
Raka sedang serius menekuni pekerjaannya saat Davina pulang dari sekolahnya. Raka duduk bersila di lantai, di depan sofa apartemennya.
"Selamat malaaaaam, calon suamiku!" panggil Davina, manja.
Yang disapa hanya bergeming. Tidak sedikit pun melirik, apalagi menjawab sapaan tersebut.
"Belum jadi suami udah reseh!" gerutu Davina.
Masih tidak ada tanggapan.
Davina pun sengaja menjatuhkan tasnya kuat-kuat, namun Raka masih juga diam menatap lekat-lekat laptopnya sendiri.
Akhirnya, Davina menyerah. Ia berjalan ke sofa di belakang Raka, lalu membaringkan diri disana.
Tetap tidak ada tanggapan.
Davina tidak ingin mengganggu kekasihnya itu lebih jauh. Mungkin memang ada pekerjaan yang menyedot sepenuhnya perhatian Raka, sampai-sampai kehadirannya benar-benar diabaikan.
Dia memutuskan untuk membuka ponselnya, dan melihat-lihat media sosial. Sejak kembali bersama Raka, akun media sosial Davina mulai lebih sering digunakan. Dia kembali menjalin hubungan dengan teman-temannya dulu. Dia juga aktif membagikan kegiatannya sehari-hari. Intinya, Davina kembali ceria seperti dulu. Raka memang selalu berhasil mengembalikan kebahagiaan di hatinya.
Davina pun membuka kamera, lalu menyorot diri sendiri yang sedang cemberut, setelah itu dia mengarahkan kamera ke Raka yang sibuk dengan laptopnya. Video beberapa detik itu pun dia unggah ke media sosial, dengan kalimat, "cuekin aja aku terus maz". Dia pun menandai akun media sosial Raka.
Tak lama kemudian, denting notifikasi ponsel Raka terdengar. Barulah saat itu, Raka seakan terlepas dari gelembung yang menghalanginya dari dunia sekitarnya. Dia mengambil ponselnya, lalu membuka media sosialnya.
Dia terlihat kaget saat melihat isi notifikasi tersebut. Lalu, menoleh takut-takut ke arah sofa.
"Sayaaaaaang, udah pulaaaaaaang? Kok gak bersuara sih daritadiiiii?" Raka langsung mendekat pada Davina.
"Gak bersuara dari Hongkong!" maki Davina.
Raka cengengesan. Lalu, meletakkan dagunya di sofa, membuat wajahnya hanya berjarak beberapa centi saja dari wanita kesayangannya itu.
"Jangan marah-marah dong. Aku lagi pusing." Raka memasang tampang sedih.
Davina jadi takut sendiri. Mereka pernah putus karena Raka punya masalah di kantornya. Jangan sampai itu terulang lagi.
"Masalah apa?" Davina mengusap pipi Raka. Segala kekesalannya tadi langsung menguap.
"Klien Creature makin banyak, aku bakal jadi tambah kaya."
Davina jengah.
Dia mendorong wajah Raka jauh-jauh.
"Reseh!"
Raka cengengesan lagi.
"Kalau aku lebih kaya dari Papa Dave, kamu bakal bangga gak sama aku?"
Pertanyaan Raka ini menarik perhatian Davina. Raka butuh pengakuan. Di tengah keluarga mereka yang penuh dengan kesuksesan, Raka ternyata juga ingin diakui kemampuannya.
Davina pun menarik Raka untuk ikut berbaring di sebelahnya. Mereka harus tidur berdempetan agar muat di atas sofa.
"Kamu mau gimana pun, aku udah bangga sama kamu, Sayang."
"Aku mau kamu bangga sama pencapaianku."
"Elraka, kamu udah sering jadi pembicara di talkshow perusahaan start up. Kamu pernah ngobrol dengan mantan menteri Indonesia di salah satu podcast-nya. Sekarang aku tanya sama kamu, cewek mana yang gak bakal bangga jadi calon istri kamu?"
Raka tersenyum lebar.
Dia memang hanya butuh pengakuan dari Davina! Rasanya seperti sudah menggenggam dunia jika Davina memujinya seperti ini.
Dia pun menarik Davina dan memeluknya erat-erat.
"Makasih, Sayang."
Davina langsung tersenyum begitu bibir Raka menyentuh keningnya. Dia semakin merapatkan diri pada kekasihnya itu, lalu bergelung semakin erat.
"Kerjaan kamu masih banyak gak?" gumam Davina, tapi tangannya sudah sibuk menjelajah di dada bidang Raka.
Raka terkekeh.
"Kalau aku bilang masih banyak, emang kamu bakal lepasin aku?"
"Enggak."
"Ya udah, silahkan bereksperimen sesuka kamu, Soon To Be Mrs. Aditya."
Davina tersenyum. Dia pun meraih tengkuk Raka, dan mulai mencium kekasihnya dengan penuh semangat. Tangannya sudah menjelajah ke balik kaus Raka, sementara kekasihnya hanya bisa pasrah melihat Davina tumben-tumbenan penuh inisiatif seperti ini.
"Devni..."
"Hm?"
"Kamu kenapa?" Raka terkekeh.
"Just shut up!"
"Tapi..."
"Rakaaaa, berisikkkk ahhhh!"
"Ini hape kamu geter-geter daritadi di punggung aku."
"Cuekin aja sih." Davina kembali menciumi Raka.
"Punggung aku jadi gatel."
Davina pun akhirnya melepaskan Raka. Dia mendorong jauh-jauh kekasihnya, lalu segera mengambil ponselnya.
Begitu melihat nama siapa yang tertera di layar ponselnya, Davina langsung panik, "Dari Papa!"
"Ya udah jawab."
"Benerin dulu rambut kamu!" Davina mengomel.
Raka malah menaikkan satu alisnya. Tatapannya terlihat nakal.
"Gak mau ah."
"Anak setaaaaan! Buruan, gaaaak?!"
Raka menggeleng. Dia semakin mengacak rambutnya, dan kini malah membuka tiga kancing piyamanya. Davina langsung menyesal membelikan piyama itu pada Raka. Niat hati membuat sang kekasih nyaman, malah berakhir seperti ini!
"Papa Daveeeee, Davina nakaaaaaal!" seru Raka, semakin membuat Davina jengkel.
"Rakaaaaaaaaaaaa!!!" Davina akhirnya menarik paksa kerah piyama Raka, lalu mengancingkan lagi piyama tersebut.
Tawa Raka membahana.
Setelah rambut Raka rapi, dia berkata, "Gini dong, baru pacarku yang ganteng!"
Raka pun tersenyum, mencium bibir Davina sekilas, lalu berkata, "Tuangan, bukan pacar lagi."
Davina balas tersenyum.
Dia pun menjawab telepon papanya itu.
"Davinaaaa!!! Kamu darimana aja???" Dave protes begitu wajah Davina muncul di layar ponselnya.
"Hm? Di apartemen?"
"Sama Raka?!"
"Iya, Pa. Masa sama jin?"
"Lebih parah! Kamu kan sama anak Dajjal!"
"Heeeeey!" Raka protes. Dia menongolkan wajahnya di layar ponsel Davina.
"Cieeee, ada yang udah tunangan..." Diana yang juga ada di seberang sana mulai menggoda keduanya.
"Yeeeeey!" Davina menunjukkan jari manisnya.
"Kenapa sih anak Papa tuh harus nikah sama setan?" Dave pura-pura sedih.
Raka menggedikkan bahu, "Bentar lagi Davina bukan cuma punya title anak Papa, tapi juga istri Raka. Terima nasib aja ya. Gak bisa ngeklaim Davina lagi."
"Dih, Papa bisa gagalin loh. Nanti Papa berdiri pas ditanya ada yang gak setuju atau ga."
"Paaaaaa! Gak asyik ah! Jangan gituuuuuu ngomongnya! Nanti jadi beneran ada yang gagalin lohhhhh!" Raka protes. Dia selalu takut kalau ada yang menggodanya seperti ini. Raka kan takut karma!!!
Semua langsung tertawa melihat Raka tantrum.
Davina membiarkan Raka menggeliat-geliat sendirian di atas sofa.
"Kamu kapan pulang, Dav? Kalian mau nikah dimana?" tanya Diana.
"Belum tahu, Ma. Ini bocah berubah-berubah mulu." Davina menunjuk Raka yang masih tantrum.
"Rakaaaaaa!" panggil Dave.
"Gak mau ngomong sama Papa Dave!" Raka masih sibuk ngambek.
Davina gemas sendiri.
"Pa, bentar ya, Davina mau manasin makan malam dulu. Nih, kamu yang ngomong. Papa sama Mama nanya mau nikah dimana." Davina pun menyerahkan ponselnya pada Raka secara paksa.
"Gak maaaaauuuuuuu!" Raka menolak.
"Pegangggg gak???" Davina mengancam.
Akhirnya Raka mengalah. Dia menerima ponsel tersebut seperti manusia kalah judi lima milyar. Davina langsung berjalan ke dapur.
Dave langsung tertawa terbahak-bahak.
"Jahat sih!" Raka manyun.
"Azel banget sih kamu, Ka!"
"Ya gimana, anak Papa galak sih. Ini kayaknya karena dulu Davina sering dititipin ke Mama deh, jadinya nular galaknya," kata Raka, sambil mengingat Nayla.
"Mama kamu sih gak ada obat emang!" Dave setuju.
"Udah, udah. Cepat buruan bahas. Mau nikah dimana? Kapan?" tanya Diana, tidak sabar.
Wajah Raka langsung berubah serius. Dia tampak berpikir sejenak sebelum mengutarakan pendapatnya.
"Bali, enam bulan lagi, pas Davina pulang ke Indonesia. Gimana menurut Mama?"
"Boleh."
"Tapi Raka gak mau pemberkatannya dihadiri orang lain. Cuma keluarga inti aja. Resepsi baru deh terserah Papa sama Mama, mau ngundang nenek moyang, beruang kutub, atau apapun terserah. Yang penting, Davina sah dulu jadi istri Raka."
Dave tertawa, "Kamu beneran takut ada yang gagalin pernikahan kalian ya?"
Raka mengangguk cepat. Dia pun mengamati Davina yang sedang berjalan hilir mudik di dapur apartemen. Ini adalah pemandangan yang ingin dia nikmati seumur hidupnya.
"Raka gak bisa kalau sampai kehilangan Davina lagi."
Dave dan Diana saling tatap sambil tersenyum. Memang tepat rasanya mempercayakan Davina di tangan Raka.
"Makanya, Davina dijaga ya."
"Pasti, Pa, Ma."
"Wah, tumben langsung nurut..." Dave terpukau. Begitu pun Diana.
Raka menjulurkan lidah.
"Ada lagi gak? Raka udah kangen nih sama Davina."
Dave mengernyit, "Davina kan disitu!"
"Tetep kangen... Udah ya, Pa, Ma. Masih ada enam bulan lagi untuk bicarain pernikahan. Byeeee!" Raka langsung memutuskan sambungan telepon dengan kurang ajar.
Dave dan Diana di ujung sana hanya bisa geleng-geleng kepala.
Sementara itu, di Paris, di sebuah apartemen, di tengah cuaca musim dingin, Raka berlari menuju wanita kesayangannya.
"Devniiiiiii, akuuuuu kangennnnnnn!"
****
Semoga terus bersabar ya menanti bonchapnya anak setan.
Mungkin bakal aku update setiap weekend.
Anyway, mampir yuuuuk di cerita baruuuuuu 🤗🤍
Tiada kesan tanpa kehadiranmu.
LOL!
Kalimatku jadul beneeeer~
Sampai ketemu di tempat Abang 🤗🤍