
Raka berjalan masuk ke dalam kafe. Albert langsung melambai begitu melihat Raka.
Wajah Albert kusut. Raka langsung mengerti bahwa mereka sedang dihadapkan pada sebuah masalah besar. Apalagi Albert sampai harus pulang dari Sukabumi, tempat liburan bersama orangtuanya hanya karena masalah ini.
Albert adalah orang yang sangat santai. Jika dia sampai membuat wajah seperti ini bahkan membatalkan liburannya, tentu ada sesuatu yang besar terjadi.
“Don’t tell me…” Raka meringis.
“Iya.”
“Sh*t!” Raka menggebrak pelan meja di hadapannya.
Albert mengurut kening.
“Kalau cuma lepas, gak jadi klien kita lagi sih gak apa ya. Tapi kalau sampe ada tuntutan hukum, kacau sih.” Raka rasanya ingin mengguyur kepalanya dengan soda dingin pesanan Albert agar kepalanya tidak lagi seperti akan pecah.
“Gue tadi baca ulang agreement kita sama Wetix bareng om gue yang lawyer. Mestinya masih ada celah sih.”
“Tapi mereka emang beneran mau bawa kasus ini ke ranah hukum?”
Albert menggaruk kepala, “Well, gue juga bakal marah banget sih kalau aplikasi baru gue udah dileak di internet. Apalagi ide aplikasi mereka, menurut gue, bagus banget. Beda dari semua kompetitor mereka.”
Raka tidak bisa membantah hal itu.
“Ini kasus perdata kan? Kalau kita kalah, bisa dituntut berapa banyak?”
Albert tidak ingin menyebutkan nominal karena tahu Raka akan menggila. Namun hal itu malah semakin memperjelas tebakan Raka.
“Double ****!” maki Raka, lagi.
“Kita siap-siap balik ke rumah bapak emak cuma make ****** dan ginjal satu kalau mereka menang di pengadilan.”
Raka menutup mata, mencoba memendam seluruh perasaannya saat ini. Selama sebulan terakhir, dia cukup bangga dengan hasil Creature. Orangtuanya juga tidak kalah bangga. Namun lihat sekarang? Kacaunya minta ampun!
Bagaimana dia bisa mengatakan hal ini tanpa membuat orangtuanya khawatir? Haruskah dia mencoba menyelesaikan semuanya sendiri dulu?
Dan yang terpenting…
Ada satu orang yang dia khawatirkan.
“Jules udah tahu?” tanya Raka.
Albert menggeleng, “Gue gak berani bilang kedia. Lo kan tahu sendiri dia gimana. Pasti langsung ngerasa ini kegagalan dirinya sendiri aja.”
“Iya, jangan dulu, deh. Yang ada, kita malah tambah pusing. Fokusnya jadi terbelah-belah.”
Albert mengangguk.
“Dia datang hari ini?” tanya Raka.
“Datang. Tadi sih dia bilang udah deket.”
“Oke. Better kita stop dulu pembicaraan ini. Dia bisa datang kapan aja.”
“Setuju, setuju.”
“Tapi kita kudu bikin appointment sama om lo. Ngebahas celahnya ada dimana aja.”
Albert mengangguk.
Tak lama kemudian, Julia benar-benar datang. Raka dan Albert langsung mengubah raut wajahnya.
“Sorry, guys!” Wajahnya tampak sangat menyesal.
“Santai aja,” jawab Raka.
“Pesen dulu deh kalian.” Albert menyodorkan buku menu.
Raka dan Julia mengamati buku menu sejenak.
“Ka…” panggil Julia.
“Iya, ngerti.” Raka langsung menutup buku menu sambil memanggil pelayan.
“Nasi goreng dan kentang gorengnya satu. Pancake cokelat dengan es krim vanilla satu. Minumnya chocolate ice blended,” kata Raka.
“Pancake-nya mau langsung dikeluarin? Atau sebagai penutup aja, Mas?”
“Langsung aja, Mas.”
“Baik. Mbaknya?” Sang pelayan beralih pada Julia.
Raka meringis, “Itu pesananan dia semua, Mas.”
Albert tertawa. Julia tersenyum, malu-malu.
“Ja-jadi, Masnya mau pesan apa?” Sang pelayan berusaha memulihkan keterkejutannya.
“Ice americano satu.”
“Itu… aja?”
Raka mengangguk.
Pelayan pun mengulang pesanan, lalu berjalan menjauh dari meja mereka.
“Ya ampun, kenapa harus sekaget itu sih,” gerutu Julia.
“Masnya bingung kok bisa ada cewek yang bernafas pake glukosa,” cibir Raka.
Albert dan Julia tertawa.
“Lo kok gak pesan makanan, Ka?”
“Dimasakin Davina ya?”
“Lo gak harus tahu semua kehidupan pribadi gue sih.”
“Ah, beruntung banget sih lo, Ka! Davina tuh udah cantik, body oke. Tapi mungil. Enak banget diangkat.” Albert menggerutu.
Raka menggulung tissue lalu melemparkannya pada Albert, “HEH! Cewek gue tuh! Udah jadi bahan fantasi lo aja!”
Albert tertawa.
“Tapi Davina emang secakep itu sih.” Julia berkomentar.
“Gue rasa nih Julia gak pacaran-pacaran sampe sekarang karena emang demen sama cewek deh.” Raka mulai berasumsi.
“Gue rasa sih.”
“Demi cewek secakep Davina, gue rela deh.” Julia mengangguk.
Raka tertawa. Jika wanita saja banyak yang mengincar Davina, tidak heran kan kenapa dia tidak pernah bisa lepas dari pesona wanita itu?
“Anyway, ada update gak ya dari Wetix soal masalah kemarin? Ada complain dari mereka?” tanya Julia.
Albert memalingkan wajah, sementara Raka berusaha menjaga ekspresinya.
Sambil menggedikkan bahu dia berkata, “Belum. Ntar aja dipikirin lah kalau itu. Yang penting jangan sampai kejadian lagi.”
“So sorry…” Julia menunduk, tampak sangat menyesal.
Raka menghela nafas. Akhirnya, dia menyingkirkan seluruh pikirannya sejenak. Mereka bertiga adalah tim. Dia tidak boleh menghukum Julia.
Raka meletakkan telapak tangannya di kepala Julia, membuatnya berpaling pada Raka. Pandangannya sedih, membuat Raka jadi tidak tega. Bagaimana lagi kalau dia sampai tahu apa yang akan dihadapi Creature dalam waktu dekat ini?
“Mau sampai kapan nyesel-nyesel gitu?” tanya Raka.
“Gue beneran salah banget, Ka.”
“Emang kalau nyesel terus bakal ada yang berubah?”
Julia terdiam.
“Gak ada kan?”
Julia mengangguk.
“Makanya, lo ubah energi negatif lo itu jadi something useful aja. Mulai nyari klien kek, atau lo selesaiin dah tuh project yang masih mandek.”
Julia mengangguk lagi. Sedikit merasa lega setelah Raka mengatakan hal ini.
“Ka, kalau Creature sukses, lo harus jadi CEO sih.” Albert tiba-tiba mencetuskan hal tersebut.
“Eh, kok gitu sih?” Raka tidak terima.
“Oh, come on! Gue gak bakal bisa tuh ngasih-ngasih motivasi ke orang-orang.”
“Setuju, setuju.” Julia mengangguk.
Raka mencibir.
Setelah bersenda gurau beberapa saat, tiba-tiba Julia bangkit berdiri.
“Gue ke toilet dulu deh. Lama banget pesanan gue datang.” Dia mengeluh, lalu berjalan meninggalkan Raka dan Albert.
Dua lelaki itu kompak saling pandang.
“Kacau sih kalau dia tahu!” Albert menggaruk kepala.
“Iya, jangan dulu deh!”
Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing selama beberapa saat. Albert sibuk memikirkan akan seberat apa masalah yang akan dihadapi Creature nantinya. Sementara Raka… memikirkan segalanya! Namanya ada di semua akta perusahaan dan surat perjanjian dengan klien. Kalau ada apa-apa, jelas dia akan jadi sasaran utama.
“Kalian… mau… bohong… sampai… kapan?” Tiba-tiba Julia muncul di hadapan mereka dengan bersimbah airmata.
Albert dan Raka shock.
Kenapa Julia menangis?
“Gue udah tahu semuanya. Barusan Pak Indra dari Wetix nelepon gue. Katanya… katanya…” Julia mulai terisak, tidak bisa melanjutkan kalimatnya sama sekali.
“Jules…” Albert dan Raka serba salah.
“Kita gimana dong? Ini semua salah gue. Maafin gue ya.” Kini Julia sudah menangis sejadi-jadinya.
Raka langsung merasa kepalanya hampir pecah. Dia cepat-cepat mendudukkan Julia untuk menghibur gadis itu. Sekaligus tidak enak karena sekarang mereka sudah jadi tontonan umum.
“Jules, udah ya? Jangan nangis disini. Malu.” Raka menepuk-nepuk kepala Julia.
Tapi Julia hanya terus menangis. Dia takut. Dia merasa bersalah. Kalau saja dia melakukan segala sesuatu dengan lebih teliti lagi…
Raka terus menghibur Julia. Albert yang tidak terlalu jago berkata-kata, hanya bisa menggenggam punggung tangan Julia. Berharap wanita itu bisa menjadi lebih tenang.
“Maaf ya…” Julia menggumamkan hal yang sama berulang-ulang.
Raka merasa seluruh energinya habis. Kalut, gundah, resah, segalanya bercampur jadi satu. Bahkan panggilan yang masuk ke ponselnya sudah tidak bisa lagi mendapatkan perhatiannya. Dia tidak menyadari sama sekali bahwa nama Davina sudah muncul di layar ponselnya belasan kali.
Dia hanya bisa terus merenung.
Apakah jalan untuk menggapai mimpi selalu seberat ini?
***