Trapped By The Devil

Trapped By The Devil
Epilog : Trapped By The Devil Forever



Setahun kemudian...


Davina menunggu sambungan telepon dijawab dengan jantung yang memompa dengan cepat. Sekali panggilan, tidak diangkat. Dua kali panggilan, tidak juga diangkat.


Third time's the charm!


Davina berdoa, dalam hati.


Dan, telepon pun tersambung.


Wajah kesal kekasihnya muncul di layar ponsel.


"Kenapa nelepon?" sahut Raka, dengan nada bete luar biasa.


"Kamu udah baca chat aku?" tanya Davina, basa-basi. Padahal dia sudah melihat tanda centang biru yang menandakan bahwa Raka sudah membaca pesannya.


"Udah."


"Jadi..." Davina sengaja menggantungkan kalimatnya.


"Kamu masih berani nanya?" Raka gemas sendiri.


Apalagi yang Davina bisa lakukan, selain nyengir dan garuk-garuk kepala sendiri?


Raka memutar bola matanya.


"Kamu udah stay di Paris lebih dua bulan dari yang kamu janjiin, Devni. Dan sekarang kamu mau nambah enam bulan lagi?"


"Aku masih harus nemenin guru-guru yang lain, Ka. Please? Kali ini bener-bener cuma nambah enam bulan lagi. Kalau setelah enam bulan, aku masih macam-macam juga, aku rela kamu nyeret aku pulang ke Indonesia."


"Aku gak mau nyeret orang yang gak pengen pulang."


"Ngomongnya jangan gitu, sayang."


Raka mengalihkan pandangannya saat dipanggil sayang oleh Davina. Dia tidak ingin tergoda untuk lupa pada kekesalannya hanya karena tumben-tumbenan Davina memanggilnya seperti itu.


"Yah, dicuekin deh..." Davina mengeluh, saat Raka mulai pura-pura tidak memperhatikan dirinya.


"Nanti aja deh kita bicarain lagi, aku masih kerja."


Davina menghela nafas. Namun, akhirnya menurut. Mereka pun memutuskan hubungan telepon. Davina hanya bisa berharap bahwa kali ini, dia masih dimaafkan oleh Raka. Dia benar-benar butuh waktu sedikit lagi. Enam bulan saja. Setelah itu, dia akan kembali lagi ke pelukan Raka.


***


"Davina?" Albert dan Tia menggoda, begitu Raka memutuskan hubungan telepon.


"Siapa lagi?" Raka mengeluh.


"Kenapa dia? Muka lo kayak kesel banget."


"Harusnya dia pulang malam ini. Tapi dia cancel karena ternyata dia diminta extend kerjaannya disana enam bulan lagi."


"Kalau lo sayang, lo dukung dong."


Raka kehabisan cara untuk menjelaskan tanpa menjadi pihak yang disalahpahami. Dia pun mengambil sesuatu dari kantong celananya. Sebuah kotak. Lalu meletakkannya di depan Albert dan Tia.


Mereka tercengang.


"Harusnya gue ngelamar dia besok. Gue bahkan udah booking satu kapal di Pantai Marina. How stupid..." Raka memaki diri sendiri.


Albert dan Tia kini merasa simpatik.


"Kenapa gak lo susul aja?" tanya Tia.


Raka menggaruk kepala. Dia melirik Albert dengan sungkan. Albert pun akhirnya menghela nafas. Selama setahun belakangan, Raka sudah mencurahkan seluruh jiwa dan raganya lagi kepada Creature. Perusahaan mereka sudah jauh lebih berkembang lagi. Jadi, harusnya semua keabsenan Raka dulu sudah termaafkan. Dan kali ini, mungkin dia akan meminta absen lagi.


"Ya udah..." keluh Albert.


Raka langsung berbinar. Dia langsung bangkit berdiri, lalu mencium pipi Albert.


"Thank you, Bert."


Albert langsung mendorong jauh-jauh Raka.


"Najis lo!!!"


Raka tertawa. Dia menoleh pada Tia.


"Kalau lo, minta Albert aja yang cium. Gue gak mau dibunuh Davina. Ya udah, gue cabut dulu ya. Bye semuaaaa!"


Raka meninggalkan Albert dan Tia berduaan.


"Eh, buset. Dia mau sekarang banget tuh ke Parisnya?"


***


Raka menunggu di pesawat dengan gelisah. Sudah belasan jam dia tidak bisa dihubungi oleh Davina, semoga dia tidak khawatir.


Raka pun membuka kotak yang masih tersimpan di sakunya itu, mengamati cincin yang sudah dia beli dari setahun yang lalu.


Belum pernah sebelumnya, dia berpikir seyakin dan semantap ini. Memang Davina selalu jadi pengecualian untuknya. Hanya wanita itu yang bisa membuat Raka berpikir untuk settle down di usia yang baru menginjak dua puluh enam tahun.


Dan ketika pesawatnya mendarat di Bandara Charles de Gaulle saat itu, dia sudah menyiapkan banyak kalimat untuk mengatakan seluruh niat hatinya kepada satu-satunya wanita yang pernah dia cintai di seumur hidupnya.


***


Begitu keluar dari kelasnya, Davina mencoba menelepon lagi nomor Raka. Sejak tadi, ponsel kekasihnya itu mati, tidak bisa dihubungi. Dia sudah mencoba menghubungi Nayla, tapi katanya, Raka mungkin hanya sedang ketiduran di apartemennya.


Dan Davina senang bukan main ketika kali ini ada nada panggil. Berarti ponsel kekasihnya sudah menyala.


"Sayaaang? Darimana aja sih?!" keluh Davina. Salah satu tekniknya untuk menghindari ambekan Raka yang berkepanjangan adalah bersikap manja seperti ini.


"Ada urusan dikit tadi. Kamu dimana?" jawab Raka. Davina bisa mendengar nada bicara Raka sudah berubah, tidak lagi sekesal tadi.


"Urusan apa? Aku masih di Noir, baru kelar kelas." Davina berjalan menuju pintu depan sekolahnya.


Raka tidak menjawab lagi.


"Rakaaaa... urusan apa, woy?!" rengek Davina, sambil membuka pintu depan sekolahnya.


Dan, tiba-tiba dia merasa jantungnya berdegub seratus kali lipat dari biasanya. Apakah benar penglihatannya saat ini?


Sosok yang terlihat sangat mirip dengan Raka tampak melambaikan tangan pada Davina.


"Ini urusannya." Raka nyengir.


Airmata Davina merebak, dia langsung berlari menuju Raka.


***


Raka tidak pernah berpikir akan kembali menyusuri jalanan Paris untuk kedua kalinya. Musim yang sama, salju yang membekukkan. Bahkan tujuan Raka datang pun sama, yaitu untuk memenangkan Davina.


Saat dia menunggu di depan gedung sekolah Davina, dia berusaha berlatih seluruh kalimat romantis yang dia ingin ucapkan. Namun, segalanya langsung menghilang begitu dia melihat bayangan Davina di pintu transparan gedung sekolah tersebut.


Begitu mata mereka bertemu, seluruh rasa rindu di hati Raka langsung membuncah. Apalagi ketika Davina, dengan spontan, berlari menuju Raka.


Raka sudah tidak peduli lagi.


Dia merentangkan tangannya lebar-lebar, menyambut Davina.


Davina sama tidak pedulinya. Dia melempar tasnya ke sembarang arah, lalu berlari, dan langsung melompat ke pelukan Raka sesaat kemudian.


Raka tersenyum. Untung selama Davina pergi, dia tetap rajin berolahraga. Jadi menggendong Davina seperti ini bukanlah perkara sulit untuknya.


Davina mengaitkan kakinya di pinggang Raka, dan mengalungkan tangannya di tengkuk kekasihnya itu. Dia langsung menciumi Raka, "I miss you so much, Elraka. Oh My God, how much I miss you..."


Raka tersenyum saja. Tidak banyak yang bisa dikatakan. Jadi, dia sambut saja ciuman Davina sambil menumpahkan seluruh kerinduannya disana.


Tapi Raka tahu kerinduan itu tidak akan pernah tuntas.


"Devniiii," bisik Raka, di sela-sela ciuman itu. Sulit rasanya berkonsentrasi untuk mengingat apa yang harus dikatakan saat Davina menyerangnya seperti ini.


Davina menolak untuk mendengar Raka. Dia masih terlalu sibuk dengan bibir kekasihnya itu.


Dan setelah berjuang mati-matian, akhirnya Raka dapat melepaskan diri.


"Kenapa dilepas sih?!" Davina protes.


"Aku harus ngelakuin sesuatu. Ini, bisa dilanjut lagi nanti."


"Mau ngelakuin apa emangnya?"


"Gak bisa kalau kamu gelendotan terus kayak gini. Turun dulu."


"Gak mau!"


"Ya ampun, Devni, percaya sama aku kali ini."


"Enggak!"


"Devni, please..."


"Enggaaaaak!"


Raka tidak punya pilihan lain lagi. Dia mengorek kantongnya, dan segera menunjukkan kotak tersebut pada Davina.


"OH MY GOOOOD!" Davina tercengang.


Dia refleks turun dari gendongan Raka.


"Nakal sih! Makanya nurut!"


Davina menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca. Bagaimana tidak? Ini Raka yang kita maksud! Manusia yang sepertinya tidak ada rencana menikah di umur kepala dua!


Davina semakin tidak percaya, ketika Raka berlutut dengan satu kaki di hadapannya.


"Sebelum kesini aku udah ngerangkai ribuan kalimat romantis untuk ngelamar kamu. Tapi karena ciuman kamu barusan, semuanya hilang dari kepalaku..."


Davina tertawa si tengah airmata yang menetes di pipinya.


"Jadi, ini benar-benar yang aku rasain sekarang, maaf kalau kata-katanya kurang bagus."


"Just propose already!!! Jangan ngerusak suasana!!!" gerutu Davina.


(Udah sih lamar aja!!!)


Raka tertawa.


"Davina Elisabeth Mahardhika, kamu adalah satu-satunya orang yang bikin aku terbang ke Paris buat menangin kamu, dua kali. Kamu bikin aku gagalin pernikahan di gereja. Kamu bikin aku ngomong sama ikan. Kamu bikin aku jadi raja drama di depan keluarga kita. Tapi aku gak peduli. Aku bakal lakuin semua hal itu berulang kali, kalau dibutuhkan, karena semuanya terasa layak. Kamu selalu jadi satu-satunya yang layak untuk menyebabkan semua kegilaan ini."


Davina tertawa. Kalimat lamaran paling menggemaskan di seluruh jagat bumi. Raka selalu unik. Dan betapa beruntungnya Davina hanya dia yang bisa memiliki laki-laki seunik Raka.


"'Jadi, karena kamu udah bikin aku segila ini. Kamu mau kan bertanggung jawab dengan menikahi aku secepatnya?" Raka nyengir, menunjukkan senyum miring favorit Davina.


"Kalau gak mau?" Davina iseng bertanya.


"Aku buat sampe kamu mau. Memangnya kapan kamu gak berakhir dengan nerima aku?" sahut Raka, dengan penuh percaya diri.


"Anak setan!" Davina tertawa, sambil menghapus airmata yang menyisa di pelupuk matanya.


"Supaya kita gak usah buang-buang waktu lagi, kayak yang dulu-dulu. Jawabanku, IYA. Aku mau nikah sama kamu, anak setan!" Davina mengangguk.


Raka merasakan euphoria di hatinya. Berlebihan.


Dia selalu bersikap berlebihan untuk Davina.


Dia pun segera memakaikan cincin itu di tangan Davina, sebelum wanita kesayangannya itu berubah pikiran.


"So, you will trapped by this devil forever, heh?" Raka mengejek.


(Jadi, kamu bakal terjebak selamanya dengan satu setan ini, heh?)


Davina menggedikkan bahu, "Apa boleh buat, berliannya gede banget. Sesuai request."


Raka tertawa.


Dia mencium jemari manis Davina, lalu ke telapak tangannya, lalu ke pipinya. Lalu lanjut lagi ke bibirnya. Lama, dalam, manis.


Namun, tiba-tiba Davina melepaskan Raka.


"Lanjutin di apartemen yuk?" Davina mengerling, nakal.


Raka tertawa, "As you wish, Devni. As you wish."


Dia pun melepaskan Davina, lalu segera mengambil tas-tas mereka yang berserakan di sekeliling mereka.


Mereka pun berjalan bersisian menuju apartemen Davina.


"So, Devni with the devil?" Davina menunjuk dirinya dan Raka bergantian.


"Devni and the devil, forever."


Davina tersenyum, lalu memeluk lengan Raka erat-erat.


Bulan tersenyum malam itu untuk mereka. Udara dingin terasa tidak berarti lagi karena mereka telah menemukan satu sama lain untuk saling menghangatkan.


"Kita nanti nikah dimana?" tanya Davina.


"Dimana aja, asalkan cuma ada keluarga inti."


"Gak mau ada tamu?!"


"GAK! GIMANA KALAU TIBA-TIBA ADA YANG BERDIRI NGEKLAIM KAMU, KAYAK YANG AKU LAKUIN DULU?!"


Davina tertawa.


Tapi dalam hati, mereka berdua setuju bahwa keputusan Raka untuk mengklaim Davina di hari itu adalah takdir terbaik dalam hidup mereka berdua.


***


TAMAT


***


Dear Raka,


I'm having so much fun writing you. I will miss you, Elraka.


Dear Davina,


You rock, girl! Thanks for keeping this devil beside you forever.


Have a very happy ending, my dearest.


Love,


Ingrid


***


Hi, semua, tetap difavorit-in dulu yaa cerita anak setan ini. Aku bakal kasih beberapa bonus chapter. Tapi mungkin seminggu-dua mingguan lagi. Jadi, ditunggu ya 😚


IG : @ingrid.nadya