan. Dia benar-benar pemimpin yang buruk akhir-akhir ini. Banyak tanggung jawab yang dia berikan untuk Albert. Untung saja, temannya tidak pernah mempermasalahkan keabsenannya.
“Maaf, maaf. Ada hal penting lain,” kata Raka, sambil mengelus tengkuknya. Dia tentu merasa bersalah pada Albert.
“Never mind,” jawab Albert, tulus.
Sebenarnya, Albert tahu apa yang membuat perhatian Raka terpecah akhir-akhir ini. Dia sudah mendengar semuanya dari Tia.
Albert mengenal Davina. Pernah melihat cara Raka memperlakukan wanita itu. Dia yakin betul, tidak akan pernah ada orang lain yang dapat menggantikan Davina di hati sahabatnya.
Jadi, dia biarkan Raka mati-matian berjuang saat ini. Karena sejujurnya, dia selalu sedikit merasa bersalah dengan putusnya hubungan Raka dan Davina. Keadaan mereka dulu begitu tidak baik. Seandainya dia dulu bisa menjadi penenang Raka. Tentu sahabatnya itu tidak akan mengambil keputusan gegabah.
“Ya udah, gue ke kantor sekarang deh ya,” kata Raka.
“Okay, see you.”
Mereka pun memutuskan hubungan telepon.
Raka segera berjalan, sengaja melewati ruang keluarga untuk pamit.
“Davina mana?” tanya Raka, melihat Raka.
“Di kamar.”
“Baik-baik aja kan?”
“Gak tau. Gue ditinggalin gitu aja.” Raka menggedikkan bahu.
Dave tertawa. Raka mendengus. Dia mendekat pada Keysha, mencium kepala keponakannya lembut, lalu pamit, “Om pergi dulu ya.”
Keysha mengalungkan tangannya di leher Raka untuk memeluknya sekilas, lalu melepaskannya.
“Mau kemana?” tanya Rara.
“Ke kantor. Ada urusan. Pergi dulu ya!” Raka melambai, lalu segera berjalan menuju mobil.
Saat dia membuka pintu, ponselnya bergetar lagi. Begitu melihat pengirimnya, dia langsung tersenyum.
Davina : Mau kemana?
Raka menoleh ke jendela kamar Davina. Wanita kesayangannya itu sedang berdiri disana menatapnya.
Satu pesan masuk lagi.
Davina : Jawab!
Raka : Kantor, dipanggil sama Albert.
Pesan langsung terbaca, Raka menoleh lagi ke jendela. Tapi, Davina sudah menghilang.
“Gue benar-benar gila bentar lagi!” Raka mengeluh sambil geleng-geleng kepala. Dia segera masuk ke dalam mobil dan melajukannya. Benar-benar tidak habis pikir Davina langsung menghilang begitu tahu bahwa dia hanya pergi ke kantor.
***
Jalanan Jakarta benar-benar macet hari ini. Raka baru tiba di kantor satu jam kemudian.
“Rajin amat lo, dua kali seminggu ke kantor!” Tia langsung menyindir, begitu melihat Raka.
“Dipanggil sama Albert,” jawab Raka.
“Oh, dia udah di ruang meeting daritadi.” Tia menunjuk sebuah ruangan.
“Kabar baik atau kabar buruk sih?” tanya Raka.
Tia hanya menggedikkan bahu.
“Serius, Ti!” Raka menggerutu.
“Mending lo langsung ketemu Albert aja!”
“Asli ya, lo sama Albert sama aja nyebelinnya!”
Tia menggedikkan bahu, tidak peduli dengan nada kesal bosnya itu. Raka pun berjalan ke arah ruang meeting, selambat mungkin. Well, kejadian yang dulu sebenarnya masih sedikit menghantui Raka. Dia selalu takut, kalau akan ada lagi masa-masa dimana dia harus berhadapan lagi dengan masalah besar.
Namun, dia memantapkan hati saat membuka pintu ruangan meeting. Disana hanya ada Albert dan Liana. Jantung Raka semakin dangdutan begitu menyadari kehadiran Liana. Diskusi dengan membawa direktur keuangan membuatnya berpikir ada yang tidak beres dengan pendanaan Creature.
“Katanya tiga puluh menit doang,” sindir Albert, begitu melihat Raka muncul.
“Macet banget jalanan.” Raka memberikan alasan seadanya. Lalu mengambil tempat duduk di sebelah Albert.
“Kenapa sih sampe suruh gue datang?” tanya Raka.
Albert menyadari wajah tegang Raka.
“Menurut lo kenapa?” Albert bertanya balik, berniat mengisenginya.
Raka mengelus tengkuk, sambil menatap Albert dan Liana bergantian, “Ada masalah sama investor?”
“Iya.”
Raka menarik nafas, “Kenapa lagi?”
“Mereka ada rencana untuk jual saham mereka.”
“Hah?!” Jantung Raka seperti dicabut dan dibanting kuat-kuat ke tanah.
Albert langsung tertawa.
“Kok lo malah ketawa?” Raka kebingungan.
Albert tertawa semakin kencang, “Tebak dong siapa yang mau beli.”
“Siapa?”
Albert tersenyum lebar. Lalu menyebutkan sebuah perusahaan raksasa teknologi global, Olsen. Bahkan meski Creature sudah sangat bertumbuh seperti sekarang ini, harusnya belum sampai di radar perusahaan sebesar Olsen.
“Lo kalau ngerjain gue, gue tampol ya, Bert.” Raka mengancam.
“Siapa coba yang ngerjain!” Albert tidak juga berhenti tertawa.
“Kapan denger kabarnya sih? Tapi kenapa bukan gue yang diapproach ya?” Wajah tegang Raka sudah berubah menjadi wajah antusias. Akhirnya dia mengerti kenapa Liana dibutuhkan saat ini. Proses pembelian saham sebuah perusahaan selalu melalui proses yang cukup panjang. Salah satunya, mengetahui nilai perusahaan yang sesungguhnya. Dan pasti Liana yang akan mengurusi semua itu nantinya. Raka sudah membayangkan akan berurusan dengan KJPP, auditor atau firma hukum independen. Namun, segala keribetan itu malah membuat Raka semakin bersemangat.
Kembali lagi ke Albert. Begitu mendengar pertanyaan Raka, dia sekonyong-konyong tersenyum.
“Karena salah satu petinggi disana lebih deket sama gue, dibandingin lo,” katanya, sambil tersenyum lebar.
“Hah?! Sejak kapan lo punya koneksi ke perusahaan sebesar Olsen?” Dahi Raka berkerut.
Tapi belum sempat pertanyaan Raka terjawab, pintu ruangan tiba-tiba menjeblak terbuka.
Raka kaget dan menoleh.
Dan dia tertegun begitu melihat siapa yang datang. Saat ini, di pintu berdiri sebuah wajah tak asing.
“Kenapa lo disini???” tanya Raka, dengan nada yang meninggi. Bukan marah, dia lebih ke... kaget?
Penampilan orang tersebut, yang dulu begitu seadanya, kini telah berubah total. SEJAK KAPAN DIA MEMPERHATIKAN PENAMPILANNYA?!
Belum sempat otak Raka berfungsi secara sempurna, Albert sudah berkata lagi, “Ka, jangan galak-galak dong. Bentar lagi Jules jadi investor baru kita loh.”
Mata Raka membelalak sempurna.
“Ini dia, koneksi gue ke Olsen.” Albert menunjuk Julia.
Raka semakin bingung.
Sementara Julia, di ujung pintu, sudah tertawa terbahak-bahak. Meski penampilannya sudah secantik dan sesempurna sekarang, sikap slebor Julia ternyata tidak pernah berubah.
"Long time no see, Raka!" sapa Julia, sambil mengangkat tangan.
***
IG : @ingrid.nadya